Ketika Rakyat Menuntut Ganti Rezim


Sumber:
http://cetak.kompas.com/read/2011/03/29/04561818/ketika.rakyat.menuntut.ganti.rezim

Hanya dalam waktu dua bulan, ”Revolusi Melati” menumbangkan rezim di Tunisia dan ”Revolusi 25 Februari” juga menjatuhkan rezim di Mesir. Di Libya, Moammar Khadafy juga digoyang. Terkait hal itu, harian “Kompas” pada 16 Maret 2011 menggelar diskusi terbatas tentang Timur Tengah dengan pembicara Ketua Pascasarjana Hubungan Internasional UI, Makmur Keliat, mantan Duta Besar RI di Mesir yang juga pengajar UI, Bachtiar Aly, Wakil Ketua Komisi I DPR Tubagus Hasanuddin, peneliti Senior LIPIM Hamdan Basyar, dan pengamat Timur Tengah lulusan Universitas Al Azhar, Kairo, Zuhairi Misrawi. Diskusi dipandu wartawan “Kompas” Budiarto Shambazy. Hasil diskusi ditulis oleh Jimmy S Harianto, Wisnu Dewabrata, dan Johanes Waskita Utama di halaman ini, juga halaman 6 dan 7.

Runtuhnya rezim Presiden Ben Ali di Tunisia oleh aksi massa pada 14 Januari 2011 serta-merta mengguncang pula penguasa-penguasa Timur Tengah dan kawasan Maghribi yang bercokol lama di puncak kekuasaan.

Hanya selang sebulan kemudian, giliran Presiden Mesir Hosni Mubarak menyusul runtuh, oleh aksi massa 18 hari oleh rakyat Mesir pada 11 Februari 2011.

Runtuhnya dua penguasa, yang kebetulan keduanya menduduki kursi kekuasaan dalam jangka lama, memicu gerakan massa serupa di sejumlah negara Timur Tengah dan Maghribi. Bak kartu domino.

Yang sekarang masih berlangsung dialami pemimpin kuat Libya, Moammar Khadafy. Seperti juga Ben Ali, Khadafy pun penguasa lama yang berkuasa di Libya melalui aksi kudeta.

Pemimpin-pemimpin negeri Timur Tengah dan Maghribi (negeri yang memiliki garis pinggir laut panjang di sepanjang Lautan Atlantik, dari Selat Gibraltar hingga Laut Tengah), pun mulai ketar-ketir, akankah mereka mengalami nasib yang sama dengan penguasa-penguasa lama itu.

”Daftar tunggu” untuk digulingkan massa pun lumayan mendebarkan pemimpin-pemimpin Yaman, Bahrain, Suriah, Jordania, dan bahkan Aljazair. Eskalasi politik menuju penggulingan kekuasaan pun mulai terasa di Maroko dan juga Oman. Getaran ”gempa politik” Maghribi dan Timur Tengah ini terasa pula sampai ke tanah air kita.

Perubahan rezim

Dinamika politik di kawasan Timteng dan Maghribi ini dapat dikonseptualisasikan sebagai tuntutan politik untuk melakukan perubahan rezim (regime change). Dan demonstrasi dalam bentuk ”parlemen jalanan” itu menunjukkan bahwa rezim yang lama dan tengah berkuasa—termasuk pemimpinnya—dipandang sebagai ”rezim yang menjijikkan” (odious regime).

Presiden Zine al-Abidine Ben Ali di Tunisia berkuasa selama 23 tahun setelah pada awalnya ia mengudeta presiden pertama Tunisia, Habib Bourguiba, pada 7 November 1987. Upaya kudetanya waktu itu juga banyak disebut-sebut sebagai ”kudeta medikal”. Bourguiba disodori dokter yang memeriksanya, dan kemudian sang dokter memberikan pernyataan bahwa sang presiden ”secara medis tak mampu lagi memerintah sebagai presiden”.

Hosni Mubarak, presiden keempat Mesir, sudah berkuasa 30 tahun sejak 14 Oktober 1981, setelah Presiden Anwar Sadat terbunuh. Wakil Presiden Mubarak ditunjuk menjadi presiden menggantikan Anwar Sadat.

Sebelum digulingkan aksi massa, pada Februari 2011, ABC News mengungkapkan bahwa kekayaan Mubarak dan keluarganya berkisar 40 miliar dollar AS sampai 70 miliar dollar AS, yang diduga diperoleh dari kontrak militer saat ia menjadi perwira tinggi Angkatan Udara.

Surat kabar Inggris, Guardian, juga mewartakan, kekayaan keluarga Mubarak mencapai 70 miliar dollar AS, tersimpan di sejumlah bank, baik di Mesir maupun di luar negeri, seperti di Swiss dan Inggris. Ia juga memiliki properti di luar negeri.

Pemimpin terlama

Paling fantastis rekor Pemimpin Libya Moammar Khadafy, yang sepanjang hidupnya sampai kini terus memakai pangkat kolonel, meski presiden sekalipun sejak berkuasa melalui kudeta militer, dan menyingkirkan Raja Idris pada 1 September 1969.

Dialah pemimpin dunia terlama, yang terus-menerus menduduki kursi presiden selama hampir 42 tahun.

Sepanjang tahun 1970-an dan 1980-an, di bawah pemerintahan Khadafy, Libya dipandang dunia internasional sebagai ”negeri pariah”, terutama oleh Barat karena tindaknya yang kelewat batas. Barat menuduh, Khadafy sering melakukan tindak terorisme yang ”disponsori negara”, pembunuhan tokoh-tokoh oposisi ekspatriat, serta tindakan nepotisme demi mengeruk keuntungan uang multimiliar dollar bagi dirinya maupun keluarganya.

Tindakan kontroversial Khadafy, termasuk mengubah nama negerinya, dari semula Republik Arab Libya, menjadi Jamahiriya, pada tahun 1977, berdasarkan Kitab Al-Akhdar (Buku Hijau, buku suci politik Libya ciptaan Khadafy). Tahun 1979, menghapus gelar perdana menteri, diganti dengan ”saudara pemimpin” atau ”sang pembimbing” bagi Revolusi Sosialis Libya.

Selama lebih dari 40 tahun berkuasa, Khadafy memimpin Libya dengan cara Khadafy, dan tidak pernah menggelar pemilihan umum.

Menghadapi krisis politik dalam negeri kali ini pun, Khadafy memilih ”pantang mundur, sampai peluru penghabisan”, dan terus melawan aksi massa dengan segenap persenjataannya. Sampai akhirnya masuk intervensi asing, dari koalisi yang dipimpin AS, dan mulai hari Minggu (28/3) oleh Pakta Pertahanan Atlantik Utara (NATO).

Ketidakpastian tentang proses memunculkan rezim yang lebih demokratis, baik di Libya maupun di kawasan Timur Tengah lainnya, bisa dijelaskan bahwa kawasan Timur Tengah kerap disebut dengan istilah ”Middle East Exceptionalism”.

Konsep ini menunjukkan adanya kekhasan kawasan ini sehingga resistan terhadap pembentukan rezim yang demokratis. Kekhasan ini muncul karena kawasan ini sangat diwarnai oleh potensi konflik bersenjata yang sangat besar, karena beberapa faktor, termasuk di dalamnya potensi konflik Islam Syiah dan Sunni. Juga, perekonomian nasional mereka yang sangat diwarnai peran negara serta pengelolaan sumber daya alam minyak, kepentingan luar terhadap kesinambungan pasokan sumber daya alam minyak dari kawasan, serta konflik Arab-Israel….

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: