Cermin dari “Dunia Lain”


Sumber:
http://cetak.kompas.com/read/2011/03/23/04271470/cermin.dari.dunia.lain

Tak banyak media di Indonesia memberitakan pembunuhan Shahbaz Bhatti, Menteri Urusan Minoritas Pakistan, di Islamabad menyusul pembunuhan Gubernur Punjab Salman Tasser oleh pengawalnya, Januari lalu. Presiden Pakistan Asif Ali Zardari mengutuk pembunuhan itu.

Bhatti adalah target setelah Tasser. Tak ada tindakan bagi para tokoh yang menyebarkan kebencian dan ancaman terhadap Bhatti secara terbuka. Kelompok ekstremis mengatasnamakan agama mengaku bertanggung jawab.

Tasser dan Bhatti adalah dua tokoh publik yang menyerukan penolakan hukuman mati terkait kasus-kasus yang dinyatakan sebagai ”penistaan agama”. Keduanya keras menyuarakan amandemen hukum yang telah menelan banyak korban termasuk kasus Aasia Bibi, perempuan buta aksara, buruh, ibu lima anak yang diancam hukuman mati karena dianggap menghina Islam (Express Tribune, IHT, 2/3).

Wartawan yang mengadvokasi hak asasi manusia terkait kasus-kasus penistaan agama dalam laporan-laporannya juga diancam dibunuh. Tahun lalu, 22 wartawan tewas. Fakta itu diungkapkan Hamid Mir dari Geo TV Pakistan dalam Konferensi Media, Extremism and Freedom of Expression, diselenggarakan Universitas Indonesia dan Oslo University College di Jakarta, 18-19 Februari 2011, dihadiri wartawan dan intelektual dari Asia Selatan, Indonesia, dan Norwegia.

Pakistan disorot dunia internasional karena banyaknya pelanggaran hak asasi manusia atas nama penistaan agama. Komisi Hak Asasi Manusia Perserikatan Bangsa-Bangsa mengamati, hukum penistaan agama di Pakistan menguatkan intoleransi agama dan menyebabkan kekerasan terhadap kelompok non-Muslim, komunitas Ahmadiyah, dan para pembela hak asasi manusia di negeri itu. Hukum itu mudah disalahgunakan karena bahasanya ambigu, tujuannya meragukan, dan tak ada perlindungan bagi korban.

Novelis Pakistan, Kamila Shamsie, mengatakan, hukum penistaan agama adalah bagian dari jaringan besar kebijakan yang membatasi hak-hak perempuan. Penulis dan feminis India, Urvashi Butalia, menambahkan, meski hukum itu berlaku bagi laki-laki dan perempuan, namun perempuan menghadapi stigma seksual dan ancaman riil kekerasan seksual dari komunitas.

Mengutip pandangan mereka dalam artikelnya, ”In Realm of Religion, Women Lose Out” (NYT, 11/1/2011), Nilanjana S Roy menulis, Statuta Pakistan 1979 membuat perempuan korban pemerkosaan justru dituduh melakukan hubungan seks di luar nikah. Undang-Undang Perlindungan Perempuan tahun 2006 memindahkan klausul pemerkosaan ke hukum perdata.

Bagi perempuan, khususnya di Asia Selatan, keberanian mempertanyakan hal-hal terkait agama membawa konsekuensi besar. Di Banglades, novelis Taslima Nasreen dituduh melakukan penistaan agama karena menghendaki revisi interpretasi teks terkait kerusuhan anti-Hindu melalui novelnya, Lajja (bahasa Bengali artinya ”malu”), awal tahun 1990-an. Taslima diancam dibunuh dan harus tinggal di luar negeri.

Ancaman dari Sikh

Hal serupa terjadi di kalangan imigran dari Asia Selatan di negara maju. Perempuan sutradara Gurpreet Bhatti dituduh melakukan penistaan agama karena karya teaternya, ”Behzti” (2004), mengungkap dan mengeksplorasi kekerasan seksual di dalam komunitas Sikh di Inggris. ”Behtzi” tidak dipertunjukkan sampai tahun 2010 setelah Bhatti menerima ancaman dari kelompok Sikh lain.

Ancaman pembunuhan terkait tuduhan penistaan agama berlaku sepanjang hidup novelis dan feminis Nawal El Saadawi (80) dari Mesir. Seluruh karyanya merupakan kritik keras terhadap praktik-praktik kekerasan terhadap perempuan atas nama agama. Tahun 2007, ia diancam dipenjara karena naskah dramanya, ”God Resigns in the Summit Meeting”, dianggap menistakan Tuhan (AFP, 2/3/2007). Saadawi bertahan di Tahrir Square, Kairo, bersama ribuan warga Mesir untuk menggulingkan Hosni Mubarak dan untuk kesetaraan hak warga negara.

Kasus sama menimpa intelektual dan aktivis hak asasi manusia Mesir, Farag Fauda. Ia dibunuh dua anggota sayap ekstremis Ikhwanul Muslimin, Juni 1992. Laki-laki 46 tahun itu meninggalkan buku-buku kritis terhadap upaya politisasi Islam.(Maria Hartiningsih)

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: