Multietnis dan Multikultur


Sumber;
http://www1.kompas.com/readkotatua/xml/2011/04/08/15484782/Multietnis.dan.Multikultur

Berbagai etnis menghuni Batavia sejak awal kota itu berdiri, dan memberi sejarah pada kota ini sampai sekarang.

Jumat, 8 April 2011 |

Orang-orang Sumba dikenali lewat Jalan Tambora. Tambora adalah nama gunung fenomenal di Pulau Sumba yang ledakannya tercatat dalam sejarah. Orang Bima, mungkin memberi nama pada Jembatan Lima (=Bima). Sementara orang Manggarai (Flores) yang sejak tahun 1.700 bermukim di perkebunan Matraman, menjadi asal-muasal nama daerah Manggarai.

Orang Melayu tinggal di sebelah barat Jalan Gedong Panjang. Karena umumnya memiliki jabatan tinggi, mereka hidup di dalam kota. Salah seorang Kapten Melayu, Wan Abdul Bagus, kemudian mendirikan Kampung Melayu di Meester. Sementara Letnan Anci Awang membangun permukiman Melayu lain di daerah Cawang sekarang.

Pada 1673 jumlah penduduk dalam kota Batavia adalah 27.086 orang. Mereka terbagi atas 2.740 orang Belanda dan Indo, 5.362 orang Mardijker, 2.747 orang Tionghoa, 1.339 orang Jawa dan Moor (India), 981 orang Bali, dan 611 orang Melayu. Selebihnya, 13.278 orang, adalah budak dari berbagai suku dan bangsa.

Di antara warga asing, orang Tionghoa paling banyak jumlahnya karena sebagian didatangkan oleh Kompeni untuk bekerja di pertambangan, pelabuhan, pertukangan, dan perdagangan. Mereka tersebar di berbagai wilayah. Wilayah yang paling populer adalah Pecinan, di sekitar Glodok-Pancoran.

Orang India relatif sedikit. Mereka membentuk komunitas di Pekojan dan Kampung Koja. Sebagian masih tersisa di Pasar Baru sekarang.
Kampung Arab masih dapat dilihat sisa-sisanya di Kampung Krukut. Mereka umumnya berkecimpung di bidang agama.

Pada akhir abad ke-19 masyarakat menjadi sukar dibedakan berdasarkan suku. Soalnya mereka sudah membaur melalui perkawinan. Pada abad ke-20 Jakarta dibanjiri urbanisasi dari berbagai daerah. Justru masyarakat Betawi berbalik menjadi minoritas.

Nama-nama kampung di Jakarta yang diambil dari berbagai suku, kemudian dihuni juga oleh suku-suku lain. Bahkan sudah memberikan warna khas pada kebudayaan Indonesia. Jakarta pun menjadi kota yang multietnis dan multikultur. Tiada duanya di dunia, apalagi kalau kita mendengar ucapan, “Biarin deh ane reken seceng, Bos”. Akhiran in (Bali), deh (Betawi), ane (=saya, Arab), reken (=hitung, Belanda), seceng (=seribu rupiah, Tionghoa), bos (=tuan besar, Inggris). (Djulianto Susantio, pemerhati sejarah dan budaya)

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: