WikiLeaks


Sumber:
http://cetak.kompas.com/read/2011/03/12/04561470/wikileaks

Oleh BUDIARTO SHAMBAZY

Sudah hampir dua dekade kita memasuki era yang, menurut pakar komunikasi/sosiolog Spanyol, Manuel Castells, disebut ”Galaksi Internet”. Wabah ”www” (world wide web) pada awal 1990-an mendongkrak popularitas dan komersialisasi internet secara luar biasa hingga memengaruhi semua aktivitas manusia.

World wide web tiba-tiba menjalin kesalingterhubungan (interconnectedness) dalam waktu kilat, tanpa batas ruang dan waktu, serta melibatkan siapa pun. Dalam istilah mantan Presiden Amerika Serikat Bill Clinton, inilah periode information superhighway.

Kesalingterhubungan itu awalnya dimaksudkan Pemerintah Amerika Serikat untuk tujuan keamanan nasional. Pada 1957, AS dipanikkan dengan ”Krisis Sputnik” setelah Uni Soviet meluncurkan satelit pertama yang mengorbit Bumi.

Presiden Dwight Eisenhower, yang menilai AS kalah superior dalam lomba teknologi ruang angkasa, memerintahkan riset kesalingterhubungan sistem komunikasi melalui komputer. Kalangan militer dan universitas, yang terlibat dalam pengembangan ”mahakarya” ini, awalnya tak serius.

”Main-main jadi bukan main”. Itu kiasan tepat untuk melukiskan perkembangan internet yang sempat mandek puluhan tahun sampai akhirnya paripurna ketika ditemukannya world wide web.

Berkat Galaksi Internet kita menikmati sistem komunikasi, bisnis, media dan sumber informasi, ekspresi politik dan kultural, proses belajar dan mengajar, serta komunitas yang serba baru. ”Kita memasuki Galaksi Internet dengan kecepatan penuh di tengah ketakjuban yang amat kita pahami,” kata Castells.

Internet lalu menjadi media komunikasi dan informasi yang esensial dalam kehidupan bernegara. Sebagai sebuah inovasi, fenomena internet bisa disamakan dengan penemuan listrik atau media cetak.

Sebuah konsekuensi negatif yang tak terduga, tetapi tak dapat dihindari, Galaksi Internet tak kenal rahasia. Semua aspek rahasia kehidupan individual dan masyarakat—persaingan bisnis, agenda politik, sampai kehidupan pribadi—pada prinsipnya bisa diintersepsi.

Maka, setiap jenis informasi paling sensitif pun yang dicemplungkan ke Galaksi Internet bisa diterobos siapa pun—mungkin kecuali bahasa sandi yang rumit. Oleh sebab itu, tak semua kalangan menyukai Galaksi Internet, misalnya Pemerintah China yang membungkam Google.

Lihat pula fakta sejarah ini. Letusan ”Revolusi Melati” di Tunisia dipicu protes penjaja buah/sayuran gerobak yang membakar diri karena dilarang berjualan di kaki lima.

Masyarakat bersimpati kepada sang pedagang kaki lima, solider, dan menggalang kekuatan melalui jejaring sosial. Setelah itu, lahir people power yang melancarkan aksi massa yang memaksa Presiden Zine al-Abidine Ben Ali kabur ke luar negeri.

Cerita sukses di Tunisia ditiru Wael Ghonim, eksekutif Google di Mesir, yang menggalang people power untuk mendongkel Presiden Hosni Mubarak. Meski dielu-elukan sebagai tokoh ”Revolusi 25 Januari”, Ghonim menolak dinobatkan sebagai pahlawan.

Ia mengidolakan Julian Assange, sang penggagas WikiLeaks. Ini organisasi nonprofit yang bertujuan menyajikan informasi kepada publik melalui media massa ke seluruh dunia.

”WikiLeaks bisa jadi alat jurnalistik penting sesuai Undang-Undang Kemerdekaan Informasi,” tulis majalah Time. Tujuan WikiLeaks satu: memaksa setiap pemerintah terbuka kepada rakyat masing-masing.

Untuk itulah, WikiLeaks, lewat berbagai cara, mencuri seperempat juta kawat (diplomatic cables) kedutaan-kedutaan AS di seluruh dunia. Tentu AS geram dengan ulah Assange, tetapi tak bisa berbuat apa pun kecuali mempermalukannya dengan tuduhan pelecehan seksual di pengadilan.

Kawat diplomatik ditulis para diplomat berdasarkan konversasi ataupun pengamatan di negara penempatan. Sulit meragukan kredibilitas isi kawat karena—seperti berita yang ditulis wartawan atau hasil riset peneliti—dicek silang, dirapatkan, diperiksa atasan, dan diverifikasi sebagai dokumen negara.

Terlebih lagi AS sudah lebih dari seabad menjalankan sistem diplomasi modern ini. Waktu kawat mereka dibocorkan WikiLeaks, tak ada yang panik karena tak ada rahasia keamanan nasional AS yang terancam.

Beda dengan, misalnya, tatkala Daniel Ellsberg membocorkan pengeboman sadis AS di Indo-China lewat ”Pentagon Papers”. Betapapun, Washington terpukul karena WikiLeaks mengungkapkan bahasa diplomatik yang cenderung kasar menjuluki pemimpin seperti Moammar Khadafy atau Nicolas Sarkozy.

Pada akhirnya, semua kawat toh wajib diungkap kepada publik secara berkala dan bermanfaat untuk riset ilmiah atau jurnalisme investigatif. Tak sedikit ilmuwan kita dan Barat memanfaatkan kawat-kawat untuk riset tentang Indonesia saat pancaroba dari Orde Lama ke Orde Baru.

Tak ada yang bisa disalahkan dalam hiruk-pikuk WikiLeaks karena nasi sudah menjadi bubur. Terlebih lagi baru sekitar 1 persen kawat yang dipajang di etalase. Masih ada lebih dari 200.000 kawat.

Pemerintah AS tak terganggu karena substansi kawat diplomatik mereka justru memperlihatkan kinerja diplomasi yang profesional. Dan, sejauh ini tak satu pun negara sahabat AS yang merasa terusik.

Kini di AS berlaku slogan baru, ”It’s the Internet Galaxy, stupid!”

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: