Hantu Revolusi


Sumber:
http://cetak.kompas.com/read/2011/03/07/03294225/hantu.revolusi

Oleh Neta S Pane

Sesosok hantu sedang menghuni dunia Arab, hantu revolusi. Hantu penggulingan terhadap kekuasaan. Di Indonesia, hantu ini dijadikan alat untuk mengancam presiden.

Sebuah organisasi kemasyarakatan (ormas) mengancam mengerahkan massa untuk menyulut revolusi jika Presiden Susilo Bambang Yudhoyono membubarkan ormas tersebut. Ancaman pembubaran itu sendiri dilontarkan SBY akibat aksi anarkistis yang dilakukan ormas akhir- akhir ini.

Ancaman dibalas ancaman dan hantu revolusi dari dunia Arab dijadikan momok. Tampaknya momok itu berhasil menjadi teror. Akibatnya, ada kecemasan dalam menyikapi ancaman itu. Instruksi pembubaran ormas anarkistis pun menjadi tak jelas rimbanya. Elite penguasa seperti khawatir menyikapinya. Terbukti, tidak adanya tindakan terhadap si pengancam. Padahal, banyak pihak menilai, ancaman ormas itu sebuah tindakan makar. Mungkin inilah ciri khas Indonesia pascareformasi 1998. Semua pihak bebas bicara dan bertindak apa saja.

Nikmat kekuasaan

Terlepas dari adanya ancaman ormas tersebut, negeri ini tetap perlu becermin pada fenomena angin Tunisia yang membawa hantu revolusi di Arab. Sebab, hantu ini lahir akibat penguasa memasang ranjau di kakinya sendiri. Nikmat kekuasaan membuat penguasa selalu terlena hingga merasa bahwa negara hanya miliknya sendiri dan lupa ada orang lain yang juga sebagai pemilik sah atas negara tersebut.

Mereka terlena hingga lupa sudah berkuasa 30 tahun lebih dan masih saja tetap ingin berkuasa. Kalaupun lengser, anak atau keluarganya yang harus menggantikan. Nikmat kekuasaan membuat lupa, apakah ia bertindak sebagai presiden atau sebagai raja. Kekuasaan membuat ia terlena hingga kekayaan ditumpuk sesukanya dan lupa rakyat masih dililit kemiskinan.

Nikmat kekuasaan membuatnya terlena pada ulah orang- orang dekat yang selalu menjilat dan lupa bahwa rakyat sudah bosan dengan kepemimpinannya yang tak kunjung membawa perubahan signifikan.

Faktor nikmat kekuasaan inilah yang membuat kekuasaan perlu dibatasi dengan konstitusi. Dan, Indonesia sudah melakukan. Setelah reformasi 1998, Indonesia membatasi masa jabatan presiden hanya dua periode. Namun, bukan berarti Indonesia lepas dari bahaya. Indikasi haus kekuasaan kini malah berkembang pesat, mencengkeram pola pikir elite-elite daerah. Berbagai upaya untuk menyiasati konstitusi dilakukan. Tujuannya agar ambisi menggenggam kekuasaan tetap terwujud. Tak heran jika saat ini di sejumlah daerah muncul pola ”suksesi kekeluargaan”. Kepala daerah yang lengser karena terhambat konstitusi ”menyerahkan” kekuasaannya kepada anak, istri, atau istri mudanya.

Dua ancaman

Virus ”suksesi kekeluargaan” yang kian berkembang ini berdampak terhadap munculnya dua ancaman serius. Pertama, virus itu menjalar dan menjadi apresiasi bagi elite-elite politik di tingkat nasional. Dari sisi konstitusi tak ada yang salah. Namun, inilah bahaya dari ”nikmat kekuasaan” tadi.

Kedua, akibat virus itu kebencian rakyat tidak hanya fokus kepada pucuk pimpinan nasional, seperti Soeharto pada era Orde Baru, tetapi menyebar kepada pemimpin-pemimpin lokal yang menjadi kepala daerah.

Inilah yang bisa memicu lahirnya hantu revolusi yang lebih dahsyat di negeri ini. Hantu yang memprovokasi kemarahan rakyat dan menebar revolusi sosial di mana-mana serta memicu konflik horizontal di tingkat bawah. Inilah dampak yang tak terduga dari reformasi 1998. Jika tidak segera dicermati, reformasi yang bisa membuat orang bicara dan berbuat apa saja akan gagal melahirkan kepompong ketenteraman. Harapan rakyat bahwa reformasi akan membawa perubahan, membawa kebajikan bagi kehidupan sosial, ekonomi, dan politik akan jauh panggang dari api.

Neta S Pane Ketua Presidium Indonesia Police Watch

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: