PBB Hanya Jadi ‘Alat’ Amerika Serikat


Sumber:
http://m.inilah.com/read/detail/1777744/pbb-hanya-jadi-alat-amerika-serikat/

INILAH.COM, Jakarta – Mayoritas negara di dunia menjadi anggota PBB. Fakta inilah yang mungkin membuat banyak negara berpendapat menjadi anggota badan dunia tersebut adalah sangat penting.

Persepsi yang ada, sebuah negara, jika tidak menjadi anggota PBB, akan banyak mengalami kesulitan. Bakal terkucil atau dikucilkan. Sebaliknya menjadi anggota PBB seakan-akan berada dalam perkumpulan elit dunia. PBB merupakan sebuah organisasi eksklusif, prestisius dan powerfull . Derajat sebuah bangsa, dengan sendirinya terangkat.

Faktor ini kemungkinan yang mendorong Palestina ingin menjadi anggota ke -194 badan dunia tersebut. Padahal kalau berfikir lebih rasional, belajar secara kritis dari berbagai peristiwa di dunia, postur PBB tidaklah sehebat seperti yang diperkirakan. Tanpa menjadi anggota PBB-pun sebuah negara akan tetap survive. Tidak ada jaminan postur Palestina otomatis akan jauh lebih baik sekiranya sudah menjadi anggota PBB.

Swiss merupakan contoh faktual. Negara yang terletak di jantung Eropa ini tetap memilih menjadi negara netral di dunia. Swiss tidak menjadi anggota PBB tetapi menyewakan lahannya di Jenewa untuk Markas Besar PBB terbesar setelah New York.

Contoh ekstrim lainnya, Irak ketika di bawah pimpinan Saddam Hussein, berstatus anggota PBB. Tapi ketika Amerika Serikat sudah membenci Saddam Hussein, dia diserang pasukan sekutu, pasukan koalisi dari berbagai negara anggota PBB. Sehingga yang menjatuhkan Saddam Hussein sejatinya adalah pasukan PBB. Wajarkah itu ?

Hal yang mirip, terjadi pada Libya. Sekalipun yang menyerang Libya unsur-unsur pasukan NATO, akan tetapi keterlibatan NATO tidak lepas dari peran PBB. Sebab Resolusi PBB yang dijadikan dasar oleh NATO untuk membombardir Libya.

Secara logika, apa yang terjadi pada Libya semakin memperkuat argumen, bahwa menjadi anggota PBB, tidak menjamin akan memperoleh keuntungan. Bahkan keterlibatan NATO, organisasi yang didominasi Amerika Serikat semakin membuktikan, NATO plus PBB atau sebaliknya hanya menjadi semacam alat oleh Amerika Serikat.

Bahkan jika disimak lebih jauh, hampir semua resolusi yang dikeluarkan Dewan Keamanan PBB, didominasi oleh Amerika Serikat. Sehingga situasi ini memberi gambaran bahwa PBB hanya dijadikan sebagai ‘alat penekan’ oleh Amerika Serikat.

Resolusi Dewan Keamanan PBB yang memberi sanksi embargo kepada Libya berujung dengan pemboman oleh pesawat-pesawat NATO atas berbagai instalasi penting dan infra struktur negara itu, merupakan pelanggaran moral dan etik serius. PBB didirikan seusai Perang Dunia Kedua dan Perang Pasifik. Tujuannya mencegah terulangnya peperangan serupa.

Itu sebabnya di depan Markas Besar PBB NewYork, sebuah statue atau patung sengaja didirikan di situ. Patung dengan simbol seseorang sedang menembak pistol ke arah depan, tetapi pistol itu tidak bisa berfungsi. Moncong pistol yang sudah melepuh melambangkan, PBB tidak menghendaki penggunaan senjata dalam setiap persoalan, sekalipun hanya dengan pistol atau senjata genggam.

Dalam konteks Palestina, kalaupun diterima menjadi anggota penuh, Palestina tidak otomatis menjadi sebuah negara kuat. Dari kasus Libya, Palestina pun bisa mengalami hal yang sama. Palestina masih terbelah dua Al-Fatah dan Hamas. Yang menjadi Presiden Palestina adalah Mahmoud Abas dari Al-Fatah. Dialah yang tampil dalam perjuangan Palestina menuju ke PBB.

Tetapi secara konstitusional yang memimpin atau berkuasa di Palestina adalah kelompok Hamas, fraksi pemenang Pemilu 2006 yang ditentang serta tidak diakui Amerika Serikat. Bisa terjadi sekalipun Palestina sudah menjadi anggota PBB tetapi bila Amerika Serikat berkehendak, dia pun bisa merekayasa “penghancuran” Palestina seperti yang dilakukannya terhadap Moamme Khadafy (Libya) ataupun Saddam Hussein dari Irak.

Saat ini Palestina didukung oleh sekitar 130 negara. Namun iika timbul peperangan Palestina dengan Israel, belum tentu ke-130 negara konsisten membantu Palestina. Artinya dukungan pada Palestina, tidak tetap dan berkelanjutan. Bisa saja terjadi negara sahabat itu mendukung Palestina, tetapi hanya terbatas pada soal keanggotaan PBB.

Indonesia pun punya pengalaman pahit dengan PBB. Dalam kasus Timor Timur (sekarang Timor Leste), adalah Amerika Serikat yang mendorong Indonesia untuk menganeksasi wilayah bekas jajahan Portugal itu.

Atas dorongan Amerika Serikat tersebut pada Desember 1975 Indonesia mengirim pasukan dan menduduki Timor (Portugis). Kepentingan Washington pada era Perang Dingin itu, Timor harus bebas dari inflitrasi komunis.

Tapi di Dewan Keamanan PBB, Amerika Serikat bersikap pasif. Sebab aneksasi Timor ditentang oleh dua negara komunis terbesar di dunia, Uni Sovyet (Rusia) dan RRC yang sama-sama menjadi anggota tetap Dewan Keamanan PBB.

Akibatnya selama 24 tahun menjadi bagian dari wilayah NKRI, Timor Timur tidak pernah mendapat pengakuan PBB. Dan PBB pula yang mendorong diselenggarakannya jajak pendapat di Timor Timur pada tahun 1999. Hasil jajak pendapat akhirnya sangat merugikan Indonesia. Sehingga yang memetik keuntungan atas hadirnya PBB, sebetulnya, hanya Amerika Serikat.

Demikian dominannya Amerika Serikat di PBB, sehingga dosa-dosa Amerika Serikat di berbagai belahan dunia, tidak jarang berubah menjadi “dosa putih”. Yang mengubahnya PBB, sebab kalau ada unsur yang sensitif, maka yang ditampilkan bendera PBB. PBB benar-benar digunakan oleh Amerika Serikat.

Oleh sebab itu jika ingin melihat manfaat menjadi anggota PBB, maka peran dan dominasi Amerika Serikat harus dikurangi. Misalnya Markas Besar PBB harus direlokasi ke luar wilayah Amerika Serikat. Kekuatan Hak Veto ditangan lima anggota tetap Dewan Keamanan perlu ditinjau termasuk jumlah anggotanya. Jika tidak, PBB selama-lamanya hanya akan menjadi alat penekan Amerika Serikat. [mdr]

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: