Militer Libya Bagian dari Konflik


Sumber:
http://cetak.kompas.com/read/2011/02/24/03162587/militer.libya.bagian.dari.konflik

Militer telah memainkan peran menentukan dalam mengantarkan kemenangan revolusi di Tunisia dan Mesir. Di Tunisia, militer menolak menembaki pengunjuk rasa antirezim Zine al-Abidine Ben Ali hingga akhirnya memaksa Ben Ali kabur. Di Mesir, militer memilih mengambil posisi netral, tetapi secara politik lebih cenderung memihak pengunjuk rasa antirezim Hosni Mubarak. Mubarak pun akhirnya mundur.

Meletupnya gerakan massa masif antirezim Moammar Khadafy di Libya saat ini memunculkan pertanyaan pula tentang peran militer Libya atas masa depan revolusi di negara Afrika Utara yang kaya minyak itu.

Militer Libya tidak tergolong besar, hanya berjumlah sekitar 76.000 personel. Militer Libya yang terdiri dari angkatan darat, angkatan laut, dan angkatan udara dikenal memiliki persenjataan cukup baik. AD Libya memiliki 2.000 tank dan ratusan artileri. AU Libya dengan 23.000 personel memiliki 273 pesawat dan 41 helikopter tempur, yang terdiri dari pesawat tempur buatan Rusia, Sukhoi 22, Sukhoi 24, dan MIG-21. Anggota AL Libya hanya berjumlah 8.000 personel.

Berbeda dari militer Tunisia dan Mesir, institusi militer Libya tidak dikenal independen, utuh, dan kuat secara organisasi. Militer Tunisia dan Mesir mampu menjaga jarak dengan rezim. Namun, institusi militer Libya telah dikoyak-koyak oleh Khadafy, baik secara organisasi maupun ideologi. Persisnya, sejak militer Libya dengan segala fasilitas persenjataannya tidak mampu mengalahkan militer Chad yang miskin dalam perang perbatasan kedua negara tahun 1980-an.

Khadafy, yang marah lantaran dipermalukan Chad saat itu, mengobrak-abrik institusi militer dan mengubah namanya dengan disebut ”rakyat bersenjata”.

Khadafy memperluas pula keanggotaan rakyat bersenjata itu dengan tidak hanya terbatas pada tentara reguler, tetapi juga meliputi rakyat wajib militer. Jumlah rakyat bersenjata itu disinyalir mencapai 1,5 juta personel. Isinya pun gado-gado. Ada tentara reguler, ada komite rakyat bersenjata, ada satuan pertahanan rakyat, dan ada milisi-milisi khusus bersenjata di bawah binaan putra-putra Khadafy. Rakyat bersenjata itu berada di bawah komando panglima besar Khadafy.

Kelemahan rakyat bersenjata itu adalah sistem organisasinya sangat longgar karena banyak komandan yang sangat otonom. Selain itu, anggota rakyat bersenjata tersebut direkrut dari kabilah-kabilah (suku-suku) yang tersebar di seluruh Libya, di mana antara satu dan lain kabilah berbeda tingkat loyalitasnya kepada rezim Khadafy.

Maka, jika struktur dan garis komando militer di negara lain sangat jelas, struktur dan garis komando rakyat bersenjata di Libya acak-acakan. Khadafy disebut panglima rakyat bersenjata hanya sebatas jabatan politik, bukan profesional.

Akibat kerentanan struktur dan garis komando rakyat bersenjata itu, tidak heran segera muncul banyak berita tentang pembelotan anggota militer Libya. Misalnya, dua pilot AU Libya dengan dua pesawat tempurnya minta suaka politik ke Malta karena menolak perintah menggempur pengunjuk rasa di kota Benghazi. Banyak berita pula bahwa satuan militer dan aparat keamanan meninggalkan kesatuannya dan bergabung dengan pengunjuk rasa di kota-kota Libya timur, seperti Benghazi, Bayda, dan Tobruk. Bahkan, sumber militer Mesir mengungkapkan, pasukan penjaga perbatasan Libya telah menarik diri dari perbatasan dengan Mesir.

Dalam waktu yang sama, masih ada pula anggota militer yang masih loyal kepada Khadafy, seperti anggota AU Libya yang menerbangkan pesawat tempurnya untuk menggempur berbagai sasaran pengunjuk rasa di kota Tripoli dan Benghazi. Ada berita pula Khadafy menggunakan jasa tentara bayaran dari Afrika dan Eropa Timur untuk menghabisi pengunjuk rasa.

Karena itu, sangat sulit mendefinisikan rakyat bersenjata Libya sebagai satu kesatuan organisasi dalam menghadapi gerakan rakyat Libya antirezim Khadafy saat ini.

Sebaliknya, rakyat bersenjata di Libya sangat rentan pecah dan terlibat perang saudara. Oleh sebab itu, militer Libya yang disebut rakyat bersenjata itu secara institusi sangat sulit diharapkan bisa tampil seperti militer Tunisia dan Mesir.

Dalam konteks itu, bisa dipahami jika Saif al-Islam Khadafy (putra Moammar Khadafy) dalam pidatonya yang disiarkan televisi, Minggu malam lalu, mengancam, apabila rakyat Libya tidak menerima ajakan dialog, negeri itu bisa terjerumus perang saudara.

Sisa harapan yang ada adalah apabila ada inisiatif individu dari seorang atau beberapa tokoh militer untuk membangun satu kekuatan penekan terhadap Khadafy sehingga Libya terhindar dari aksi pertumpahan darah yang lebih dahsyat lagi.

(Musthafa Abd Rahman)

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: