Messi Butuh Tim, Bukan Tim Butuh Messi


Sumber:
http://m.kompas.com/bola/read/2011/07/14/22471175/messi-butuh-tim-bukan-tim-butuh-messi

KOMPAS.com — Hampir semua pelatih tim sepak bola di dunia pasti menginginkan kehadiran Lionel Messi di barisan depan pasukannya. Pengakuan akan kedahsyatan Messi dapat dilihat dari dua gelar pemain terbaik dunia versi FIFA yang didapatnya dalam dua tahun terakhir. Semua sukses itu berhasil ia raih berkat serangkaian penampilan gemilang bersama Barcelona, bukan Argentina.

click to enlarge

Ya, Messi bagai memiliki dua sisi karakter yang berbeda dalam dirinya, yaitu Messi-Barcelona dan Messi-Argentina. Messi versi Barcelona hampir selalu berhasil tampil luar biasa setiap kali dimainkan sehingga dapat mengangkat performa tim secara keseluruhan. Salah satu buktinya adalah dengan total 90 gol yang ia cetak hanya dalam dua musim terakhir bermain di lini serang Barcelona.

Kontrasnya, Messi versi Argentina justru acap kali tampil di bawah form sehingga sering memancing ejekan dan siulan dari para pendukungnya sendiri. Entah bagaimana, setiap tusukan, umpan, dan tembakan akurat yang biasa ia tunjukan saat berseragam Barcelona hilang begitu saja saat ia ganti berseragam Albiceleste. Messi versi Argentina terlihat begitu melempem.

Ini ironi karena ia disebut banyak orang sebagai titian legenda hidup Argentina, Diego Maradona. Maradona sendiri pun mengakui hal ini serta sering memberi pujian dan dukungan bagi Messi. Akan tetapi, kita bisa melihat beberapa perbedaan mendasar antara Messi dan Maradona.

Maradona terkenal sebagai pemain yang gemar berpindah klub dan selalu meraih sukses di mana pun ia menjejakkan kakinya. Pada awal kariernya, pemain bertubuh gempal ini sukses menjadi juara liga bersama Boca Juniors. Setelah Piala Dunia 1982, ia pindah ke Barcelona dan berhasil membawa timnya meraih Piala Raja serta Piala Super Spanyol. Cedera patah kaki sempat mengancam kariernya. Namun, ketangguhan fisik dan mental El Diego sukses membawanya kembali ke lapangan.

Pada 1984, Maradona merampungkan kepindahannya ke Napoli. Di sanalah ia sukses meraih puncak kejayaan sebagai pemain sepak bola. Setelah membawa Argentina menjuarai Piala Dunia 1986, ia juga berhasil menjuarai Serie A dua kali bersama Napoli, masing-masing pada 1986/1987 dan 1989/1990. Tidak lupa, gelar Coppa Italia, Piala Super Italia, dan Piala UEFA berhasil ia bawa saat berkarier di Napoli.

Sayangnya, kasus Narkoba menghancurkan kariernya. Setelah menjalani 15 bulan hukuman larangan tampil, ia meninggalkan Napoli ke Sevilla, Newell’s Old Boys, dan kemudian Boca Juniors.

Bila melihat rekam jejak karier Maradona, kita dapat simpulkan bahwa ia selalu sukses beradaptasi dan membawa kejayaan di tim mana pun yang ia singgahi. Ia dapat mengangkat performa tim sendirian ke level tertinggi sehingga dapat meraih banyak trofi juara bergengsi. Dapat dikatakan, setiap tim butuh Maradona untuk mencapai potensi maksimalnya dalam permainan sepak bola.

Berbeda halnya dengan Messi, ia hanya bermain di satu klub saja sepanjang karier profesionalnya, yaitu Barcelona. Sejak kecil, ia direkrut Barca dengan imbalan biaya pengobatan penyakit cacat hormon yang dulu dideritanya. Ia tumbuh dan berkembang di La Masia, pusat pelatihan pemain muda didikan Barca. Di sanalah ia mengasah bakat istimewanya bersama sekumpulan pemain muda dengan talenta yang tidak kalah hebatnya, seperti Cesc Fabregas, Gerard Pique, dan Pedro Rodriguez.

Kesempatan memiliki banyak pemain muda potensial dalam satu generasi menjadi keuntungan tersendiri bagi Barcelona. Hal ini oleh diakui langsung oleh legenda Perancis, Zinedine Zidane, yang mengatakan, “Barcelona beruntung punya generasi emas yang terdiri dari tujuh sampai delapan pemain hasil didikan akademi pemain muda. Tak banyak tim dengan generasi luar biasa seperti yang dimiliki Barcelona.”

Setelah cukup matang, ia dipromosikan ke tim senior oleh pelatih saat itu, Frank Rijkaard. Di awal karier profesionalnya, ia banyak dibimbing bintang dunia macam Ronaldinho, Samuel Eto’o, dan Ludovic Giuly. Rijkaard juga mengerti dan menempatkan Messi di posisi favoritnya, penyerang sayap. Di sana, ia bebas berkreasi dalam skema permainan 4-3-3. Tusukan dan umpan satu-dua yang ia lakukan sering mengecoh dan membuat bingung setiap barisan pemain belakang lawan yang dihadapi.

Bila pertahanan lawan tertutup rapat, ia bisa menyusun serangan secara perlahan dari bawah dengan raja passing semacam Xavi dan Andres Iniesta. Dengan permainan passing “tika-taka”, Messi dan Barca sukses mendikte permainan lawannya. Bisa dikatakan, Messi adalah bakat yang terjaga dengan baik di lingkungan yang tepat sehingga dapat tumbuh secara maksimal.

Hal inilah yang menjadi penyebab tumpulnya Messi saat membela negaranya di pertandingan internasional. Di tim Argentina, tidak ada Xavi-Iniesta yang akan bekerja sama melakukan umpan satu-dua atau memberikan umpan terobosan yang bisa merobek lini belakang lawan kepada Messi dengan efektif. Di tim Argentina, tidak ada pemain yang benar-benar bisa menjalankan permainan passing ala “tiki-taka” untuk secara perlahan meruntuhkan tembok pertahanan lawan.

Messi dianggap dewa dan bisa membawa timnya sendirian menuju kemenangan. Padahal, Messi tidak bisa bekerja sendirian. Ia butuh teman-teman yang tepat untuk mengangkat level permainannya. Boleh disebut, Messi membutuhkan tim, bukan tim yang membutuhkan Messi.

Di satu kesempatan, legenda sepak bola Real Madrid, Alfredo di Stefano, mengatakan, “Pemain tak bisa memenangi pertandingan sendirian. Mereka butuh rekan-rekan setim. Lionel Messi tampil hebat. Dia bermain baik dan menciptakan tontonan dengan menarik dari gol-gol yang dicetaknya. Dia memiliki kualitas dan kemampuan hebat. Namun yang terbaik dalam sepak bola adalah tim. Pemain tak mungkin menang sendirian. Sepak bola bukan tinju atau tenis ketika seorang pemain bisa menentukan kemenangannya.”

Pada Piala Dunia 2010 lalu, pelatih Argentina saat itu, Maradona, memberikan kebebasan pada Messi untuk berkreasi di lapangan. Seluruh permainan berpusat dan bergantung pada Messi. Hasilnya Messi tampil standar, bila tidak bisa dibilang buruk, yang berakibat pada jatuhnya performa tim secara keseluruhan.

Seiring kegagalan Argentina di Piala Dunia, jabatan pelatih pun berganti diserahkan kepada Sergio Batista. Sekarang, di Copa America 2011, Batista hampir saja mengulangi kesalahan sama yang dilakukan Maradona. Di dua pertandingan awal, Messi dipasangkan menjadi tridente bersama Carlos Tevez di sisi kiri dan Ezequiel Lavezzi di sisi kanan. Messi diharapkan dapat menusuk dari tengah dan menjadi dirigen penyerangan seperti yang bisa ia perlihatkan bersama Barca dengan David Villa di kiri dan Pedro di kanan.

Sayangnya, hal itu tidak berjalan lancar karena Tevez dan Lavezzi melakukan penyerangan secara sporadis dan tak terarah. Alih-alih membangun serangan dengan perlahan melalui operan-operan cantik, keduanya malah sering melakukan tusukan dan tembakan jarak jauh yang sama sekali tak efektif. Bola malah sering terebut ketika berada di kaki mereka dan menghasilkan counter-attack berbahaya bagi Argentina. Messi? Hanya dua tembakan yang bisa ia hasilkan dari dua pertandingan itu.

Setelah pertandingan pertama, Batista mengatakan, “Sangat sulit untuk bisa bermain seperti Barcelona. Benar kami bermain terlalu terburu-buru, permainan vertikal yang tidak kami inginkan. Ini harus berubah di pertandingan berikutnya.”

Di pertandingan ketiga, Batista merombak pola penyerangan timnya secara keseluruhan. Messi agak diturunkan ke tengah untuk menyusun serangan perlahan bersama Sergio Aguero di sayap kiri dan Angel di Maria yang terus bergerak. Gonzalo Higuain dijadikan targetman dan Fernando Gago masuk menggantikan tempat Ever Banega. Hasilnya, Argentina menang telak 3-0 dengan dua gol di antaranya terjadi berkat dua assist dari Messi. Siulan pun berubah menjadi pujian.

Di sini, terbukti sekali lagi bahwa Messi butuh tim dan posisi yang tepat untuk memaksimalkan potensi dalam dirinya. Kesalahan penempatan posisi atau pemilihan rekan setim niscaya dapat mengubur sinar terang Messi. Ia jelas bukan Maradona, yang bisa meraih langit hanya dengan mengandalkan dirinya sendiri. Sekali lagi, Messi butuh tim yang tepat, bukan tim yang membutuhkan Messi.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: