Butuh Kesabaran Mengais Rezeki di Jalanan Ibu Kota


Sumber:
http://m.kompas.com/news/read/2010/12/09/04301962/butuh-kesabaran-mengais-rezeki-di-jalanan-ibu-kota

Penerapan sistem 3 in 1 di jalan protokol di ibu kota Jakarta tidak tepat. Sistem itu membuka peluang tumbuhnya joki mulai dari anak-anak, remaja, dewasa, termasuk para ibu yang menggendong bayi. Pekerjaan informal itu kini menjadi sandaran hidup bagi mereka yang terkena pemutusan hubungan kerja atau mereka yang tak memiliki keahlian.

Salah satunya Ana (35). Ibu satu anak ini terpaksa menjadi joki setelah suaminya meninggal karena motor yang dikendarainya mengalami kecelakaan. ”Suami saya tidak tertolong lagi,” katanya.

Ana mempunyai satu anak perempuan bernama Erna (15) yang masih bersekolah SMP Negeri 3 Jakarta. Ana ingin anaknya sekolah setinggi mungkin. ”Pendidikan sangat penting untuk masa depannya. Saya ingin dia bisa mencari kerja selain menjadi joki seperti saya.”

Sebagai joki, dia menunggu di tepi Jalan Pejompongan, Jakarta Pusat, bersama puluhan joki lainnya. Ibu muda ini menawarkan jasa hingga daerah Kuningan, Jakarta Selatan. Dari situ, dia kembali lagi ke Senayan untuk mencari pelanggan baru.

Apabila usahanya beruntung, Ana bisa mengantongi rezeki lebih banyak. Pada Senin (29/11) pagi, jasa Ana digunakan oleh dua pemilik mobil sehingga dia bisa mengantongi Rp 30.000. Setelah dipotong uang makan siang Rp 3.000, masih tersisa uang Rp 27.000. Sisa upah joki itu dipakai untuk membeli kebutuhan pokok, ongkos sekolah Erna sebesar Rp 10.000 per hari, dan buku pelajaran.

Namun, keberuntungan tidak selalu menghinggapi Ana. Terkadang pagi ada yang menggunakan, pada sore hari tak satu pun pemilik mobil memakai jasanya. ”Dua jam menunggu di tepi jalan, tidak ada satu pun mobil yang berhenti,” katanya.

Mencari penghasilan

Peraturan berkendara 3 in 1 di jalan protokol di Jakarta berlaku mulai hari Senin sampai Jumat pukul 07.00-10.00 dan pukul 17.00-19.00. Sesuai peraturan, hanya kendaraan berisi tiga orang atau lebih yang boleh melewati Jalan Jenderal Sudirman, MH Thamrin, dan Jalan Gatot Subroto.

Semula peraturan itu untuk mengurangi kemacetan yang terjadi pada jam-jam sibuk, yakni berangkat dan pulang kerja. Kenyataannya, peraturan itu tidak seperti yang diharapkan. Malah membuka kesempatan bagi orang-orang untuk mencari penghasilan baru.

Selain tanpa keahlian atau kecakapan khusus, pekerjaan itu juga tidak memerlukan ijazah atau sertifikat apa pun. Upah seorang joki berkisar Rp 10.000-Rp 20.000 per orang. Asalkan mau bangun pagi-pagi, rela berdiri di pinggir jalan, dan siap menerima semburan asap knalpot. Tak perlu kecakapan khusus, cukup mengacungkan tangan kepada para pengendara yang melintas di depan mereka. Di kalangan para joki tidak ada persaingan, meskipun mereka berdiri di jalan yang sama.

Satuan Polisi Pamong Praja (Satpol PP) pun tidak berbuat banyak menghapus praktik perjokian. Kadang-kadang mereka beroperasi. Jika para joki itu tertangkap, mereka dibawa ke Panti Sosial Kedoya, Jakarta Barat, dan bekerja selama tiga minggu atau lebih.

Namun, ada juga perlakuan tidak menyenangkan dialami oleh joki yang sempat tertangkap. Gayat (38), yang menjadi joki sejak 2006, mengaku pernah tertangkap dan mengalami pelecehan seksual oleh petugas Satpol PP. ”Kalau situasi seperti itu, saya langsung turun,” ujar Gayat yang menggendong anak perempuannya, Kiki (3).

Namun, kata Gayat, pekerjaan joki ini kadang mendatangkan rezeki yang lumayan. Apabila sedang hari baik, seperti menjelang hari raya, dia bisa mendapat upah Rp 100.000 dari seorang pelanggan.

Joki bukan pekerjaan satu-satunya bagi mereka. Para joki ini umumnya punya pekerjaan sampingan. Reza (17) misalnya. Lelaki yang masih tinggal bersama orangtuanya di Tangerang, Banten, ini sudah menjadi joki sejak empat tahun lalu. Setiap pagi dia menunggu di Jalan Asia Afrika, Senayan. ”Pagi saya joki, sore sekolah SMA. Kalau lagi enggak ngejoki, saya membantu orangtua membuat kue yang dijual di warung.”

Ana juga mengaku, pagi dan sore jadi joki. Pada waktu siang, Ana menjadi pencuci pakaian di salah satu perusahaan di Pejompongan. Upahnya Rp 300.000 per bulan. Upah itu cukup untuk membayar sewa rumahnya.

Tidak efektif

Menurut pakar lalu lintas dari Universitas Gadjah Mada, Heru Sutomo, mengatakan, pemerintah sesungguhnya tahu sistem 3 in 1 tidak lagi efektif untuk Jakarta. Apalagi di Jakarta kini setiap hari bermunculan kendaraan baru.

Data terakhir, 900 sepeda motor baru dan 250 mobil baru per hari masuk ke jalan. Jelas, kendaraan itu ikut memadati jalan yang relatif sama dengan kondisi 10 tahun lalu. ”Pemerintah harus berbuat sesuatu secepat mungkin untuk mengatasi kemacetan,” ujar Heru.

Oleh sebab itu, menurut informasi yang diperoleh dari Bidang Angkutan Darat Dinas Perhubungan Provinsi DKI Jakarta, rencananya untuk menekan kepadatan kendaraan di jalan protokol akan diterapkan sistem retribusi kemacetan (electronic road pricing/ERP) pada tahun 2011.

Sistem itu diharapkan menjadi langkah efektif untuk mengurangi pemilik mobil pribadi memadati jalan utama di Jakarta. Di sisi lain, pemerintah juga segera membenahi jaringan transportasi massal.

Fenomena menjadi joki juga banyak ditemui di sejumlah negara. Di kota-kota besar dunia lain pun ada profesi serupa. Misalnya, di Berlin, Jerman, ketika Museum of Modern Art (MoMA) memindahkan pameran lukisan-lukisan dari New York ke Berlin tahun 2004.

Ketika itu banyak warga Jerman mengantre untuk masuk ke museum. Alhasil, banyak orang yang ikut mengantre dan menawarkan posisinya kepada pengunjung yang enggan mengantre dengan upah, 10 euro per jam per orang.

Apa pun peraturan yang baru, para joki berharap dapat terus mencari nafkah di jalan. Mereka tahu, pekerjaan itu bukan profesi langgeng yang menawarkan penghasilan besar. Mereka hanya ingin mengais sedikit rezeki dan berharap setiap hari ada yang menyewa jasa mereka. Mengantongi sedikit uang agar perut terisi untuk menapaki keganasan Ibu Kota.

(SOREN KITTEL Wartawan Die Welt Peserta Program Goethe Institut Magang di Kompas)

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: