Bertutur soal Kekejaman Pasukan Khadafy


Sumber:
http://cetak.kompas.com/read/2011/03/23/04305523/bertutur.soal.kekejaman.pasukan.khadafy.

Musthafa Abd Rahman

Sepasang suami-istri asal Libya bernama Saleh Muhammad (50) dan Najwa (40) beserta seorang putri, Senin (21/3) sore, tiba di kota Marsa Matrouh, Mesir. Kota ini terletak sekitar 220 kilometer di sebelah timur perbatasan Mesir-Libya. Mereka ditempatkan di sebuah flat oleh salah seorang tokoh di kota itu.

Muhammad dan Najwa berasal dari kota Al-Maraj, Libya, sekitar 75 km di sebelah timur kota Benghazi. Dia lari dari kota itu ketika pasukan loyalis Moammar Khadafy mendekat ke Benghazi hari Sabtu lalu.

”Saya takut saat melihat banyak penduduk Benghazi melintasi Al-Maraj hari Sabtu lalu. Mereka lari untuk menghindari pasukan Khadafy yang sudah mendekat ke Benghazi. Penduduk Al-Maraj juga ikut hengkang. Kalau Benghazi jatuh ke tangan Khadafy, Al-Maraj akan ikut jatuh,” kata Muhammad.

Warga Libya lain dari kota Ajdabiya, Abdul Hamid (32), juga mengatakan terpaksa lari ke Mesir ketika pasukan Khadafy hendak memasuki kota itu pekan lalu.

”Pasukan Khadafy menembaki warga Ajdabiya yang belum sempat lari. Pasukan itu bahkan membunuh para pasien korban cedera peperangan yang dirawat di rumah sakit Ajdabiya. Bahkan, telah terjadi pembantaian di Ajdabiya oleh pasukan Khadafy,” tutur Abdul Hamid.

Menurut dia, sebagian besar kota Ajdabiya hancur dan nasib sisa penduduk yang tidak sempat lari belum diketahui.

Sebagian besar dari sekitar 130.000 penduduk Ajdabiya sudah hengkang dari kota itu sebelum pasukan Khadafy memasuki kota.

Muhammad dan Najwa serta Abdul Hamid adalah sebagian dari sekitar 200 keluarga asal Libya yang kini ditampung di berbagai rumah milik penduduk Marsa Matrouh sejak Jumat pekan lalu.

Sebagian besar dari sekitar 200 keluarga asal Libya yang kini ditampung di Marsa Matrouh itu berasal dari Benghazi dan Ajdabiya. Kota Ajdabiya sempat dikuasai pasukan Khadafy pekan lalu sebelum dikuasai kembali oleh kaum revolusioner setelah pemberlakuan zona larangan terbang di atas Libya sejak Sabtu malam lalu oleh Dewan Keamanan PBB.

Dibiayai Mesir

Selain mereka, ada banyak pula warga Libya korban luka-luka yang kini dirawat di rumah sakit di kota Marsa Matrouh dengan biaya Pemerintah Mesir dan warga kota itu.

Perhatian luar biasa dari penduduk Marsa Matrouh terhadap warga Libya membuat kota tersebut kini mirip tempat perlindungan bagi warga Libya.

Kota ini juga sekaligus berperan sebagai basis pasokan logistik ke Libya. Marsa Matrouh adalah kota di Mesir yang paling dekat dengan perbatasan Libya.

Salah seorang koordinator urusan perlindungan warga Libya di Marsa Matrouh, Sheikh Ali Atiwati, mengungkapkan, penduduk Marsa Matrouh secara spontan dan sukarela menampung warga Libya yang hengkang dari negerinya.

”Penduduk Marsa Matrouh membuka rumah mereka dan menyediakan logistik berupa makanan dan minuman secara gratis kepada warga Libya yang mengungsi ke kota ini. Bahkan, banyak toko atau restoran tidak mau menerima bayaran kalau diketahui yang membeli itu dari warga Libya,” ungkap Sheikh Atiwati.

Menurut dia, warga Marsa Matrouh siap menerima warga Libya lain yang berniat datang datang.

Sheikh Atiwati juga mengungkapkan, gerakan perlindungan terhadap warga Libya itu tidak diprakarsai oleh lembaga atau organisasi tertentu. Ini semua berlangsung atas inisiatif warga Marsa Matrouh tanpa ada pamrih apa pun.

Sheikh Atiwati bersama sejumlah tokoh masyarakat di Marsa Matrouh kini menggalang bantuan untuk warga Libya yang tinggal di kota itu. Mereka juga mengupayakan pengiriman bantuan kemanusiaan ke Libya. Sheikh Atiwati bersama timnya biasanya setiap hari datang ke toko-toko bahan kebutuhan pokok untuk menghimpun bantuan itu.

Kompas yang sempat beberapa jam bersama Sheikh Atiwati mendatangi sejumlah toko itu pada Senin sore lalu. Dia membeli berbagai macam bahan makanan dan minuman yang disedekahkan untuk pengungsi Libya, seperti beras, telur, air mineral, roti, minuman kaleng, dan bahkan selimut.

Koordinator urusan perlindungan warga Libya, Sheikh Fargallah al-Abid, mengungkapkan, selain menampung warga Libya yang mengungsi ke Marsa Matrouh, setiap lima hari ada sedikitnya enam konvoi kendaraan yang membawa bantuan makanan dan obat-obatan dari Marsa Matrouh ke berbagai kota di Libya timur.

”Kami sudah enam kali mengirim konvoi kendaraan yang membawa bantuan makanan dan obat-obatan ke Libya sejak 18 Februari lalu. Hari Sabtu lalu kami mengirim 430 ton makanan, minuman, dan obat-obatan ke Libya. Sebelumnya, pada Senin pekan lalu, kami juga mengirim 470 ton makanan ke Libya,” ungkap Sheikh al-Abid.

Menurut dia, rencananya pada Kamis besok akan dikirim lagi konvoi kendaraan, yang akan membawa bantuan makanan dan obat-obatan, ke Libya. Namun, jumlahnya masih belum jelas karena semuanya masih dalam pengumpulan.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: