Ancaman Keamanan Pangan Global


Sumber:
http://cetak.kompas.com/read/2011/02/23/03241258/ancaman.keamanan.pangan.global

RENE L PATTIRADJAWANE

E-mail: rlp@kompas.com SMS: 081802-KOMPAS

Sebuah peribahasa China populer mengacu pada persoalan makanan berbunyi ”qiao fu nan, wei wu mi zhi chui” yang artinya ’tanpa beras, ibu rumah tangga yang paling cerdas sekalipun tidak bisa masak’. Peribahasa ini menggambarkan secara keseluruhan persoalan diet makanan tidak hanya bagi orang Tionghoa saja, tapi juga orang-orang Asia umumnya yang bertumpu diet makanan pada beras.

Dunia sekarang dihadapkan pada persoalan keamanan pangan atau dikenal dengan istilah food security, ketika lonjakan harga pangan dunia mulai dirasakan sebagai ancaman bagi sejumlah negara yang disebabkan berbagai faktor, termasuk pemanasan global, kenaikan harga bahan bakar karena krisis di Timur Tengah, dan kekeringan yang berkepanjangan.

Persoalan keamanan pangan tidak hanya melanda China, tapi juga negara lain di Afrika dan Amerika Latin. Namun, China memang memiliki potensi paling besar dalam menghadapi masalah keamanan pangan karena penduduknya yang besar, konsumsi dietnya masif, serta keterbatasan lahan pertanian yang bisa ditanam.

Selama 600 tahun terakhir, China melakukan berbagai kesalahan penataan dan pemanfaatan kekayaan tanah, hutan, minyak, maupun airnya. Tren ini dipercepat dengan berkuasanya Partai Komunis China tahun 1949 dan salah satu pilar ajaran Maoisme, yaitu ”manusia harus menguasai alam!”

Konsumsi sumber alam di daratan China pun menjadi berlipat ganda bersamaan dengan pelaksanaan modernisasi pembangunan yang dijalankannya. Urbanisasi dan pertumbuhan kelas menengah kaya di China pasti membutuhkan sumber tanah, mineral, dan air dalam kuantitas yang tidak mampu disediakan secara geografis oleh daratan China.

Kondisi ini juga berlaku di negara-negara Asia lain, ketika kawasan pertanian di sejumlah kawasan Asia tidak lagi mampu memenuhi konsumsi domestik, termasuk kekurangan beras dan gandum sebagai diet utamanya.

Dalam beberapa tahun terakhir ini muncul kecenderungan baru dan menjadi perdebatan di kalangan negara-negara miskin. Negara yang mengekspor kapital tapi mengimpor makanan melakukan subkontrak (outsourcing) produksi pertanian ke negara-negara yang membutuhkan kapital tapi memiliki wilayah cadangan untuk ditanam berbagai keperluan pangan.

Tren ini menunjukkan ketimbang membeli makanan di pasaran dunia, pemerintah dan perusahaan dengan pengaruh politik membeli atau menyewa lahan pertanian di luar negeri, memanen tanaman di negara asing, dan mengapalkan kembali ke negeri mereka. Ini dilakukan China, Korea Selatan, Saudi Arabia, Kuwait, Inggris, Jerman, dan lainnya.

Mulai tahun 2007 sampai pertengahan 2008, indeks harga makanan meningkat 78 persen, kedelai dan beras melonjak 130 persen, sedangkan cadangan makanan dunia di mana-mana mulai menurun. Bagi negara-negara kaya seperti China, Korsel, atau Jepang tidak menjadi persoalan karena memiliki kemampuan untuk membeli bahan makanan dengan harga yang tinggi.

Yang tidak dikuasai adalah ketika kesepakatan larangan perdagangan diberlakukan oleh eksportir besar dan kecil menjaga harga bahan makanan di dalam negeri sendiri tidak melonjak.

Keamanan pangan menjadi isu globalisasi serius mengancam siapa saja. Persoalan pangan bukan ada di Asia saja, melainkan juga di seluruh dunia. Spes Anchora Vitae, bunyi ungkapan bahasa Latin yang berarti ’harapan adalah jangkar kehidupan’. Dan harapan keamanan pangan adalah kerja sama yang menguntungkan semua negara, kaya dan miskin, bagi kehidupan.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: