Turunkan harga sinamot!


Gambar kocak, editan yang bagus. Demo mengenai harga sinamot.🙂

*sinamot saat ini semakin menggila.
Padahal baik sinamot murah ataupun mahal, seumur hidupnya si pembayar sinamot itu akan menjadi pelayan yang melayani hula-hulanya.
Dan lagi sinamot saat ini jadi seperti jarahan saja, karena akan dibagi-bagi diantara hula-hula (jadi tuhor ni boru), dan tulang (jadi upa tulang). Sudah seperti jarahan, harganya juga ditentukan melalui tawar-menawar seperti jual beli barang di pasar. *cmiiw
Kalaulah demikian halnya, lebih baiklah tanpa sinamot saja. Alasan kalau sinamot itu membantu biaya pesta, rasanya tidak terlalu mengena. Mengenai biaya pesta, itu bisa dibagi sesuai kemampuan masing-masing pihak.
Tanpa sinamot pun pengantin laki-laki tetap harus melayani hula-hulanya seumur hidupnya. Apakah pelayanan seumur hidup ini masih kurang cukup sehingga gara-gara sinamot tidak dibayar kemudian kedua pengantin tidak diulosi? Ulaon adat tanpa sinamot, ada yang berani mencoba?

One response

  1. saya pernah membaca sebuah cerita di salah satu buku triloginya PTD Sihombing (Benih yang disemai dan buah yang menyebar, Tahbisan istimewa, Arga do bona ni pinasa) bahwa pernah seorang pendeta yang akan menikahkan seorang anaknya (borunya) tetapi dia tidak mau menerima sinamot, akibatnya dia ‘dimusuhi’ dongan tubunya… sebagai jalan keluar dia terpaksa membeli seekor kerbau besar untuk dibagi-bagi diantara dongan tubunya itu…

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: