Wawancara dengan Pelacur Bernama Delima


m.kompas.com/news/read/2011/07/10/05440669/wawancara-dengan-pelacur-bernama-delima

By: Awang

“Silahkan masuk, Mas. Gak usah malu-malu, Hayo..”ucap perempuan itu kepada Budi sambil tangannya menarik tangan Budi untuk masuk ke dalam kamar. “I-iya, Mbak.. terimakasih,” jawab Budi sedikit gugup.

Di dalam kamar, mata Budi menjelajah seluruh ruang yang ada. Hanya ada ranjang besar yang bersisian dengan lemari pakaian yang merangkap sebagai meja rias. Lalu dari arah kaki ranjang, ada sebuah meja dengan sebuah kursi yang tertata rapih. Asbak, gelas minuman serta piring yang berada diatasnya. Poster-poster wanita setengah telanjang terpajang hampir di semua dinding di sisi ranjang. “Ah, beginikah ruang kerja sekaligus kamar para pelacur itu?” gumam Budi.

“Mas..” tegur perempuan itu lagi kepada Budi. Sebelumnya dia memperkenalkan namanya sebagai Delima. Entah nama samaran atau asli. Budi tidak perduli soal itu. “Eh, iya, maaf.” “Jadi Mas ini cuma mau wawancara saya aja, nih? Gak pake acara tidur bareng, nih?” Perempuan itu mengedipkan matanya dan menggerakan tubuh gemulai mencoba menggoda. Pakaiannya yang dikenakannya memang sangat terbuka, bisa terlihat jelas bagaimana buah dada yang besar itu menggantung menggoda dalam kulit putihnya. Belum lagi rok mini yang ia kenakan. Sedikit saja Delima salah memposisikan duduknya, maka apa warna celana dalamnya itu bisa langsung terlihat. Budi segera menggelengkan kepala dalam gugup. Wajahnya memerah seketika. Beberapa kali menelan ludahnya sendiri. “ Ya-kiiin..?” Goda Delima lagi. Membuat Budi semakin salah tingkah. Ini pertama kalinya Budi mendatangi tempat pelacuran. Jadi semua serba baru dan sedikit membuatnya risih dan malu Budi. Maklum, dia juga masih laki-laki normal. “Ya-yakin, Mbak..” jawab Budi masih gugup sedikit menundukan kepala. Sedangkan keringat mulai terlihat membasahi wajahnya karena ruangan yang pengap, udara yang panas serta situasi yang membuat gerah diri Budi. Memaksa butir-butir peluh sebesar biji kacang ijo itu keluar. “Ya, rugi saya sebenarnya kalo begini aja, Mas. Kalau langsung tidur kan cepat, tuh. Buka baju terus main dan selesai. Tapi kalo wawancara??.. Yaaa, pasti lama ya, Mas?” Delima terlihat sedikit enggan ketika mengetahui bahwa niat Budi tak berubah meski dia telah mencoba untuk menggodanya. “Tenang, Mbak. Saya Booking Mbak Delima satu hari satu malam pokoknya. Langsung saya bayar cash nanti.” Budi coba menenangkan hati Delima. “Waaah, kalo begitu boleh, Mas. Gak rugi saya juga. Hayo! Mau tanya apa sama saya?!” Delima kembali bersemangat setelah mendengar ucapan Budi yang berniat membooking dirinya satu hari satu malam, hanya untuk sebuah wawancara. Budi duduk di kursi dekat meja, sedangkan Delima duduk di pinggir ranjang tepat di hadapan Budi. Rokok terselip di sela jari-jari tangannya yang lentik.

Akhirnya terjadilah sesi tanya jawab diantara mereka. Pertanyaan yang biasa di lontarkan Budi pada awalnya. Sejak kapan jadi Pelacur? Kenapa jadi Pelacur? Bagaimana dengan keluarga dan masa depannya? Apa rencana ke depannya setelah tua? Dan Delima sepertinya sudah terbiasa dengan semua pertanyaan itu. Dijawabnya tanpa ada ekspresi penyesalan ataupun sedih terlihat di wajahnya. Bahkan Delima sesekali tertawa cekikian geli saat bercerita tentang pengalaman pahit hidupnya sebelum dan sesudah menjadi pelacur.

Keakraban mulai terlihat di antara mereka, sedangkan Budi sendiri juga sedikitnya mulai tenang, jauh dari perasaan grogi sebagaimana awalnya. Dari sorot matanya, Budi menyimpan rasa kagum akan sosok Delima yang sepertinya menganggap semua kejadian yang menimpa kehidupannya adalah hal-hal bodoh yang memang perlu ditertawakan. Meskipun Budi sendiri meragukan kebenaran cerita Delima. Budi sadar betul, hal-hal seperti yang dilakukannya saat ini, mewawancarai, sudah sering pula menjadi pertanyaan dalam perbincangan antara Delima dengan para pelanggannya. Yang kadang dibuat-buat demi menarik simpati semata.

“Kenapa Mbak Delima tidak pernah mencoba mencari pekerjaan lain? Menjadi TKW misalnya..” Sebuah pertanyaan diajukan Budi.

Delima yang baru saja hendak menghisap rokoknya, sejenak melirik ke arah Budi. Mulutnya sudah menganga, rokok telah berada di depan mulutnya. Namun gerak tangannya berhenti. Lalu mulai berbicara,” Mas ini seperti tidak tahu saja, bagaimana kabar tentang nasib para TKW dan TKI di negeri orang. Daripada berada di Negeri orang disiksa atau dihukum mati. Yaa, mending ngalamin itu semua di negeri sendiri, Mas..” Setelah berkata itu, gerak tangannya yang memegang rokok dilanjutkan. Tidak lama kemudian, asap keluar dari sela bibir dan juga hidungnya. “Hmm.. ada benarnya juga sih, Mbak. Tapi.. Apa Mbak tidak berniat untuk menikah lagi? kan kasihan anak-anak Mbak Delima kalau tahu Ibunya bekerja seperti ini.” “Saya sudah menikah kok, Mas. Suami saya malah yang nyuruh saya bekerja seperti ini.” “Lho??..” “Iya. Suami saya itu pengangguran kelas berat. Susah cari kerja dan sudah malas sepertinya. Makanya, supaya dia bisa tetap makan dan senang-senang dengan perempuan lain. Saya yang disuruh cari uang.” “Hah?! Yang bener, Mbak?!” “Lho? Memang begitu kenyataannya.”

Budi diam sejenak dalam rasa tidak percaya mendengar cerita Delima. Apa benar demikian yang terjadi sesungguhnya? Akh, serasa tidak mungkin. Tapi…. “Itu suami Mbak yang pertama?” tanya Budi melanjutkan rasa ingin tahunya. “Bukan. Itu suami saya yang ke-3, Mas” “Apa?! Yang ketiga?!!”

Delima tertawa melihat ekspresi Budi yang terkejut, tidak percaya dengan apa yang baru saja ia katakan. Sambil tertawa cekikikan, Delima menganggukan kepala, ”Iya. Yang ketiga”

Budi menggelengkan kepala takjub. Pertama soal suami yang menyuruh Istrinya melacurkan diri. Lalu kini, Delima mengatakan perkawinan dalam hidupnya, yang bukan hanya sekali. Tapi.. tiga!!

“Mas sudah menikah?” tiba-tiba Delima melempar pertanyaan balik. Membuat Budi sedikit gelagapan untuk menjawab. “Be..Belum, Mbak. Belum laku. Belum ada yang mau sama saya..”

Kembali Delima tertawa cekikikan, mirip kuntianak yang mendapat kesenangan setelah berhasil menakut-nakuti manusia. Disisa tawanya, Delima kembali bertanya kepada Budi. “Jadi.. Mas ini masih bujangan, toh?”

Budi tertunduk malu. Hanya menganggukan kepala yang menjadi jawaban untuk diberikan kepada Delima. Kamar itu mendadak menjadi riuh oleh tawa Delima. Sedangkan wajah Budi mendadak matang menahan malu. Ah, kenapa mesti malu menjadi bujangan? Gumam Budi sendiri.

“Kalau begitu, Mas ini pasti suka sekali Onani, yah?” Delima melemparkan tanya sambil senyum-senyum genit mengerlingkan mata. “Tidak! Mbak Delima ini sok tahu kadang, yah?!” “Lho?? Biasanya lelaki itu begitu, Mas. Kelihatannya aja alim dan tidak suka perempuan. Padahal diam-diam dia sering berhayal sambil onani. Dan akhirnya ketika menikah… Melempem!! Hahaha…” tawa Delima pecah memenuhi kamat itu sekali lagi. Budi hanya senyum-senyum mendengar ucapan Delima dan melihat tingkahnya itu. “Kok, Mbak Delima bisa tahu, sih?”tanya Budi kemudian kembali menguasai keadaan. Bukankah seharusnya ia yang bertanya, kok, malah Delima yang jadi banyak bertanya sekarang? “Itu karena pelanggan yang biasa datang kesini. Kemampuannya di bawah rata-rata semua. Dan mereka suka curhat sama saya, Mas” “O-oh..pantess… hapal betul.” “Ya, tidak semua begitu, Mas.” “Jadi? Dalam hubungan sex itu, siapa yang lebih bisa memuaskan Mbak Delima ini? suami atau pelanggan?” “Ya, suami saya lah, Mas..” “Waah, suami Mbak hebat kalau begitu!”

Tawa mereka berdua kini memenuhi ruang kamar itu. Perlahan-lahan Budi mulai bisa melepas ketegangan yang semenjak awal memang menguasai dirinya. Tapi untunglah semua kini berjalan jauh lebih menyenangkan, berbeda dengan apa yang ada dalam pikiran Budi selama ini.

Delima sejenak beranjak bangkit dari duduknya dan menghampiri Budi yang masih sedikit menyisakan tawa di wajahnya. Lalu sengaja berhenti tepat di hadapan Budi yang duduk di kursi. Posisi berdiri Delima dan posisi duduk Budi, adalah posisi dimana buah dada yang besar itu tepat berada di depan wajah Budi. Seketika wajah Budi memerah, keringat mulai kembali bercucuran salah tingkah. Dan kembali Budi menelan air liurnya sendiri. Delima tersenyum, membungkukkan tubuhnya hingga wajahnya tepat menghadap wajah Budi. Dekaaatt.. sekali.. dalam posisi itu, Budi bisa melihat belahan dada Delima yang menyembul keluar. Kakinya gemetar seketika, seiring desakan dari dalam celana yang mendadak terasa sempit. “Mbak….” Suara Budi berubah serak. “Yaa…” “Tolong… doong…” “Tolong apa, Mas…?” “Jangan goda saya teruss….” Delima tergelak seketika. Sementara Budi tertunduk malu. “Mas..Mas… Kamu itu masih polos ternyata, yah?”ucap Delima kemudian. “Mungkin, Mbak.. tapi niat saya benar-benar hanya ingin mewawancarai Mbak Delima, untuk bahan dalam membuat cerita, Mbak.” “O-oh.. Jadi mas ini wartawan, toh?!” “Bukan, Mbak..” “Penulis??..” “Nggg.. Baru belajar, Mbak…” “Oh, jadi saya ini bakal jadi tokoh dalam cerita, Mas?” Budi menganggukan kepala, ”I-iya, Mbak.. kira-kira seperti itu” “Hmmm… boleh juga..”

Delima kembali duduk di tepi ranjang di hadapan Budi. Namun kini kedua kakinya dinaikan ke atas ranjang, sedangkan tubuhnya bersandar pada tembok kamar. “Jadi menurut Mbak Delima itu, tentang lelaki itu bagaimana?” tanya Budi kembali bertanya. Sejenak Delima seolah tengah berfikir sebelum akhirnya menjawab pertanyaan Budi, “Sebenarnya laki-laki atau perempuan itu sama aja, Mas. Sama-sama memiliki sifat dasar sebagai manusia yang memiliki nafsu.” “Maksud,Mbak?” “Iya. Sama-sama manusia yang memiliki keinginan dan mimpi-mimpi. Memiliki perasaan marah, suka, sedih, bahagia dan lain-lain. Sama saja, Mas” “O-oh, begitu. Lalu?” “Iya, sebenarnya semua sifat lelaki dan perempuan itu sama saja. Kalau lelaki suka dengan perempuan karena nafsu, bukan berarti perempuan itu tidak punya nafsu terhadap laki-laki. Kalau tidak begitu, mungkin tidak akan pernah ada perselingkuhan kali, Mas.”

Budi cengengesan sambil manggut-manggut tanda mengerti maksud dari ucapan Delima. Budi sebenarnya tidak menyangka kalau ternyata seorang perempuan seperti Delima bisa memiliki pemikiran seperti itu. Hal itu semakin membuat Budi semakin ingin tahu lebih jauh tentang Delima dan juga kehidupan yang ia jalani. “Kenapa Mbak Delima mau bertahan dengan suami Mbak itu? Padahal sudah jelas-jelas dia suka main perempuan, bermodalkan uang dari hasil jerih payah Mbak setiap hari.”

Untuk kali ini, sejenak Delima menghela nafas panjang. Pandangannya jauh menerawang ke dalam pikiran dan perasaannya sendiri. Akhirnya, Budi bisa melihat bagaimana Delima juga memiliki perasaan yang sensitif sebagai perempuan. Delima menyalakan kembali sebatang rokok untuk dihisapnya. Asap kembali menari-nari di udara memenuhi kamar itu.

“Bagaimana ya, Mas… Saya sangat mencintai suami saya dan selama ini saya lihat dia jujur. Tidak ada hal yang dia tutupi dari saya. Dari semenjak pacaran dulu, saya sudah tahu sifat-sifatnya seperti itu. Walaupun sebenarnya saya sakit hati, tapi saya juga bukan orang suci. Karena, seperti yang Mas tahu, kalau pekerjaan saya ini bukanlah pekerjaan perempuan baik-baik. Yang penting sama-sama mengerti dan tidak main pukul sajalah. Itu sudah cukup buat saya, Mas.” “Bisa ya, Mbak, seperti itu?..” Budi menggelengkan kepala tidak percaya dengan apa yang ia dengar. Semua ini di luar dugaan. Apa benar cerita sesungguhnya seperti itu? Budi tidak tahu pasti. Tapi dari sorot mata Delima, Budi bisa melihat bagaimana semua itu dituturkan dengan kejujuran tanpa dibuat-buat. “Ya, bisa lah, Mas! Buktinya saya bisa seperti itu dengan suami saya,” Delima tersenyum nakal kembali. “Eh, iya-ya, Mbak..” Budi juga ikut senyum cengengesan. “Tapi Mbak Delima tidak takut akan dosa dan hukuman Tuhan?”

Sejenak Delima tertunduk. Wajahnya berubah sedih mendengar pertanyaan itu. Berat dirasa dalam hatinya kembali membebani. Namun sepertinya ia mencoba untuk tegar dan tidak terlihat cengeng di depan Budi. Dihisapnya kembali rokok di tangan untuk mengalihkan perasaannya itu. “Mbak…” Delima tersenyum sambil mengarahkan wajah menatap Budi. “Pertanyaan agak susah ya, Mas..” “Memangnya kenapa?” “Untuk urusan Tuhan.. Saya sebenarnya tidak terlalu suka, Mas. Itu hal yang sangat pribadi dan sensitif bagi semua orang.” “Hmm.. saya kurang paham maksud, Mbak Delima.” “Semua orang selalu merasa benar atas keyakinan mereka, Mas.. Keyakinan yang satu merasa paling benar atas keyakinan yang lain. Lalu bertengkar dan berselisih paham. Bahkan kadang mengatas namakan Tuhan atas perbuatan-perbuatan kasar yang mereka lakukan. Mungkin apa yang mereka lakukan itu benar. Tapi caranya salah, Mas.. Itu sering terjadi di sini. Kami sering dirazia oleh orang-orang yang mengatasnamakan kebenaran Tuhan untuk melukai kami dan merusak mata pencaharian kami.” “O-oh.. saya pikir apa.” “Kami memang pelacur dan kami memang bersalah atas pekerjaan ini. Tuhan juga sudah jelas-jelas mengharamkan setiap perbuatan kami ini. Tapi apa maksud Tuhan atas semua larangannya itu? Toh, semua itu buat pribadi manusia itu sendiri, buat kita masing-masing. Mungkin karena Tuhan tahu bahwa perbuatan kami akan berakibat buruk terhadap diri kami sendiri, seperti risiko terkena penyakit menular, disiksa atau sampai dibunuh. Dan bukan cuma masalah kehidupan saja. Kami juga merasakan di dalam hati ini akibat pekerjaan kami, Mas. Semua larangan itu saya anggap untuk kebaikan saya, agar terhindar dari semua itu, Mas.” “Wah. Wah.. Mbak Delima ini hebat rupanya. Saya benar-benar tidak menyangka kalau Mbak bisa berfikiran seperti itu,” ucap Budi penuh kekaguman.

Delima hanya hanya tersenyum kecut menerima pujian itu. Tatap matanya begitu sendu seolah duka yang selama ini disimpan erat-erat, akhirnya terbongkar setelah sekian lama.

“Jadi.. saat semua orang menghakimi saya dan memandang rendah pekerjaan saya ini. Saya tidak terlalu perduli, karena saya tahu Tuhan tidaklah sepicik yang dipikirkan banyak orang. Tuhan menginginkan kebahagiaan hamba-hambaNya. Seperti orang tua yang juga menginginkan kebahagiaan anaknya. Melarang si anak untuk berbuat ini-itu, semata demi kebaikan si anak itu sendiri. Sebab orangtua lebih mengerti kehidupan ini dibanding anak-anaknya. Mungkin Tuhan seperti itu. Tapi kebanyakan manusia selalu merasa paling tahu dan paling benar, Mas. “

Setelah panjang lebar Delima bercerita, ia berhenti sambil memandang langit-langit kamar. Tenggelam dalam perasaannya sendiri. Budi sendiri jadi tidak tahu apa yang harus ia katakan pada saat itu. Hanya berkata seadanya untuk menetralisir keadaan seperti semula yang penuh dengan tawa dan canda mereka. “Ya, namanya manusia, Mbak. Ya, seperti itu sifatnya..”

Delima tersenyum sinis mendengar ucapan Budi. “Itulah, Mas.. Saya kalau ditanya tentang Tuhan dan hukumannya kelak, saya sedikit sensitif.” “Hehehe.. Maaf. Maaf, kalau begitu, Mbak..” “Makanya, Mas.. Kalau jadi orang jangan cuma bisa berkoar-koar tentang kebenaran, lalu kemudian berbuat sok kuasa dan merasa paling benar. Lalu menyakiti banyak orang. Kalau Mas bicara tentang rasa takut pada Tuhan dan menganggap pekerjaan saya ini salah. Kenapa Mas tidak bantu saya keluar dari pekerjaan ini? Kok, ya.. malah mewawancarai saya..?”

Budi tersipu malu mendengar penuturan Delima. Dia sama sekali tidak menyangka hal ini akan diucapkan oleh seorang Delima, seorang Pelacur yang selalu dipandang hina oleh kebanyakan orang.

Sambil garuk-garuk kepala yang tidak gatal, Budi berkata kepada Delima,”Maaf, Mbak.. Saya cuma bisa bantu Mbak dengan mengangkat cerita Mbak ini nanti. Itupun kalau saya bisa. Kalau tidak?! Ya, maaf. Karena cuma segini kemampuan saya, Mbak.”

Delima tersenyum kepada Budi. Lalu bangkit dari ranjang menuju meja untuk mematikan puntung rokok diatas asbak. “Gak apa-apa, Mas.. Saya suka dengan orang yang seperti Mas ini. Tidak munafik seperti kebanyakan orang.” Budi tersenyum bangga mendengar ucapan Delima. Sedikit merasa senang karena dirinya tidak dimasukan ke dalam golongan orang-orang yang tidak disukai Delima, sebagaimana penuturannya tadi.

“Ya, Mudah-mudahan, Mbak.. Dengan menjelaskan kepada semua orang, bahwa ada baiknya tidak hanya bisa menghakimi orang lain dan menilai buruk pekerjaan Mbak. Tapi lebih pada mengangkat mereka keluar dari keterpurukan hidup dalam tindakan yang nyata. Semoga akan banyak orang yang mengerti, Mbak” ucap Budi mantap. Delima kembali tersenyum dengan senang.”Mudah-mudahan, Mas…” …… Jakarta, 05juli2011

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: