Upaya Jepang Mengurangi Kerusakan dan Korban Jiwa


Sumber:
http://cetak.kompas.com/read/2011/03/12/04574489/upaya.jepang.mengurangi.kerusakan.dan.korban.jiwa

Menyusul gempa dahsyat, Jumat pukul 14.46, jutaan warga Tokyo, ibu kota Jepang, tumpah ke jalan dan tanah lapang menjauhi gedung tinggi dan rumah. Meski sudah terbiasa dengan gempa, rasa takut itu menyergap juga, tetapi hebatnya tidak terdengar ada korban jiwa di kota ini.

Hingga Jumat malam, jutaan orang masih berkeliaran di jalan atau bergerombol di tanah lapang. Sebab, setelah terjadi guncangan hebat 8,9 skala Richter, masih terjadi gempa susulan. Bahkan, dilaporkan ada sekitar 50 kali gempa susulan berkekuatan paling rendah 6,0 skala Richter.

Merujuk laporan dari sejumlah media asing, korban jiwa justru paling banyak disebabkan oleh sapuan gelombang tsunami di Jepang utara. Bangunan, baik rumah, gedung tinggi, maupun jembatan, juga roboh atau rusak akibat terjangan tsunami hebat itu.

Abaikan dahulu kejadian ”langka” tsunami itu dan sebaiknya fokus pada gempa, sebuah fenomena alam yang nyaris terjadi setiap hari di Jepang. Negara ini paling aktif dilanda gempa di dunia. Sekitar 20 persen gempa bumi di dunia terjadi di sini dan kekuatan guncangannya umumnya lebih dari 6,0 skala Richter.

Hebatnya, belum ada laporan tentang bangunan yang roboh akibat guncangan gempa hari Jumat, gempa paling dahsyat dalam kurun waktu 140 tahun terakhir itu. Gedung- gedung pencakar langit di Tokyo dan kota-kota di Jepang lainnya tak ada yang roboh secara signifikan.

Bandingkan dengan gempa 6,3 skala Richter di Selandia Baru, tiga pekan lalu, yang menghancurkan ratusan rumah dan gedung. Bayangkan juga dengan gempa dahsyat dengan kekuatan 7,0 skala Richter yang memorakporandakan Haiti, Januari 2010, serta membuat ratusan ribu warga hingga kini masih ”mendekam” di tenda-tenda pengungsian.

Pada Rabu pagi, 9 Maret 2011, Jepang juga dilanda gempa bumi berkekuatan 7,2 skala Richter. Gempa yang juga terjadi di Prefektur Miyagi, Jepang utara, itu berada pada peringkat kelima dari tujuh skala intensitas seismik di Jepang. Tidak ada korban jiwa dalam musibah itu dan tidak ada bangunan yang roboh. Kali ini pun hanya tsunami yang menghancurkan kehidupan kota, bukan akibat guncangan gempa langsung.

Selama ini Jepang memang selalu berusaha meminimalisasi jatuhnya korban jiwa dan kerusakan bangunan akibat gempa. Secuil kisah tentang ini diungkapkan Duta Besar RI untuk Jepang di Tokyo M Luthfi yang dihubungi Kompas per telepon dari Jakarta, Jumat petang.

”Meski guncangan gempa begitu hebat, warganya sambil memakai helm berbaris rapi dan tertib, tidak panik, tidak berdesak-desakan keluar dari gedung. Mereka telah terlatih untuk menghadapi bencana gempa,” kata Luthfi sambil membandingkan bagaimana ia dan rekan-rekan dari Indonesia yang panik dan lari terburu-buru kala gempa terjadi.

Luthfi mengatakan, sadar bahwa negaranya selalu diguncang gempa, Pemerintah Jepang selalu memberikan pelatihan rutin bagi warga dalam menghadapi bencana itu. ”Itu hebatnya Jepang,” katanya memuji kesiapan pemerintah dan warga untuk mencegah kerusakan dan jatuhnya korban jiwa.

Jepang memang hebat dan kita tidak bisa membayangkan apa yang terjadi jika gempa 8,9 skala Richter itu mengguncang negara lain. Negara lain mungkin akan hancur seperti Haiti dengan gempa sedahsyat itu.

Masyarakat Jepang, dari berbagai lapisan, memang rajin melakukan pelatihan menghadapi bencana (gempa). Di dekat pintu, mereka mempersiapkan ransel yang berisi botol berisi air, makanan kering atau makanan kaleng, obat-obatan untuk pertolongan pertama pada kecelakaan, uang tunai, pakaian kering, radio, senter, dan beberapa baterai pengganti.

Warga juga bisa menambahkan suplemen, obat-obatan khusus, atau makanan bayi dalam tas khusus mereka. Alat-alat penyelamatan gempa banyak dijual di toko swalayan.

PM pun ikut simulasi

Pada setiap 1 September, misalnya, sekitar 795.000 orang, termasuk perdana menteri, ikut simulasi bencana. Pelatihan menghadapi bencana dilakukan secara rutin, bahkan dijadikan mata pelajaran khusus di sekolah-sekolah dasar.

Ketika terjadi gempa bumi berkekuatan 7,2 skala Richter pada Rabu pagi, 9 Maret 2011, sekitar 120 warga kota Rikuzen-Takata di Prefektur Iwate memimpin evakuasi penyelamatan diri dan orang lain.

Jepang memastikan pusat energi nuklir dan kereta listrik akan mati secara otomatis ketika bumi bergetar dalam batas tertentu. Keselamatan juga berkat beberapa kereta peluru supercepat, Shinkansen. Kereta peluru tersebut secara otomatis berhenti jika terjadi gempa melanda, tetapi kemudian akan kembali beroperasi.

Kali ini pun tidak ada yang tewas akibat guncangan gempa, kecuali oleh tsunami. Jepang punya sistem peringatan dini paling baik di dunia. Diduga kuat, kematian oleh tsunami akibat warga mengabaikan peringatan deteksi dini atas bahaya tsunami. Mungkin mereka becermin pada gempa 9 Maret lalu, tak ada korban dan tidak ada tsunami.

Tindakan yang paling dikenal dan populer adalah Jepang membangun gedung, rumah, dan jembatan tahan gempa. Rumah dan bangunan bertingkat di Jepang dibangun dengan material kayu, papan, aluminium, besi, dan perabot lain yang memiliki suspensi tiang bangunan yang bisa bergerak menyesuaikan dengan guncangan gempa.

Kekayaan Jepang sebagian diinvestsasikan untuk membangun gedung dan infrastruktur tahan gempa. Pejabatnya menghindari praktik korupsi dan jika ketahuan korupsi dengan cepat rasa malunya muncul, lalu menarik diri dari jabatannya.

Pemerintah Jepang menerapkan sistem antisipasi terhadap bencana gempa dengan sangat baik. Mereka mengaktifkan peringatan gempa di telepon genggam para warga. Begitu pula anak sekolah punya helm tahan api di meja masing-masing.

Simulator gempa canggih juga digunakan untuk membiasakan anak-anak mengetahui dan mendeteksi getaran gempa.

(AFP/AP/REUTERS/CAL)

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: