Anatomi Revolusi


sumber:
http://cetak.kompas.com/read/2011/02/19/05071634/anatomi.revolusi

Oleh BUDIARTO SHAMBAZY

Cuma butuh 29 hari untuk menumbangkan rezim di Tunisia yang 22 tahun berkuasa. Hanya butuh waktu kurang dari sebulan untuk memaksa Presiden Mesir Hosni Mubarak akhirnya menyerah.

Ini bukti bahwa politics is the art of the possible dan revolusi bisa menumbangkan siapa saja. Politik bukan rumus matematika 2+2>4. Ada gurauan politik bisa berdarah seperti dimaknai oleh gabungan dua kata Yunani: poly (banyak) dan tics (parasit pengisap darah).

Revolusi Melati di Tunisia dan Revolusi 25 Januari di Mesir mewabah cepat ke mana-mana. Revolusi tak ubahnya penyakit flu: tak perlu obat, hanya butuh pemimpin yang sadar bahwa ia butuh tidur lama alias ”istirahat” saja.

Memang betul obat ”flu politik” banyak: pidato, imbauan, rayuan, gertakan, gas air mata, pentungan, bedil, perombakan (reshuffle), bahkan nyawa. Namun, seperti kata dokter, tak semua obat manjur dan jika terlalu banyak ditenggak bikin overdosis (OD) dengan gejala mulut pasien mengeluarkan busa.

Lagi pula konyol ada pemimpin nekat mencegah jutaan warga tumpah ke jalan mencari jalannya sendiri. Itu jenis pemimpin yang masih memakai logika ”analog” di era ”digital” yang sudah banjir media atau jejaring sosial ini.

Dan, janganlah jemawa mau mengatur atau menutup akses internet, Facebook, Twitter, Black- Berry Messenger, dan lain-lainnya. Narasi tidak akan pernah bisa diubah menjadi fiksi, buruk rupa jangan cermin yang dibelah.

Revolusi atau perubahan—apa pun namanya—tak kenal batas negara dan lingkup masa.

Apa yang terjadi di Magribi atau Timur Tengah kini sudah membuat kalang kabut rezim di Kuba.

Revolusi-revolusi klasik kadang diletupkan oleh persoalan pribadi. Di Tunisia ada martir pedagang sayur buah gerobak, Mohamed Bouazizi yang membakar diri, yang memaksa Presiden Zine al-Abidine Ben Ali minggat ke Arab Saudi.

Menurut teorinya, revolusi meledak hanya kalau ada tokoh-tokohnya. Revolusi 25 Januari tidak punya tokoh karena dipelopori jutaan warga lintas usia, orang kaya ataupun miskin, serta pria dan wanita.

Ingat, tumbangnya rezim-rezim komunis Eropa Timur pada akhir 1980-an disebabkan hanya perestroika dan glasnost sang dua mantra. Ternyata taglines Pemimpin Uni Soviet Mikhail Gorbachev itu jauh lebih sakti daripada mantra tukang sihir ”simsalabim” atau ”abrakadabra”.

Jika Bung Karno-Bung Hatta tak diculik para pemuda ke Rengasdengklok, mungkin kita batal merdeka tanggal 17 Agustus 1945. Andaikan tak ada pembunuhan serta penculikan jenderal-jenderal tanggal 1 Oktober 1965, barangkali Orde Baru gagal mengudeta Orde Lama.

Itulah bukti bahwa ”faktor X” siap mengintai untuk mengubah sejarah kita. Jika tidak hati-hati, perubahan besar bukan mustahil datang lagi jikalau pemerintah membiarkan terus terjadinya intoleransi terhadap agama.

Kini Revolusi Melati dan Revolusi 25 Januari telah menjalar ke Yaman, Bahrain, Suriah, Jordania, dan Libya. Pelajaran pertama, penguasa terpaksa mengoreksi diri: tak akan mencalonkan diri kembali sebagai presiden atau berhenti sesuai dengan jadwal kepemimpinannya.

Pelajaran kedua, revolusi-revolusi di Magribi atau Timur Tengah membuka lebar-lebar mata kita bahwa politik dinasti omong kosong belaka. Ini merupakan peringatan bagi istri atau anak penguasa di negara mana saja.

Pelajaran ketiga, kekuasaan tak bisa bersembunyi lagi dari rakyatnya. Seperti kata pepatah, bau bangkai akhirnya pasti akan tercium juga.

Pelajaran keempat, revolusi modern bersenjatakan jejaring sosial yang mudah diakses kapan saja, di mana saja, dan oleh siapa saja. Revolusi dunia maya ini mengandalkan ideologi ”It’s me” alias ”Inilah saya.”

Merekalah ”anak-anak Facebook”, tweeps, dan bloggers, yang ingin suaranya didengar tanpa melewati perantara. Mereka makin kurang percaya kepada institusi-institusi konvensional, seperti pemerintah, parlemen, partai, aparat keamanan dan hukum, LSM, serta media massa.

”Galaksi internet” telah menjadi partai politik mereka. Mereka sudah menarik garis batas yang jelas untuk melawan clumsy regimes yang menyajikan demokrasi semu di Magribi atau Timur Tengah.

Kata revolusi—atau apa pun namanya—bagi mereka hanyalah masalah semantik semata-mata. Mereka mengingatkan kita yang sudah tua yang masih saja percaya kepada mitos bahwa revolusi mengandung mara bahaya.

Penguasa berteriak, ”Stop revolusi!” Mereka membalas, ”Stop korupsi!”

Mau tahu apa slogan paling top selama Revolusi Melati, Revolusi 25 Januari, dan gejolak yang sebentar lagi mungkin pecah jadi revolusi di Magribi atau Timur Tengah?

”Mati, matilah korupsi dan koruptor!” teriak mereka.

Revolusi datang secara natural, bukan sekadar ”copas” (copy and paste) saja. Ia dipimpin generasi muda. Mereka melancarkan tuntutan sama: hak memilih dan mengganti pemimpin, mengganyang korupsi, dan mendapat kesempatan kerja.

Nah, untuk Anda, ada lagu revolusi berjudul ”Rais Lebled” karya rapper Tunisia, El General, yang kini laris di Magribi atau Timur Tengah. Inilah liriknya:

”Tuan Presiden/Rakyat Anda sekarat/Makan sampah di mana-mana/Lihat saja sendiri/Penderitaan di mana-mana/Saya tidak takut Anda/Walau tahu cuma cari gara-gara/Karena saya melihat/Ketidakadilan di mana-mana.”

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: