Oscar untuk Si Gagap dan Angsa Hitam


Sumber:
http://cetak.kompas.com/read/2011/03/01/04315466/oscar.untuk.si.gagap.dan.angsa.hitam

Myrna Ratna

Kemenangan aktor Inggris Colin Firth dan Natalie Portman di ajang penghargaan Oscar 2011 bukan lagi kejutan. Akting keduanya begitu prima dalam ”The King’s Speech” dan ”Black Swan”.

Tentu saja ini merupakan puncak dari puluhan tahun kerja keras Colin Firth sejak ia memutuskan meninggalkan dunia sekolah dan menekuni akting pada usia 18 tahun. Gemblengan yang paling keras diperolehnya dari dunia teater.

Firth memulainya dari level yang paling bawah, sebagai pemeran figuran, penyaji minuman, sampai penerima telepon. Namun, di dunia teater itulah matanya terbuka. Ia memiliki akses untuk mengetahui rumor yang beredar di kalangan teater sampai di mana ada lowongan pekerjaan. Dari sini ia menyadari, untuk menjadi aktor panggung yang baik, ia harus mengasah dirinya lewat pendidikan.

Di London Drama Centre, Firth belajar akting enam hari seminggu selama tiga tahun. Kegigihannya itu tak sia-sia. Tawaran sebagai pemeran utama untuk drama besar, seperti ”Hamlet” dan ”King Lear”, kemudian mengalir. Ia menjadi salah satu pemain teater berbakat di Inggris.

Kelenturan Firth dalam menyerap rasa frustrasi akibat gagap, sehingga ia seperti gagap ”betulan” di film The King’s Speech, didukung oleh proses belajarnya dalam mengatasi demam panggung di dunia teater.

”Bahkan, saat terakhir kali tampil di panggung pun, aku mengalami rasa takut yang luar biasa. Sampai-sampai tidak bisa mengingat dialog yang harus kuucapkan. Itu adalah malam pembukaan dan ada monolog sepanjang dua lembar yang harus kuhafalkan. Saking paniknya, aku mengunci diri di kamar mandi, kemudian menyendiri di luar gedung untuk menghirup udara segar. Lima menit sebelum acara dimulai, aku malah terkunci di luar gedung. Akhirnya, aku terpaksa masuk dari arah penonton. Merekalah yang paling aku takuti. Ternyata setelah sampai di panggung, semuanya baik- baik saja,” kata Firth kepada Sunday Times.

Saat-saat menegangkan seperti itu bukan hanya dialaminya sewaktu harus bermonolog di panggung, tetapi kadang juga ketika harus melakukan konferensi pers sampai memberi sambutan.

”Menurut saya, seseorang yang mendadak hilang kelancaran berbicaranya tak ada kaitan dengan kemampuannya menyusun kalimat. Para penulis hebat pun kadang sangat buruk ketika harus berpidato,” ujar Firth kepada BBC News.

Itu sebabnya ia sangat tersentuh dengan biografi Raja George VI. Karena di balik kekurangannya, George VI adalah pribadi yang luar biasa.

”Seandainya saja Anda bisa membaca apa yang ia tulis, Anda akan tahu bahwa ia adalah pria dengan karakter elegan dan halus. Sungguh ironis jika ia dihakimi sebagai tokoh yang membosankan hanya karena ia tak mampu mengekspresikan dengan baik pemikirannya,” kata Firth.

Nama Firth meroket ketika ia memerankan sosok Mr Darcy dalam miniseri televisi Pride and Prejudice (1995) yang diproduksi televisi BBC. Adegan ketika Darcy dengan mata berlinang keluar dari kolam untuk mendinginkan kegalauan hatinya karena cintanya ditolak Lizzie (diperankan Jennifer Ehle, yang juga bermain sebagai Myrtle Logue di King’s Speech) membuat perempuan Inggris dari segala usia histeris. Sejak film itu, ia dinobatkan sebagai pria paling populer di Inggris.

Kemilau talentanya akhirnya diakui dunia layar lebar ketika Firth memerankan pria gay yang mengalami depresi kepanjangan akibat kematian kekasihnya dalam A Single Man. Penonton yang sempat menyaksikan film ini sulit melupakan akting Firth yang begitu indah. ”Kalau ada yang bertanya apa resep sukses saya, mungkin saya akan mengatakan, itu adalah netralitas saya. Artinya, orang bisa mengenang saya dalam peran yang berbeda-beda,” katanya.

Kemenangan Natalie Portman

Permainan Natalie Portman sebagai penari balet yang terobsesi pada kesempurnaan dalam film menegangkan Black Swan sangat solid. Upaya Portman untuk menyelami sosok pebalet Nina Sayers begitu keras. Ia berlatih balet lima sampai delapan jam sehari selama setahun penuh.

Bukan hanya itu, untuk memperoleh tubuh seorang balerina yang langsing tetapi kuat, Portman harus melakukan diet khusus. Ia hanya boleh makan piza, roti, dan pasta untuk menggenjot karbohidrat. Namun, itu pun dalam porsi minimal sehingga ia sering merasa lapar.

Film Black Swan bukan saja menggedor fisik, tetapi juga batinnya. ”Aku pikir aku bisa mati…. Ini untuk pertama kali aku mengerti bagaimana seseorang bisa begitu terpengaruh dengan peran yang dimainkannya sampai-sampai peran itu mengalahkan dirimu,” kata Portman seperti dikutip Entertainment Weekly.

Seperti Colin Firth, Portman juga pernah menjadi nomine Oscar lewat film Closer (2007) yang disutradarai Mike Nichols. Siapa pun yang mengikuti karier Portman lewat film-filmnya pasti sepakat bahwa ia merupakan aktris yang berbakat.

Mungkin pembaca masih ingat film The Professional (1994) ketika Portman kecil memerankan tokoh Mathilda yang meminta perlindungan kepada pembunuh profesional Leon (Jean Reno) setelah kedua orangtuanya dibunuh secara kejam. Adegan gadis kecil yang menenteng pot kecil berisi tumbuhan kesayangan Leon sepertinya akan terekam lama dalam benak pencinta film. Sejak itu para kritikus yakin Portman akan menjadi bintang besar.

Portman juga dikenal sebagai aktris yang punya prinsip. Ia menolak adegan yang mempertontonkan ketelanjangan tubuh. Sejumlah tawaran peran dalam film besar ditolaknya, termasuk Lolita dan Romeo and Juliet, karena alasan serupa. Itu sebabnya di Hollywood ia dijuluki sebagai ”si keras kepala”. ”Saya lebih mementingkan kehidupan pribadi saya dan masalah keamanan dibandingkan kesempatan menjadi wanita terseksi dalam film,” kata Portman yang bertemu tunangannya, aktor Perancis Benjamin Millepied dalam film Black Swan.

Pasangan itu kini menantikan bayi pertama mereka. ”Mimpi berikutnya yang aku nantikan adalah berdiam di tempat tidur, tanpa harus merias wajah atau menata rambut, dan berharap bayiku akan bahagia. Adakah hal lain yang lebih penting bagi orangtua?” katanya.

Colin Firth

• Lahir: 10 September 1960 • Pendidikan: London Drama Centre • Film:- Miniseri TV Pride and Prejudice, 1995- The English Patient, 1996-
Shakespeare in Love, 1998- Bridget Jones Diary, 2001- The Girl with the Pearl Earring, 2003- Love Actually, 2003- Mamma Mia!, 2008- The Accidental Husband, 2008- Then She Found Me, 2008- A Single Man, 2009

Natalie Portman

• Lahir: 9 Juni 1981 • Pendidikan: Sarjana Psikologi dari Universitas Harvard • Film:- Leon/The Professional, 1994- Anywhere but Here, 1999-
Star Wars Trilogy: The Phantom Menace (1999), Attack of the Clones (2002), Revenge of the Sith (2005)- Closer, 2005- V for Vendetta, 2006-
Paris Je T’aime, 2006- The Other Boleyn Girl, 2008- Black Swan, 2010- No Strings Attached, 2011

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: