“Indonesianisasi” di Dunia Arab oleh AS


Sumber:
http://cetak.kompas.com/read/2011/03/02/03410466/indonesianisasi.di.dunia.arab.oleh.as

MUSTHAFA ABD RAHMAN

Revolusi di Arab bisa mewariskan tanah tak bertuan. Revolusi yang berhasil menumbangkan rezim di Tunisia dan Mesir melahirkan pertanyaan tentang siapa yang akan memimpin pada masa mendatang? Ini membuka kesempatan bagi berbagai kekuatan yang berebut pengaruh di kawasan kaya minyak itu.

Kekuatan-kekuatan itu, AS dan Barat, Al Qaeda, dan Iran, mulai melakukan manuver untuk memperebutkan tanah tak bertuan kelak.

Semua kekuatan, yang berseteru, itu mendukung revolusi di dunia Arab, mendompleng aspirasi rakyat tentang pentingnya reformasi. Namun, kekuatan asing sekaligus ingin mengamankan kepentingan yang bertentangan.

Iran menghendaki pemerintahan islami di Arab. Barat menginginkan pemerintahan pro-Barat. Al Qaeda berharap pemerintah di Arab satu ideologi dengannya.

Itulah kisah lain di balik revolusi Arab.

Pemimpin nomor dua Al Qaeda, Ayman Zawahiri, mengatakan, AS sedang mengotaki tampilnya pemimpin pro-Barat di Mesir dan Tunisia. Ia meminta umat Islam melawan. Menurut dia, AS telah mencampakkan Zine al-Abidine Ben Ali, pertengahan Januari lalu, dari kursi Presiden Tunisia. ”AS melalui agen-agennya mengendalikan Tunisia,” ungkap Zawahiri.

Menurut Zawahiri, hal yang sama terjadi di Mesir. Kepemimpinan di Mesir kini mengarah ke mantan Direktur Badan Tenaga Atom Internasional (IAEA) Mohamed ElBaradei. ”Saya tidak tahu apakah kantor pusat pemerintah transisi nanti akan ada di Kairo, Vienna, atau New York?” kata Zawahiri.

Kepentingan minyak

Pemerintah AS telah pula melakukan kontak dengan wakil-wakil revolusioner Libya. Menlu AS Hillary Clinton menegaskan, Pemerintah AS siap mengulurkan bantuan apa pun kepada kubu antirezim Moammar Khadafy. Presiden AS Barack Obama menyatakan, Khadafy harus hengkang. Obama juga mengatakan hal yang sama sebelumnya ke pemimpin Mesir dan Tunisia.

Sejumlah pengamat Arab mengatakan, AS berperan mengobarkan revolusi Arab untuk mengamankan kepentingan di kawasan. Analis politik Timur Tengah, Abdullah Iskandar, dalam artikelnya di harian Al Hayat, Senin (28/2), mengatakan, AS melakukan tekanan ke sejumlah rezim dengan seruan agar tuntutan rakyat dipenuhi.

Menurut Iskandar, bagi AS tidak ada pilihan kecuali mempertahankan kepentingan strategis di Timur Tengah lewat sinergi dengan aspirasi dan budaya utama setempat. ”AS memetik pelajaran dari kasus Turki dan Indonesia yang bisa bersinergi dengan kepentingan strategi AS,” kata Iskandar.

Pemimpin redaksi harian Mesir, Al Quds Arabi, Abdul Bari Athwan, mengatakan, AS dan Barat hanya menghendaki perubahan di permukaan. AS punya dua tujuan. Pertama, memperoleh harga minyak yang murah dan lestarinya aliran ekspor minyak ke Barat. Kedua, Israel tetap sebagai yang terkuat di Timur Tengah.

Menurut Athwan, Barat sempat ragu mendukung revolusi yang dikobarkan rakyat terhadap rezim Khadafy. Ia menambahkan, AS tampak dingin menyikapi revolusi rakyat Yaman untuk menumbangkan rezim Presiden Ali Abdullah Saleh. Ada faktor Al Qaeda yang kuat di Yaman. ”AS sangat bergantung pada rezim Abdullah Saleh untuk memerangi Al Qaeda. AS khawatir, tumbangnya rezim Abdullah Saleh bisa membuat Al Qaeda menguat di Yaman,” ujar Athwan.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: