Sistem Logistik untuk Kesejahteraan


Sumber:
http://cetak.kompas.com/read/2011/03/04/03553996/sistem.logistik.untuk.kesejahteraan

Ninuk M Pambudy

Waktu menunjukkan pukul 20.00 menjelang hari raya Imlek bulan lalu. Yuli Setiadi (37) tengah menjaga kaplingnya di Pasar Induk Tanah Tinggi, Tangerang, yang masih kosong. Pedagang sayur itu masih menunggu laporan anak buahnya, berapa banyak truk pembawa kol akan masuk malam itu.

Ia memperkirakan ada 18 truk malam itu, masing-masing mengangkut 6 ton kol. Truk-truk tersebut membawa kol pesanan pedagang Pasar Tanah Tinggi. Itu artinya, kol akan dilepas Rp 1.500 per kilogram. Akan tetapi, bila lebih banyak truk masuk, harga turun sampai Rp 1.250 per kg.

”Kemarin kosong, kol saya bisa lepas sampai Rp 4.000 per kg,” papar Yuli. Ia didampingi istrinya, Siti Hijriah (30), yang bertindak sebagai kasir. Menurut Yuli, di pasar induk kebanyakan pedagang adalah laki-laki karena perempuan terlalu berhati-hati. ”Tidak berani melepas harga, padahal kalau kol sudah jatuh, harganya jadi Rp 1.250. Sampai besok pagi harga enggak akan naik,” ujar Yuli.

Sekitar pukul 20.30, truk bermuatan penuh kol merapat di pinggir kapling Yuli. Seorang pekerja naik ke tumpukan kol dan melempar kol-kol itu kepada rekannya di bawah. Banyak kol jatuh ke lantai semen dan menjadi cacat. Empat orang mengupas daun kol terluar. Segera saja sisa daun kol menumpuk. Kol-kol yang sudah dikupas lalu dimasukkan ke kantong plastik, menunggu pembeli.

Di pasar induk sekitar Jakarta, barang datang tanpa perencanaan, tidak melihat besarnya kebutuhan. Bila di satu pasar induk kelebihan pasok, truk akan berbelok menuju pasar yang kira-kira bisa menampung. Alhasil, harga tak terjaga. ”Apalagi, di antara pedagang juga saling menjatuhkan harga. Saya bikin kesepakatan dengan sesama pedagang kol untuk jaga harga. Yang lain kelihatannya belum,” kata Yuli.

Menjaga harga

Pasar hanyalah salah satu simpul rantai pasok bahan pangan. Rantai pasok lebih hulu adalah petani sebagai produsen dan konsumen. Saat panen padi seperti sekarang, di Karawang, Jawa Barat, harga gabah kering panen Rp 3.000-Rp 3.200 per kg. Adapun harga beras di konsumen Rp 6.100-Rp 7.200 per kg, tergantung kualitas.

Idealnya petani tidak menjual langsung hasil panennya agar mendapat harga lebih baik. Lumbung desa atau lumbung kecamatan milik kelompok tani adalah solusi ideal, tetapi perlu bantuan pembiayaan. Petani yang menitip gabah butuh uang untuk kebutuhan sehari-hari dan membayar sarana produksi pertanian. ”Sudah jadi rahasia umum, Bulog tidak membeli sendiri gabah petani, tetapi dari pedagangan rekanan Bulog di desa atau di penggilingan beras,” kata Ketua Kontak Tani dan Nelayan Andalan Jawa Barat Oo Sutisna.

Lumbung desa sebetulnya merupakan simpul penting dalam sistem logistik pangan, tidak hanya untuk kesejahteraan petani, tetapi juga demi menjaga pasokan pangan di masyarakat sepanjang tahun. Petani juga akan belajar lebih mandiri mengelola hasil panennya.

Meskipun sudah kerap diwacanakan, lumbung petani lambat berkembang. Salah satu penyebab, belum ada sistem logistik nasional yang terintegrasi meskipun pemerintah pada Januari 2010 menerbitkan cetak biru Pengembangan Sistem Logistik Nasional (Sislognas).

Sampai kini Sislognas belum diimplementasikan. Padahal, dalam konteks pangan, Sislognas sangat strategis untuk menjamin ketersediaan pangan yang stabil sepanjang tahun dalam jumlah dan harga serta menyejahterakan petani kecil sebagai produsen.

Efisien

Tanpa Sislognas, permasalahan yang ada saat ini akan semakin parah. Pengalaman Yuli di Pasar Induk Tanah Tinggi memperlihatkan terjadi disinformasi pasar, tingkat pasokan tak sesuai dengan tingkat permintaan. Pada hari besar ke- agamaan, gejolak harga akan semakin tinggi.

Permasalahan lain, alur pasokan sangat berliku, tidak terkontrol, dan penuh hambatan, seperti kemacetan lalu lintas, jalan rusak, atau pungutan liar.

Aep Sugianto, Ketua Kelompok Tani Dewi Sri di Desa Gempol, Kecamatan Bangunsari, Kabupaten Karawang, mengatakan, pada panen yang jatuh pada musim hujan saat ini, petani langsung menjual gabah dalam keadaan kering panen. ”Mengeringkan nambah biaya. Apalagi, biaya angkut lebih mahal, jadi Rp 300-Rp 500 per kg. Jalan becek dan rusak,” kata Aep.

Mutu barang tak terkontrol, seperti yang terjadi di pasar-pasar induk. Seharusnya pasar induk berperan sebagai terminal agrobisnis. Barang yang masuk sudah bersih dan terkemas rapi.

”Pengelola pasar jangan bertindak seperti perusahaan properti, hanya menyewakan tempat. Harusnya juga mengatur barang yang masuk berdasarkan informasi kebutuhan. Informasi itu lalu ke petani,” kata Ketua Dewan Hortikultura Nasional Benny A Kusbini.

Menurut Direktur Pusat Pengkajian Logistik dan Rantai Pasok Institut Teknologi Bandung Prof Dr Ir Senator Nur Bahagia, salah satu syarat Sislognas adalah menentukan komoditas strategis. Setiap komoditas menuntut sistem logistik khas.

Komoditas strategis adalah barang yang diperlukan orang banyak dan pengadaannya untuk kesejahteraan orang banyak. Sistem bekerja baik bila harga terjangkau, tidak berfluktuasi, dan selalu tersedia.

”Kalau sistem yang ada sekarang kita biarkan, harga semen di Jawa akan berbeda sangat jauh dengan harga di Papua. Dalam logika pasar bebas, tidak ada yang salah dengan keadaan ini, tetapi menjadi tidak adil untuk orang di Papua,” kata Senator.

Dengan Sislognas terintegrasi, daya saing Indonesia juga akan meningkat. Oleh karena itu, sudah waktunya pemerintah bergegas mewujudkan cetak biru Sislognas. Jangan biarkan waktu setahun berlalu lagi sia-sia.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: