Bahasa Kuasa Pancasila


Sumber:
http://m.okezone.com/read/2011/10/19/337/517413/bahasa-kuasa-pancasila

Rabu, 19 Oktober 2011 –

JAKARTA – Pancasila adalah muara segenap arah ideologi bangsa menjelang kemerdekaan. Humanisme, Islamisme, sosialisme, internasionalisme, lokalitas dan demokrasi seluruhnya diadopsi dalam Pancasila.
Pancasila mendekatkan berbagai pandangan berbeda ke dalam satu wadah penampung yang merekatkan semuanya. Sejak awal, Pancasila menjelma sebagai bahasa kuasa yang tidak apatis terhadap dinamisme keragaman. Tapi, langgam ideologi Pancasila pernah mengalami tiga kali tubrukan.
Tubrukan pertama terjadi dimasa Orde Lama di mana Pancasila ditafsirkan mengikuti bandul revolusi ambisius Soekarno. Masa itu, Pancasila juga dimonopoli pemahaman kaum kiri yang sangat bernafsu menghabisi kalangan agama dan pengikut kapitalisme di Indonesia.
Tubrukan kedua dialami di zaman Soeharto. Pancasila ditafsirkan secara seragam mengikuti arus pemaknaan penguasa melalui azas tunggal, Pedoman Penghayatan dan Pengamalan Pancasila (P4) serta pembunuhan karakter terhadap Orde Lama.
Kelompok oposisi gampang dihabisi dengan dalil subversi menentang pancasila. Banyak insiden diciptakan untuk menjaga status quo. Orde baru bahkan memasukkan pancasila secara paksa sebagai bagian dari rezim. Sebuah tindakan sarkastis yang menyebabkan pancasila tak lagi berdiri sebagai muara keragaman dan titik temu perbedaan yang otonom.
Adapun tubrukan ketiga dialami masa kini. Pancasila dibentur globalisasi, nasionalisme etnik plus sejarah kelam penyalahgunaan Pancasila pada era Orde Lama dan Orde Baru. Pancasila juga ditantang terbuka Pan Islamisme, demokrasi liberal dan korporasi perusak ekonomi rakyat.
Kaum liberal percaya kemenangan terakhir ada pada sejarah tepatnya demokrasi neo liberal yang kapitalistik. Kaum fundamentalis Islam yakin, Pancasila tak lebih baik dari wahyu Islam yang teosentris. Kaum kiri percaya, pancasila tak menjamin revolusi kemakmuran bagi kaum marjinal. Para pendukung Pancasila pun hanya mengagumi pancasila sebatas phantasmagoric utopia, yaitu bayangan tentang implementasi Pancasila yang sempurna yang berarah ke masa silam.
Para pancasilais ini bingung karena rujukan sejarah Pancasila ideal justru ditemui pada masa pra rezim kemerdekaan ketika nasionalisme masih berproses menjadi titik kompleks. Ketika merdeka, Pancasila dihadapkan penyelewengan rezim Orde Lama dan Orde Baru. Sejarah Pancasila di era merdeka tak lebih baik dari era sebelum merdeka.
Untungnya, Pancasila bukanlah entitas yang berdiri monolitik. Pancasila juga dibesarkan oleh keragaman di luar rezim. Kalau Soekarno melanggar etika Pancasila, maka spirit hakiki Pancasila masih bisa dinisbahkan kepada Hatta atau Syahrir. Kalau Suharto melanggar Pancasila, maka jiwa pancasilaisme masih bisa dilacak pada diri Gus Dur atau Mega pada era orde baru, begitu seterusnya.
Bahasa Pancasila adalah bahasa kuasa multiloyalis ketika setiap orang Indonesia merasa memiliki pandangan terhadap makna Pancasila. Pancasila bisa jadi dikotomis. Ada penafsiran sesuai citra penguasa dan ada penafsiran sesuai cita oposisi. Boleh jadi terjadi intervensi lokalitas terhadap bahasa kuasa pancasila sehingga Pancasila tak lagi bercitarasa nasional.
Ben Anderson dalam Language and Power: Exploring Political Culture in Indonesia (1990), menjelaskan tentang kramaisasi Bahasa Indonesia akibat masuknya pengaruh Bahasa Jawa terhadap Bahasa Indonesia. Kramaisasi ini menyebabkan hilangnya egaliterianisme Bahasa Melayu akibat bilingualisme para penguasa Jawa.
Oleh Ben Anderson, fenomena ini disebut New Ngoko, egaliter tapi bercitarasa Jawa. Di masa Soeharto, Pancasila pernah mengalami fenomena New Ngoko. Bahasa kuasa pancasila yang egaliter demokratis ditakar mirip Sabdo Pandito Ratu ala raja Jawa. Perilaku politik ngumbar angkoro pernah melintasi perjalanan bahasa kuasa Pancasila. Namun, Jawaisme tak bisa dituding penyebab semuanya.
Tesis Ben mentah dengan sendirinya karena oposan Soeharto justru terdiri dari orang-orang Jawa sejak tipe Jawa Timurannya Gus Dur dan Megawati sampai poros Jawa orisinil khas Yogyakarta ala Amien Rais. Pergulatan politik Orde Baru terjadi antara sesama orang Jawa. Boleh jadi dalam perspektif Gus Dur dan Mega, Pak Harto adalah orang Jawa yang ora njawani.
Selain memuat bahasa transformasi, Pancasila juga memuat bahasa keutuhan (the languange of wholeness). Mengikuti Jean Paget (1995), gagasan tentang keutuhan dimaknai sebagai struktur bulat yang bagian-bagiannya tak dapat berdiri sendiri namun integral membentuk kesatuan sempurna. Dalam perspektif ini, beragam aliran pembentuk Pancasila sejak sosialisme sampai Islam dimungkinkan tetap utuh, bersatu dan bersinergis satu sama lain.
Pada gilirannya, Pancasila akan mampu berperan sebagai the idea of self regulation, gagasan yang dapat mengontrol dirinya sendiri karena setiap aliran berhak mengklaim kebenaran dirinya ada pada Pancasila. Maka, resistensi Masyumi dan PSI terhadap Soekarno, kritisisme Petisi 50 dan Fordem terhadap Soeharto, perbedaan sikap Gus Dur terhadap rezim ijo royo-royo kreasi Habibie, atau juga sikap oposisi sebagian muslim modernis terhadap Gus Dur.
Sikap-sikap di atas bukanlah cermin keretakan bangsa. Sikap multiloyalis justru harus lahir di tengah bangsa yang beragam. Inilah kedewasaan Pancasila yang memang mewajibkan multiyolalisme. Pertentangan adalah sesuatu yang menyehatkan di negeri ini. Dialektika pun adalah obat manjur bagi segala kekacauan bangsa.
Dalam teori politik, demokrasi adalah manajamen anarki, di mana demokrasi meregulasi setiap pandangan hidup dan tradisi kuasa agar tidak saling mendominasi, namun bersinergi satu sama lain. Sikap berbeda, saling mengkritik namun legowo terhadap kritikan adalah originasi Pancasila. Tanpa proses originasi, Pancasila akan terus melaju tanpa barikade. Demarkasi bahasa kuasa Pancasila justru terletak pada keunikannya untuk menerima aneka pendapat sejauh dia murni lahir di bumi nusantara. (ful)

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: