Nasibku Bukan Nasibmu


Sumber:
http://cetak.kompas.com/read/2011/04/10/04133546/Nasibku.Bukan.Nasibmu.

Samuel Mulia

Seorang teman wanita berdoa. Begini, ”Tuhan, sembuhkan suami saya. Samuel aja gagal ginjal bisa sembuh, Tuhan pasti mau juga memberikan kesembuhan yang sama.” Saya yang berdiri di sampingnya diam dan terkejut. Saya mengerti kegalauannya. Meski jauh di nurani yang terdalam, saya meragukan bahwa doanya akan dikabulkan. Bukan karena saya sok tahu, tetapi saya hanya mikir, rambut boleh sama hitam, tapi nasib macam-macam, bukan?

Bapak sukses, anak sukses?

Hal di atas menjadi kegalauan saya juga selama menjalani hidup ini karena saya memanjatkan doa agar hidup saya koaya roaya seperti para konglomerat dan hati seperti para malaikat. Tetapi kenyataannya tidaklah demikian.

Selang sekian minggu, saya membaca sebuah buku bagaimana cara menjadi kaya. Setelah membacanya, saya sempat naik pitam. Diceritakan bahwa kesuksesan itu bisa diraih oleh siapa pun. Bahkan dari orang yang miskin sekali pun.

Setelah diizinkan hidup nyaris separuh abad, dengan IQ yang gitu deh itu, saya kok merasa apa yang saya dapatkan dan jalankan sampai hari ini itu adalah hanya sebuah nasib yang sudah digariskan sejak awal untuk saya. Kalau saya menoleh ke belakang, dan melihat perjalanan hidup yang naik dan turun, saya berpikir itu semua karena saya yang mewarnai perjalanan itu. Saya yang menentukan mau seperti itu.

Tetapi sekarang saya berpikir, itu sebuah eksekusi nyata dari nasib yang sudah ditentukan, yang harus diwujudkan melalui penggunaan akal dan desire yang ada dalam diri saya. Itu mengapa kemudian ada istilah keinginan bebas. Saya dulu percaya itu dan kecewa karenanya. Itu membuat saya galau.

Sering kali saya dan Anda mendengar bahwa semua hal di dunia ini tak ada yang terjadi secara kebetulan. Nah, kalau begitu sejak mula segala sesuatu sudah ditentukan, bukan? Karena kebetulan itu adalah sebuah situasi yang tak sengaja terjadi, bukan sebuah hal yang ditentukan sebelumnya. Jadi perjalanan hidup yang naik dan turun setiap insan itu sudah ditentukan.

Pertanyaannya kemudian, apakah dengan begitu saya berhenti bekerja atau diam menjalani nasib? Tidak, itu tak mungkin terjadi. Karena kalau nasib saya sudah ditentukan untuk bekerja, yaa… saya akan bekerja. Orang lain bisa saja bekerja seperti saya, tetapi hasilnya berbeda. Saya bekerja sampai pontang dan panting dan tidak kaya, tapi ada yang setelah pontang-panting kemudian kaya.

Sejuta mengapa?

Kalau benar bahwa saya bisa seperti konglomerat, kalau saya bisa kaya seperti cerita dalam buku itu, karena diberikan tipsnya, berarti kesempatan menjadi sukses dan koaya roaya akan juga berlaku untuk semua makhluk hidup di dunia ini, bukan?

Tetapi apa kenyataannya yang saya lihat sampai hari ini? Orang miskin tetap ada, orang tidak sukses tetap ada. Jagat ini tak pernah dipenuhi dengan orang kaya dan orang sukses semata, meski ada sejuta buku dengan tipsnya untuk menjadi kaya dan sukses.

Itulah yang membuat saya jengkel dan galau karena ternyata bukan hanya niat, mimpi, dan kerja keras yang bisa menyamakan saya dengan orang lain. Saya bertanya pada diri saya sendiri. Siapa Justin Bieber itu dua tahun yang lalu? Siapa Katy Perry itu lima tahun yang lalu? Bagaimana mereka bisa melejit secepat kilat, sementara ada di bagian dunia lainnya manusia- manusia yang bersusah payah dengan suaranya yang tak kalah indahnya harus berjuang dan tak pernah menjadi kondang. Padahal, saya percaya mereka memiliki mimpi, ambisi, niat, dan kerja keras.

Saya bertanya kepada diri sendiri, siapakah yang menjadi petinju legendaris yang selama ini saya ketahui? Mereka yang berkulit hitam, bukan? Saya tak pernah mendengar dan melihat ada manusia berasal dari negeri China menjadi petinju legendaris. Padahal, menjadi petinju adalah hak semua orang, bukan? Dengan sejuta mimpi, kerja keras, dan niat yang tak kunjung padam. Tetapi kenyataan di depan mata tidaklah demikian.

Ada sejuta mengapa di kepala saya. Mengapa iPad, facebook, BB, 4square tidak diciptakan bangsa ini? Mengapa bangsa ini tak bisa dikenal sebagai pembuat mobil mewah dengan teknologinya yang canggih? La wong saya melihat manusia Indonesia itu jago dan pandai, tetapi mengapa itu tak terjadi?

Semua orang boleh membuat buku, menceritakan kisah suksesnya dengan niat membuka wawasan kepada pembacanya dan mungkin ada secuil harapan supaya yang membaca memiliki pengalaman yang sama. Masalahnya, saya sebagai pembaca harus sering kali mengingatkan diri sendiri bahwa nasib saya tak akan sama dengan nasib si penulis buku.

Dan saya tak akan memercayai lagi kalimat macam begini, ”Kalau saya bisa, kamu pasti bisa”. Karena rambut saya boleh saja sama hitam, tapi jenis rambutnya pun macam-macam. Itu yang membuat setelah ditata, rambut teman saya bisa indah, rambut saya tetap saja tak bisa ”nendang”.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: