Tiga Generasi dari Zona Batak


Sumber:
http://cetak.kompas.com/read/2011/03/20/03332635/tiga.generasi.dari.zona.batak.

SALOMO SIMANUNGKALIT

Mengajak nama-nama Batak yang sudah kawakan mengarungi samudra musik pop Indonesia dalam 35 tahun terakhir, komposer dan penyanyi Tarida Hutauruk menorehkan rasa Batak dalam pertunjukan ”Horas Tiga Generasi” yang disutradarainya di Teater Jakarta, TIM, Kamis 17 Maret.

Rasa Batak yang dimaksud di sini berselirat dengan skrip yang disampaikan pembawa acara, Tamara Geraldine Tambunan dan Indro Warkop, serta anak penyanyi yang dilibatkan dalam pertunjukan ini saat memperkenalkan orangtua mereka di panggung.

Gurauan segar yang melukiskan watak stereotip Batak itu balas-berbalas antara Tamara yang orisinal Toba dengan Indro yang, dalam masa-masa terakhir grup lawak Warkop DKI, sering beraksen Toba dan sangat fasih.

Di bagian lain kegigihan orangtua Batak menyekolahkan anak setinggi-tinginya terungkap dari Gina ketika memperkenalkan sang ibu, Neti Sihotang dari Trio RNB: ”Mama saya menyanyi hingga bisa menyekolahkan saya sampai tingkat terakhir Teknik di Universitas Indonesia.”

Suara tinggi

Eliminasi rasa Batak ini! Maka, ”Horas Tiga Generasi” sesungguhnya pas untuk pencinta musik pop Indonesia. Penyanyi yang tampil malam itu pernah di masanya menjadi unsur crême de la crême jagat pop Indonesia.

Sebutlah Hutauruk Sisters. Berlian yang merupakan unsur dari kelompok ini boleh dibilang sebagai pembaru dalam peta penyanyi pop kita. Hingga pertengahan 1970-an hampir semua penyanyi pop perempuan yang ikut lomba berusaha jadi ”Shirley Bassey” atau ”Titiek Puspa” dengan suara mezosoprano dan alto itu. Ketika tampil dalam lomba nyanyi pada 1975, Berlian menyanyi dengan jati diri suaranya: sopran. Masuk dua besar di putaran pertama, diajak rekaman Badai Pasti Berlalu dua tahun berikutnya, ia menjadi penyanyi bersuara tinggi pertama yang berterima dalam belantika musik pop Indonesia.

Diikuti kemudian oleh Hutauruk Sisters sebagai grup dengan suara tinggi yang muncul pada 1976 bersama Guruh Gipsy, penyanyi bersuara tinggi bermunculan dan terus berterima. Rita Butar-butar, Herty Sitorus, Nicky Astria, Neno Warisman, hingga kemudian Hetty Koes Endang mengalunkan suara tingginya pada rekaman dan lomba setelah lama bernyanyi dalam nada-nada rendah.

Pada ”Horas Tiga Generasi” Hutauruk Sisters (Tarida, Rugun, dan Bornok) dan Rita Butar-butar digolongkan sebagai generasi pertama. Keduanya membawakan lagu-lagu andalan masing-masing yang kemudian menjadi penanda mereka.

”Dirimu Satu” karya Tarida untuk Festival Lagu Pop Nasional 1981 dan keluar sebagai peserta terbaik dalam Festival Lagu Pop ASEAN tahun berikutnya boleh dibilang nomor paling berjaya dari grup ini. Dengan melodi dan irama yang lekas diasosiasikan dengan ke-Batak-an, ”Dirimu Satu” cukup lama tenar dan laris pada 1980-an melalui rekaman berbagai penyanyi: Bornok-Tarida, Happy Pretty Sisters, Rita Monica, dan Euis Darliah. Kemudian dibawakan lagi pada 2000-an dalam rekaman mereka oleh Band Seurieus dan Trio RNB.

Hutauruk Sisters melantunkan nomor ini di tengah penonton yang 90 persen Batak. Bersama lagu andalan berikutnya, ”Dengar Tuhan”, kelompok yang apik mengenakan gaun rancangan Raden Sirait itu masih prima menguasai panggung meski dengan nada dasar lebih rendah.

Transformasi natural dalam mencapai nada tinggi juga terasa pada Rita Butar-butar yang tangguh di zamannya. Nada dasar karya Erwin Harahap, ”Air Mata”, yang ia lantunkan malam itu tak setinggi pada album pertamanya dengan judul sama di tahun 1979. Dengan turun sekitar satu nada, ”Seandainya Aku Punya Sayap” (Rinto Harahap) masih sedap didengar dengan improvisasi kecil yang kini jadi ciri Rita yang baru.

Sebaliknya, Ramona Purba yang mencapai reputasi nasional pada paruh pertama 1980-an setelah lama berkiprah di Medan malam itu justru memperdengarkan suara yang jauh lebih bening dalam ”Terlena”. Karya Cecep AS ini melambungkan namanya lewat album berjudul serupa pada 1983 dengan angka penjualan tinggi sekaligus menempatkan pria asal Tanah Karo ini sebagai penyanyi tunanetra yang berhasil di dunia rekaman.

RNB dan Judika

Dinamika ”Horas Tiga Generasi” di babak pertama mengalir crescendo, makin lama makin hangat. Sejak 2000 bersama mengisi panggung-panggung komunitas Batak, Trio RNB yang terdiri dari Reni Siregar, Neti Sihotang, dan Bernard Banjarnahor ini rasanya perlu ditanggap para penyelenggara pertunjukan musik di sini. Seperti nama mereka, trio ini sangat piawai membawakan lagu-lagu berkarakter R&B. ”Jangan Biarkan” (Hanny Tuheteru) yang mereka lantunkan malam itu, pada hemat saya, adalah format terbaik yang pernah disuarakan penyanyi Indonesia. Nomor yang tenar melalui suara Diana Nasution (1978) itu jadi andalan bagi album Titi DJ (2010).

Trio RNB yang memperlihatkan kelas mereka melalui ”Rest Your Love on Me” itu digolongkan sebagai generasi kedua dalam pertunjukan yang diiringi Boy Sihombing (band-kombo) dan Tarzan Simamora (gondang) ini.

Generasi ketiga diwakili Judika Sihotang seorang. Selalu ekspresif dengan lagu dari berbagai genre dan menjadi sangat khas melalui pita suaranya, peringkat kedua dalam Indonesian Idol periode kedua ini mengangkat ”Marilah Kemari” (Titiek Puspa) menjadi lagu yang keras sekaligus manis serta ”I don’t Wanna Talk about It” (Rod Stewart) lebih indah dari aslinya.

RNB dan Judika boleh dibilang suara Batak yang berhasil mengakuisisi cara bernyanyi hitam-Amerika. Perkawinan dua cara bernyanyi itu dalam pertunjukan malam itu terbukti klop melayani tuntutan telinga-telinga musik masa kini.

Selaku sutradara, Tarida juga memaparkan kekayaan perbendaharaan lagu-lagu pop Batak yang sampai sekarang terus diproduksi seniman-seniman Batak. ”Boru Panggoaran” (Tagor Tampubolon) oleh Hutauruk Sisters, ”Boanonhu do Ho” (Iran Ambarita) oleh Rita Butar-butar, ”Sapata ni Anakta i” (Tigor Gipsy Manurung) oleh RNB, dan ”Di dia Rongkaphi” (Dakka Hutagalung) oleh Judika Sihotang.

Pertunjukan yang berlangsung sekitar 150 menit itu ditutup Ramona Purba dengan ”I Just Call to Say”. Ramona memanglah ”Stevie Wonder” dari Tanah Karo.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: