Momentum Bangun Demokrasi


Sumber:
http://cetak.kompas.com/read/2011/03/29/04315018/momentum.bangun.demokrasi

Berawal dari Tunisia, tuntutan akan perubahan menjadi virus yang menyebar cepat di Timur Tengah dan Afrika Utara. Gerakan prodemokrasi berkembang terutama dimotori oleh kaum muda, bersemi di hati rakyat yang jenuh terhadap pemimpin otokratis, represif, dan berkuasa begitu lama.

Sejauh ini gerakan tersebut telah berhasil menggulingkan Presiden Zine el-Abidine Ben Ali di Tunisia, dan rezim Hosni Mubarak di Mesir. Di negara lain seperti Yaman, Bahrain, Libya, Jordania, dan terakhir Suriah, tuntutan perubahan masih berjalan, memicu konflik pemerintah dengan rakyat yang memakan korban jiwa.

Perubahan yang terjadi di Timur Tengah ini memunculkan pertanyaan, apakah tumbangnya rezim otoriter akan memberikan tempat bagi berkembangnya demokrasi? Bagaimana masa depan demokrasi di Timur Tengah? Sejarah panjang negara-negara di Timur Tengah dan kawasan Maghribi yang sarat dengan konflik kekerasan menjadi alasan mengapa demokrasi sulit berkembang di wilayah ini. Mulai dari konflik Sunni dan Syiah, permusuhan Arab-Israel, konflik perbatasan warisan kolonial yang sengaja dipelihara, hingga pandangan kultural yang tidak memungkinkan persamaan hak perempuan.

Yang muncul kemudian adalah security state, negara yang mengutamakan pendekatan keamanan. Faktor keamanan lebih ditonjolkan untuk menetralisasi semua konflik itu.

Jejak demokrasi bukannya tak ada. Sejak merdeka dari Perancis dan menjadi republik pada 25 Juli 1957, Tunisia menganut sistem multipartai. Demokrasi berjalan dengan adanya pemilihan umum dan anggota parlemen. Namun, pemilu selalu didominasi Constitutional Democratic Rally (RCD) yang berkuasa.

Mesir juga menganut sistem multipartai meski sejak kudeta tahun 1952 presiden selalu dari kalangan militer. Partai Demokratik Nasional (NDP) selalu menang mutlak dalam pemilu parlemen. Demokrasi yang dianut baru sebatas formalitas penyelenggaraan pemilu tanpa pembatasan kekuasaan dan sirkulasi kepemimpinan.

Hal lain yang menghambat pertumbuhan demokrasi adalah berkembangnya sistem kabilah dalam kehidupan politik di wilayah itu. Untuk kasus Libya, Muhammad Abid al-Jabiry dalam Al-’Aql al-Siyasi al-’Arabi menggambarkan sistem kabilah sebagai salah satu dari tiga pilar politik Libya selain akidah dan upeti (Zuhairi Misrawi, Kompas, 8/3).

Kekuatan politik Libya dibangun di atas pertalian kabilah, dan pemimpin Libya Moammar Khadafy mendapatkan dukungan kuat dari Kabilah Qadhadfa, terutama di Tripoli dan Sirte, tanah kelahirannya.

Alasan-alasan itu membuat demokrasi sulit berkembang, meski negara-negara Barat, terutama Amerika Serikat, berusaha menerapkannya. AS pun mendapat pelajaran pahit dari memaksakan demokrasi di Timur Tengah saat mengerahkan kekuatan militer untuk menggulingkan Presiden Irak Saddam Hussein tahun 2003.

Kekeliruan AS adalah menghancurkan semua infrastruktur militer dan politik di Irak, termasuk Partai Baath yang berkuasa. Terbukti, membangun kembali infrastruktur politik lebih sulit daripada yang dibayangkan sebelumnya. Delapan tahun setelah serangan itu, kondisi Irak belum juga stabil.

Demokrasi yang dibangun AS di Irak pun akhirnya tak lepas dari pembagian kekuasaan berdasarkan sistem kabilah. Dalam dua kali pemilu, presiden Irak berasal dari kelompok Kurdi di utara. Kelompok Syiah kebagian posisi perdana menteri, dan ketua parlemen dari kelompok Sunni.

Di Lebanon, negara yang iklim demokrasinya relatif lebih baik dibandingkan dengan negara Timur Tengah lain, pembagian kekuasaan serupa juga terjadi antara kelompok Sunni, Syiah, dan Maronit.

Kelembagaan

Konsolidasi demokrasi untuk membentuk pemerintah yang efektif pun membutuhkan waktu bertahun-tahun. Negara-negara Barat yang berkepentingan dengan perdamaian dan minyak yang dihasilkan dari kawasan ini pada akhirnya membiarkan pemimpin otoriter berkuasa. Hal ini karena lebih mudah berhubungan dengan pemimpin yang efektif meski tidak demokratis, ketimbang pemerintahan yang tidak jelas penguasanya.

Pesimisme untuk tumbuh suburnya demokrasi di Timur Tengah juga dapat dilihat dari esensi demokrasi, yaitu cara untuk menyelesaikan perbedaan dan konflik kepentingan secara damai. Penyelesaian damai itu membutuhkan kapasitas kelembagaan yang besar.

Kapasitas kelembagaan ini tidak harus seperti apa yang dibentuk di negara-negara Barat. Jika masyarakat Timur Tengah tidak memiliki kapasitas untuk menyelesaikan konfliknya sendiri secara damai, sulit membayangkan demokrasi yang sesungguhnya berkembang di kawasan ini.

Penerapan demokrasi terbatas di sejumlah negara, seperti di Tunisia dan Mesir sebelum kerusuhan terjadi, pada dasarnya baru memenuhi demokrasi kuantitatif. Belum ada negara yang memahami demokrasi secara kualitatif, mengenai masalah hak dan kedaulatan warga negara.

Dari pandangan yang optimistis, bibit demokrasi sebenarnya telah ditularkan lewat pendidikan. Dinasti yang berkuasa di negara-negara Arab mengirim anak-anak mereka bersekolah di negara-negara Barat.

Dengan segala ketertutupannya, dunia Arab juga tidak bisa menutup mata begitu saja terhadap perkembangan zaman. Mereka tidak bisa menutup mata terhadap kemajuan teknologi komunikasi, seperti internet, dan jejaring sosial di dunia maya, seperti Facebook dan Twitter. Nyata sekali, dan rupanya memang disadari betul oleh yang punya teknologi, bahwa jejaring sosial seperti itu adalah bagian dari cara mereka memasukkan ide-ide, termasuk pula ide demokratisasi.

Bisa dibayangkan, bagaimana rumah- rumah di Arab Saudi yang tertutup rapat itu bisa menonton televisi, yang sangat lengkap menyajikan informasi, termasuk pula informasi soal demokrasi. Mereka bisa menyaksikan pergolakan di negara lain seperti Tunisia, Mesir, dan kini Libya melalui televisi di ruangan tertutup mereka.

Suka atau tidak suka, negara-negara di Arab, Timur Tengah, dan Afrika Utara pun terjangkit secara positif oleh virus cyberspace ini. Dan yang paling sedikit diperhatikan, sebenarnya sudah terjadi dialog antara anak-anak muda di Timur Tengah, di dunia Arab, dan bahwa mereka sebenarnya juga prihatin melihat keadaan negerinya.

Oleh karena itu, tidak bisa anak-anak muda ini membiarkan keadaan negeri mereka seperti itu. Mereka terdorong untuk mengadakan perubahan seperti yang terjadi di negeri-negeri Timur Tengah yang lain.

Tidak pernah sebelumnya dibayangkan, ketika orang mengumpulkan begitu banyak massa, apakah itu di Tunisia, apakah itu akibat di Alexandria kemudian orang berkumpul berorasi di Lapangan Tahrir di jantung kota, dan sebagainya, anak-anak muda itu kini menggalang aktivitas mereka melalui internet, melalui komputer dari rumah-rumah mereka yang tertutup. Dan dengan semua perangkat mereka yang ada, mereka bisa saling bertukar informasi.

Dan kalau kita lihat, siapa yang bisa mengakses informasi-informasi dari dunia maya itu? Tentunya mereka adalah orang-orang yang berpendidikan, kelas menengah ke atas.

Karena itu, bukan ketidaktahuan tentang demokrasi, tetapi bagaimana para pemimpin menangani konflik secara damai serta mengupayakan kesejahteraan dan keadilan bagi rakyatnya.

Sebagai kesimpulan, momentum perubahan yang bertiup di kawasan Timur Tengah ini adalah kesempatan emas untuk menumbuhkan pemerintahan yang demokratis. Meski diakui, masa depan demokrasi di Timur Tengah tak akan berkembang sejauh demokrasi berkembang di negara Barat.

Negara absolut monarki bisa bertahan dari tuntutan perubahan selama berhasil membaca keadaan. Mereka harus membuka partisipasi rakyat seluas-luasnya dalam tingkat yang dapat dipertanggungjawabkan. Pemerintah juga perlu memerhatikan kesejahteraan, keadilan, dan kebebasan warganya mengutarakan pendapat, yang menjadi tuntutan utama dari unjuk rasa yang melanda Timur Tengah saat ini.

Melihat pengalaman yang terjadi di Tunisia, Mesir, dan Libya—saat aksi massa bergerak, turun ke jalan menuntut perubahan dan meminta pemimpin mereka yang terlalu lama berkuasa untuk turun—rumus yang barangkali bisa dipegang bagi seorang pemimpin adalah ia tahu kapan saat yang tepat berhenti berkuasa dan turun jabatan.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: