Langit Merah Putih


Sumber:
http://cetak.kompas.com/read/2011/03/31/04365220/langit.merah.putih

Oleh Tyasno Sudarto

Bom buku yang dalam beberapa hari terakhir ini meresahkan masyarakat sekali lagi menjadi faktor tak terduga yang menghambat bangkitnya optimisme publik.

Padahal, sebelumnya, kita sudah dihantam oleh bencana alam, kenaikan harga pangan, kekerasan horizontal yang mengatasnamakan agama, berita Wikileaks mengenai penyalahgunaan kekuasaan oleh presiden, dan ingar-bingar politik terkait koalisi dan isu perombakan kabinet.

Semua kejadian tersebut membuat klaim-klaim keberhasilan pemerintah berkaitan dengan gerak ekonomi makro tidak mendapatkan resonansi kuat di tengah masyarakat. Terlebih lagi, sejauh ini para politisi secara sepihak cenderung mengklaim bahwa langit Indonesia itu hanya berwarna merah, kuning, hijau, dan biru. Warna-warna simbolik yang dipakai sebagai identitas partai.

Akibatnya, masyarakat merasa partai hanya mengedepankan transaksi daripada keutamaan politik. Tidak ada pembelaan kepada rakyat ketika mereka membutuhkan. Hal ini bisa dilihat, misalnya, dari miskinnya sikap politik elite ketika sebagian anak bangsa menjadi korban kekerasan atas nama agama.

Padahal, Republik Indonesia tidak dibangun atas dasar suku, agama, ras, dan antargolongan. Langit kita adalah merah putih dan bukan merah, kuning, hijau, atau biru. Oleh sebab itu, ketika mendengar dari para aktivis muda bahwa musisi legendaris Sawung Jabo dan Sirkus Barocks-nya gelisah melihat keadaan bangsa saat ini, lalu berencana mengadakan pentas musik di beberapa kota dengan bendera ”Langit Merah Putih”, saya tertegun. Tampaknya hati para seniman itu lebih jernih membaca gerak zaman daripada para politisi.

Tantangan ekstrem

Menyimak kesigapan Jepang dalam mengatasi terjangan tsunami dan lompatan Brasil, India, dan China dalam pembangunan seharusnya menyadarkan kita bahwa musuh bangsa ini sejatinya bukan anak bangsa sendiri, melainkan bangsa lain. Mereka bergerak cepat membangun pendidikan, mengembangkan penelitian dan teknologi, serta menanamkan nilai-nilai kebanggaan nasional. Mereka juga memproduksi barang dan jasa untuk disebar sebagai benih kekuatan ekonomi dan identitas budaya.

Sehubungan dengan hal itu, seharusnya kita galau dengan kondisi bangsa Indonesia. Sejauh ini percikan-percikan konflik masih membelenggu peri kehidupan kebangsaan dari pusat sampai ke pelosok Tanah Air. Ini bukan saja mengganggu ikatan-ikatan solidaritas antarkelompok masyarakat sebagai kekayaan purba kita, tetapi juga merusak konsentrasi pemerintah dalam menerapkan kebijakan. Padahal, tantangan ke depan secara obyektif pasti semakin berat. Semua bidang berubah cepat dan ekstrem.

Oleh sebab itu, terjebak pada sentimen sempit dan kecurigaan berlebihan pada komponen bangsa yang kritis, menurut saya, justru akan membawa Indonesia tertatih-tatih dalam menjaga kelangsungan hidup bangsa. Energi para pemegang kekuasaan lebih baik difokuskan pada upaya menyejahterakan rakyat, bukan pada isu-isu lain, apalagi sekelas gosip seperti rencana kudeta para jenderal purnawirawan. Saat ini saja masih ada 31,2 juta rakyat hidup miskin. Ini jumlah yang relatif masih besar, apalagi kalau angka gelap ikut diperhitungkan.

Persoalan kemiskinan rakyat, pengangguran, korupsi, dan sederet masalah lain secara prediktif akan semakin kelabu apabila pemerintah salah membaca gerak zaman. Tantangan-tantangan ekstrem seperti perubahan iklim, pergeseran geopolitik, masalah energi, kesehatan, dan bioteknologi, jika tidak diantisipasi dengan sigap oleh pemerintah, dapat membuat kita nyungsep digulung oleh tantangan-tantangan tersebut. Oleh sebab itu, sikap kritis seluruh kelompok strategis diperlukan untuk mengawal kerja pemerintah.

Sekadar contoh dari seriusnya tantangan-tantangan baru tersebut adalah fenomena gagal panen tahun lalu. Kita telah dihempas mahalnya harga pangan, termasuk cabai, karena perubahan iklim yang ekstrem. Situasi tersebut telah membuat banyak orang jatuh miskin sehingga memicu peningkatan suhu politik nasional. Ini bisa dilihat dari munculnya titik-titik pijar demonstrasi aktivis dan mahasiswa yang merebak di mana-mana.

Jika satu masalah ekstrem saja mempunyai magnitudo konflik yang luar biasa, bagaimana apabila beberapa tantangan ekstrem mengadang sekaligus. Sebagai bangsa, tidak tertutup kemungkinan Indonesia bisa benar-benar lumpuh. Identitas, harga diri, dan soliditas kebangsaan yang ditegakkan oleh para pendiri Republik akan layu. Sementara itu, kita sibuk memupuk rasa saling curiga di antara sesama anak bangsa.

Kehadiran negara

Sejauh ini saya memercayai bahwa sikap kritis sejumlah elemen bangsa terhadap pemerintah tak lebih dari wujud kecintaan mereka kepada bangsa dan negara. Harapan mereka sebenarnya sederhana: negara hadir ketika ada warga negara yang membutuhkannya.

Dalam beberapa kasus kekerasan seperti di Temanggung (Jawa Tengah) dan Cikeusik (Banten), negara sepertinya absen. Jadi, lumrah apabila kritik pun mengalir dari segala penjuru karena negara dianggap gagal menjaga langit Indonesia tetap merah putih.

Semua itu menyadarkan penulis bahwa lahirnya pemimpin-pemimpin masa depan yang visioner, berpihak kepada rakyat, dan teguh memegang amanat konstitusi adalah tugas mendesak sekarang ini. Mereka adalah para pemimpin yang menjaga langit Indonesia tetap merah putih. Pintu untuk melahirkannya hanya satu, yaitu pendidikan.

TYASNO SUDARTO Ketua Umum Majelis Luhur Tamansiswa; Mantan Kepala Staf TNI Angkatan Darat

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: