Jawa Pos adalah Dahlan Iskan


taken from Chasani

Bagaimana dalam 20 tahun satu koran kecil jadi dominan di Indonesia?

Oleh MAX WANGKAR

JUMAT, 24 Februari 2001. Pukul enam pagi, saya duduk di ruang tunggu terminal F bandar udara Soekarno Hatta, Cengkareng. Sambil menunggu instruksi naik pesawat Lion Air tujuan Pontianak pukul 06.30, saya memejamkan mata sambil menikmati sisa-sisa kantuk yang belum hilang. Tiba-tiba saya terkejut ketika lutut kanan, yang saya silangkan di atas kaki kiri, terasa disentil-sentil orang. Siapa yang iseng sepagi ini? Ternyata Dahlan Iskan, chief executive officer Jawa Pos News Network.

Kehadiran raja koran ini membuat saya bingung lantaran sehari sebelumnya kami sepakat akan bertemu di Pontianak. Saya akan terbang dengan Lion Air sedangkan Dahlan dengan Garuda.

“Lho, Dahlan! Anda di sini? Apakah tidak jadi terbang ke Pontianak?” tanya saya.

“Jadi. Mari ke sini sebentar!” ujarnya sambil mencari kursi kosong menjauhi banyak orang.

“Anda tukar pesawat dan jadi terbang bersama saya?” tanya saya, sambil berharap begitu.

“Tidak,” jawabnya. Saya bingung. Mau apa dia?

Ia berpenampilan menurut kebiasaannya yang urakan: berkemeja lengan panjang yang gombrang tanpa memasukkan ujung bawahnya ke dalam celana sebagaimana pantasnya. Pagi itu Dahlan bercelana panjang biru tua, kontras dengan sepatu kets putih. Sebuah jaket tipis sutera kelabu membungkus sebagian kemejanya.

Pria ini bermata besar yang sering membelalak di balik kacamatanya. Ia berbadan sedang. Di punggungnya tersandang tas model anak sekolah berlogo Jawa Pos. Tas kain itu tidak gendut layaknya bawaan orang yang sedang bepergian tanpa bagasi jinjing. Tas itu malah kempes ketika ditaruh di atas bangku. Dahlan membawa baju ganti cuma sepasang, baju olahraga (training).

Ia merogoh dasar tasnya, dan dari balik training itu dikeluarkannya sebuah buku. Saya sangka ia mau membaca buku sambil menunggu instruksi boarding, eh, ternyata buku itu diserahkannya kepada saya. Buku seperti novel pop itu berjudul Jawa Pos Koran Kita.

“Ini buat baca-baca sambil terbang. Kita ketemu di Pontianak, ya? Wah, pesawat Anda lebih bagus!” ujarnya. Ia melongok ke arah pesawat Lion Air yang tampak kerdil di tempat mangkalnya pesawat-pesawat Garuda.

Baru saya membolak-balik buku pemberiannya, Dahlan sudah menghilang begitu saja. Saya mencarinya. Pasti ia bergegas ke ruang tunggu pesawat. Dalam hati kecil saya bangga juga. Rupanya, orang kaya dari Surabaya itu datang mencari saya sekadar menyerahkan buku di saat-saat mepet. Betapa rendah hatinya raja koran itu.

Koran-koran Dahlan disebut Jawa Pos News Network karena semua komputer redaksinya terhubung satu sama lain. Semua berita, feature, artikel, atau foto, baik liputan wartawan dan fotografer sendiri, maupun yang dibeli dari pihak ketiga, dimasukkan dalam bank data yang bisa diakses lewat komputer redaksi koran anggota Jawa Pos News Network. Dengan demikian, laporan serta foto-foto kerusuhan di Palangkaraya, misalnya, yang diliput wartawan Palangkaraya Pos, bisa dibuka di kantor Jawa Pos di Surabaya, Radar Medan, harian Fajar Makasar, juga Radar Merauke Papua Barat. Begitu pun sebaliknya, liputan Jakarta dapat diakses oleh semua anak Jawa Pos di daerah.

Jumat 24 Februari 2001 ini, Dahlan Iskan hendak melakukan kunjungan kerja sehari ke Pontianak, esoknya kembali ke Surabaya. Saya pikir inilah kesempatan yang tepat untuk melihat bagaimana Dahlan berkiprah di anak perusahaan Jawa Pos di daerah. Selanjutnya bisa membuntutinya sampai ke jantung Jawa Pos di Graha Pena, gedung perkantoran berlantai 20 milik Jawa Pos di Surabaya.

Setibanya di Pontianak, saya sekali lagi dibuatnya bingung. Pesawat saya tiba duluan, maka saya menunggunya di bandar udara sesuai kesepakatan. Saya duduk di sebuah bangku yang tepat menghadap pintu tempat munculnya penumpang yang turun dari pesawat Garuda.

Setelah setengah jam menunggu dan tidak melihat Dahlan, saya bertanya pada petugas pengecekan bagasi bandara, “Apakah penumpang Garuda dari Jakarta sudah mendarat?”

“Oh, sudah keluar semua,” ujar petugas yang saya tanyai.

Tentu saja saya kaget. Saya lari ke sana ke mari mencari Dahlan di areal parkir. Seorang sopir taksi gelap bertanya siapa yang saya cari. Saya memberi gambaran sosok Dahlan. Dia bilang orang itu sudah pergi dengan mobil sedan. Saya lalu menelepon kantor perwakilan Jawa Pos di Pontianak. Sopir taksi gelap tadi benar. Lewat telepon saya mendapat informasi Dahlan sudah dalam perjalanan menuju ke sana. Saya pun mencarter taksi gelap tadi, sebuah van Mitsubishi L-300 ke kantor Akcaya, anak perusahaan Jawa Pos di Pontianak.

KANTOR Akcaya merupakan gandengan dua rumah kantor berlantai tiga. Di lantai dasar, separuh menjadi gudang kertas koran, separuhnya lagi tempat percetakan pers. Lantai dua ruang administrasi, lantai tiga ruang redaksi. Interior kantor itu tampak sederhana.

Saya naik ke lantai dua. Seorang wanita setengah baya menyambut saya, “Pak Dahlan sedang pergi dengan direksi (PT Akcaya).” Ia menyilakan saya masuk ruang rapat. Di sana hanya ada sebuah meja rapat berbentuk lonjong tapi tidak ada kursi satupun. Wanita tadi menarik sebuah kursi dari ruang kerja karyawan keuangan untuk saya. Di tembok depan saya terpampang sebuah papan tulis besar tempat coretan angka-angka bisnis yang agaknya baru saja dibicarakan dan belum sempat dihapus. Ketika menerka-nerka apa makna angka-angka itu, muncullah seorang pria yang mengaku bernama Yusri, lengkapnya Gusti Yusri.

Yusri mengajak saya menemui Dahlan dengan mobilnya yang diparkir di belakang gedung. Di halaman belakang ini, menurut Yusri, hendak dibangun sebuah gedung kantor Akcaya yang baru, beberapa tingkat. Telepon genggam Yusri sebentar-sebentar berbunyi dan dari jawabannya tertangkap bahwa Dahlan sudah tak sabar menunggu saya. “Pak Dahlan memang punya kebiasaan (menghilang) seperti itu. Sering terjadi, sementara yang jemput mencari-cari di airport, tahu-tahu diberi tahu Bapak sudah tiba di kota,” tutur Yusri.

Tadinya saya menyangka Yusri “hanyalah” seorang karyawan bagian umum PT Akcaya Utama Press. Pria kecil berusia 34 tahun asal Sanggau, yang tampak imut-imut itu, begitu rendah hati sehingga tidak mau menyatakan kalau ia seorang bos. Yusri adalah pemimpin redaksi Kapuas Pos -sebuah suratkabar yang baru diterbitkan di Pontianak, 3 Februari 2001.

Kapuas Pos diterbitkan PT Akcaya Utama Press khusus untuk menggarap pasar pedalaman Kalimantan Barat, seperti Sanggau yang membutuhkan waktu delapan jam perjalanan dengan kapal, dan Sintang yang masih harus ditambah 10 jam lagi dengan mobil dari Sanggau. Koran itu dicetak sore, pukul 18.00 agar bisa dipasarkan pada hari edar, besoknya, di Sanggau dan Sintang. Sebab, pengalaman sebelumnya, koran Pontianak Post yang dicetak pukul 02.00 dini hari, jika dipasarkan di kabupaten Sanggau sudah menjelang tengah hari, bahkan kemalaman untuk pemasaran di Sintang.

Dengan mobilnya, jip Daihatsu Taft, Yusri mengantar saya ke tempat Dahlan berada. Ia ternyata sarapan bersama direktur utama PT Akcaya Utama Press, Tabrani Hadi, dan manajer umum Perwakilan Jawa Pos di Pontianak yang juga menjabat direktur PT Akcaya Utama Press, Untung Sukarti. Mereka sarapan di sebuah restoran sederhana.

Begitu saya tiba, mereka sudah selesai sarapan dan bersiap-siap naik sebuah sedan Timor yang memakai pelat bernomor polisi warna merah.

“Kok nomor pelatnya merah?” tanya saya.

“Iya, ini mobil dinas saya,” ujar Tabrani.

Bos Akcaya ini ternyata juga menjabat kepala Badan Koordinasi Penanaman Modal Daerah Provinsi Kalimantan Barat. Di sedan itu, Tabrani duduk di kursi kiri depan, Sukarti memegang kemudi, Dahlan di kursi kiri belakang dan menyuruh saya di samping kanannya. Saya lalu melupakan masalah kegagalan perjumpaan dengan Dahlan di airport.

Sambil bercerita awal karier Dahlan serta masuknya Jawa Pos ke PT Akcaya Utama Press, kami meluncur ke sebuah pabrik kertas yang terletak di pinggiran utara kota Pontianak, di jalan raya arah Singkawang. Dahlan rupanya berkunjung ke Pontianak khusus melihat sebuah pabrik kertas yang sudah setahun berhenti produksi dan ia berminat membelinya. Ada niat Dahlan untuk memperbesar pabrik kertas milik Jawa Pos di Gresik, PT Adiprima Suraprinta, yang bukan cuma memasok kebutuhan kertas bagi koran-koran Jawa Pos News Network, tapi juga sudah mendapatkan pasaran ekspor antara lain Malaysia, Taiwan, dan India.

Setiba di sasaran, Dahlan langsung naik turun, berkeliling, ke pabrik kertas tersebut. Pemeriksaan dilakukannya sampai detail seraya membuat catatan. Terakhir, ia ingin mengecek kolam limbah pabrik yang sudah dikelilingi semak belukar setinggi satu-dua meter. Sambil lari, Dahlan berupaya menerobos belukar.

“Awas, ular,” teriak saya.

Mendengar peringatan saya, Dahlan balik dan mencari jalan lain. Ia minta orang lain yang berani menghadapi ular untuk jalan terdepan. Sambil bicara keras-keras dan membuat kebisingan dengan harapan agar ular menyingkir, kami akhirnya naik ke tembok kolam pembersihan limbah pabrik kertas itu. Untunglah kami tidak menjumpai binatang berbahaya.

Pabrik kertas yang sudah setahun berhenti produksi itu ternyata mesinnya buatan tahun 1928. Cuma alat kontrolnya yang sudah modern. Kecepatan mesinnya 40 ton per hari. Itu terlalu lamban dibandingkan kecepatan mesin pabrik kertas PT Adiprima Suraprinta yang tadinya 120, dan terakhir sudah dinaikkan menjadi 140.

Pabrik ini terletak di atas lahan sekitar dua hektar sedangkan pabrik dan kolam limbahnya mungkin cuma seperempat dari lahan yang dipenuhi onak belukar itu.

“Yang punya pabrik ini, atau bank yang menguasai pabrik ini kalau kreditnya macet, pasti menghendaki penjualan seluruh asetnya. Lahan di sini terlalu besar, kita tidak perlu kebun. Yang kita butuhkan mungkin cuma mesinnya. Wah, nggak nyucuk, nggak bakal ketemu,” kata Dahlan ketika kami sudah naik mobil lagi, hendak meluncur kembali ke kota Pontianak.

Kendati begitu, Dahlan merasa tetap harus membuat laporan dan ingin ketemu dengan pemiliknya di Jakarta. Ia ternyata tak punya telepon genggam dan memang tidak mau punya. Namun, bos besar ini tidak sungkan meminjam telepon genggam milik anak buahnya. Ia meminjam telepon genggam Sukarti dan segera melaporkan semua data pabrik tadi kepada seorang pakar pabrik kertas di Jawa Timur.

“Mesin pabrik ini buatan Prancis tahun 1928, jadi dibuatnya sebelum kita lahir, bahkan mungkin sebelum bapak kita lahir,” begitu lapor Dahlan kepada teknisi mesin kertas PT Adiprima Suraprinta di Gresik, Jawa Timur. Semua data yang ditulisnya tadi dilaporkan lewat telepon genggam selama beberapa menit.

“Wah, yang punya handphone ini bakal kena tagihan besar,” kata Dahlan sambil memencet nomor lain lagi. Kali ini ia menghubungi perwakilan Jawa Pos di Jakarta dan minta segera mencari pemilik pabrik itu, lalu membuatkan janji untuk pembicaraan bisnis. “Kalau bisa malam ini juga, atau besok pagi juga bisa,” perintah Dahlan kepada anak buahnya di Jakarta. Tak sampai 10 menit, sudah ada jawaban dari Jakarta bahwa pemilik pabrik kertas itu bersedia ketemu Dahlan besok siang di sebuah hotel megah di Senayan, tempat Dahlan biasa menginap kalau ke Jakarta.

Merasa kunjungan ke Kalimantan Barat itu tercapai, selanjutnya Dahlan mencari sasaran lain. Siang itu baru sekitar pukul 11.00. Setelah melihat di koran Pontianak Post bahwa siang itu, pukul 13.00, ada penerbangan ke Balikpapan, Dahlan kembali memakai telepon genggam Sukarti untuk bicara dengan kepala perwakilan Jawa Pos di Kalimantan Timur. Ia menanyakan cuaca di Balikpapan. Mendapat jawaban cuaca buruk, Dahlan membatalkan niatnya ke sana, karena penerbangan dari Pontianak-Balikpapan menggunakan pesawat berbaling-baling dua.

“Saya memang begini. Pergi ke sana kemari, sering tanpa perencanaan. Bahkan kadang-kadang saya jalan saja ke airport. Di sana baru ambil keputusan mau ke mana,” katanya. Saking banyaknya perusahaan Jawa Pos yang perlu dikunjungi, dan Dahlan agaknya suka membuat kunjungan in cognito alias sidik dadakan, terkadang sudah beli tiket, dibatalkan jika ada urusan yang dirasa lebih penting.

Batal ke Balikpapan, Dahlan memutuskan tidur dulu di Pontianak. “Semalam saya nonton bola (di televisi) hingga pukul 3.00,” kata Dahlan. Saya maklum, kalau Dahlan gemar nonton sepak bola, sebab ia juga menjabat wakil ketua klub sepak bola Persebaya Surabaya. Oleh Sukarti, Dahlan diinapkan di sebuah kamar suite hotel berbintang tiga yang letaknya sekitar 500 meter dari kantor PT Akcaya Utama Press. “Sekarang pukul setengah satu. Kita ketemu lagi untuk makan siang pukul 2.00, ya,” begitu instruksi Dahlan.

“Ya, bos,” ujar Untung Sukarti sambil mengangguk.

Begitulah Dahlan Iskan, pengusaha besar yang mengelola banyak perusahaan. Siang bisa jadi waktu tidur, malam waktu begadang. Setelah tidur satu setengah jam, Dahlan mengadakan pertemuan dengan direksi dan beberapa manajer kelompok Akcaya mulai dari waktu makan siang sampai pukul sepuluh malam. Selanjutnya, ia melakukan pembicaraan-pembicaraan telepon ke Jawa Pos serta anak-anak perusahaan hingga tengah malam, baru pergi tidur ke hotel. Cuma untuk dua jam. Ia minta Sukarti menjemputnya pukul 02.00 dinihari.

Sukarti datang menjemputnya dengan kendaraan distribusi Pontianak Post, sebuah mobil van Daihatsu. Dahlan, dengan pakaian training, ikut manajer pemasaran untuk membawa koran kepada sekitar 12 agen. Koran itu tidak sekadar diturunkan di depan pintu rumah para agen. Dahlan turun dari mobil, mengetok pintu sampai para agen keluar, lalu berbincang-bincang sekitar satu hingga tiga menit. Ia menanyakan keadaan, menasihati, dan mendengarkan keinginan mereka. Usai keliling ke agen-agen, hari sudah subuh. Dahlan mengajak cari minum teh panas di pasar. Setelah membaca koran Pontianak Post, keluarlah celetukannya, “Koran ini terlalu banyak berita kering. Kurang menonjolkan hal-hal kemanusiaan. Bilang pada redaksinya supaya kurangi wawancara pejabat dan suguhkan lebih banyak liputan masyarakat, bangkitkan penghargaan kota,” pesan Dahlan kepada Sukarti. Ia lalu memberi beberapa nasihat kepada manajer pemasaran Pontianak Post Tri Hanjaya. “Kalau kerja di koran, jadi manajer pemasaran jangan pakai dasi,” katanya.

Pukul 06.00 kami ke hotel, mengambil tas masing-masing lalu ke bandar udara Pontianak. Dalam mobil Sukarti tercium bau durian. Dahlan ternyata penggemar berat durian. Karena itu Sukarti membawanya beberapa buah. “Pernah saya ke Singapura hanya untuk pergi makan durian. Itu karena diajak seorang teman, pengusaha di Jakarta,” tutur Dahlan. Tiba di bandar udara, kami duduk santai di areal parkir bandara Soepadio, menunggu pesawat yang baru datang pukul 09.00. Dahlan dengan tenang menikmati durian dari Sekadau itu.

Sejak kemarin pagi, baru pagi ini saya bisa mengobrol berduaan dengan Dahlan. Kami terbang ke Jakarta dengan pesawat pertama, Pelita Air yang cuma ada kelas ekonomi. Tiket kelas bisnis Garuda yang sudah disediakan dari Jakarta, tidak jadi dipakainya karena terbang lebih siang, sedangkan ia mengejar janji pertemuan bisnis dengan pemilik pabrik kertas yang ditinjaunya di Pontianak. Tiba di Jakarta, Dahlan dengan pakaian yang semalam, sepasang training, pergi ke hotel bintang lima di Senayan untuk melakukan pembicaraan bisnis bersama pemilik pabrik kertas. Sementara saya langsung ke ruang tunggu Garuda. Kami sepakat naik Garuda ke Surabaya pukul 14.00. Dahlan ternyata bisa kembali dalam tempo satu jam setengah. Ketika saya sudah dalam pesawat, lima menit sebelum terbang, Dahlan baru muncul.

Pengalaman mendampingi Dahlan ternyata tidak mudah. Di Surabaya juga sulit mencarinya. Bos Jawa Pos ini ternyata tidak punya ruang kantor dan kursi di Graha Pena yang tinggi menjulang bagaikan gedung perkantoran menteri-menteri di Jakarta. Ia bahkan tak punya nomor telepon khusus. Dari waktu ke waktu ia yang menelepon staf sekretariat untuk melaporkan posisinya.

DAHLAN Iskan, lahir pada 1951 di Magetan, Jawa Timur. Ia memulai karier pers di Samarinda 1970-an. “Ayah saya petani miskin. Ketika saya tamat SMA, ia tak sanggup lagi membiayai. Maka, saya ikut kakak di Samarinda untuk kuliah,” ceritanya. Dua tahun di kampus IAIN Samarinda, ia merasa pengetahuannya tak bertambah. Lalu ogah-ogahan kuliah dan lebih menyibukkan diri di koran kampus. Akhirnya ia jadi wartawan sebuah koran lokal.

Sebuah lembaga swadaya masyarakat, Lembaga Penelitian, Pendidikan, dan Penerangan Ekonomi Sosial (LP3ES) mengikutkannya dalam program magang di Jakarta. “Dari sekitar 6.000 peserta, dipilih 18. Di sana, pagi kami harus ikut teori di LP3ES, sorenya magang di beberapa penerbitan. Saya ditempatkan di majalah Tempo, diasuh langsung oleh Bur Rasuanto (ketika itu pemimpin redaksi),” kisahnya. Di sini Dahlan berprestasi membuat laporan eksklusif tentang larinya terpidana mati, Kusni Kasdut dari penjara Cipinang.

Bur Rasuanto ternyata sangat menyukai Dahlan dan menawarinya masuk Tempo. Lantaran kontrak dengan LP3ES, ia harus kembali ke daerah. Dahlan pun balik ke Samarinda sambil sesekali memberikan kontribusi buat Tempo. Tak lama kemudian ternyata terjadi gejolak di Tempo, 1976, yang mengakibatkan keluarnya Bur Rasuanto bersama beberapa wartawan dan redaktur. Beberapa kontributor Tempo di daerah mendukungnya.

Bur bersama Imam Waloeyo dari majalah Prisma, Bunyamin Wibisono dan Atmakusumah Astraatmadja dari Indonesia Raya, menyiapkan Obor, sebuah majalah berita mingguan calon tandingan Tempo. Dahlan menyatakan siap bergabung, asal Bur bisa mendapatkan izin terbit majalah itu. Tapi suasana politik 1977 terus memanas hingga 1978. Ada belasan koran yang dibredel pemerintahan Soeharto. Cuma Tempo yang melembek sehingga luput. Dahlan tetap bertahan di Tempo, kendati majalah itu dipandang banci. Sementara izin Obor tak kunjung diperoleh.

Ketika sebuah kapal milik perusahaan Pelayaran Nasional Indonesia, Tampomas II terbakar dan tenggelam dengan sekitar lima ribu penumpang terpanggang hidup-hidup di perairan Masalembo, Laut Jawa, Dahlan meliput dan menulisnya untuk laporan utama Tempo yang luar biasa bagus. Dua edisi berturut-turut sehingga ia dipromosikan jadi kepala biro Tempo Surabaya.

Pada 1982, Tempo membeli koran Jawa Pos. Eric Samola, direktur utama PT Grafiti Pers, penerbit Tempo, ngotot menunjuk Dahlan Iskan ketimbang mengirim seorang redaktur, yang juga anggota pemegang saham Tempo, yang lebih berpengalaman untuk mengelola Jawa Pos. Samola berpendapat sebaiknya jangan ada orang Tempo dari Jakarta didrop ke Surabaya karena tak ingin merendahkan orang daerah. Maklum, ketika itu ada pertentangan politik antara pers nasional dan pers daerah.

Maka, Dahlan yang saat itu sudah dikenal sebagai warga Surabaya, ditunjuk jadi nahkoda Jawa Pos. Untuk pemasaran pun tidak diutus dari Jakarta, tapi ditunjuk kepala sirkulasi Tempo Surabaya, Imam Soeroso (kini direktur PT Jawa Pos). Keduanya dipandang oleh orang Tempo “sangat berani.” Di sini mereka memang jadi pemimpin, tapi masa depannya terbayang suram. Hanya Samola yang optimis Jawa Pos bisa merebut pasar koran Surabaya yang saat itu dikuasai harian Surabaya Post dan Kompas. “Surabaya Post terbit sore, Kompas harus dikirim dari Jakarta. Kalau Jawa Pos diisi berita nasional dari Jakarta, dan diedarkan pukul lima pagi, masa tidak bisa menang?” begitu keyakinan Samola.

Jawa Pos sebenarnya sebuah koran tua. Koran ini didirikan 1 Juli 1949 oleh pasangan suami isteri The Chung Shen alias Soeseno Tedjo dan Mega Endah. Om The dan Tante The, begitu bapak dan ibu ini dipanggil, pernah menjadi “raja koran” Indonesia karena memiliki tiga koran yang diterbitkan dalam tiga bahasa: Java Post, koran beraksara Cina Hwa Chiao Sien Wen dan koran berbahasa Belanda de Vrije Pers. Koran berbahasa Cina yang antikomunis itu akhirnya ditutup ketika Partai Komunis Indonesia makin kuat berpengaruh, sedangkan yang berbahasa Belanda diubah jadi koran berbahasa Inggris, Indonesian Daily News. Koran ini ditutup karena kesulitan mencari redaktur dan Dahlan kini mencoba menghidupkannya kembali.

Di zaman Orde Baru, koran Java Post, yang kemudian jadi Djawa Post, dan terakhir bernama Jawa Pos, terus mengalami kemunduran. Pada 1982, sirkulasi koran pagi itu cuma sekitar sepuluh persen dari tiras koran harian sore Surabaya Post. Anak-anak keluarga The, yang disekolahkan di Inggris, ternyata enggan balik ke Indonesia untuk melanjutkan usaha koran ini. Sementara Om dan Tante The merasa makin dirongrong usia sehingga memutuskan menjual Jawa Pos agar ada yang meneruskan.

Kebetulan mereka bertemu direktur utama PT Grafiti Pers Eric Samola yang sedang berambisi melakukan ekspansi. Samola mulanya ingin menerbitkan sebuah majalah tandingan Tempo, seperti yang pernah dicoba Bur Rasuanto. “Daripada orang lain yang bikin, kan lebih baik kita,” kata Samola. Ketika itu, dengan oplah sekitar 25 ribu per minggu, majalah Tempo sudah mampu menggaji karyawannya dengan baik, memberi bonus, membelikan mobil dan sepeda motor untuk redaksi, bahkan sudah punya uang nganggur beberapa ratus juta yang didepositokan di bank. Pucuk dicinta, ulam pun tiba, ketemu koran Jawa Pos langsung dibeli.

Tak jelas berapa transaksi pembelian seluruh saham keluarga The di PT Jawa Pos itu, tapi yang pasti modal kerja yang dianggarkan bagi Dahlan Iskan untuk meneruskan koran itu cuma Rp 45 juta. Pengucuran dana tidak sekaligus, tapi setetes demi setetes sesuai kebutuhan. Dahlan tidak protes tapi justru berupaya irit. Hingga, ketika PT Jawa Pos mampu mandiri dalam keuangan, modal dari Tempo yang terpakai tak sampai Rp 30 juta.

Kemandirian Jawa Pos itu tidak datang begitu saja. Dahlan dan seluruh staf lama Jawa Pos kerja keras dan kerja lebih keras. Begitu jadi pemimpin redaksi Jawa Pos, Dahlan menurunkan semua ilmu yang diperolehnya di Tempo kepada semua wartawan Jawa Pos. Sistem kerja wartawan Jawa Pos, yang tadinya hanya menantikan siaran pers atau undangan pertemuan pers, diubahnya jadi sistem mengejar dan menggali berita. Pola ini sangat membutuhkan perencanaan. Feature dan analisis berita yang sebelumnya tak tersentuh, digalakkan, posisinya disejajarkan dengan berita-berita hunting dan running news.

Redaksi yang biasanya sore-sore sudah pulang, diwajibkannya bekerja atau minimal siaga sampai pukul dua dinihari. Kalau ada peristiwa istimewa, wartawan disuruh ke lapangan sampai pukul 24.00. Pada jajaran redaksi juga ditanamkan semangat dan perasaan bangga bahwa mereka bukan lagi bekerja di koran daerah, tapi koran nasional. Pengiriman wartawan ke luar negeri pun dikembangkan. “Patut dikenang, hasil pengiriman Nany Wijaya ke Filipina secara nyata menaikkan oplah sebesar 40 ribu eksemplar, sekaligus menandai bermulanya citra baru Jawa Pos,” kata Dahlan, mengacu pada reportase Nany saat diktator Ferdinand Marcos terpaksa turun gara-gara demonstrasi rakyat Filipina.

Para karyawan di bagian tata letak juga dikendalikannya dengan keras. Mereka harus bekerja tanpa kursi, harus kerja sambil berdiri terus mulai pukul dua siang sampai tiga dini hari. Setiap dini hari Dahlan datang dengan penggaris dan memukul-mukul meja supaya tata muka cepat selesai. Kalau terlambat, Dahlan tidak segan memukul paha karyawan.

Peningkatan kinerja produksi tidak otomatis membuat pasaran membaik. Sistem kerja redaksi sudah ditingkatkan, rupa dan penampilan Jawa Pos juga sudah dipercantik, tapi para agen koran ternyata tidak mau jual. Dahlan gemas dan memeriksa pemasaran. Ia mendatangi para penjual dan agen-agen koran untuk mencari tahu ada apa dengan Jawa Pos. Rupanya, selama itu korannya tidak dikenal. Ketika dibeli Tempo, sirkulasi Jawa Pos cuma 6.800 eksemplar. Dari jumlah itu, pelanggannya hanya 2.400 orang, sisanya dibagikan pada berbagai instansi pemerintah. Tidak ada yang dijual di pasar eceran.

Dahlan lalu membujuk agar kios-kios pedagang koran mau memajang Jawa Pos. Kalau tidak laku, boleh di-retour (kirim kembali). Mereka ternyata malas mengisi formulir retour. Dahlan lalu memutuskan perlu membangun jalur pemasaran sendiri. Ia menyuruh keluarga karyawan ikut memasarkan Jawa Pos, juga merekrut anak sekolah menjajakan Jawa Pos di jalan-jalan dengan imbalan dibayarkan biaya sekolahnya. Kiat ini berhasil. Jawa Pos mulai dilirik, mulai laku sehingga anak-anak sekolah yang menjajakan koran itu mulai terrangsang dengan sistem komisi sekian persen dari hasil penjualan.

Pasar pelanggan tetap mulai terbentuk berkat upaya keluarga karyawan yang ikut menjual koran Jawa Pos. Istri Dahlan pun, Nafsiah, sangat getol mencari langganan. Menurut Hadiaman Santoso, ketua Persatuan Wartawan Indonesia cabang Jawa Timur, Nafsiah Dahlan pernah menggaet sampai 3.500 pelanggan. “Dengan itu saja, keluarga Dahlan sudah bisa hidup makmur,” komentar Hadiaman, yang juga redaktur senior harian Surya, koran yang sempat ditakuti Dahlan karena harian ini diterbitkan di Surabaya oleh dua raksasa pers Jakarta: Kompas dan Pos Kota.

Memegang agen untuk 3.500 pelanggan jelas merupakan lahan penghasilan besar. Ketika saya mengikuti Dahlan dalam kunjungannya pada agen koran Pontianak Post pukul tiga pagi, saya dengar Dahlan menasihati mereka agar berupaya mendapatkan pelanggan minimal 200, “Kalau punya 200, itu sudah bisa hidup untuk keluarga dan itu bisa diwariskan ke anak cucu.” Ya, hitung saja, jika satu koran berharga Rp 1.500 dengan komisi 40 persen, agen mendapat Rp 600 per eksemplar per hari. Jika ia mendapatkan 200 pelanggan, berarti pendapatan setiap hari Rp 120 ribu, jelas itu suatu jumlah yang cukup untuk belanja sehari-hari. Lha, bayangkan kalau Nafsiah punya 3.500 pelanggan, berapa penghasilan hariannya?

“Ah, itu bohong. Tak pernah sebanyak itu, cuma sekitar seribu pelanggan kok, tapi sudah kami bagikan-bagikan kepada orang lain. Sekarang saya pegang tinggal 500 pelanggan, tidak punya cukup waktu lagi,” ujar Nafsiah. Jawabannya belum selesai. “Langganan 500 itu kami pertahankan sekadar untuk ngecek-ngecek apakah koran terlambat tiba di agen? Apakah pembayaran dari langgaran lancar atau tidak? Kalau ada yang jadi bos (maksudnya Dahlan Iskan), harus ada yang jadi kulinya di pasar,” kelakar ibu dari Asrul Ananta Dahlan dan Isna Dahlan itu.

Kendati sudah makmur dan punya mobil dinas Mercedes Benz berpelat nomor polisi L-1-JP, Dahlan Iskan sekeluarga ternyata masih tinggal di kompleks perumahan kelas menengah Tenggilis Mejoyo, Surabaya. “Itu bukan kompleks perumahan mewah,” kata seorang sopir taksi yang saya tanyai.

Dahlan masih biasa hidup prihatin. Ketika krisis moneter tahun 1997 mulai menghantam, ia menyuruh para karyawan hidup hemat. Agar semua karyawan menghayati krisis moneter, ada larangan untuk bertepuk tangan di Jawa Pos. Dahlan dan direksi memberi contoh dengan merumahkan semua mobil mewah. Dan, untuk ke kantor, Dahlan yang suka mengebut itu memakai sedan Bimantara bekas, atau menumpang kendaraan sirkulasi Jawa Pos. Kacamatanya yang patah pun tidak dibetulkannya. Putrinya, Isna yang dulu kuliah di Amerika Serikat, ditariknya kembali kuliah di Surabaya. Untunglah putranya, Asrul Ananta, sudah lulus kuliah ekonomi manajemen di Amerika. Ananta kini menjadi wartawan Jawa Pos yang mengisi rubrik anak-anak muda.

Jawa Pos juga memakai penggarapan pasar secara blok sejak lima tahun pertama (1982-1987). Blok pertama Surabaya, kedua Malang, kemudian Jember, dan seterusnya ke timur. Demikian pula ke barat sampai Jawa Tengah. Ditunjang sistem pemasaran macam ini, koran-koran pendatang baru, macam Surya, menjadi sulit bersaing dengan Jawa Pos. Pada 1993 muncul harian Surya dari konsorsium Kompas dan Pos Kota. Ini membuat Jawa Pos merasa dapat musuh berbahaya. Perang itu memang terlihat di jalanan. Menurut Hadiaman, poster-poster Surya sering ditutup poster Jawa Pos. Belakangan saya dengar harian Kompas berupaya menyusup ke langganan Jawa Pos dengan menawarkan, jika mau berlangganan Kompas, akan diberi lampiran koran Jawa Pos gratis. “Jika itu benar, pasti bukan kebijakan koran Kompas. Saya pikir itu permainan agen saja,” komentar Dahlan.

Sebagai langkah pamungkas, Jawa Pos membeli mesin cetak sendiri dengan sistem sewa beli. Dengan demikian, kualitas produk menjadi sempurna luar dalam, isi maupun kulitnya. Dalam akhir lima tahun pertama, Jawa Pos sudah jadi koran spektakuler. Oplah mencapai 126 ribu eksemplar dengan omset tahunan melejit sampai Rp 10,6 miliar atau 20 kali lipat dari omset tahun pertama pada 1982.

Pada tahap lima tahun kedua (1987-1992), Jawa Pos terus memantapkan pasar. Kalau tadinya koran itu hanya dibeli kelas menengah bawah, Dahlan berupaya memperbaiki citranya untuk bersaing dengan Kompas di kalangan menengah atas. Untuk itu ia mengkampanyekan Jawa Pos sebagai ‘koran nasional yang terbit dari Surabaya’, dan menempatkan tenaga khusus di luar negeri. Pada 1992, oplah Jawa Pos mencapai 300 ribu eksemplar per hari dengan omset Rp 38,6 miliar.

Bahkan sampai sekarang pun Dahlan Iskan masih melakukan macam-macam upaya. Ia populer bukan cuma di antara para pendukung klub sepakbola Persebaya. Ia juga dekat dengan para pengusaha keturunan Tionghoa di Surabaya. “Tahu apa dia tentang Barongsai? Lalu mau jadi ketua Perhimpunan Barongsai Indonesia?” ujar Hadiaman dari Surya.

SEJAK lima tahun pertama, Jawa Pos sudah melebarkan sayap di luar Pulau Jawa. Samola dengan membawa bendera Jawa Pos pergi ke kampungnya, Manado, dan mencoba membuka koran Cahaya Siang. “Bikin koran, kok, namanya Cahaya Siang,” celetuk pemimpin redaksi Tempo Goenawan Mohamad. Entah karena namanya atau sebab lain, usaha itu berantakan. Upaya Dahlan untuk ke Samarinda bekerjasama dengan korannya yang dulu, juga ditolak mentah-mentah. Dari pengalaman itu, Jawa Pos lebih berhati-hati melakukan ekspansi bisnis media dan melirik bisnis nonmedia. Masuknya Jawa Pos ke usaha nonmedia juga disebabkan lambatnya pertumbuhan bisnis media. Asetnya sulit jadi besar. “Sebab, pabriknya adalah manusia. Mesin-mesinnya yakni wartawan,” kata Samola.

Itu sebabnya Samola bersama Dahlan masuk ke sektor realestat, perhotelan, dan perbankan. Ternyata sektor nonmedia ini juga tak mengalami kemajuan pesat. Bahkan usaha perbankan yang dicoba dirintis Jawa Pos bersama Nahdlatul Ulama dan Bank Summa lewat bank perkreditan rakyat Nusumma, akhirnya ditinggalkan Jawa Pos. Mereka melirik lagi bisnis media di luar Pulau Jawa.

Banyak orang mengira ekspansi Jawa Pos ke daerah cuma dengan modal mesin-mesin cetak bekas. Apakah benar begitu? “Kami bergabung dengan Jawa Pos tahun 1985 hanya karena haus akan informasi yang benar dan akurat. Itu hanya bisa diperoleh apabila bisa mendapatkan akses berita ke pusat,” kata Alwi Hamu, yang mendirikan harian Fajar bersama Yusuf Kalla dan Sinansari Ecip di Makassar. Untuk kawin dengan Jawa Pos, Alwi dan kawan-kawan ikhlas melepaskan 41 persen saham mereka kepada Jawa Pos, 20 persen untuk karyawan dan tinggal 39 persen untuk pemilik lama. Dari perkawinan itu, Fajar mendapatkan laporan berita dari Jakarta dan seluruh Jawa. Selain itu, beberapa wartawan Fajar diberi kesempatan magang kerja di Jawa Pos Surabaya. Maka jadilah Fajar koran terbesar di Indonesia bagian timur dengan tiras sekitar 30 ribu eksemplar.

Alwi Hamu mengatakan Jawa Pos masuk PT Media Fajar tanpa membawa mesin percetakan bekas, sebab koran Makassar ini sudah punya percetakan. Justru Jawa Pos yang memodali Fajar membeli lahan sekitar satu hektar yang kini jadi kantor pusat Fajar, serta mesin cetak Goss Community.

Belakangan setelah gagal dengan Cahaya Siang, Jawa Pos mengambil Manado Post, yang ketika itu terlilit utang sekitar Rp 1 miliar pada sebuah bank pemerintah. “Saya bilang mau ambil, asal bank mau kasih tambahan utang Rp 500 juta,” tutur Alwi. Dengan demikian Jawa Pos mulai mengelola Manado Post dengan utang Rp 1,5 miliar.

Imawan Mashuri yang memulai kariernya sebagai wartawan artis hingga menjabat koordinator liputan Jawa Pos ditempatkan Dahlan di Manado Post dan dengan tegas diterapkan sistem manajemen Jawa Pos. Tak urung sekali waktu ia berhadapan dengan anak buah yang menodongkan pistol. Tapi Imawan sukses menjadikan Manado Post sebagai koran terbesar di Sulawesi Utara sehingga utang-utang perusahaan itu bisa dilunasi. Kini ia menjadi “kuda andalan” Dahlan yang bertanggung jawab mengelola bisnis properti kelompok Jawa Pos (Graha Pena, hotel di Batam dan Nusa Tenggara Barat) dan persiapan delapan televisi lokal yang akan dibangun di delapan markas “kapal induk” Jawa Pos.

Dalam buku Jawa Pos Koran Kita yang diterbitkan 1 Januari tahun 2000, disebutkan kelompok Jawa Pos ada sebanyak 67 koran dan tabloid. Mereka tergabung dalam delapan armada yang disebut “kapal induk”. Delapan armada itu masing-masing: Jawa Pos (Jawa Timur dan Jawa Tengah hingga Nusa Tenggara) dengan pangkalan Surabaya; Riau Pos (Riau, Sumatera Utara, dan Sumatera Barat) dengan pangkalan Pekanbaru; Sumatera Ekspres (Sumatera Selatan, Bengkulu, Lampung) dengan pangkalan Palembang; Rakyat Merdeka (Jakarta, Jawa Barat, dan sebagian Jawa Tengah) di Jakarta; Akcaya (Kalimantan Barat) di Pontianak; armada Manuntung (Kalimantan Timur, Kalimantan Selatan, dan Kalimantan Tengah, dan Sulawesi Tengah) di Balikpapan; kelompok Fajar di Sulawesi Selatan dan Maluku, serta armada Manado Post (Sulawesi Utara, Halmahera, Papua Barat) dengan pangkalan Manado.

Jawa Pos biasanya hanya menempatkan satu “kuda andalan” dari Surabaya untuk memimpin setiap koran daerah yang mau bersanding. Itu dilakukan Dahlan pada Manuntung (kini Kaltim Post) dengan menempatkan Zaenal Muttaqien ke Balikpapan. Kuda yang lain, Surya Aka, mulai kariernya sebagai koresponden di Madiun, lalu jadi sampai koordinator liputan di kantor Jawa Pos Surabaya, dan akhirnya dikirim ke Akcaya Pontianak. Sukses mengembangkan Akcaya, Surya Aka ditarik lagi ke pusat untuk mempertajam beberapa tabloid di Surabaya.

Masuknya Jawa Pos ke Sumatera Utara dimulai Dahlan dengan merekrut rekannya, mantan koresponden Tempo Rida K. Liamsi. Ini nama samaran yang dibalik dari Ismail Kadir. Sewaktu jadi koresponden Tempo, ia guru sekolah dasar sehingga perlu menyamarkan diri jadi wartawan. Rida toh melepaskan pekerjaan guru dan terus jadi wartawan. Karena lebih tertarik pada koran harian, pada 1983 Rida pindah ke Suara Karya. Sekali waktu di tahun 1989, ia ingin mewawancarai Dahlan Iskan tentang Persebaya. Dijawab Dahlan, “Sialan. You bantu saya saja, bikin koran Riau Pos!”

Rida, putra asli Riau, ternyata merasa cocok dengan manajemen ala Dahlan Iskan dan ia bisa menyalurkan keinginan Dahlan di koran Riau Pos bersama pemilik lama harian itu. Dengan oplah 35 ribu, Riau Pos setiap bulan mempunyai omset Rp 1,8 miliar sehingga mengungguli kapal-kapal induk lain: Fajar, Manuntung, Manado Post, Sumatera Ekspres dan Akcaya. Sewaktu saya berkunjung ke Pekanbaru, akhir Maret lalu, saya mendapati Riau Pos memiliki kantor megah berlantai dua, lengkap dengan mobil operasional untuk redaksi dan pemasaran juga sebuah Nissan Terano untuk Rida. “Ini biasa dipakai Dahlan kalau mau ke Padang. Kita biasanya enam sampai tujuh jam, tapi kalau Dahlan yang setir, cuma lima jam,” Rida membanggakan Dahlan.

Di belakang gedung Riau Pos, terlihat suatu menara antena stasiun televisi sedang dibangun. Ternyata Rida sedang merintis lahirnya sebuah stasiun televisi swasta lokal pertama di Indonesia yang khusus disiarkan hanya untuk provinsi Riau. “Investasinya kecil-kecilan, cuma Rp 2 miliar. Kami belum tahu akan seperti apa, tapi insya Allah, mulai siaran akhir April,” tutur Rida.

Harian Riau Pos di pedalaman Sumatra ini mulanya dipandang remeh sehingga tidak pernah disurvei oleh perusahaan penilai untuk kepentingan para pemasang iklan. AC Nielsen, misalnya, tak pernah memasukkan Riau Pos dalam surveinya sehingga koran Waspada Medan dan Fajar Makassar senantiasa dinilai sebagai koran terbesar di luar Pulau Jawa. “Setelah kami minta Riau Pos diperiksa juga, ketahuan bahwa kamilah yang terbesar,” kata Rida, membanggakan korannya yang kini bertiras 35 ribu eksemplar per hari. Itu belum termasuk anak-anak perusahaan seperti Sijori Pos Tanjung Pinang (25 ribu eksemplar), Batam Pos (15 ribu eksemplar), dan lain-lain.

Tapi prestasi Riau Pos itu tidak diraih dengan mudah. Selama tiga tahun Rida mengaku harus berjuang dengan tangisan. Dibantu delapan orang, Rida mengupayakan koran itu terbit delapan halaman setiap hari. Pada hari-hari pertama ia menangis, karena tidak ada agen yang mau jual. “Tahun pertama oplah cuma 2.500, tahun kedua naik 5.000, tahun ketiga masih 8.000. Tahun keempat naik jadi 12 ribu. Baru pada tahun kelima dengan oplah 19 ribu. Kami bisa mengadakan pesta selamatan,” kenang Rida.

Rida pula yang pertama-tama merintis koran cetak jarak jauh. Ia semula panas karena koran Riau Pos selalu kalah cepat dengan koran Jakarta dalam pemasaran di Batam, daerah makmur di selatan Singapura itu. Diam-diam ia memakai sistem cetak jarak jauh di Batam dan Tanjung Pinang, pulau kecil sebelah Pulau Batam. Pada 1995, Menteri Penerangan Harmoko kaget ketika suatu pagi sedang bermain tenis di Tanjung Pinang. Pukul 06.00 Harmoko sudah menemukan koran dari Pekanbaru. Rida terpaksa buka kartu, tapi Harmoko tidak mempermasalahkan usaha cetak jarak jauh itu sepanjang masih dalam provinsi yang sama.

Untuk cetak jarak jauh, Riau Pos harus menyewa line satelit Rp 12 juta per bulan. Ketika dolar melejit pada 1997, tarif sewa naik jadi Rp 60 juta, mereka terpaksa ganti line pada Telkom Rp 8 juta per bulan. Ternyata line Telkom sering ngadat, sehingga mereka pindah lagi ke internet. “Setelah datang reformasi, kami merasa tidak perlu lagi cetak jarak jauh. Bikin saja koran baru,” ungkap Rida, menceritakan usahanya jadi raja koran di Sumatra. Sejak 1998, saat Riau Pos baru berusia 11 tahun, ia mendirikan Sijori Pos di Tanjung Pinang, Batam Pos dan Batam Ekspres, Dumai Pos, Radar Medan, dan Radar Nauli di Sumatera Utara, sampai Padang Ekspres di Sumatera Barat.

Rida pernah mencoba ke Aceh, tapi melihat gawatnya medan di sana, Dahlan menasihati tak perlu. Dahlan memang pernah mengatakan, “Kami tidak berani masuk Aceh, sama seperti Timor Timur.” Rida tidak bisa merambat ke Jambi dan Sumatra Selatan karena di sana sudah ada “kapal induk” Jawa Pos yang lain, bermarkas di Palembang.

Di Sumatra Selatan, Jawa Pos mulai menancapkan tonggaknya di Bengkulu. Ketika mendapatkan tawaran mengelola koran Semarak, dikirimlah Suparno, seorang reporter karier yang berprestasi mulai dari koresponden di Madiun hingga menjadi koordinator liputan Jawa Pos. “Mungkin karena badan saya ini kecil sehingga ditugaskan ke kota kecil (Bengkulu),” katanya dalam buku Jawa Pos Koran Kita. Lantaran Suparno menjalani tugasnya dengan sepenuh hati, harian Semarak cepat berkembang.

DAHLAN melihat potensi pada sosok yang imut-imut itu sehingga ketika Jawa Pos mengembangkan sayap ke kota besar Palembang, Suparno dipilih lagi. Jadilah dia pemimpin harian Sumatera Ekspres sambil mengontrol Semarak dari jauh. Bahkan, ketika ada masalah di harian Independent di Jambi, Suparno juga yang ditugaskan membereskannya. Maka, jadilah Suparno direktur koran-koran grup Semarak, Sumatera Ekspres, Independent, dan Jambi Ekspres.

Suparno juga ditugaskan mengelola koran di Lampung, mula-mula Lampung Ekspres. Setelah jalan, pemilik lama ternyata mau jalan sendiri, sehingga Jawa Pos keluar dan mendirikan Radar Lampung.

Tapi, gaya Dahlan yang ala Jawa Pos dari Jawa Timur ini memang tidak mudah diterima oleh pemilik lama koran-koran yang bergabung dengan Jawa Pos. Itulah sebabnya, antara lain, terjadi bentrok di Manado, Medan, dan Lampung. Jika pemilik lama tidak mau mengikuti manajemen ala Jawa Pos, pihak Jawa Pos biasanya langsung saja mengangkat percetakannya. Modal yang sempat ditanam dibiarkan saja.

“Di Medan tadinya ada Medan Ekspres. Bentrok sama pemiliknya, kita tinggalkan. Watak orang Batak mungkin sulit ikut gaya Dahlan. Kini kita coba bikin sendiri. Mau bikin Medan Pos sudah ada yang duluan, maka kita pakai nama Radar Medan saja. Begitu pula di Sibolga,” tutur Rida K. Liamsi.

DI JAKARTA Jawa Pos mula-mula masuk ke harian Merdeka milik keluarga B.M. Diah, dengan mendirikan PT Wahana Ekonomi Semesta. Menurut Margiono, wakil direktur Jawa Pos yang berkantor di Jakarta, perusahaan itu 40 persen milik Jawa Pos, 40 persen kelompok Merdeka, dan 20 persen karyawan. Sekarang yang disebut kelompok Merdeka ternyata beberapa mantan orang Tempo yang meninggalkan pemimpin redaksi Goenawan Mohamad saat pembredelan Juni 1994. Mereka antara lain Harjoko Trisnadi, Mastum Mahtum, dan Lukman Setiawan yang diperkuat Alwi Hamu dari Makassar. Mereka tadinya memang bekerjasama dengan keluarga B.M. Diah untuk mengelola harian Merdeka.

Selain mengelola harian Merdeka, diam-diam Jawa Pos juga sempat membantu eks karyawan majalah Tempo yang tidak mau bergabung dengan Gatra yang didirikan oleh pengusaha Bob Hasan, kroni Presiden Soeharto, setelah Tempo dibredel 1994. PT Grafiti Pers, penerbit Tempo, membeli dan menghidupkan majalah Detektif & Romantika. Majalah kriminal dan seks itu diubah menjadi sebuah majalah berita mingguan mirip Tempo. Nama disingkat menjadi D&R. Slogan pun diubah jadi “demokrasi dan reformasi”. Lantaran majalah ini sering mengkritik Orde Baru, pemerintah lalu mencari-cari jalan agar D&R tidak bisa terbit. Dipersoalkanlah berbagai segi, mulai wartawannya yang bukan anggota Persatuan Wartawan Indonesia, satu-satunya organisasi resmi wartawan zaman Soeharto, hingga soal siapa sebenarnya pengelola D&R.

PT Grafiti Pers lalu mengoperkan D&R kepada Jawa Pos dan menunjuk Margiono sebagai pemimpin redaksinya. Malang bagi Margiono, begitu namanya dipajang di D&R, muncullah kulit majalah yang menghebohkan itu: gambar kartu remi king berwajah Presiden Soeharto yang dibolak-balik. Akibatnya, Margiono yang tidak tahu-menahu soal itu, berurusan dengan kepolisian, dan berhari-hari menjalani pemeriksaan. Untunglah, pemerintah Soeharto keburu jatuh sehingga urusan D&R selesai begitu saja.

Tapi nasib majalah ini berakhir tragis. D&R sempoyongan ketika tenaga inti redaksinya, yang berasal dari majalah Tempo ditarik untuk membangkitkan kembali majalah Tempo pada Oktober 1998. Perusahaan itu pun dioperkan Jawa Pos kepada sebuah konsorsium pimpinan The Jakarta Post. Tinggal komandannya, Bambang Bujono, serta beberapa wartawan hasil rekrutmen baru yang bertahan. Mereka dengan cepat kalah pamor dengan mingguan Tempo versi baru sehingga lambat laun konsorsium itu membiarkan D&R terpuruk.

Sementara itu, klik Dahlan bersama Mahtum ternyata terus berkembang kuat. Mula-mula memang sempat kacau. Sesuai petunjuk Menteri Penerangan Harmoko, Dahlan Iskan masuk dalam koran Merdeka tidak dengan nama Jawa Pos melainkan dengan nama dirinya pribadi. Itu sebabnya koran keluarga Diah yang terkenal di zaman perjuangan kemerdekaan ini, tidak berubah secara signifikan ketika Dahlan Iskan masuk, sehingga para agen malas memasarkannya. “Kami taruh saja di bawah meja. Kasihan kalau suruh anak-anak jual. Tidak laku,” begitu saya dengar sekitar tahun 1996 dari Laris Naibaho, satu dari 17 agen terbesar yang menguasai pasar koran Jakarta dan sekitarnya.

Tak mengherankan kalau Merdeka terus merugi, bahkan ketika krisis moneter datang menerjang tahun 1997, aset percetakannya sempat masuk Badan Penyehatan Perbankan Nasional (BPPN). “Itu karena kreditnya pada Bank Danamon sekitar Rp 3 miliar macet,” ungkap Baharuddin, manajer Jawa Pos perwakilan Jakarta. Ujung-ujungnya, terjadilah bentrok antara keluarga BM Diah dengan kelompok Dahlan Iskan.

Untunglah, Presiden B.J. Habibie membebaskan penerbitan pers baru tanpa perlu izin lagi. Bersama kelompok Mahtum, Dahlan Iskan menerbitkan koran baru dengan logo yang meniru Merdeka, tapi pakai nama Rakyat Merdeka. Ini dipandang kurang etis tapi aset percetakan Merdeka yang masuk BPPN ditebus. Pengisian dan redaksional Rakyat Merdeka pun berubah. Oleh Margiono, penulisan penuh opini gaya D&R, diturunkan ke Rakyat Merdeka. Jadilah itu koran opini yang sering memelintir judul dari isinya. Pokoknya judulnya berani dan sensasional. “Orang bilang koran kami ekstrem, koran provokasi. Itu karena pers kita tidak terbiasa dengan opini. Sasaran kami hanyalah mengusahakan bagaimana membuat produk yang bisa dibeli oleh pembaca,” kilah Margiono, pemimpin redaksi Rakyat Merdeka.

Kiat seperti itu ternyata menarik minat para agen untuk memasarkannya. Menurut Baharuddin, penjualan Rakyat Merdeka sangat bergantung pada isi berita dan judul. Kekuatan koran ini di pasar eceran (80 persen), bukan pada pelanggan tetap. Kalau ada opini berita yang menarik, Baharuddin menelepon para agen untuk mendapatkan reaksi, barulah dicetak sesuai permintaan pasar, ditambah ekstra 30 persen. Maka tiras Rakyat Merdeka pernah melejit hingga 180 ribu, lalu anjlok tinggal 70 ribu. “Sejak tahun 2000 hingga kini bisa bertahan di sekitar 120-150 ribu eksemplar per hari,” ungkap Baharuddin.

Dengan omset sekitar Rp 5 miliar per bulan, maka Rakyat Merdeka jelas sudah masuk kategori “kapal induk” dalam kelompok Jawa Pos. Tapi PT Wahana Ekonomi Semesta tampaknya tak sekadar ingin menjadi sebuah kapal induk dalam lingkungan Jawa Pos News Network. Ia ingin menjadi suatu konglomerat pers tersendiri, seakan ingin bersaing dengan Jawa Pos.

Perusahaan yang berkantor di sebuah rumah toko berlantai tiga di kompleks kampus Widuri, Jalan Kebayoran Lama, Jakarta, kini memiliki sejumlah koran bukan cuma khusus di Jakarta dan sekitarnya, tetapi sudah melebarkan sayapnya hingga Jawa Tengah, Sumatra, dan Sulawesi. Selain memiliki Rakyat Merdeka, PT Wahana Ekonomi Semesta mengelola suratkabar lokal: Sinar Glodok (daerah Glodok, Jakarta), Radar Bogor, Radar Tangerang, Radar Cirebon, Harian Banten, Radar Banyumas, Radar Tegal, Sumatera Ekspres, Jambi Ekspres, Independent (Jambi), Radar Lampung, dan Kendari Pos.

Selain memiliki saham PT Wahana Ekonomi Semesta dan percetakan PT Wahana Semesta Inti di Jakarta, Jawa Pos juga memiliki percetakan umum dengan nama PT Pentagraf dan beberapa unit mesin percetakan koran yang dikelola PT Temprina Media Grafika langsung dari markas mereka di Surabaya. Total aset Jawa Pos di Jakarta dan sekitarnya, menurut Margiono, sudah sekitar Rp 150 miliar.

Dalam situasi krisis ekonomi yang berkepanjangan ini, Jawa Pos perwakilan Jakarta masih mampu membangun gedung tinggi. Sebuah menara berlantai delapan yang akan menelan biaya sekitar Rp 60 miliar tengah dibangun di Jalan Kebayoran Lama, tak jauh dari kantor perwakilan sekarang yang berlantai tiga. “Duit tak masalah. Kita minta saja pada mereka yang mau berkantor di situ masing-masing Rp 5 miliar, lalu pinjam dari anak-anak Jawa Pos lain masing-masing Rp 250 juta, pasti jadi,” tutur Dahlan.

Kiat itulah yang diterapkan Jawa Pos dalam membiayai pembangunan Graha Pena di Surabaya sehingga bisa diselesaikan tanpa punya utang dolar yang mencekik para konglomerat saat krisis ekonomi 1997. Sistem “keroyokan” atau patungan modal itu pulalah yang hendak diterapkannya untuk merealisasikan proyek pembangunan stasiun televisi lokal di delapan kota yang akan menelan anggaran sekitar Rp 40 miliar. Tapi masing-masing peminjam tetap harus mempertanggungjawabkan pengembalian berikut bunganya. “Jika gagal, sanksinya berat,” ungkap Untung Sukarti dari Pontianak.

UTANG Jawa Pos itu banyak. Lebih dari Rp 100 miliar, kata Leonardi Kusen, presiden komisaris PT Jawa Pos sejak April 2000. Utang-utang itu antara lain untuk membangun pabrik kertas PT Adiprima Suraprinta, Gresik, serta pembelian mesin percetakan yang bertaburan di puluhan kota, mulai dari Medan hingga Jayapura. Namun back up utang itu cukup kuat, sebab seluruh aset Jawa Pos, menurut Leonardi Kusen, sekitar Rp 300 miliar. Itu cuma aset Jawa Pos yang sudah bisa diaudit.

Aset anak-anak perusahaan Jawa Pos memang belum semuanya bisa diaudit karena sistem pembukuan belum seragam. Dan, ditargetkan siap tahun 2002 sehingga apa yang sudah lama dikumandangkan Dahlan untuk menjadikan PT Jawa Pos sebagai perusahaan publik akan menjadi kenyataan sama dengan induknya majalah Tempo.

PT Tempo Inti Media Tbk, penerbit mingguan Tempo, awal Januari 2001 berhasil menangguk Rp 37,5 miliar di pasar modal dengan menjual 17,2 persen sahamnya (125 juta lembar). Apabila Jawa Pos masuk bursa, besar kemungkinan saham-sahamnya akan lebih berotot dari induknya. Sebab, selain mempunyai fondasi Jawa Pos, yang jauh lebih besar omsetnya dari Tempo, ia pun berakar di provinsi-provinsi yang masih mempunyai lebih banyak peluang untuk berkembang.

Tapi jangan salah. Jawa Pos belum sehebat konglomerat Kelompok Kompas Gramedia, perusahaan media paling besar di Indonesia. Menurut Purwoko, manajer bisnis Kompas, penghasilan iklan Kompas per hari saja sekitar Rp 5 miliar, sedangkan penghasilan iklan Jawa Pos, menurut buku Jawa Pos Koran Kita, sebelum krisis ekonomi pernah mencapai Rp 6 miliar per bulan, ketika krisis datang menghantam, sempat turun sampai Rp 1,5 miliar per bulan. Taruhlah omset Jawa Pos News Network sudah pulih seperti sedia kala, nilainya masih sekitar sepertigapuluh Kelompok Kompas Gramedia.

Bisnis Jawa Pos bukan cuma pers dan percetakan. Kini dia juga memiliki perusahaan yang mampu bongkar pasang dan merakit mesin percetakan bekas tipe Goss. Mesin-mesin Goss bekas dicari di internet, kemudian diperbaiki atau ditambalkan ke pabrik-pabrik yang ada. Selain irit, juga menjadikan divisi percetakan sebagai suatu sumber penghasilan. Itu semua bisa dilakukan tim pimpinan Misbahul Huda, yang sempat disekolahkan Dahlan Iskan ke Chicago, Amerika Serikat, untuk belajar banyak soal mesin. “Pak Dahlan memang tidak takut keluar biaya. Kalau pun kita salah, dia tidak ngamuk. ‘Anggap saja biaya kamu untuk belajar.’ Begitu katanya kalau kita salah,” tutur Misbahul Huda, direktur PT Temprina Media Grafika, yang kini membawahi 35 unit mesin percetakan yang terletak di 29 kota dari Medan sampai Jayapura.

Dulu percetakan merupakan bagian dari Jawa Pos, sekarang sudah berdiri sendiri. “Omset Temprina tahun 2000, sekitar Rp 160 miliar. Margin keuntungan sekitar 14 persen,” ujar Huda. Artinya, secara kasar, PT Temprina Media Grafika setiap bulan untung hampir Rp 2 miliar. Tak mengherankan jika Huda, putra asli Madiun kelahiran 1963 ini, diberi fasilitas sedan Mercedes Benz dari kantor padahal Huda sendiri sudah mampu membeli sedan BMW untuk keluarganya.

Masuknya Jawa Pos ke bisnis kertas dengan mendirikan PT Adiprima Suraprinta, Gresik, lebih disebabkan krisis kertas koran 1990-an. Pemasokan kertas oleh Serikat Penerbit Surakabar sering tidak teratur dan harganya sering melonjak tinggi. Menurut Jawa Pos Koran Kita, hanya koran-koran kuat yang mampu mengatasi. Masalahnya, kertas koran itu sering langka sehingga apabila stok di gudang menipis menyebabkan waswas bagi penerbitan Jawa Pos yang ingin korannya terbit setiap hari.

Pabrik-pabrik kertas swasta yang banyak ternyata enggan masuk ke industri kertas koran karena terlalu berisiko. Pertama karena harganya selalu dikendalikan pemerintah, kedua permintaan banyak terpengaruh keadaan politik, dan ketiga ketakutan berurusan dengan orang pers. Hanya pemerintah (Pabrik Kertas Leces) dan kroni Soeharto, Bob Hasan (PT Aspex), yang berani masuk ke industri kertas koran. Dalam keadaan itulah maka Jawa Pos akhirnya mendirikan PT Adiprima Suraprinta, di atas lahan seluas 8 ha di desa Wringin Anom, Gresik, Jawa Timur.

Pabrik ini menelan investasi sekitar Rp 80 miliar dengan mesin Mecanica Verona, Italia berkapasitas 120 ton per hari yang bisa ditingkatkan hingga 140 ton per hari. Dewasa ini pabrik ini beroperasi 24 jam sehari (tiga shift) dan menghasilkan rata-rata 100 ton per hari atau tiga ribu ton per bulan. Entah kenapa, pabrik ini sudah sampai dua kali mengalami kebakaran. Gudang bahan bakunya, berupa kertas koran bekas yang diimpor dari Eropa, sempat terbakar pada 1997 dan 1999. Setiap gudang yang terbakar diperkirakan merugi Rp 5 miliar.

Namun, setelah berjalan baik, apalagi setelah PT Adiprima Suraprinta, bisa mengekspor 30 persen produknya, pabrik kertas itu sudah mulai diperhitungkan sebagai bisnis yang menguntungkan. Tak mengherankan jika Dahlan tertarik membeli pabrik kertas yang mogok di Pontianak pada hari saya menemaninya.

Dalam waktu dekat, Jawa Pos pun akan masuk ke industri tinta percetakan. Dengan demikian, Jawa Pos benar-benar akan menjadi industri pers terpadu. Sementara ini, sektor nonmedia seperti, realestat dan properti tidak lagi bisa diharapkan jadi “armada kapal induk”. Jawa Pos lebih menekankan sektor media, termasuk pendirian stasiun televisi swasta lokal.

Pada 1993 Jawa Pos mempunyai 23 perusahaan pers yang dibagi dalam tiga kelompok. Kelompok pertama sudah membagikan dividen total Rp 400 juta terdiri dari Manuntung Balikpapan, Fajar Makasar, Akcaya Pontianak, dan majalah Liberty Surabaya.

Kelompok kedua yang dinilai sudah mandiri dan bisa menghasilkan laba: Nyata dan Putera Harapan di Surabaya, Riau Pos, dan Manado Post. Kelompok ketiga masih disubsidi terbatas dan perkembangannya membaik: Suara Nusa (dahulu Lombok Pos), Radar Surabaya (dahulu Suara Indonesia), Kompetisi (Surabaya), Komputek (Surabaya), Memorandum (Surabaya), Mercu Suar (Palu), Agrobis (Surabaya), Radar Solo (dahulu Jawa Anyar), Suara Maluku (Ambon), Cendrawasih Pos (Jayapura), Independent (Jambi), Palangkaraya Pos, Semarak (Bengkulu), dan Batam Pos. Omset kelompok kedua ini pada 1992 tercatat total Rp 12 miliar.

Dahlan Iskan dalam tempo sepuluh tahun berhasil mengembangkan Jawa Pos bukan cuma di Jawa Timur, tapi dari Sumatra hingga Papua Barat. Tapi secara mengejutkan, pada 1993, dalam usia 42 tahun, Dahlan Iskan memutuskan pensiun sebagai pemimpin redaksi dan pemimpin umum Jawa Pos. Beda dengan induknya, Tempo, yang sampai 1998 terus mengandalkan Goenawan Mohamad sebagai pemimpin redaksi. Jawa Pos justru melakukan peremajaan. “Supaya Jawa Pos selalu muda, supaya cocok dengan zamannya,” begitu alasan Dahlan. Mungkin juga Dahlan ingin lebih memberikan waktu sebagai orang nomor satu Jawa Pos News Network.

Dalam sembilan tahun terakhir, sejak Dahlan Iskan lengser, redaksi Jawa Pos sudah tiga kali mengalami pergantian pemimpin. Pengganti Dahlan adalah Margiono. Ia angkatan pertama berpredikat sarjana yang direkrut pada 1984. Pada 1995, ketika Jawa Pos menerobos usaha baru ke Jakarta dengan mengelola harian Merdeka, Margiono ditunjuk sebagai komandan sehingga tampuk redaksi Jawa Pos dioperkan kepada Solihin Hidayat. Tahun 2000 lalu, setelah kantor redaksi Jawa Pos diduduki Barisan Serba Guna (Banser) Nahdlatul Ulama karena dituduh memfitnah pengurus Nahdlatul Ulama, Hidayat digantikan Dhimam Abror, wartawan berusia 36 tahun. Ia masuk Jawa Pos pada 1988, dan bukan cuma berpredikat sarjana, tapi juga master of science bidang pengembangan sumber daya manusia dari Charles Sturk University di Sidney.

PT Jawa Pos sejak 1982, senantiasa merekrut angkatan kerja baru yang berpendidikan tinggi dan meremajakan elit redaksi. Belakangan Dahlan bahkan menerapkan kebijakan yang lebih keras. Prestasi karyawan dinilai setiap tahun. Mereka yang masuk kelompok lima persen berprestasi terbaik diberi bonus serta peluang karier lebih tinggi, sedang lima persen terbawah dinasihatkan untuk pindah atau keluar.

KORAN-koran yang bernama Radar diproduksi oleh tenaga-tenaga trampil yang rata-rata berpredikat sarjana. Tapi Dhimam Abror mengakui mutu mereka masih jauh dari memuaskan. “Masalahnya tidak mudah cari tenaga baru yang langsung bermutu. Ketika kami meluncurkan tujuh Radar di Jawa Timur, setiap Radar butuh katakanlah 20 tenaga, sehingga diperlukan sekitar 140 orang. Itu tak mudah,” tutur Abror. Soalnya, menurut Abror, “Dahlan itu ingin mengejar peluang. Maka, kalau mutu Radar masih rendah, itu adalah opportunity cost atau katakanlah biaya interest during construction yang harus dipikul,” tambahnya.

Koran kelompok Jawa Pos News Network, kecuali tujuh Radar di Jawa Timur yang sudah meraih tiras sekitar 10 ribu-30 ribu, banyak yang masih beroplah 3-5 ribu. Tapi jangan dikira mereka masih disubsidi Jawa Pos. “Yang kami kejar bukan tiras, tapi iklan,” ungkap Untung Sukarti. Potensi iklan dari kota-kota kabupaten dan kecamatan ternyata cukup besar. Dengan meraih pemasukan iklan Rp 1- Rp 2 juta sehari, setiap bulan dapat Rp 30- Rp 60 juta. Itu lebih dari cukup untuk membayar biaya operasi serta gaji karyawan Radar yang rata-rata cuma 10-20 orang. Pendapatan dari penjualan koran, praktis hanya untuk bayar ongkos kertas dan cetak.

Adanya jaringan terpadu komputer koran-koran kelompok Jawa Pos, memang menyebabkan biaya produksi mereka sangat irit. Koran-koran daerah praktis cuma perlu mengisi 4-8 halaman dari yang terbit 12-16 halaman. Untuk berita dan foto-foto nasional, baik politik, olahraga, ekonomi, dan internasional, tinggal ambil dari jaringan komputer terpadu. Praktis koran-koran daerah cuma perlu memelihara 5-10 wartawan. Jika harus memelihara koresponden atau perwakilan di berbagai pelosok nusantara, berapa besar biayanya?

Tapi untuk mencari iklan di Jakarta, “kapal-kapal induk” tadi mempunyai tenaga perwakilan di Jakarta. Dan mereka ternyata sangat potensial. Setiap perwakilan di Jakarta rata-rata bisa memasok iklan Rp 200 juta – Rp 300 juta ke “kapal induk” mereka.

“Filosofi Dahlan sangat liberal. Pers harus dikelola sebagai institusi bisnis yang efisien. Di satu sisi ia ingin kebebasan pers penuh, di sisi lain ia tuntut standar yang tinggi. Ia juga menekankan efisiensi dalam pengelolaan. Sering itu dipahami sebagai standar gaji sangat rendah. Baru kalau perusahaan sudah sehat, karyawan diberi penghargaan,” tutur Dhimam Abror.

Itu terbukti antara lain di tujuh koran yang memakai nama depan Radar di Jawa Timur. Para karyawan di sana semuanya sarjana, tapi diberi gaji kecil. Tapi setelah berjalan setahun dan mereka mendapat laba, karyawan diberi bagian dari keuntungan. “Di Jember, misalnya, bisa dapat tantiem sebesar Rp 5 – 6 juta, itu jumlah yang tidak kecil dan sangat menyenangkan karyawan,” kata Dhimam Abror. Tantiem adalah bonus akhir tahun yang diambil dari keuntungan perusahaan.

Munculnya koran-koran anak Jawa Pos yang memakai nama Radar, sebenarnya meniru harian Suara Karya, yang pernah membuatkan lampiran berita pedesaan dari program koran masuk desa. Jawa Pos, yang terlalu memprioritaskan berita nasional, sering tak punya tempat untuk berita-berita dari kotamadya dan kabupaten. Maka dibuatlah lembar-lembar lampiran Jawa Pos dengan nama Radar Malang, Radar Bojonegoro, Radar Kediri, Radar Jember, Radar Bromo, Radar Banyuwangi, dan Radar Madiun. Lampiran ini ternyata sanggup menarik pemasang iklan dari kota-kota kabupaten tersebut, sehingga diputuskanlah mereka harus mandiri.

Kesuksesan memandirikan ketujuh Radar itu membuat Jawa Pos terdorong untuk berkembang keluar Jawa Timur: Madura, Jawa Tengah, Jawa Barat, Lampung, sampai ke Medan, bahkan ke Papua. Muncullah Radar Madura, Radar Solo, Radar Tegal, Radar Banyumas, Radar Cirebon, Radar Bogor, Radar Tangerang, Radar Lampung, Radar Medan, Radar Nauli (Sibolga), Radar Jayapura, Radar Merauke, dan Radar Timika.

Hanya Radar Surabaya, yang baru muncul Januari 2001 di Surabaya, yang merupakan metamorfosa sebuah koran nasional tua. Koran ini dulunya memiliki surat izin usaha penerbitan pers (SIUPP) dari zaman Soeharto. Koran ini didirikan 1976 oleh seorang pengusaha kapal di Surabaya dengan nama Suara Indonesia. Gagal mengembangkannya, koran ini dijual kepada walikota Malang Kolonel Sugiono pada 1981. Mungkin tak tahan hawa dingin Malang, koran ini boyong lagi ke Surabaya karena dibeli oleh harian Sinar Harapan Jakarta.

Ketika Sinar Harapan dibredel Soeharto pada 1988, Suara Indonesia dijual pada Jawa Pos. Sejalan dengan ramainya perusahaan masuk bursa, koran inipun diubah Dahlan menjadi koran ekonomi. Rupanya memang sulit mencari pasar. Tirasnya cuma 3.000.

Munculnya arus politik yang hiruk-pikuk di tahun 1997, menyebabkan Dahlan mengubah Suara Indonesia jadi koran umum lagi. Redaksinya dibiarkannya menurunkan karikatur tentang Soeharto lebih berani dari majalah D&R. Perubahan itu mendongkrak tirasnya hingga 70 ribu. Tapi Suara Indonesia kalah bersaing dengan Surya milik Kompas dan Pos Kota di Jawa Timur maupun koran petang Surabaya Post, apalagi induknya sendiri, Jawa Pos. “Apapun yang ditulis Suara Indonesia itu ekslusif, tetap saja tidak diperhatikan orang. Tapi setelah ditulis Jawa Pos atau koran lain, barulah diperhatikan orang,” tutur Luthfi Subagio, pemimpin redaksi Suara Indonesia.

DAHLAN Iskan mengatakan, “Koran yang pakai nama Suara menurut pengalaman kami selalu jelek,” ketika saya tanya soal Suara Maluku dan Ambon Ekspres yang masing-masing dituding menjadi corong kelompok Kristen dan Muslim yang telah dua tahun bertikai di Maluku. Menurut Dahlan, mulanya Jawa Pos memiliki Suara Maluku di Ambon. Koran ini senantiasa rugi sehingga manajemennya berkali-kali dibenahi, khususnya oleh tim yang dipimpin Alwi Hamu dari Fajar Makasar.

Ketika terjadi bentrokan yang meluas jadi permusuhan Islam-Kristen, para karyawan Suara Maluku yang beragama Islam menghadapi kesulitan pergi ke kantor karena Suara Maluku terletak di daerah pemukiman Kristen. Karena mereka menganggur, mereka minta percetakan dan bikin koran baru dengan nama Ambon Ekspres. Dalam masthead kepengurusan, dua-duanya memasang nama direktur utama: Haji Dahlan Iskan.

Tragisnya dua koran yang satu pemilik itu partisan dalam meliput Ambon. Keduanya terjebak dalam permusuhan antaragama. “Kami putus hubungan dengan mereka. Komunikasi ke sana sulit, bahkan tidak bisa,” kata Dahlan. “Saya tidak bisa menghentikan mereka, tapi kalau pemerintah mau sebenarnya gampang. Ledakkan dan hancurkan saja percetakan mereka. Tapi jangan saya yang lakukan. Saya tak mampu,” kata Dahlan, tanpa bisa menyembunyikan kemarahannya.

Padahal di Surabaya Dahlan punya dua tabloid agama yang tidak bermasalah: Gloria, tabloid mingguan rohani Kristen dengan oplah 18 ribu dan Nuraini, tabloid untuk umat Islam yang tirasnya sekitar 8.000 eksemplar. Dalam masthead kedua tabloid itu tercantum direktur utama bernama Dahlan Iskan. Dua-duanya berkantor di Graha Pena, tidak ada masalah Muslim dan Kristen di sana.

Selain itu Jawa Pos juga mempunyai tabloid kebatinan atau hal-hal yang mistik, yakni Posmo: Metafisika dan Pengobatan Alternatif serta majalah Liberty. Penggemar tabloid dan majalah ini ternyata cukup tinggi sehingga oplahnya mencapai 70 ribu sedangkan isinya sekitar 50 persen dipenuhi dengan iklan klenik dan perdukunan.

Pada April 2001, berbagai ragam koran, tabloid dan majalah yang diterbitkan kelompok Jawa Pos News Network, saya perkirakan sudah sekitar seratus. Dari kunjungan saya ke Pontianak, Surabaya, Makassar, dan Pekanbaru saja, saya menemukan masing-masing “kapal induk” itu sudah mempunyai biduk dan anak armada baru yang tidak tercantum dalam buku Jawa Pos Koran Kita.

Di Sumatra Utara saja, menurut buku pemberian Dahlan Iskan itu, ada lima koran: Radar Medan, Padang Ekspres, Riau Pos, Utusan (kini Pekan Baru Pos), dan Sijori Pos (Tanjung Pinang)). Ketika saya berkunjung ke Pekanbaru, di sana sudah bertambah empat koran baru yakni Radar Nauli ( Sibolga), Batam Pos, dan Batam Ekspres (keduanya Batam) serta Dumai Pos di Dumai.

Demikian pula kelompok Akcaya Pontianak. Selain menerbitkan Pontianak Post (model Jawa Pos) dan Ekuator (model Pos Kota di Jakarta), Februari 2001 sudah melahirkan koran Kapuas Pos (untuk pemasaran Sanggau dan Sintang), dan Kun Dian Ri Bao. Yang disebut terakhir ini koran berbahasa Cina yang pengisiannya dilakukan redaksi di kantor pusat Akcaya Pontianak. Aksara Cina dan tata letaknya dibuatkan di Kuching, Malaysia. Selanjutnya dikirim kembali ke Akcaya untuk dicetak dan dipasarkan di Kalimantan Barat, yang punya populasi orang Cina cukup besar. Untuk pencetakannya, Dahlan membeli software komputer dari Republik Rakyat Cina.

Ketika berkunjung ke Pontianak, Dahlan sudah menginstruksikan Untung Sukarti untuk segera pergi ke kota Ketapang mencari lokasi untuk percetakan pers. “Satu minggu ya! Duit tidak masalah,” perintah Dahlan. Dengan memasang percetakan di Ketapang, tentu saja Dahlan ingin menerbitkan koran di situ. Maklum, Ketapang telah disebut-sebut bakal menjadi salah satu ibukota provinsi pecahan Kalimantan Barat.

Kelompok Jawa Pos News Network di Sulawesi Selatan pun tidak ketinggalan melakukan ekspansi. Menurut Jawa Pos Koran Kita, di Makasar baru ada harian pagi Fajar (model Jawa Pos) dan Bina Baru (model Pos Kota). Sewaktu saya berkunjung, Maret lalu, Bina Baru telah berganti nama menjadi Berita Kota (koran kriminal seperti Pos Kota di Jakarta), dan di situ sudah diterbitkan pula Ujung Pandang Ekspres (koran petang meniru harian Suara Pembaruan Jakarta). Selain itu, Fajar juga telah melahirkan dua koran kabupaten yakni Palopo Pos, dan Pare-Pare Pos, serta Golo (tabloid olahraga) dan Intim (tabloid keluarga).

Saya tidak sempat mengunjungi tiga “kapal induk” Jawa Pos di Palembang, Balikpapan, dan Manado, tapi bisa dipastikan armada mereka pun sudah lebih dari sekadar apa yang tercantum dalam buku Jawa Pos Koran Kita. Dapat dipastikan kelompok Jawa Pos di Nusa Tenggara, Maluku, dan Papua Barat juga sudah lebih banyak dari yang disebutkan dalam buku itu.

Era reformasi yang membebaskan orang menerbitkan pers tanpa perlu izin dari pemerintah benar-benar dimanfaatkan Dahlan Iskan. Di mana ia melihat peluang bikin koran, langsung disabetnya. Hampir setiap ibukota provinsi telah diterbitkan olehnya minimal dua suratkabar, satu sebagai suratkabar umum meniru Jawa Pos atau Kompas, dan satu lagi suratkabar khusus tentang kriminal, dan seks meniru koran Pos Kota di Jakarta.

Jenis pers apa yang tidak dimasuki Dahlan? Hampir semua pers yang laris di Jakarta telah ditiru Jawa Pos. Maka ada tabloid Agrobis yang meniru majalah Trubus, ada Nyata yang meniru Nova, ada Ototren yang mengikuti tabloid Otomotif, dan sebagainya. Ketika ramai musim kampanye politik tahun 1998, Dahlan sempat menerbitkan empat koran politik yang menjadi bendera empat partai. Harian Abadi dikelola Partai Bulan Bintang, Duta Masyarakat menjadi corong Partai Kebangkitan Bangsa, Demokrat diasuh Partai Demokrasi Indonesia Perjuangan, dan Amanat untuk corong Partai Amanat Nasional (PAN). Pengisian dilakukan sendiri oleh masing-masing partai, tapi manajemen dalam kelompok Jawa Pos. Golkar pun memanfatkan Bhirawa, juga dalam kelompok Jawa Pos.

GRAHA Pena, kantor pusat Jawa Pos benar-benar menjadi sebuah menara pertanda kemakmuran. Halaman parkir luas penuh mobil. Beberapa lantai diberi void (kosong) sehingga pemandangan sangat banglas, antara lain di lobi. Ruang redaksi Jawa Pos di lantai IV, pun diberikan void pada lantai V sehingga para wartawan bisa menerawang tinggi sambil melirik siaran televisi dari sekitar 17 pesawat monitor televisi yang dipajang di tiga penjuru ruang redaksi.

Dahlan dan para karyawan Jawa Pos tampaknya memang sudah banyak yang makmur. Direksi Jawa Pos rata-rata menggunakan mobil mewah. Dahlan sendiri menggunakan sedan Mercedes Benz dengan pelat nomor L-1-JP. L adalah nomor Surabaya sedangkan JP singkat Jawa Pos. Para karyawan digaji bukan sekadar 12 bulan setiap tahun, tapi juga dapat tunjangan hari raya dan bonus beberapa bulan gaji. Maklum, dalam lima tahun terakhir, keuntungan PT Jawa Pos sekitar Rp 30 miliar dan para karyawan yang memegang saham 20 persen, tentu kebagian dividen setiap tahun.

Yang lebih makmur tentu para pemiliknya: PT Grafiti Pers atau penerbit Tempo versi lama (40 persen), keluarga Eric Samola (20 persen), dan para direksi Grafiti Pers yakni Goenawan Mohamad, Harjoko Trisnadi, Lukman Setiawan, dan Fikri Jufri masing-masing lima persen. Dahlan Iskan yang membesarkan Jawa Pos ternyata sejak 1982 tak lebih dari seorang profesional murni.

Baru pada tahun 2000, Eric Samola, yang sakit-sakitan karena stroke, sempat menyisihkan saham pribadinya 2,4 persen kepada Dahlan Iskan dan 1,2 persen kepada Tarjanto, asisten Samola yang pernah bekerja di Jawa Pos. Dengan demikian saham yang ditinggalkan Samola kepada keluarganya tinggal 16,4 persen.

Samola meninggal November 2000 dan para pemegang saham Jawa Pos baru bisa menyelidiki manajemen Dahlan Iskan. “Banyak hal harus dirapikan,” kata Leonardi Kusen, direktur utama PT Grafiti Pers yang menjadi komisaris utama PT Jawa Pos. PT Grafiti Pers adalah sebuah perusahaan anak Yayasan Jaya Raya, yang didirikan pemerintah Daerah Khusus Ibukota Jakarta Raya (ketika Ali Sadikin menjabat gubernur) bersama 40 perusahaan di Jakarta yang dikoordinir oleh direktur utama PT Pembangunan Jaya Ciputra.

Tak mengherankan jika direktur utama PT Grafiti selalu berasal dari PT Pembangunan Jaya. Mulanya Eric Samola lalu Leonardi Kusen. Mereka sangat berperan dalam pengembangan bisnis majalah Tempo dan koran Jawa Pos tapi tidak pernah mencampuri urusan redaksi. Hanya saja, penerapan manajemen Jawa Pos berbeda sekali dengan gaya Tempo. Di Tempo, ketika baru berusia lima tahun, sejumlah karyawan pionir (Goenawan Mohamad dan kawan-kawannya) diberi saham atas nama pribadi oleh ketua Yayasan Jaya Raya Ciputra. Di PT Jawa Pos tak seorang pun tenaga profesional yang diberi saham oleh induknya.

Kendati karyawan Jawa Pos memiliki saham 20 persen, tapi Dahlan merasa tak puas dengan sistem itu. Menurut Dhimam Abror, Dahlan pernah mengutarakan bahwa lebih baik karyawan tidak jadi pemegang saham, tapi diberikan saja tantiem dari keuntungan setiap tahun. Hal ini sudah diterapkan pada tujuh koran Radar di Jawa Timur, dan tampaknya lebih menarik. Para karyawan tak usah pusing memikirkan saham mereka, karena toh pada kenyataan hak-hak mereka sebagaimana layaknya pemegang saham tidak bisa direalisasikan. “Soal persahaman karyawan itu, kami serahkan saja kepada direksi bagaimana mau mereka atur. Kami tidak mau ikut campur,” ujar Leonardi Kusen.

Manajemen Jawa Pos selama ini, menurut Kusen, sudah bagus sekali. Peran Dahlan, yang cuma pernah kursus manajemen ketika ditunjuk jadi kepala biro Tempo, besar sekali dan kerja kerasnya luar biasa dominan dalam mengarahkan pengelolaan PT Jawa Pos. Kusen mengakui Dahlan telah mendelegasikan wewenang ke bawah. “Di sana ada Ibu Winny (Ratna Dewi) yang kuat, penjaga gawang keuangan. Ia juga telah melakukan kaderisasi yang baik, sehingga telah muncul nama-nama seperti Margiono, Nany Wijaya, dan Lanny Kusumawati dalam jajaran wakil direksi.”

“Kehebatan Dahlan, keberanian mengambil resiko yang terukur,” tutur Kusen lebih lanjut. Itu sebabnya Jawa Pos bisa lolos dari krisis moneter. Itu karena masuknya ke tempat dan waktu yang tepat. Utang pembangunan gedung Graha Pena, misalnya, sudah lunas, sementara dunia properti Indonesia sekarang justru banyak yang ambruk. Itu karena exposure utang dolar kecil sekali, bahkan pabrik kertas PT Adiprima Suraprinta, menjual kertas kepada grupnya tetap dengan standar dolar.

Namun Kusen mengakui ada juga kegagalan Dahlan. Cuma jika ditimbang-timbang masih lebih banyak yang sukses daripada yang gagal. “Hebatnya dia, dengan sumber daya dan keuangan yang terbatas, Dahlan bisa generate (bangkitkan) usaha yang fenomenal. Visi Dahlan sangat jauh ke depan, dan ia punya talenta untuk mewujudkannya. Visi saja tidak cukup. Harus ada drive dan infrastruktur yang memungkinkan pengambilan keputusan yang cepat tanpa diganggu birokrasi pemegang saham,” kata Kusen.

Menurut Kusen, infrastruktur PT Jawa Pos sangat ketinggalan. Misalnya? “Dalam sistem pelaporan, accounting, juga dalam marketing management. Sistem pembukuan yang berbeda-beda, khususnya di anak-anak perusahaan sehingga belum bisa diaudit. Baru Jawa Pos saja yang bisa diaudit. Itu salah satu sebabnya belum bisa masuk pasar modal,” jawab Kusen. Selama ini, para pemegang saham bersifat pasif. “Dahlan punya pikiran apa, kita dukung. Itu utama, walaupun dalam profesionalisme modern, itu perlu ditingkatkan,” kata Kusen.

Bila Kusen bicara demikian bisa dijelaskan karena ia bertitel Master of Business Administration dari Syracuse University (Amerika Serikat). Kusen dikenal piawai dalam menerapkan manajemen sehingga ia juga menduduki posisi direktur dalam tiga perusahaan kelompok PT Pembangunan Jaya, juga direktur utama dalam tiga perusahaan pers: PT Grafiti Pers, PT Karsa Muda Laksana dan PT Tempo Inti Media.

APRIL 2000, Eric Samola mengundurkan diri dari kursi direktur utama PT Jawa Pos. Samola diganti oleh Dahlan. Saat itu Goenawan Mohamad, dalam kedudukan sebagai presiden komisaris PT Jawa Pos, merasa tak enak melihat Yusril Djalinus dan Zulkifly Lubis, keduanya anggota direksi PT Grafiti Pers, dan orang-orang yang dipercayai Goenawan, belum kebagian kursi Jawa Pos. Maka pengunduran diri Samola membawa perubahan lain. Para pemegang saham menunjuk Harjoko Trisnadi, salah satu pemegang saham PT Jawa Pos, dan Zulkifly Lubis masuk dalam jajaran direksi PT Jawa Pos mendampingi dua direksi lama pasangan Dahlan yakni Ratna Dewi dan Imam Soeroso. Sedangkan Yusril Djalinus diberi kursi dalam jajaran komisaris bersama para pemegang saham individual macam Goenawan Mohamad.

Tapi keputusan yang sudah setahun itu, sampai April 2001 belum juga disosialisasikan. “Setahu saya susunan direksi belum berubah,” kata Margiono, wakil direktur PT Jawa Pos. Ia mengaku tidak tahu kalau ada Harjoko Trisnadi dan Zulkifly Lubis kini dalam barisan direksi. Bahkan permintaan Trisnadi untuk mendapatkan kantor di perwakilan Jakarta Jawa Pos belum dikabulkan, sehingga direktur PT Jawa Pos berusia 70 tahun ini menumpang berkantor di PT Tempo Inti Media Tbk.

Zulkifly Lubis, direktur PT Tempo Inti Media Tbk, yang juga merangkap direktur paruh waktu PT Jawa Pos, Januari 2001 lalu memberi tumpangan kantor bagi Harjoko Trisnadi, bersama rekan-rekan yang pernah ditinggalkannya untuk mendirikan majalah Gatra bersama Bob Hasan. “Karena kebaikan Tempo, saya dikasih menumpang di sini,” kata Harjoko, yang saya dapati berkantor di sebuah ruang kecil, ukuran sekitar 1,5 m x 2 m di lantai sepuluh gedung PT Pembangunan Jaya.

Sampai 16 April, 2001, nama Harjoko dan Lubis belum tercantum dalam masthead koran Jawa Pos. “You tahu kan, kantor Jawa Pos Jakarta sempit. Saya sendiri tidak punya kantor di mana pun,” ujar Dahlan ketika saya tanyakan soal itu. Bahwa nama mereka belum dicantumkan di koran, itu soal administrasi saja. “Nama saya juga di situ masih disebutkan direktur, padahal sudah direktur utama,” ujarnya enteng.

Sewaktu mendampingi Dahlan di Pontianak, ia sempat mengatakan bahwa Jawa Pos adalah sebuah perusahaan yang seratus persen dikelola para profesional murni, tanpa ada campur tangan pemilik saham. Tapi belakangan Dahlan jadi anggota pemegang saham PT Jawa Pos? Menurut Dahlan, ini tidak akan menimbulkan konflik antara pemegang saham dengan direksi. Dari tahun 1982, Samola, yang juga memegang saham 20 persen, sangat aktif mengarahkan manajemen Jawa Pos. Dalam keadaan sakit pun Samola, yang terkena kena stroke 1990 sehingga tak mampu bicara tapi masih bisa berkomunikasi dengan bahasa isyarat -masih sering bertemu Dahlan untuk mencurahkan ilmu kewiraswastaannya. Betapa eratnya hubungan mereka dituangkan Dahlan dalam sebuah artikel “Saya seperti Anak Sulung Eric Samola.” Dapat disimpulkan, pesatnya kemajuan Jawa Pos sebenarnya karena ilmu Samola bisa dibaca dan diterapkan Dahlan secara one man show.

Alwi Hamu, yang tidak duduk dalam barisan direksi maupun dalam barisan kader direksi Jawa Pos (Margiono, Nany Wijaya, dan Lenny Kusumawati) tapi jadi semacam orang bijak di lingkungan Jawa Pos, mengakui masuknya para pemegang saham dari jajaran direksi Tempo ke jajaran direksi PT Jawa Pos memang untuk mengendalikan Dahlan Iskan dan untuk ikut memperhatikan manajemen.

Alwi, yang menjabat ketua koordinator group Jawa Pos News Network merangkap kepala Badan Pengembangan dan Pengawasan kelompok ini bilang, “Jawa Pos jangan dibiarkan begitu saja. Dahlan sangat one man show, tapi ke bawah kami terapkan team work. Harus pakai sistem, tidak seperti gaya darurat.” Ternyata, perkawinan antara daya tarik (drive) yang keras dari pribadi Dahlan ditunjang sistem semangat tim telah membuahkan jaringan Jawa Pos yang luas di semua propinsi Indonesia, kecuali Aceh. ***

Majalah Pantau, edisi Mei 2001

About these ads

One response

  1. makasih mas,,, ata postinaya…

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: