Menanti Penurunan Suku Bunga


Sumber:
http://cetak.kompas.com/read/2011/04/04/02591619/menanti.penurunan.suku.bunga

A TONY PRASETIANTONO

Industri perbankan Indonesia memasuki babak baru sejak 31 Maret 2011. Sebanyak 42 bank umum yang asetnya di atas Rp 10 triliun diwajibkan Bank Indonesia memublikasikan suku bunga dasar kredit atau prime lending rate.

Bank harus mengumumkan berapa suku bunga yang mereka tentukan untuk segmen kredit korporasi, ritel, kepemilikan rumah (KPR), dan non-KPR. Tujuannya adalah mendorong kompetisi yang akan mengerucut pada penurunan suku bunga kredit, agenda terbesar perbankan dalam beberapa tahun terakhir.

Semula saya skeptis pada kebijakan ini. Saya khawatir, jangan-jangan kita akan kembali ke era represi finansial (financial repression) sebelum tahun 1983. Ketika itu bank harus tunduk terhadap represi otoritas moneter dan perbankan yang mengatur banyak hal, dari plafon suku bunga hingga plafon kredit.

Kalau ini terjadi, perbankan justru tidak efisien karena semua besaran suku bunga dan kredit menjadi seragam. Semangat berkompetisi yang menjadi roh efisiensi perbankan dipadamkan paksa. Bank hidup di bawah tekanan bank sentral sehingga solusi dan kinerja optimal tidak tercapai.

Belakangan, skeptisisme saya berubah tatkala menyimak laporan kinerja bank-bank tahun 2010. Terjadi ketidakseimbangan antara mobilisasi dana masyarakat (dana pihak ketiga/DPK) yang tumbuh 29 persen dan pertumbuhan kredit yang hanya 22 persen. Hal itu bisa saja karena bank cenderung berhati-hati mengelola risiko, tidak sembarangan menyalurkan kredit agar tidak terjebak kredit macet.

Akan tetapi, kita tercengang menyaksikan laba Bank Rakyat Indonesia (BRI) menembus dua digit menjadi Rp 11,475 triliun, naik 57 persen dari tahun sebelumnya Rp 7,308 triliun. Ini kinerja yang dahsyat. Dalam skala dan intensitas yang berbeda-beda, bank-bank lain juga membukukan kinerja yang mantap sepanjang tahun 2010.

Di sisi lain, kita justru melihat ironi bahwa margin bunga bersih (net interest margin/NIM) justru naik signifikan. Ini di luar perkiraan. Setelah upaya menurunkan suku bunga kredit menjadi wacana hangat dalam beberapa tahun terakhir, timbul ekspektasi besar agar NIM turun meski secara bertahap. Namun, kenyataan sebaliknya. Di BRI, misalnya, NIM naik signifikan dari 9,14 persen (2009) menjadi 10,77 persen (2010). Sementara di Bank Tabungan Pensiunan Nasional (BTPN) yang fokus pada usaha mikro, kecil, dan menengah, NIM-nya lebih tinggi, 13,97 persen. Tahun sebelumnya, NIM-nya ”masih” 12,18 persen.

Semua data ini fantastis. Perasaan kita pun jadi mendua. Ada kebanggaan terhadap kehebatan kinerja bank. Hal ini pula yang menyebabkan banyak investor asing begitu bersemangat masuk ke pasar Indonesia yang NIM-nya menggiurkan. Bahkan Bank Mutiara yang kontroversial pun, saya duga, tetap menarik minat investor asing. Namun, kita prihatin, upaya BI untuk menurunkan bunga kredit seolah menepuk angin. Sia-sia.

Karena itulah, ”senjata pamungkas” berupa kewajiban memublikasikan suku bunga kredit acuan bagi bank-bank umum yang besar (pemimpin pasar) menemukan relevansi. Skeptisisme saya terhadap kemungkinan terjadinya praktik ”represi finansial” menjadi terkubur.

Kini mulai bisa dibuktikan bahwa tidak ada kartel (kolusi harga atau kesepakatan tingkat bunga) pada industri perbankan. Yang terjadi adalah bank-bank saling mengintai suku bunga, setiap saat memantau suku bunga kompetitornya melalui market intelligence, bukan melalui kesepakatan bersama. Namun, ternyata itu tidak membuat suku bunga bank seragam.

Setelah bank-bank mengumumkan suku bunga dasar kredit (SBDK)-nya, terbukti terjadi variasi yang lebar di antara mereka, yakni kredit korporasi terbentang antara 7 dan 13 persen, kredit ritel 9-21,9 persen, kredit KPR 8,73-14,1 persen, dan kredit non-KPR 9,72-23,6 persen. Berarti telah ada persaingan yang cukup sengit, tetapi belum mampu membuat suku bunga kredit menurun.

Persaingan diduga lebih banyak terjadi pada hal-hal lain, misalnya kualitas pelayanan yang bisa membuat nasabah loyal atau kemampuan bank untuk mendapatkan dana murah melalui berbagai tawaran hadiah dengan produk tabungan yang berbunga rendah. Masih banyak nasabah yang lebih suka mengejar hadiah daripada suku bunga yang lebih tinggi.

Hubungan bank dan debitornya memang sering kali khas. Karena pelayanan bank baik dan nasabah tidak mau repot untuk merintis hubungan baru dengan bank lain, terjadilah loyalitas yang kuat di antara mereka. Inilah salah satu alasan rigiditas suku bunga kredit selama ini. Kini, setelah SBDK diumumkan, sangat mungkin derajat loyalitas ini bergeser atau setidaknya muncul opsi renegosiasi di antara mereka.

Meski demikian, BI masih harus melakukan banyak hal. Pertama, BI harus memastikan telah terjadi pengungkapan data bank yang valid. Faktor ini merupakan kunci pengambilan keputusan debitor. Kompetisi yang sehat perlu data dan informasi yang simetris. Kenyataannya di semua industri, hal sebaliknya lebih sering terjadi: asymmetric information. Buku teks ilmu ekonomi selalu menempatkan isu ini sebagai sumber inefisiensi.

Kedua, sebaiknya data SBDK disajikan seperti data harga saham dan indeks harga saham gabungan yang setiap saat diumumkan otoritas bursa saham dan mudah diakses di media massa. Jika bisa disajikan sepekan sekali, informasi ini pasti akan sangat bermanfaat bagi debitor guna menentukan pilihannya. Kelak koran harian tidak cuma menyajikan tabel data harga saham, tetapi juga ”harga” kredit perbankan. Kompetisi di industri perbankan akan kian ketat dan sehat.

Selanjutnya, semoga kita bakal menyaksikan industri perbankan yang kian dewasa melalui peningkatan pendalaman finansial (financial deepening) sehingga ujung-ujungnya tercapai fungsi intermediasi yang lebih berkualitas. Ini bukan perkara mudah, tetapi pasti bukan fatamorgana.

A Tony Prasetiantono Kepala Pusat Studi Ekonomi dan Kebijakan Publik (PSEKP) UGM, Yogyakarta

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: