Bom di GBIS Solo


Tadi siang ada bom bunuh diri di GBIS Solo. Berikut ini adalah gambar ‘terduga’ pelaku pembom bunuh diri tersebut. Poin yang saya ingin bagi:
1. Kaum extrim di Indonesia masih ada. Mereka tetap masih mengembangkan jaringannya setelah ‘test case’ ahmadyah yang lalu. Sekedar mengingatkan, pelaku penyerangan dan pembunuhan jamaah ahmadyah hanya dihukum 3 bulan penjara.
2. Intelijen kita amburadul. Tahun ini ada kejadian bom bunuh diri di mesjid, rencana bom paskah, beberapa penembakan di Papua, kemudian rusuh kecil di ambon, dan sekarang bom bunuh diri di gereja. Kejadian dalam negeri saja tidak bisa dideteksi, bagaimana intelijen kita bisa menakut-nakuti negara luar?
3. Pemerintah tidak punya itikad untuk membangun negara dan bangsa ini dengan baik. Pemerintah punya banyak kesempatan untuk memperbaiki, tetapi mereka malah asyik dengan dirinya sendiri dan malah masyarakat dibiarkan menyelesaikan masalahnya sendiri.

Kesimpulannya:
1. Kaum ekstrim itu pengecut. Untuk menghadapi pengecut, jadilah tegas.
2. Intelijen harus berani berkreasi dalam keterbatasannya saat ini. Jangan takut dengan komnas HAM, yang bisanya hanya berbual-bual pada saat pelaku teror ditangkap, tetapi diam seribu bahasa pada saat rakyat diteror bom.
3. Pemerintah harus merombak kabinet saat ini. Dalam kabinet saat ini ada banyak penyusup yang tidak senang dengan NKRI dan Pancasila. Terlambat sedikit, revolusi timur tengah akan mampir ke nusantara dan selamat tinggal Pancasila, sejarah Indonesia akan ditulis ulang.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: