‘Sekong-sekong’ Matre di Keramaian Ibukota


Sumber:
http://m.inilah.com/read/detail/1778622/sekong-sekong-matre-di-keramaian-ibukota

Oleh: Bachtiar Abdullah
Selasa, 27 September 2011,

INILAH.COM, Jakarta – Kehidupan kaum gay di Ibukota makin bergelora seiring dengan perkembangan gaya hidup metropolitan. Namun kalangan ‘cacing’ ini tidak terlepas dari kebutuhan kebutuhan materi berbalut ‘cinta’.

Lihat saja ungkapan “Ini mah sekong jelitur . Mana punya dutri model kayak gini…hahaha.. Tapi yang itu, ihh…cucok dweeh, capcuss cwiiin …endang yee..” (“Ini mah gay jelek, mana punya uang…Tapi yang itu, ihh.. cocok deh, cepetan cintaku (temanku)… enak yaa..”).

Hendrix si hemaphrodite yang suka mengidentifikasi dirinya sebagai gay perempuan memprediksi siapa cowok yang sedang berjalan sambil nyandang sebuah tas klub gymnasium . Hendrix duduk di sebuah kafetaria terbuka di West Mall, Grand Indonesia, bersama teman-temannya sesama sekong (sekong diambil dari kata sakit, untuk menyebut sesama gay yang dianggapnya mengindap mental illness, sakit jiwa).

Hendrix bukan datang dari keluarga tak berpunya. Orangtuanya punya toko grosir pakaian di Tanah Abang, sedangkan dia lulusan jurusan akuntansi di sebuah universitas dekat Grogol, Jakarta Barat. Tapi kelakuannya tidak kalah dengan cewek matre. Dia boleh diamsalkan dengan sejenis belut (ketika masih kecil belut berjenis kelamin jantan, setelah besar jadi perempuan. Hemaphrodite). Bagi dia, jadi sekong haruslah matre.

Pacarnya adalah gay yang tinggal di Ottawa, Kanada, kebetulan sedang berlibur di Jakarta. Bingkisan-bingkisan mahal, serba branded, dipersembahkan khusus untuk Hendrix tercinta yang metro-sexual. “Termasuk ini, selusin under wear Calvin Klein baru beli di Grand Indonesia. Satu biji enam ratus reban (Rp600 ribu), bencong…Nih buat lu satu yee, Abil.. .Gua dijabarin (dijabanin, dibolehkan belanja), ya gua ambil dong…,” ujar Hendrix ini enteng.

Abil, teman akbrab Hendry, juga aneh. Ketahuan gelagat perilakuknya agak cenderung sekong, orangtuanya mau bukti bahwa Abil punya pacar. Tidak berakal cupet, dikontaklah bekas pramugari cantik teman mainnya yang bernama Rara. Indoktrinasi Abil lancar dicerna Rara.

“Pokoknya lu pura-pura pacar gua. Bisa kan?” kata Abil mantap. Rara ngakak, tapi dia mau diperkenalkan ke orangtua Abil. Padahal Abil punya teman belut juga, Hendra. Abil lega bisa mengkalmufase Rara sebagai pacarnya. Orangtua terpaksa percaya bahwa anaknya bukanlah sejenis belut.

Datang nimbrung ke kelompok hedonis ini sekong yang punya “inner beauty”. Namanya Zee-Man, sekong berbadan tegap pelanggan sebuah gym. Hati Zee-Man sedang luruh, hancur serasa berkeping-keping, karena sekong pasangannya nggak pernah nraktir, beli baju atau dijabarin seperti Hendrix yang matre itu.

“Padahal dia kaya lo, bok. Rumahnya segede gaban di Pantai Indah Kapuk. Eee.. kok malah gue yang traktir sana, traktir sini buat dia. Gue kan karyawan bergaji kecil. Malah kartu kredit gue dipinjem dia buat beli Black Berry. Diutang. Sampai sekarang belum dibayar…Ihh kesel deh. Tapi gue suka sama dia….,” hati Zee-Man serasa lusuh, tersobek-sobek, hancur berkeping-keping manakala dia tahu sekong pacarnya ini ahli selingkuh (dengan sekong lain).

Lebih unik lagi masuk ke kerumunan kaum hemaphrodite ini sekong bernama Nanonano. Ia berhasil menggaet seorang wanita gendut tapi tajir, menikahinya secara benar dan kini berhasil menghamilnya. Tapi jangan berharap Nanonano berhenti dari kegiatan sebagai sekong.

“Gue kawini dia karena tajir. Tampang and body-nya sih kayak pembantaian….hehehe… ,” maksudnya, isterinya seperti mbok-mbok yang gendut ibarat pembantu. Sementara dia bebas berkeliaran dan bergelut dengan belut-belut lain.

Seorang teman wanitanya heran dengan kelakukan si Nanonano dan bertanya: “Apa yang lu cari cong?” Spontan dijawab : “ Sudah tahu masih nanya juga. Ihhh…sebel deh…. Ya dutri lah bok…,” katanya.

Di ibu kota, kelompok-kelompok sekong mudah ditemui di mal-mal, gym-gym atau diskotik-diskotik. Semua mal besar di Jakarta jadi tempat mereka bercengkerama. Diskotik favorit mereka ada di Hotel Borobudur, Music Room. Atau diskotik Apollo di Bellagio, kawasan Kuningan, Jakarta.

Namun, mereka lebih suka ke gym karena bisa bertemu sekong-sekong lain dan bisa mandi uap (“steam”) sesama sekong serta berselibat di dalamnya. Siapa yang jadi perempuan, siapa yang jadi laki? “Fleksibel aja sih. Yang sekong laki boleh duluan sodomi gue. Setelah itu, eike anal dia bok. Enak gila…” tutur Zee-man .

Astagfirullah al Adziiiiim. Inilah dunia sekong Jakarta Raya. [mdr]

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: