Kolonel Moammar Khadafy, Revolusi, dan Badai Demokrasi


Sumber:
http://cetak.kompas.com/read/2011/03/20/03101846/kolonel.moammar.khadafy.revolusi.dan.badai.demokrasi

Badai demokrasi telah mengguncang legitimasi para diktator yang berkuasa di kawasan Afrika Utara dan Timur Tengah. Rakyat yang selama ini hidup ketakutan tiba-tiba saja bangkit menuntut pergantian rezim dan tegaknya demokrasi.

Para diktator yang berkuasa puluhan tahun serta hidup bergelimang harta dan kekuasaan kini dihantui hari-hari kejatuhannya. Mereka menyaksikan dua diktator telah tumbang hanya dalam waktu kurang dari dua bulan. Keduanya adalah Presiden Mubarak di Mesir dan Ben Ali di Tunisia.

Sejauh ini, dengan intensitas yang berbeda, badai demokrasi telah menerjang 13 dari 22 negara yang tergabung dalam Liga Arab, yakni, Mesir, Yaman, Aljazair, Bahrain, Djibouti, Irak, Jordania, Libya, Mauritania, Maroko, Sudan, Suriah, dan Tunisia.

Badai demokrasi belum berlalu. Ia masih berputar-putar di sekitar kawasan ini. Tiga diktator, yang masing-masing berkuasa di Yaman, Bahrain, dan Libya, kini sedang berjuang habis-habisan menyelamatkan kekuasaannya yang nyaris tenggelam.

Kemenangan atas AS

Di Libya, badai demokrasi mulai berembus di dua kota bagian timur, 15 Februari. Dalam waktu sepekan badai tersebut berubah menjadi pemberontakan bersenjata. Mereka menguasai kota-kota di bagian timur dan ladang-ladang minyak. Pertempuran pecah di sana-sini. Libya tercabik-cabik dalam perang saudara.

Perhatian internasional kini terpusat ke negara aneka suku ini. Banyak yang khawatir dampaknya akan memicu meroketnya harga minyak mentah. Namun, tidak sedikit berharap kekuasaan Khadafy akan berakhir.

Khadafy memang sempat limbung karena mendadak sebagian anggota militer dan orang-orang kepercayaannya membelot mendukung pemberontak.

Lebih celaka lagi, Amerika Serikat dan negara-negara Barat mendesaknya mundur dan mengerahkan kapal-kapal perang ke perairan Libya. PBB dan Masyarakat Eropa pun menjatuhkan sanksi terhadap Libya ataupun Khadafy dan keluarga.

Mantan Presiden Kuba Fidel Castro menuding imperialis mengompori perang saudara di Libya dengan menyebarkan berbagai kebohongan melalui media massa. Mereka menciptakan kondisi bagi intervensi militer untuk menguasai minyak Libya.

Dalam artikelnya yang dimuat di Global Research (4/3), ia menulis, Sekretaris Jenderal PBB tidak berbuat sesuatu mencegah perang saudara tersebut, selain menyiram bensin untuk memadamkan api.

Khadafy telah berkuasa selama 42 tahun. Sepanjang masa itu ia mengalami gejolak politik atau konflik internasional pada era Perang Dingin hingga globalisasi. Ia tetap bertahan dan bahkan satu-satunya pemimpin bangsa yang paling lama berkuasa saat ini.

Isolasi internasional bukan hal baru dialaminya. Ini akan terus terjadi karena sikapnya yang keras menentang kolonialisme dan imperialisme. Dengan memberi bantuan senjata, dana, dan pelatihan kepada berbagai kelompok perlawanan, Libya menyeret dirinya dalam berbagai arus konflik.

Bantuan tersebut mengalir hingga ke kelompok perlawanan Moro di Filipina Selatan dan Gerakan Aceh Merdeka (GAM) di Indonesia. Celakanya, Khadafy juga membantu kelompok teroris Palestina, seperti Abu Nidal dan George Habash, pemimpin Black September.

Ia menggunakannya mendestabilisasi kerajaan-kerajaan yang bertahan di Timur Tengah. Alasannya, kerajaan adalah wujud feodalisme dan penindasan manusia.

Presiden AS Ronald Reagan, yang gusar melihat ulah Khadafy, berusaha menghabisinya dan menghancurkan kekuatan militer Libya. Reagan mengirim 18 pesawat pengebom siluman, F-111F, dan 27 pesawat tempur lainnya ke Libya pada 15 April 1986.

Rumah Khadafy dan sejumlah pangkalan militer porak-poranda. Pemimpin Libya ini selamat karena kegemarannya tidur di tenda-tenda Beduin di lapangan terbuka.

Presiden Reagan keliru mengira bahwa Khadafy akan jera. Ia justru memperingati peristiwa tersebut setiap tahun sebagai hari kemenangan Libya atas imperialis AS.

Banyak kepala negara membenci Khadafy. Namun, tokoh-tokoh seperti Mandela dan Presiden Zimbabwe Robert Mugabe tidak akan pernah melupakan jasanya membantu perjuangan mereka melawan kolonial Eropa.

Kalangan pengamat umumnya sependapat, seandainya Khadafy harus angkat kaki dari Libya, satu-satunya yang bisa memberi perlindungan hanya Robert Mugabe, pemimpin yang dibenci Barat.

Sikap Khadafy sendiri sebenarnya sudah jauh berubah sejak anaknya, Saef al-Islam, dilibatkan membantu ayahnya. Libya mulai membuka pintu dengan Eropa Barat tahun 2003 dan hubungan diplomatik Libya-AS pulih tahun 2006.

Usia 27 tahun

Khadafy berkuasa melalui kudeta militer menggulingkan Raja Idris I pada tahun 1969. Ia menuding raja hanya sebagai boneka kolonial Eropa Barat, korup, dan mengabadikan feodalisme. Sejak itu Libya berubah menjadi republik dan Dewan Komando Revolusi membawahkan pemerintahan.

Saat itu usia Khadafy baru 27 tahun dan menyandang pangkat kapten angkatan darat. Setelah kudeta, pangkatnya naik menjadi kolonel hingga sekarang.

Dalam usia semuda itu, Khadafy mengultimatum AS menutup pangkalan militernya, Wheelus Air Base, dekat Tripoli. Seluruh fasilitas harus diserahkan kepada Libya. Wheelus Air Base, salah satu pangkalan udara terbesar AS di negara lain, ditutup tahun 1970.

Langkah berikutnya, Khadafy menasionalisasi perusahaan minyak asing. Dari pendapatan 1,6 juta-2 juta barrel per hari minyak mentah, pembangunan melaju pesat. Negara yang tadinya melarat dan tertinggal berubah menjadi sejahtera. Indeks pembangunan manusia dan usia harapan hidup di negeri ini tercatat sebagai tertinggi di Afrika.

Tahun lalu pendapatan per kapita 6,5 juta penduduk Libya berkisar 14.800 dollar AS. Walaupun sedemikian kaya, negara tetap berkewajiban menyediakan pendidikan dan pelayanan kesehatan secara gratis.

Diperkirakan, sekitar 2 juta pekerja asing mencari nafkah di negeri ini. Dari jumlah tersebut, 1,5 juta berasal dari Mesir dan puluhan ribu orang dari Eropa, AS, China, dan Jepang. Selebihnya dari Tunisia, Banglades, dan negara-negara Afrika.

Setelah pecah pemberontakan bersenjata, Februari lalu, hampir semua pekerja asing menyelamatkan diri meninggalkan Libya. Produksi minyak melorot menjadi 600.000 barrel per hari.

Kini keadaan di Libya makin tak menentu. Inggris dan Perancis, yang sejak lama mengincar minyak Libya, menghendaki kekuasaan Khadafy berakhir. Atau minimal membelah negara kaya itu melalui pemberlakuan zona larangan terbang.

Tidur di tenda

Negara-negara Barat mengabaikan fakta bahwa Khadafy bukan sejenis diktator Presiden Mubarak atau Ben Ali, yang dikenal sebagai boneka AS dan gemar mengoleksi mobil-mobil mewah, perhiasan, dan vila-vila megah untuk berlibur di Eropa.

Khadafy merasa lebih nyaman tidur di tenda-tenda Beduin. Ia tidak bergantung pada kekuatan asing dan tidak mempunyai jabatan resmi dalam struktur pemerintahan, kecuali sebagai ”pemimpin revolusi”.

Gagasannya tentang pemerintahan rakyat telah ditulis dalam 3 jilid buku hijau, dipraktikkan di Libya. Dalam hal ini, roda pemerintahan dijalankan oleh komite-komite rakyat setempat. Merekalah yang mengatur dan merencanakan segalanya.

Tiga tahun lalu Khadafy menyatakan niatnya membubarkan struktur administratif yang berjalan. Kemudian pendapatan dari minyak langsung didistribusikan kepada rakyat.

Daniel L Byman, pakar senior di Saban Center for Middle East Policy, Inggris, menulis di Council for Foreign Relations (2/3), seandainya pun Khadafy mundur, penggantinya akan menghadapi segunung masalah, yakni membangun institusi pemerintah dan negara dari nol. (Maruli Tobing)

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: