Takaran Kejahatan


Sumber:
http://www.cahayapengharapan.org/khotbah/matius/texts/takaran_kejahatan.htm

(Pengajaran Tuhan berkenaan dengan perkara-perkara akhir zaman)

Matius 23:31-24:3
Khotbah oleh Pendeta Eric Chang

Hari ini, kita melanjutkan eksposisi kita tentang ajaran Tuhan di dalam Matius 23:31-24:3. Kita akan secara bertahap menelaah ajaran Tuhan yang berkenaan dengan Akhir Zaman, masa-masa terakhir. Matius 23:31-24:3 berbunyi sebagai berikut:

“Tetapi dengan demikian kamu bersaksi terhadap diri kamu sendiri,” Tuhan Yesus sedang berbicara kepada orang-orang Farisi di sini, “bahwa kamu adalah keturunan pembunuh nabi-nabi itu. Jadi, penuhilah juga takaran nenek moyangmu!

Hai kamu ular-ular, hai kamu keturunan ular beludak! Bagaimanakah mungkin kamu dapat meluputkan diri dari hukuman neraka?

Sebab itu, lihatlah, Aku mengutus kepadamu nabi-nabi, orang-orang bijaksana dan ahli-ahli Taurat: separuh di antara mereka akan kamu bunuh dan kamu salibkan, yang lain akan kamu sesah di rumah-rumah ibadatmu dan kamu aniaya dari kota ke kota, supaya kamu menanggung akibat penumpahan darah orang yang tidak bersalah mulai dari Habel, orang benar itu, sampai kepada Zakharia anak Berekhya, yang kamu bunuh di antara tempat kudus dan mezbah. Aku berkata kepadamu:

Sesungguhnya semuanya ini akan ditanggung angkatan ini!”

“Yerusalem, Yerusalem, engkau yang membunuh nabi-nabi dan melempari dengan batu orang-orang yang diutus kepadamu! Berkali-kali Aku rindu mengumpulkan anak-anakmu, sama seperti induk ayam mengumpulkan anak-anaknya di bawah sayapnya, tetapi kamu tidak mau. Lihatlah rumahmu ini akan ditinggalkan dan menjadi sunyi. Dan Aku berkata kepadamu: Mulai sekarang kamu tidak akan melihat Aku lagi, hingga kamu berkata: Diberkatilah Dia yang datang dalam nama Tuhan!”

Sesudah itu Yesus keluar dari Bait Allah, lalu pergi. Maka datanglah murid-murid-Nya dan menunjuk kepada bangunan-bangunan Bait Allah. Ia berkata kepada mereka: “Kamu melihat semuanya itu? Aku berkata kepadamu, sesungguhnya tidak satu batupun di sini akan dibiarkan terletak di atas batu yang lain; semuanya akan diruntuhkan”

Ketika Yesus duduk di atas Bukit Zaitun, datanglah murid-murid-Nya kepada-Nya untuk bercakap-cakap sendirian dengan Dia. Kata mereka: “Katakanlah kepada kami, bilamanakah itu akan terjadi dan apakah tanda kedatangan-Mu dan tanda kesudahan dunia?”

Di sini kita mulai melihat bahwa ajaran Tuhan membawa kita pada penutupan dari zaman ini, yang di dalam teologi disebut dengan eskatologi. Eskatologi berasal dari bahasa Yunani, eschatos, yang berarti terakhir. Jadi eskatologi itu artinya adalah pengajaran mengenai perkara-perkara yang terakhir, yakni perkara-perkara yang akan tiba di saat zaman ini akan berakhir.

Perlu saya sampaikan bahwa dalam berbicara tentang eskatologi maka kita perlu menelaah masalah ini dengan sangat teliti dan cermat karena, sebagaimana yang Anda ketahui, ada begitu banyak kehebohan yang cenderung dieksploitasi dalam pokok bahasan ini. Kami tidak menganjurkan hal-hal yang semacam ini. Kami ingin meneliti dengan tenang dan cermat apa yang disampaikan oleh Tuhan Yesus berkenaan dengan perkara-perkara di akhir zaman ini. Sama seperti nubuatan Yesus tentang Yerusalem yang digenapi dengan tepat sampai pada perinciannya, Anda boleh yakin bahwa jika nubuatannya mengenai Israel dan Yerusalem digenapi pada tahun 70 dan tahun 135, maka segala yang dia sampaikan sebagai kelanjutan dari peristiwa keruntuhan Yerusalem pasti akan digenapi sepenuhnya juga. Seperti yang disampaikan oleh Tuhan Yesus, “Langit dan bumi akan berlalu tetapi FirmanKu kekal.”

Zaman Perjanjian Baru akan berakhir tapi ini bukanlah akhir dari dunia

Perkara-perkara terakhir ini bermakna bahwa nantinya akan ada suatu akhir, suatu pengakhiran bagi zaman ini. Pahami dengan baik, kita tidak sedang berbicara tentang akhir dunia ini. Yang sedang kita bicarakan ini adalah akhir dari zaman ini – suatu jangka waktu di dalam sejarah umat manusia. Kitab Suci menyampaikannya dengan sangat cermat, hal yang bisa Anda lihat di dalam Matius 24:3, the close of the age (kesudahan zaman bukan dunia).

Di dalam sejarah umat manusia, terdapat pembagian zaman-zaman. Kita bisa juga menyebutkannya dengan istilah ‘epochs (zaman atau masa)’. Dan yang sedang kita bicarakan ini adalah akhir dari zaman yang sekarang ini, akhir dari zaman Perjanjian Baru. Zaman Perjanjian Lama sudah berlalu. Kita sedang membahas akhir dari zaman Perjanjian Baru. Hal ini tidak boleh dicampur-adukkan dengan akhir dunia. ‘Akhir dunia’, kalau boleh kita sebut dengan istilah yang absolut seperti ini, dibahas di dalam Wahyu dan di dalam surat Petrus yang berbicara tentang akan adanya ‘langit dan bumi yang baru’. Dan juga ketika rasul Petrus berbicara tentang dunia yang akan dilenyapkan dengan panas api yang dahsyat. Akan tetapi hal tersebut masih sangat jauh di masa depan. Kita bahkan belum memasuki masa ‘milenium’, masa ‘seribu tahun pemerintahan Kristus’.

Akan tetapi zaman yang sekarang ini sedang berakhir, dan berakhirnya masa yang sekarang ini adalah dengan kembalinya Tuhan Yesus. Kali ini, dia akan datang dalam kemuliaan. Pada kedatangan yang pertama, dia datang dalam kehinaan; Dia dilahirkan di dalam kandang; bisa Anda katakan, dia datang sebagai Raja incognito, yakni tanpa mengungkapkan identitasnya. Pada kedatangannya yang kedua kali, identitasnya akan secara nyata diungkapkan; dia tidak akan datang sebagai Raja incognito melainkan sebagai Raja yang memerintah, sebagai Raja seutuhnya. Jadi, kita sedang berbicara tentang fakta bahwa zaman ini, zaman Perjanjian Baru ini, periode keberadaan Gereja di dalam sejarah ini secara cara pasti sedang menuju pada titik akhirnya; zaman ini sedang berakhir.

Mengapa harus ada akhir? Mengapa Allah tidak membiarkan saja manusia melanjutkan apa yang ada?

Mengapa harus ada akhir? Mengapa Allah tidak membiarkan saja manusia melanjutkan apa yang ada? Biarkan saja semua ini berlanjut. Mengapa harus berbicara tentang suatu akhir? Kaum Nazi memimpikan tentang reich – kerajaan atau kekaisaran dalam bahasa Jerman – selama seribu tahun, suatu pemerintahan yang menjangkau seribu tahun ke depan bagi bangsa Jerman. Ternyata mereka tidak cukup lama berkuasa. Mimpi mereka hancur berkeping-keping bahkan sebelum mereka mencapai masa kekuasaan dua puluh atau tiga puluh tahun, apa lagi sampai seribu tahun. Jadi, apakah impian manusia itu runtuh karena yang berada di atas takhta adalah Allah, dan Dia berkehendak agar zaman mereka diakhiri? Namun mengapa Allah mengakhiri sebuah zaman? Mengapa tidak membiarkan saja manusia melanjutkan zaman mereka?

Untuk bisa memahami hal tersebut, mari kita teliti isi Kitab Suci. Kita akan melihat pada apa yang disebut sebagai ‘takaran kejahatan’. Melainkan kita mengerti ajaran tentang ‘takaran kejahatan’ ini, maka kita tidak akan bisa memahami prinsip cara Allah menangani umat manusia dan juga cara bagaimana Dia berurusan dengan Anda dan saya. Ini sangatlah penting.

Apa yang dimaksudkan dengan “Takaran kejahatan”?

Apakah yang dimaksudkan dengan ‘takaran kejahatan’ itu? Di Matius 23:32, Anda akan mulai melihat ajaran mengenai takaran kejahatan ini. “Jadi, penuhilah juga takaran nenek moyangmu!” Apakah artinya? Ajaran tentang takaran kejahatan merupakan suatu prinsip yang penting yang muncul berulang kali di sepanjang Kitab Suci. Prinsip ini berarti bahwa Allah tidak akan membiarkan kejahatan naik melampaui takaran tertentu, melampaui titik tertentu – jika lebih dari itu, Dia tidak akan membiarkannya. Sampai dengan titik tersebut, Dia akan bertoleransi; melewati itu, kejahatan itu harus dihentikan, selesai sudah. Ini adalah uraian yang sederhana mengenai apa itu takaran kejahatan.

Sebagai contoh, saat Dia berurusan dengan orang perorangan, kadang kala Dia akan mengizinkan Anda melangkah cukup jauh namun lebih dari itu, Dia akan berkata, “Cukup sudah.” Dan Dia akan menangani individu tersebut dengan penghakiman. Dia akan menangani sedemikian rupa sesuai dengan rencanaNya. Kadang kala, Dia akan menjatuhkan orang tersebut. Kadang-kadang, Dia akan melenyapkan orang tersebut jika orang tersebut menyebabkan kerusakan serius bagi jemaat. Kita akan meneliti hal ini lebih terperinci lagi.

Ajaran tentang ‘takaran kejahatan’ di dalam Perjanjian Lama dan Perjanjian Baru

Mari kita renungkan ajaran tentang ‘takaran kejahatan’ ini baik di dalam Perjanjian Lama maupun Perjanjian Baru. Yang dikatakan di sini adalah, “Jadi, penuhilah juga takaran nenek moyangmu!” – ‘penuhi’ dan ‘takaran’, itulah kedua kata yang disampaikan. Saat takaran tersebut dipenuhi, maka Allah akan menghentikannya. Dia tidak akan mentolerir lebih dari itu. Kekudusan dan kasihNya tidak bisa menahan kejahatan ini lebih jauh lagi.

1. Perjanjian Lama

Hal ini dapat dilihat, di Kejadian 6:11, 13, di masa sebelum air bah. Di waktu itu bumi penuh dengan kejahatan dan kekerasan, dan saat takaran kejahatan telah terpenuhi, Allah menurunkan air bah untuk melenyapkan seluruh angkatan di muka bumi. Dia tidak bisa membiarkan kejahatan melampaui titik takaran tertentu. Dia tidak akan mentoleransi kejahatan bila melewati takaran tersebut. Saya harap Anda memahami bahwa kita sedang berurusan dengan Allah yang hidup. Dunia ini adalah milik Allah. Kita adalah ciptaanNya. Entah kita mengakui hal ini atau tidak, tidak ada bedanya, karena Dia akan memastikan bahwa kejahatan tidak akan melampaui suatu tingkatan tertentu. Dan ketika kejahatan mencapai tingkatan tersebut, turunlah penghakiman.

Hal ini berlaku pada tahap orang perorangan, juga pada tingkat bangsa. Allah akan menghapuskan suatu bangsa. Seperti yang sudah disebutkan, dalam hal Nazi Jerman, kejahatan itu akhirnya mencapai tingkat di mana hal tersebut tidak boleh lagi dilanjutkan. Ketika orang-orang dimasukkan ke dalam kamar-kamar gas dan hal yang sejenisnya, cukup sudah. Allah kemudian meruntuhkan pemerintahan tersebut, negara tersebut. Seiring dengan berjalannya waktu, Anda akan melihat bahwa Dia akan melakukan hal ini dalam tindakan yang bersifat lebih langsung.

Demikian pula halnya dengan ayat Matius 23:32 ini, Tuhan Yesus berkata kepada orang-orang Farisi, “Jadi, penuhilah juga takaran nenek moyangmu!” Lalu apa yang telah terjadi dengan nenek moyang mereka di dalam Perjanjian Lama? Ketika takaran kejahatan orang Israel mencapai suatu titik tertentu, Allah menyapu bangsa Israel. Yesus berkata kepada orang-orang Yahudi itu, yang isinya juga merupakan pokok dari perikop di dalam Matius pasal 23 ini, “Kejahatanmu sedang meningkat. Engkau sedang memenuhi takaran kejahatan nenek moyangmu. Jika kejahatanmu itu mencapai titik tersebut, maka hal-hal yang terjadi dengan nenek moyangmu akan terjadi padamu.” Itulah tepatnya hal yang terjadi pada mereka. Ini adalah pokok yang perlu untuk kita pahami dengan jelas. Hal ini terus berlangsung di dalam Perjanjian Lama, juga dalam Perjanjian Baru.

Ambil contoh Kejadian 15:16, catatan mengenai orang Amori yang merupakan bagian dari orang Kanaan, Allah berkata bahwa jika takaran kejahatan orang Amori sudah genap, maka orang-orang Amori akan dihancurkan. Namun sebelum takaran itu dipenuhi, mereka belum akan dihancurkan. Jadi, di dalam Kejadian pasal 15, mereka belum dihancurkan, namun ketika Anda sampai pada Yosua, Anda akan melihat bahwa Yosua diberi perintah untuk melenyapkan orang Amori. Kejahatan mereka pada zaman Yosua sudah mencapai tingkatan tersebut; Allah tidak bisa membiarkannya lebih lama lagi. Lalu turunlah perintah kepada Yosua untuk melenyapkan orang Amori. Cukup sudah. Allah adalah Allah yang kudus.

Kita harus memahami hal tersebut. Allah itu kasih akan tetapi Dia tidak bisa mentolerir kejahatan. Kejahatan dan kasih tidak bisa bercampur. Jika kejahatan dan kasih dicampur-adukkan, maka hal itu bukanlah kasih lagi. Kejahatan yang bercampur dengan kasih akan menjadi percabulan, akan menjadi kenajisan, akan menjadi kecemaran. Ia tidak akan menjadi kasih yang memberi diri yang tidak mengeksploitasi orang lain, yang tidak mengambil keuntungan dari orang lain. Allah tidak akan mengizinkan hal tersebut berlanjut.

Demikianlah, di sepanjang Perjanjian Lama, kita akan menemukan hal yang sama, mengenai takaran kejahatan nenek moyang mereka. Apa yang terjadi ketika takaran kejahatan nenek moyang mereka dipenuhi? Yeremia berulang kali berbicara tentang hal ini, dengan memakai kata yang secara harfiah sama dengan yang dipakai oleh Tuhan Yesus di dalam perikop ini, yakni kata-kata ‘forsake (ditinggalkan)’, ‘destroy (dibinasakan, dihancurkan)’, sebagaimana yang kita lihat di dalam Matius 23:38. “Lihatlah rumahmu ini akan ditinggalkan dan menjadi sunyi,” dan Tuhan memang akan menghancurkannya. Pada bagian awal pasal 24, ketika para murid sedang mengagumi bangunan Bait Allah. Bangunan Bait Allah itu memang sangat luar biasa. Diperlukan waktu hampir setengah abad untuk membangunnya. Sungguh sangat hebat! Setiap detail dihias, dihaluskan, diperindah dan dipercantik. Anda bisa melihat bangunan Bait Allah itu dari kejauhan, bersinar seperti permata di atas bukit Sion.

Namun Tuhan Yesus berkata, “Kalian lihat bangunan Bait Allah itu? Kuberitahukan kepadamu. Tak ada satupun batu di sana yang akan dibiarkan tersusun di atas batu yang lain dari bangunan yang megah tersebut.” Para murid terperanjat! Saat itu adalah masa yang damai. Tidak ada perang. Siapa yang akan menghancurkan bangunan yang indah ini? Tentu saja, berdasarkan kepedulian akan hasil karya seni, kalau tidak ada alasan yang lainnya, tak akan ada orang yang mau menghancurkan bangunan yang seindah ini. Tuhan berkata, “Bangunan ini akan dihancurkan sepenuhnya.” Dan tentu saja, menurut apa yang kita ketahui dari sejarah, hal tersebut memang terjadi.

Anda tahu, sungguh luar biasa, pihak Roma sebenarnya tidak berniat menghancurkan Bait Allah ini. Malahan, Titus, di dalam serangan terakhirnya pada tahun 70, ketika akhirnya dia berhasil masuk ke Yerusalem dan mengepung Bait Allah yang menjadi kubu pertahanan terakhir orang Yahudi, Titus memberi perintah kepada pasukannya untuk tidak menghancurkan Bait Allah. Dia tidak berniat untuk menghancurkannya. Dia bahkan tidak tahu bahwa Tuhan Yesus sudah menyampaikan nubuatan tersebut, dan dia tidak memiliki niat untuk menggenapi nubuatan Tuhan Yesus sekiranya dia memang pernah mendengar tentang nubuatn itu. Akan tetapi di dalam pertempuran yang ketat, saat mereka mulai bertempur di lingkungan Bait Allah itu, seorang prajurit Roma, dalam kegeramannya, telah melemparkan obornya lewat jendela ke ruang kudus, dan segenap bangunan itu lalu hangus ditelan api, bertentangan dengan perintah dari Titus, sang jendral Roma. Dengan demikian genaplah firman Tuhan. Segenap Bait Allah dimusnahkan dan tidak ada yang tersisa selain abu.

Lalu di dalam Yeremia 16:18, terdapat kalimat, memenuhi tanah milik-Ku dengan perbuatan mereka yang keji. Juga di dalam Yeremia 19:4, lalu di dalam Yehezkiel 8:17, akan Anda temukan juga kata ‘memenuhi’ sebagaimana yang dipakai oleh Tuhan Yesus di dalam kalimat ‘Penuhilah takaran…”

Hal yang sama juga berlaku bagi bangsa lain, yakni orang-orang Babel yang merupakan musuh besar bangsa Israel. Hal yang sama berlaku di dalam Yeremia 51:5,6 di mana Yeremia berkata, “Jika takaran kejahatan orang Babel telah genap, maka mereka juga akan dihancurkan.” Hal yang sama juga diucapkan terhadap kota besar, Tirus yang masih ada sampai dengan zaman sekarang ini. Di dalam Yehezkiel 28:16, prinsip yang sama diberlakukan.

2. Perjanjian Baru

Kita bisa terus melakukan penelusuran sampai kepada Perjanjian Baru. Di 1 Tesalonika 2:16, misalnya, disebutkan, “Karena mereka mau menghalang-halangi kami memberitakan firman kepada bangsa-bangsa lain untuk keselamatan mereka. Demikianlah mereka terus-menerus menambah dosa mereka sampai genap jumlahnya dan sekarang murka telah menimpa mereka sepenuh-penuhnya.” Demikianlah, kita bisa terus menelusuri isi Kitab Suci dan selalu menemukan bahwa sebelum takaran itu dipenuhi, maka Allah akan tetap bersabar. Dan kadang kala, kita bisa terkesima akan kesabaranNya, betapa Dia bisa berdiam sampai sedemikian lama.

Lalu di dalam 1 Petrus 3:20, disebutkan tentang kesabaran Allah pada zaman Nuh. Dia melihat kejahatan yang semakin berlipat ganda dan perilaku manusia menjadi semakin cemar dan menjijikkan, akan tetapi Allah tidak langsung menghapuskan mereka, melainkan menunggu sampai takaran tersebut digenapi. Dia memberi mereka kesempatan untuk bertobat, namun akhirnya, ketika takaran itu dipenuhi, air bah datang dan mereka dihapuskan.

Demikianlah, kita bisa lihat juga di dalam Matius 24:6, berlakunya prinsip yang sama. Di sini tertulis: “Kamu akan mendengar deru perang atau kabar-kabar tentang perang. Namun berawas-awaslah jangan kamu gelisah; sebab semuanya itu harus terjadi, tetapi itu belum kesudahannya.” Namun pada masa itu memang belum saatnya. Akan ada perang dan kabar-kabar tentang perang, segala sesuatunya akan mengalami peningkatan intensitas, namun tetaplah tenang karena waktunya belum tiba. Mengapa? Karena kejahatan masih diperkenankan bertambah. Anda bisa lihat hal tersebut di dalam ayat 12, Dan karena makin bertambahnya kedurhakaan – ia masih akan bertambah – maka kasih kebanyakan orang akan menjadi dingin. Kejahatan akan terus bertambah di mana kasih manusia bagi Allah dan sesama akan menjadi dingin.

Allah begitu sabar untuk memberi kita kesempatan untuk bertobat

Mengapa Allah begitu sabar? Dia masih tetap menunggu, menunggu untuk memberi setiap orang kesempatan untuk bertobat. Dia memberi Anda kesempatan untuk bertobat. Tak seorangpun pada Hari Penghakiman nanti dapat berkata, “Aku tidak punya kesempatan.” Jika Allah langsung bertindak pada saat Anda melakukan kejahatan maka apa yang akan terjadi pada Anda? Jika pada waktu mencuri si pencuri itu langsung dibinasakan, maka dia tidak punya kesempatan untuk bertobat. Allah itu sabar. Dia memberi waktu kepada dunia untuk bertobat.

Sebagian akan berkata bahwa Allah itu terlalu sabar. Akan tetapi Anda harus pahami pokok ini – ketika Anda yang menjadi sasaran kejahatan, maka Anda akan menjadi sangat tidak sabar: “Ya Allah, mengapa engkau tidak berbuat sesuatu?” Jika ada orang yang melukai Anda, Anda menginginkan pembalasan yang langsung – lebih cepat, lebih baik. Jika ada orang yang menculik anak Anda, Anda menginginkan penghakiman segera: “Apa yang ditunggu oleh Allah? Hancurkanlah orang itu sekarang juga.”

Jika Dia menangani kita dengan cara seperti itu, tak seorangpun dari kita yang masih punya waktu untuk bertobat. Bukankah begitu? Kita harus memahami prinsip ini.

Ada sebagian orang yang selamat dari pembantaian di Auschwitz dan Dachau – di mana pihak Nazi Jerman membunuh jutaan orang. Banyak orang, ketika mendengar jeritan para korban di ruangan gas, atau yang menjadi obyek percobaan medis yang brutal, mereka bertanya-tanya, “Mengapa Allah tidak berbuat sesuatu? Ya Allah lakukanlah sesuatu! Tidakkah Engkau mendengar jeritan orang-orang di ruangan tersebut!” Dan ketika gas mulai memenuhi ruangan, banyak orang yang memeluk bayi-bayi mereka, mencakari tembok. Orang-orang Jerman memasukkan mereka ke dalam ruangan-ruangan tertutup dan memberitahu mereka bahwa mereka akan diberi air untuk mandi lewat pancuran. Ternyata, yang keluar dari pancuran-pancuran tersebut adalah gas karbon monoksida. Dan orang-orang itu mulai sadar bahwa mereka akan dibunuh dengan gas, dan ketika melihat orang-orang di sekitarnya mulai berjatuhan, para ibu mulai menjerit terutama karena anak-anak yang masih berada dalam pelukan mereka mulai mati. Sungguh tidak manusiawi! Kebrutalan yang melampaui takaran! Dan orang-orang itu bertanya, “Mengapa Allah tidak berbuat sesuatu!” Allah terlalu sabar! Dia membiarkan semua hal itu berlangsung. Ketika kita yang menjadi sasaran kejahatan, kita akan berpikir bahwa seharusnya Allah bertindak sekarang juga.

Umat Kristen yang mengasihi dunia tidak akan menyambut kedatangan Tuhan

Saat kita bukan menjadi sasaran empuk kejahatan, kita akan berkata, “Mengapa harus ada hari akhir?” Sebagian akan berpikir, “Lebih baik tidak ada hari akhir bagi kita. Sebagian orang Kristen tidak menghendaki adanya pengakhiran. Biarlah dunia ini berlangsung terus seperti apa adanya! Aku suka apa yang ada ini. Aku baru saja membeli mobil. Kalau besok adalah hari akhir, maka uang yang kupakai untuk membeli mobil sia-sia saja, aku tidak sempat menikmatinya. Aku baru saja beli rumah. Aku baru pasang AC. Apakah Anda ingin agar hari akhir segera tiba? Kapan kesempatan untuk menikmati hidup?”

Saya masih ingat bahwa saya pernah berbicara dengan seorang Kristen mengenai betapa dekatnya hari akhir itu, dan wajahnya menjadi sangat muram. Saya bertanya, “Ada apa? Anda tidak suka dengan pembicaraannya?” Dia berkata, “Tidak.” Lalu saya bertanya, “Apa masalahnya?” Dia jawab, “Yah, saya akan segera menikah. Kalau Tuhan datang, saya bahkan tidak akan sempat menikah apalagi membangun rumah yang indah untuk istri saya dan memiliki beberapa anak. Akhir zaman hanya akan merusak rencana indah saya.”

Sebagian orang Kristen begitu mengasihi dunia ini. Jadi semua ini bergantung dari sudut mana Anda melihatnya. Ada yang ingin berkutat dengan kehidupan ini. Sebagian berpikir, “Aku belajar begitu keras dan kalau Tuhan datang pada akhir tahun ini, aku tidak sempat memperoleh gelar! Sudah sedemikian keras aku berusaha, ternyata tidak bisa memperoleh gelar? Setidaknya izinkan aku untuk datang ke surga dengan gelar, entah itu BSc atau BA atau apapaun itu. Betapa duniawinya kita ini! Dunia ini mendapat tempat utama di dalam pikiran kita. Apakah merupakan hal yang sangat penting di surga nanti apakah Anda memiliki gelar atau tidak? Sikap Anda terhadap dunia inilah yang akan menentukan apakah Anda akan menyambut kembalinya Tuhan Yesus atau tidak. Saya menduga bahwa pada Hari ketika Tuhan Yesus datang, banyak orang Kristen duniawi yang akan sangat kecewa: “Mengapa engkau datang begitu cepat? Aku baru saja akan menikah. Sekarang engkau merusak semua rencanaku.”

Sebelum semua rencanaNya terpenuhi, Allah tidak akan bertindak

Namun bagi orang lain, yang merupakan korban kejahatan, mereka sangat tidak sabar menunggu hari akhir; bagi mereka Allah terlalu lambat bertindak. Dia terlalu sabar. Malahan disebutkan bahwa di dalam salah satu kamp konsentrasi Jerman, dalam masa pemerintahan teror Nazi, salah seorang Rabi, ketika mendengar jeritan orang-orang yang dibantai, dia berseru kepada Allah untuk segera bertindak, “Bertindaklah sekarang! Bertindaklah sekarang!” Ketika tidak ada hal yang terjadi, ketika Allah tampaknya tidak bertindak apa-apa, imannya ambruk dan dia menyimpulkan bahwa tidak ada Allah. “Kalau Allah tidak melakukannya sekarang ini, berarti Dia tidak ada. Kalau Allah tidak bertindak seperti yang kuharapkan, berarti Dia tidak ada.” Kita berpikir demikian karena kita tidak memahami prinsip bagaimana Allah bertindak.

Kalau Allah bertindak mengikuti kemauan rabi ini, maka dunia sudah lama berakhir. Kalau Allah bertindak mengikuti kemauan orang Kristen yang mengasihi dunia ini, dunia mungkin tidak akan pernah berakhir. Allah bertindak tidak mengikuti kemauan saya atau orang lain, atau mengikuti kemauan seorang individu. Dia bertindak menurut rencana keseluruhanNya, dan sebelum semua rencanaNya itu digenapi, Dia tidak akan bertindak.

Kita harus memahami semua ini kalau kita ingin memahami eskatologi, yakni ajaran Tuhan Yesus mengenai perkara-perkara hari akhir dengan benar. Dan saya harap Anda benar-benar memahami prinsip ini.

Kesabaran Allah ada batasnya terhadap bangsa atau orang perorangan.

Terlebih lagi, saya perlu tunjukkan kepada Anda bahwa prinsip ini juga berlaku pada orang per orang. Jika Anda terus saja berada di dalam kejahatan, jika Anda meneruskannya sekalipun Anda adalah orang Kristen namun terus saja berada di dalam dosa, saya beritahu Anda, kesabaran Allah bukan tanpa batas. Dia akan memberi Anda peringatan, dan Dia akan mendisiplin dan menindak Anda, namun jika Anda terus saja berada di dalam dosa, saatnya akan tiba di mana Dia akan memutuskan hubungan dengan Anda. Ya, Dia akan melakukannya. Saya tahu ini bahkan terjadi pada seorang pendeta, yang oleh karena perilakunya yang tidak benar, Allah lalu bertindak terhadap dia. Orang-orang mendoakannya dan dia meninggal sebelum lewat satu minggu. Kita sedang berurusan dengan Allah yang hidup.

Saya bacakan Amsal 29:1 bagi Anda – Siapa bersitegang leher, walaupun telah mendapat teguran, akan sekonyong-konyong diremukkan tanpa dapat dipulihkan lagi. Sekonyong-konyong. Anda lihat, ini adalah pokok penting yang lainnya berkenaan dengan penghakiman. Sudah sering ditegur (often reproved = sudah sering ditegur, terjemahan LAI hanya menyebutkan telah mendapat teguran, dan ini kurang tepat, pent.) – ada suatu masa yang cukup lama di mana Allah bersabar. Namun jika Anda terus saja bersitegang leher, maka sekonyong-konyong penghakiman akan datang dan semuanya berakhir. Penghakiman, pada waktu ia datang, akan berlangsung cepat dan tuntas. Namun sebelum dijatuhkan, Allah akan memberi Anda waktu untuk bertobat. Jika Anda tetap menolak, maka tiba-tiba saja penghakiman itu datang. Perhatikan ajaran yang sama di dalam Amsal 6:15, ayat ini tidak perlu kita baca sekarang ini.

Setelah memahami hal ini, mari kita kembali ke perikop yang sedang kita bhas. Jadi di sini, tepatnya hal yang disebutkan dalam Amsal itulah yang sedang terjadi pada Israel.

Mari kita lihat lagi perikop tersebut. Apa yang disampaikan dari Matius 23:34 dan seterusnya itu? “Sering ditegur namun bersitegang leher” –
“Sebab itu, lihatlah, Aku mengutus kepadamu nabi-nabi, orang-orang bijaksana dan ahli-ahli Taurat” – lalu apa yang terjadi? Mereka tetap saja keras kepala – “separuh di antara mereka akan kamu bunuh dan kamu salibkan, yang lain akan kamu sesah di rumah-rumah ibadatmu dan kamu aniaya dari kota ke kota.” – dan akhirnya, setelah sering ditegur dan tetap saja keras kepala, mereka akan sekonyong-konyong dihancurkan tanpa bisa dipulihkan lagi, “tidak ada lagi kesembuhan.” Janganlah kita menguji kesabaran Allah.

Ada sebagian orang Kristen yang benar-benar membuat saya takut. Mereka menguji kesabaran Allah sampai melewati takaran. Mereka pikir mereka bisa terus berbuat dosa dan terus berkata maaf kepada Allah. Akan tiba saatnya ketika Allah menjadi muak, dan Anda akan mendapati tindakan disiplin yang berat dari Allah ditujukan kepada Anda. Itulah sebabnya mengapa penulis surat Ibrani berkata, “Sungguh menakutkan jika terjatuh ke tangan Allah yang hidup.”

Mari kita perhatikan ayat-ayat berikut ini. Prinsip yang sama juga berlaku pada individual, sebagaimana ia berlaku pada bangsa-bangsa. Mari kita lihat 2 Tawarikh 36:15-16 yang sejajar dengan perikop kita hari ini. Anda akan temukan bahwa firman tersebut nyaris merupakan parallel yang persis dari Matius pasal 23 ini.

Namun TUHAN, Allah nenek moyang mereka, berulang-ulang mengirim pesan melalui utusan-utusan-Nya (yakni para nabiNya), karena Ia sayang kepada umat-Nya dan tempat kediaman-Nya (yaitu Bait Allah di Yerusalem). Tetapi mereka mengolok-olok utusan-utusan Allah itu, menghina segala firman-Nya, dan mengejek nabi-nabi-Nya. Oleh sebab itu murka TUHAN bangkit terhadap umat-Nya, sehingga tidak mungkin lagi pemulihan.

Allah mengutus para nabi dan utusanNya dan umat Israel mengolok-olok mereka. Lalu disebutkan di dlam ayat 15, karena Dia sayang pada umatNya, Dia terus saja mengirim utusan-utusanNya, sekalipun mereka ini dihina dan dibunuh. Namun ketika mereka terus saja keras kepala, maka kesabaran Allah berakhir dan ketika takaran kejahatan, takaran pelanggaran, itu telah dipenuhi, bangkitlah kemarahanNya dan tidak ada lagi pemulihan. Tidak ada lagi pemulihan, tidak ada lagi jalan untuk berbalik. Ini adalah prinsip yang sangat penting bagi setiap orang untuk dipahami jika Anda meneliti perkara-perkara akhir zaman. Itulah sebabnya mengapa harus ada hari akhir; Allah tidak akan membiarkan semua ini berlangsung tanpa batas.

Tuhan Yesus memperingatkan Israel bahwa mereka akan dihancurkan

Karena alasan inilah kita bisa dapati bahwa tidak kurang dari tiga kali Tuhan Yesus memperingatkan Yerusalem dan umat Israel bahwa mereka akan dibinasakan. Tidak kurang dari tiga kali. Sebagai contoh, kita bisa lihat hal tersebut di dalam Lukas, ada tiga kali peringatan: Lukas 13:34-35, yang merupakan perikop yang sejajar degan Matius 23 ini; lalu yang kedua kali di dalam Lukas 19:42-44; dan yang ketiga kali di dalam Lukas 21:20-24. Di dalam pelayanannya Yesus memperingatkan Israel sebanyak tiga kali bahwa mereka akan dibinasakan akan tetapi mereka tidak memperhatikan hal ini.

Banyak orang yang menilai bahwa pembicaraan tentang hari akhir ini hanya untuk menakut-nakuti

Hal yang sama juga terjadi di zaman sekarang ini. Banyak orang akan menilai bahwa hal ini sebagai ‘omongan yang tidak-tidak’. Ketika Tuhan Yesus memperingatkan orang Yahudi bahwa mereka akan dibinasakan, tentunya mereka saat itu menilai hal ini sebagai omongan yang tidak-tidak. Saat itu perekonomian berlangsung stabil. Tuhan Yesus tampaknya seperti seorang yang berusaha untuk menakut-nakuti. “Omongan hari kiamat! Aku baik-baik saja. Kita semua baik-baik saja. Apa maksud pembicaraan tentang dunia yang akan berakhir dan Yerusalem yang akan dibinasakan? Hanya untuk menakuti orang! Peringatan yang tidak perlu!” Akan tetapi Tuhan Yesus terus saja memperingatkan mereka, dan mereka tidak mau dengar. Dan saya kira banyak orang di zaman sekarang ini menilai bahwa pembicaraan tentang akhir zaman sebagai usaha untuk menakut-nakuti, tidak penting, terutama bagi mereka yang tinggal di negara yang makmur. “Kehidupan berjalan baik di sini. Kami tidak ada keluhan apa-apa. Lalu mengapa Anda berbicara tentang akhir zaman?”

Entah Anda suka membahas tentang akhir zaman ini atau tidak, saya sekadar menyampaikan kepada Anda tentang apa itu rencana Allah. Itulah tugas saya. Dan apa yang akan Anda perbuat dengan hal yang disampaikan ini, itu adalah urusan Anda, sama seperti apa yang akan diperbuat oleh orang-orang Yahudi terhadap peringatan dari Tuhan Yesus. Namun ketika hal itu memang terjadi, mereka lalu menyadari bahwa apa yang Yesus sampaikan itu memang benar, sekalipun kesadaran mereka datangnya terlambat.

Penghakiman Allah: Ditinggalkan, menjadi sunyi/tandus

Di dalam Matius 23:38, kita dapati ucapan, “Lihatlah rumahmu ini akan ditinggalkan dan menjadi sunyi,” kata ‘menjadi sunyi’ dalam bahasa Yunaninya adalah eremos, kata yang juga diartikan sebagai ‘padang gurun’. Itulah asal dari kata ‘menjadi sunyi’ ini. Keadaannya seperti padang gurun. Tanah yang subur ini, tanah yang berkelimpahan ini akan diubah menjadi padang gurun. Mungkin jika Anda tidak waspada, hidup Anda juga akan diubah menjadi padang gurun oleh penghakiman Allah. Berkat Allah akan memberi kelimpahan bagi hidup Anda, atau akan memberikan kesunyian, kehancuran, kebinasaan. Itulah peringatan bagi mereka yang tidak mau bertobat.

Kata ‘desolate (menjadi sunyi, ditinggalkan)’ juga muncul di dalam Lukas 21:20. “Apabila kamu melihat Yerusalem dikepung oleh tentara-tentara, ketahuilah, bahwa keruntuhannya sudah dekat.” “Banyak dari antara kalian yang akan punya cukup umur untuk melihat Yerusalem dikepung oleh bala tentara. Maka kalian akan tahu bahwa saat aku berbicara kepadamu, apa yang aku sampaikan itu adalah benar. Maka kamu akan tahu bahwa keruntuhannya sudah dekat.”

Kata ‘keruntuhan/menjadi sunyi’ ini, sebagaimana yang telah saya tunjukkan kepada Anda, adalah kata yang dipakai juga oleh nabi Yeremia secara berulangkali. Di dalam kitab Yeremia, Anda akan temukan kata ini dalam Septuaginta, terjemahan bahasa Yunani untuk Perjanjian Lama, misalnya di dalam Yeremia 4:7, 7:34, 22:5, 25:18, 44:6, 22. Dan Anda bisa lihat betapa seringnya kata ini muncul. Dengan kata lain, di sepanjang isi kitabnya ini, Yeremia terus menerus memperingatkan bangsa Israel, “Kalian akan dijadikan tandus karena ketidaktaatan kalian kepada Tuhan. Allah akan menghabisi kalian. Apakah kalian mengerti pesan yang sedang kusampaikan ini?” Namun mereka tidak mengerti pesan yang dia sampaikan. Mereka berkata, “Omong kosong! Ini hanya omong kosong saja! Kami baik-baik saja. Segala sesuatunya berjalan baik.”

Tentu saja Yeremia benar. Pada tahun 586 SM, bala tentara Nebukadnezar bergerak menuju Yerusalem – bala tentara yang sangat besar, pasukan Babilon! Suatu pemandangan yang sangat mengesankan, gemerlap saat disinari matahari, dengan perlengkapan dari emas, perak, perunggu dan besi! Bala tentara Babel yang hebat ini bergerak maju ke arah Yerusalem. Penduduk melihat kota Yerusalem dikepung oleh bala tentara ini. Dan raja Babel, Nebukadnezar, menghancurkan Yerusalem menjadi abu, menghancurkan kota ini sampai ke dasarnya!

Ya, ketika Yeremia berbicara, mereka menyahut, “Kamu terlalu menakut-nakuti! Ini semua omong kosong! Jangan dengarkan omongan ini! Israel baik-baik saja.” Kita tidak suka mendengarkan peringatan. Kita tidak suka diperingatkan. Bahkan sebagai anak-anak kecil, kita juga tidak suka diperingatkan. Namun sayangnya, peringatan itu benar.

Tuhan Yesus memakai kata yang persis sama dengan yang dipakai oleh Yeremia, “Keruntuhan yang dialami oleh nenek moyangmu akan kamu alami saat kamu penuhi takaran nenek moyangmu. Hal yang sama akan terjadi padamu. Mengertikah kamu?” Namun mereka tidak mengerti. “Betapa sering Aku rindu untuk mengumpulkanmu di bawah sayapKu, seperti induk ayam mengumpulkan anak-anaknya, tetapi kamu tidak mau. Oleh karena itu rumahmu akan menjadi sunyi.”

Israel selalu menjadi barometer rohani Allah di dunia ini

Terakhir, mari kita pelajari kerangka pengajaran Tuhan Yesus mengenai perkara-perkara akhir zaman. Di bagian akhir dari Matius pasal 23 ini, Tuhan Yesus memberi kita semacam kerangka dari mana kita bisa menarik garis-garis utama dari gambaran yang ada. Orang-orang Yahudi adalah semacam barometer rohani bagi kita. Israel selalu menjadi semacam barometer Allah di sepanjang zaman bagi dunia ini, di mana [dengan barometer ini] kita bisa mengukur sudah seberapa dekat kita dengan akhir zaman.

Israel berperan sebagai semacam barometer atau termometernya. Dengan melihat pada keadaan di Timur Tengah kita bisa mengukur sudah seberapa panas keadaannya sekarang ini. Keadaan di Timur Tengah itu bagaikan telur di ujung tanduk – seperti sedang duduk di atas kapak perang. Kita tidak tahu apa yang akan terjadi. Kita selalu dikejutkan. Tiba-tiba saja pesawat jet tempur Israel sudah menjatuhkan bom. Dan esok paginya, saat Anda baca surat kabar, sudah terjadi sesuatu yang lain lagi! Semuanya serba mendadak! Mendadak saja kebinasaan datang! Apa yang kita ketahui? Tiba-tiba, ada serangan dan sudah terjadi perang besar di Timur Tengah! Masihkah Anda ingat tentang Perang Enam Hari yang terjadi mendadak. Anda bangun di pagi hari, dan Anda dapati bahwa segenap Timur Tengah sudah terlibat dalam perang besar, yang nyaris saja melibatkan negara-negara super-power! Israel berperan sebagai barometer rohani untuk mengukur sudah seberapa tinggi takaran itu dipenuhi, sudah seberapa dekat akhir zaman itu.

Kerangka ajaran Tuhan mengenai perkara-perkara di akhir zaman:

Ada empat hal yang bisa kita angkat sebagai kerangka dari ajaran Tuhan Yesus mengenai akhir zaman, dan kita bisa memasukkan berbagai perincian ke dalam keempat kerangka tersebut.

(1) Yesus menubuatkan bahwa dia akan ditolak oleh bangsa Yahudi

Hal pertama adalah, sebagaimana yang bisa kita lihat dari bagian bacaan ini, Yesus menubuatkan penolakannya oleh bangsa Yahudi. Dan hal tersebut masih berlangsung sampai sekarang.

(2) Orang Yahudi akan ditinggalkan oleh Allah selama “zaman bangsa-bangsa”

Hal yang kedua yang Yesus sampaikan adalah bahwa, sebagai akibat dari penolakan mereka ini, maka orang Yahudi akan ditinggalkan [oleh Allah] untuk suatu masa. Periode ini di dalam Lukas 21:24 disebut dengan istilah “zaman bangsa-bangsa”. Selama masa itu, maka orang Yahudi akan ditinggalkan oleh Allah.

(3) Selama masa ini, orang Yahudi tidak akan melihatnya

Yang ketiga, selama masa ini, mereka tidak akan melihatnya. Ini berarti bahwa, saat mereka bertemu lagi dengannya, maka berakhirlah masa-masa di mana mereka diabaikan.

(4) Saat mereka melihat dia lagi, mereka akan bertobat dan mengakui Dia sebagai Mesias

Dan keempat, akan tiba masanya di mana mereka kembali lagi kepadanya. Mereka akan bertobat; hati mereka akan berubah. Anda bisa lihat hal ini di dalam Matius 23:39. “Dan Aku berkata kepadamu: Mulai sekarang kamu tidak akan melihat Aku lagi, hingga…,” kamu akan melihatku lagi. Kapan kamu akan melihatku lagi? – “… hingga kamu berkata: (‘Baruch Haba Hashem Adonai.’ itulah kalimatnya di dalam bahasa Ibrani.) Diberkatilah Dia yang datang dalam nama Tuhan!”

Saya ingat ketika masih kuliah di Israel, saya pernah beribadah di gereja orang Yahudi. Keberadaan gereja Kristen yang jemaatnya orang Yahudi sangatlah jarang. Saya masih ingat persis, terdapat suatu kalimat dalam bahasa Ibrani yang terulis di dindingnya, “Baruch Haba Hashem Adonai” – “Diberkatilah Dia yang datang dalam nama Tuhan.”

Apa artinya? Bagaimana cara untuk memahaminya? Ucapan tersebut berasal dari Mazmur 118:26 – Diberkatilah dia yang datang dalam nama TUHAN! Kami memberkati kamu dari dalam rumah TUHAN. Mazmur 118 ini adalah bagian dari nyanyian yang disebut Hallel.

Kata Hellelujah berarti Pujian bagi Allah. Jadi kata hallel itu berarti pujian. Demikianlah, Mazmur 118 adalah bagian penutupan dari sebuah lagu pujian, hallel, yang dalam kasus ini, lagu tersebut dinyanyikan dalam rangkaian penyembelihan domba Paskah pada hari Paskah. Mengapa? Karena domba Paskah itu merupakan jalan pembebasan bangsa Israel dari penindasan di Mesir, di mana ketika malaikat pembinasa datang untuk membinasakan anak-anak sulung di Mesir, mereka yang memakai tanda darah domba itu di pintu rumahnya tidak ikut dibinasakan. Dan di dalam rangka mengenang peristiwa tersebutlah maka hallel ini dinyanyikan. Ini adalah hal yang sangat penting.

Dengan kata lain, jika kita kembalikan ke dalam Matius pasal 23, maka sebenarnya Tuhan Yesus sedang berkata, “Kamu tidak akan melihatku lagi sampai kamu mau menyanyikan Hallel yang biasa kamu nyanyikan saat domba Paskah dikorbankan, saat kamu mengakui bahwa akulah tebusan atas dosa-dosamu.” Seperti yang dikatakan oleh Paulus, bahwa Kristus adalah Domba Paskah. Dialah tebusan bagi dosa-dosa kita. Darahnya menutupi kita. Darahnya membersihkan kita dari dosa-dosa. Darahnya melindungi kita dari kematian yang dibawa oleh malaikat pembinasa.

Jadi, Tuhan Yesus sedang berkata, “Kamu tidak akan melihatku lagi sampai kamu mengakui bahwa aku telah mati bagi dosa-dosamu. Kamu tidak akan melihatku lagi sampai kamu menyanyikan lagu Mesanik itu.” Anda lihat, segenap isi Mazmur 118 ini adalah Mazmur Mesianik. Ini adalah Mazmur yang dinyanyikan sebagai penyambutan bagi kedatangan Mesias. Lihatlah ayat 21 sebagai contoh. Ini adalah Mazmur tentang keselamatan. Mazmur 118:21: Aku bersyukur kepada-Mu, sebab Engkau telah menjawab aku dan telah menjadi keselamatanku.

Saat Allah menjadi keselamatan kita, maka kita bisa menyanyikan kalimat di dalam Mazmur ini “Diberkatilah dia yang datang di dalam nama Tuhan.” Ayat 22 adalah ayat yang terus menerus dikutip di dalam Perjanjian Baru jika Anda ingat, “batu yang dibuang oleh tukang bangunan telah menjadi batu penjuru.” Kalimat ini dikutip berkali-kali di dalam Perjanjian Baru. Dan yang paling penting adalah kalimat, “Diberkatilah dia yang datang.” kata ‘dia yang datang’ sebenarnya adalah gelar bagi Mesias; Dia adalah Yang Akan Datang; Dia akan datang kembali. Dan malahan, orang Yahudi biasa menyebut Mesias cukup dengan istilah “Dia yang akan datang.” Itulah sebutan bagi Mesias. Dia memang berkali-kali disebutkan dengan istilah ini di dalam Perjanjian Baru. Sebagai contoh, di dalam Matius 3:11, 21:9; Yoh 11:27 dan sebagainya. Dia – Mesias- selalu disebut dengan istilah ‘Dia yang akan datang’.

Jadi, pokok dari semua ini – jika kita kembalikan ke Matius 23:39 –
menjadi cukup jelas. “Kamu tidak akan melihatku lagi sampai kamu mengakuiku sebagai Juruselamatmu, sebagai Mesias, Rajamu.”

Jadi, itulah empat tahapan dasar yang bisa kita temukan sebagai kerangka dari pokok ini. Dan inilah hal yang dimaksudkan oleh Paulus di dalam Roma 11:26 dengan saat “seluruh Israel akan diselamatkan”; ketika hati bangsa ini berbalik; ketika digenapi firman dalam Yehezkiel 36:26, di mana nabi ini berkata, “Kamu akan Kuberikan hati yang baru, dan roh yang baru di dalam batinmu dan Aku akan menjauhkan dari tubuhmu hati yang keras dan Kuberikan kepadamu hati yang taat.” Akan terjadi perubahan di dalam hati mereka, saat Israel berbalik dari penolakan mereka terhadap Mesias pada Hari itu, hari yang masih jauh di depan, saat mereka menerima Yesus sebagai Raja mereka.

Rangkuman

Jadi sampai di sini kita harus tutup pembahasan hari ini, dan izinkan saya untuk membuat rangkuman poin-poin yang sangt penting di sini:

Segala sesuatu sedang bergerak menuju suatu pengakhiran pada zaman sekarang ini karena Allah tidak bisa mentoleransi takaran dosa yang tanpa batas, tidak dalam orang perorangan maupun dalam bentuk dosa suatu bangsa, juga tidak dalam bentuk dosa seluruh dunia. Saat kejahatan mencapai titik tertentu, penghakiman Allah akan datang dengan cepat. Namun sebelum itu, Dia akan tetap bersabar dan berbelaskasihan.

Bagaimana dengan diri Anda sekarang ini? Bagaimana kedudukan Anda dalam hubungan Anda dengan Allah? Dia telah memberi Anda banyak kesempatan untuk bertobat, entah Anda seorang Kristen atau bukan. Apakah Anda sedang menguji kesabaranNya? Apakah Anda menunjukkan hidup yang berisi roh yang nyata, kesiapan untuk mentaati Dia dan untuk mengikut Dia supaya Anda bisa memperoleh sukacita keselamatanNya? Di manakah posisi Anda sekarang ini?

Ingatlah akan hal ini: firman Tuhan tidak pernah gagal. Saya telah melayani Tuhan selama puluhan tahun dan saya tidak pernah menyaksikan satu kali pun bahwa Firman Tuhan itu gagal. Tak pernah sekalipun! Apa yang Tuhan Yesus sampaikan akan terjadi! Apa yang dijanjikan akan digenapi jika Anda memenuhi persyaratannya. Tak pernah sekalipun Firman itu gagal. Dan saya tahu persis bahwa jika Firman Tuhan berkata bahwa hari akhir akan tiba, maka hari itu akan tiba.

Kita akan melihat dalam beberapa minggu ke depan, sambil kita melanjutkan penelaahan atas pengajaran Tuhan, apa saja kejadian-kejadian yang membawa kita pada hari akhir itu, hal-hal apa saja yang akan menunjukkan bahwa takaran tersebut sedang dipenuhi. Oleh karena itu, marilah kita menjadi sangat tanggap dan terbuka akan firman yang sudah disampaikan.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: