Khadafy Surati Singh


Sumber:
http://cetak.kompas.com/read/2011/03/09/04352721/khadafy.surati.singh

OLEH TRIAS KUNCAHYONO

India bukan Rusia atau China. India adalah India yang dilirik pemimpin Libya, Moammar Khadafy, ketika perlawanan rakyat terhadap dirinya semakin meningkat. Khadafy meminta bantuan Manmohan Singh sebagaimana diberitakan koran The Times of India, 5 Maret silam.

Menjelang pemungutan suara di Dewan Keamanan (DK) PBB, 26 Februari silam, untuk menjatuhkan sanksi terhadap Libya, melayanglah surat Khadafy kepada Perdana Menteri India Manmohan Singh. Khadafy harus melakukan hal itu karena posisinya di dunia internasional semakin terpepet.

Penjatuhan sanksi DK PBB didukung Eropa dan Afrika, selain AS tentu. Sejumlah dubes Libya di banyak negara, termasuk di PBB, mengundurkan diri karena tidak mau tangannya berlepotan darah rakyat yang mati memperjuangkan kebebasan.

India, memang, pada akhirnya menjadi pilihan Libya. Selain negeri di anak benua itu kini pamornya sedang naik, menjadi kekuatan besar ekonomi di dunia, dan pengaruhnya di Afrika begitu luas, India juga menjadi anggota DK PBB. Pilihan lain di luar India adalah China yang bersama India kini menjadi kekuatan besar ekonomi di kawasan Asia-Pasifik.

Dalam pidatonya selama lima jam di Tripoli di depan para pendukungnya yang masih setia, pada hari nasional Libya, paling kurang Khadafy menyebut India lima kali. Khadafy juga menawarkan konsesi akan memberikan kontrak-kontrak dagang kepada perusahaan-perusahaan India dan China.

Namun, syaratnya, Libya dibela di DK PBB. Mendengar permintaan itu, India ingat bagaimana sikap dan keputusan Libya pada September 2009. Ketika itu, dalam pidatonya selama 100 menit di Majelis Umum PBB, Khadafy secara jelas, tegas, dan tajam menentang kebijakan India atas Kashmir, duri dalam daging dalam hubungan India dan Pakistan.

”Kashmir harus menjadi negara merdeka, tidak menjadi bagian India dan juga tidak menjadi bagian Pakistan. Kita harus mengakhiri konflik sejak terjadinya perpecahan antara India dan India barat yang akhirnya menjadi Pakistan,” kata Khadafy dengan lantang ketika itu.

Pernyataan Khadafy di Majelis Umum PBB itu masih segar dalam ingatan rakyat dan juga para pemimpin India. Karena itu, mustahil Pemerintah India mengabulkan permintaan Khadafy itu meski mendapat kompensasi ekonomi.

”Mohon maaf, Tuan”

Bagi India sendiri, pemungutan suara di DK PBB untuk menjatuhkan sanksi terhadap Libya adalah kesempatan besar untuk ikut berperan besar—selain di bidang ekonomi—memberikan sumbangan dalam menciptakan keamanan dan perdamaian, baik secara regional maupun internasional. Memenuhi permintaan Libya dan mendukung resolusi DK PBB adalah sebuah pilihan antara kepentingan nasional (ekonomi) dan perimbangan antara nilai politik India yang menjunjung tinggi nilai-nilai kemanusiaan dan kepentingan strategis.

Pada akhirnya, India memilih bersama negara-negara pendukung resolusi DK PBB yang menjatuhkan sanksi: embargo senjata, larangan perjalanan, pembekuan aset-aset Khadafy, dan penerapan zona larangan terbang.

Singh lebih memilih membela rakyat Libya ketimbang Khadafy. Memang, India kurang sependapat dengan mencampuri urusan dalam negeri negara lain, semisal Libya saat ini. Akan tetapi, terjadinya pelanggaran terhadap nilai-nilai kemanusiaan di Libya yang dari ke hari semakin meningkat telah menguatkan negeri Mahatma Gandhi ini untuk mengambil sikap tegas, mendukung keputusan PBB.

Dan Manmohan Singh pun dengan lega bisa menjawab surat Khadafy, ”Mohon maaf, Tuan Khadafy, kita berbeda pendapat dalam urusan kemanusiaan.”

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: