Perempuan-perempuan di Sarang Mala (bagian 2)


Sumber:
http://www.antaranews.com/berita/246180/perempuan-perempuan-di-sarang-mala-bagian-2

Selasa, 15 Februari 2011 14:11 WIB |

Maryati

Jakarta (ANTARA News) – Potret perempuan-perempuan di tempat-tempat prostitusi di wilayah Jakarta Utara tak jauh berbeda dengan 15 tahun silam, saat Endang Rahayu Sedyaningsih-Mamahit melakukan penelitian di lokalisasi pelacuran Kramat Tunggak yang kala itu masih jaya.

Peneliti yang saat ini menjabat Menteri Kesehatan mengatakan ketika itu Panti Sosial Karya Wanita (PKSW) Teratai Harapan Kramat Tunggak atau yang dikenal dengan lokalisasi Kramat Tunggak berdiri di areal seluas 109.435 meter persegi di daerah Kramat Jaya, Jakarta Utara.

Hasil penelitian Endang tahun 1995 yang dibukukan kembali pada Desember 2010 dengan judul “Perempuan Perempuan Kramat Tunggak” merekam sebagian perilaku perempuan penjaja seks dan pria pengguna jasa seks komersial di Kramat Tunggak.

Perempuan-perempuan yang karena berbagai alasan bekerja sebagai penjaja seks di Kramat Tunggak, menurut hasil penelitian Endang, rata-rata tidak banyak tahu tentang penyakit menular seksual yang mengancam kesehatan dan hidup mereka.

Gejala penyakit kelamin pada perempuan yang seringkali hanya berupa keputihan, rasa nyeri atau panas saat buang air kecil, atau rasa sakit di bagian bawah perut membuat para perempuan tak menyadari serangan awal infeksi menular seksual.

Pada kaum perempuan, gejala infeksi menular seksual juga tidak selalu muncul atau muncul dalam kadar sangat ringan, membuat perempuan yang bekerja sebagai penjaja seks makin hilang kewaspadaan.

Mereka berada di sarang mala tanpa menyadari keberadaan dan besar ancamannya.

Mereka tidak benar-benar tahu bahwa sifilis atau raja singa, kencing nanah, kutil kemaluan, dan sindroma merapuhnya kekebalan tubuh (Acquired Immunodeficiency Syndrome/AIDS) bisa kapan saja menyerang dan mengambil alih tubuh mereka.

Upaya untuk mencegah dan menangkal serangan penyakit-penyakit itu hanya sekedarnya saja dilakukan.

Saat Endang melakukan penelitian, perempuan-perempuan yang bekerja di Kramat Tunggak hanya menjaga diri dari penyakit dengan meminum jamu dan antibiotik serta menggunakan bahan pencuci berupa cairan antiseptik atau pasta gigi untuk membersihkan alat vital.

Cara tersebut sampai sekarang masih digunakan oleh perempuan-perempuan yang bekerja di tempat prostitusi, termasuk N dan Y.

Padahal cara-cara itu justru dapat meningkatkan risiko mereka terserang gangguan kesehatan lain.

Menurut Endang, penggunaan antibiotik tanpa petunjuk dokter bisa merusak hati dan pemakaian pembersih berisiko membuat kuman naik ke saluran yang lebih tinggi seperti rongga rahim serta menimbulkan penyakit radang panggul yang mengakibatkan nyeri perut bawah menahun, kehamilan di luar kandungan dan kemandulan.

Ia menjelaskan pula bahwa sampai sekarang penggunaan kondom secara konsisten saat berhubungan seks dengan siapapun merupakan alat paling efektif untuk mencegah infeksi menular seksual bagi perempuan yang berprofesi sebagai pelacur.

Sayangnya, sejak 15 tahun silam sampai sekarang tingkat penggunaan kondom di lokasi prostitusi masih sangat rendah dan tidak konsisten.

Kebanyakan lelaki pengguna jasa seks memakai bermacam alasan untuk tidak memakai kondom, dengan tanpa beban membuka jalur penularan infeksi menular seksual ke pekerja seks, ke pelanggan lain, dan kepada orang-orang yang berhubungan seks dengan para pelanggan jasa seks.

Di kawasan jalur kereta yang bila malam menjadi lokasi prostitusi, obat kuat dan tisu basah jauh lebih laku dibanding kondom.

“Obat kuat paling laris. Kondom kalau sepi sehari laku dua biji, kalau ramai bisa sampai sepuluh biji,” kata penjual obat kuat dan kondom di kawasan itu.

Menurut Laporan Pencapaian Target Tujuan Pembangunan Millenium (MDGs) pemerintah tahun 2010, tingkat penggunaan kondom pada seluruh laki-laki juga tercatat baru 30 persen.

Perempuan-perempuan yang bekerja di tempat prostitusi pun tidak bisa berbuat banyak karena tidak selalu bisa memenangkan negosiasi dengan pelanggan terkait penggunaan kondom.

Kondisi yang demikian membuat perempuan-perempuan itu tak punya cukup daya untuk melindungi tubuh mereka yang mungkin sudah teracuni alkohol, rokok, dan obat antibiotik yang dikonsumsi secara tidak rasional dari ancaman macam-macam infeksi menular seksual.

Istri para pengguna jasa seks komersial pun jadi berisiko tinggi tertular infeksi menular seksual karena menurut perkiraaan separuh dari sekitar 3,2 juta laki-laki pengguna jasa perempuan penjaja seks beristri.

Hasil penelitian Komisi Penanggulangan AIDS Nasional (KPAN) juga menunjukkan bahwa 50 persen lebih dari 3.525 perempuan dengan infeksi HIV dan AIDS di Indonesia adalah ibu rumah tangga.

Mayoritas ibu rumah tangga dengan infeksi HIV atau AIDS tersebut, menurut penelitian KPAN, tertular infeksi HIV dan AIDS dari suami mereka.

Belum Cukup
Penyakit menular seksual yang penyebarannya terdata pemerintah antara lain HIV/AIDS dan sifilis, penyakit kelamin yang jika tidak diobati dapat menyebabkan kerusakan serius pada otak dan hati.

Menurut laporan triwulan perkembangan HIV/AIDS Kementerian Kesehatan, sampai Juni 2010 sebanyak 21.770 kasus AIDS dilaporkan terjadi di 32 provinsi dengan proporsi antara lelaki dan perempuan 3:1.

Sedangkan angka kejadian penyakit sifilis pada perempuan pekerja seks, menurut hasil Surveilans Terpadu Biologis dan Perilaku (STBP) Kementerian Kesehatan tahun 2009, bervariasi antara satu persen hingga 15 persen.

Direktur Jenderal Pengendalian Penyakit dan Penyehatan Lingkungan Kementerian Kesehatan Prof. Tjandra Yoga Aditama mengatakan pemerintah melakukan berbagai upaya untuk mengendalikan penularan infeksi menular seksual pada kelompok berisiko tinggi seperti perempuan pekerja seks dan penggunanya.

Menurut dia, upaya pencegahan penyakit menular seksual yang dilakukan pemerintah antara lain meliputi promosi perilaku seks aman, penggunaan kondom pada hubungan seks berisiko serta tata laksana pengobatan.

“Sasarannya masyarakat yang mempunyai perilaku seks tidak aman seperti perempuan pekerja seks serta pelanggan atau pasangannya,” katanya.

Pemerintah, kata dia, melakukan promosi perilaku seks aman dan penggunaan kondom melalui program intervensi perubahan perilaku seperti advokasi dan sosialisasi bersama lembaga swadaya masyarakat.

Kementerian Kesehatan juga melakukan kegiatan pengobatan presumtif berkala di beberapa wilayah dengan prevalensi penyakit menular seksual tinggi.

“Mereka yang melakukan praktik seksual di tempat-tempat penjualan seks lain seperti jalanan dan kawasan rel kereta seharusnya juga bisa menjangkau kegiatan tersebut,” katanya.

Namun kenyataannya program-program pencegahan dan pengendalian penyakit menular seksual tersebut belum bisa menjangkau para pelaku seks berisiko tinggi di seluruh tempat prostitusi, apalagi yang tersembunyi

Tak Pernah Mati
Tanggal 31 Desember 1999 pemerintah Provinsi DKI Jakarta resmi menutup lokalisasi Kramat Tunggak, yang kala itu dikenal sebagai pusat pelacuran terbesar di ibukota.

Bangunan rumah-rumah bordil kemudian diratakan dengan tanah dan sebagai gantinya dibangun kompleks Pusat Pengkajian dan Pengembangan Islam Jakarta atau Jakarta Islamic Center (JIC).

Kompleks bangunan yang kini berdiri megah dengan gerbang kokoh tinggi bertulis peringatan “awas benda jatuh dari atas” pada bagian sampingya tersebut dimaksudkan untuk menampilkan citra religius pada kawasan yang sebelumnya kondang sebagai tempat pelacuran. Untuk mengubah “tanah hitam” menjadi “tanah putih.”

Sampai sekarang kompleks bangunan itu menjadi salah satu pusat kegiatan keagamaan. Kajian agama rutin dilakukan setiap Senin, Kamis dan Minggu pagi.

“Di dalam juga ada perpustakaan besar dengan banyak buku agama. Dan ada stasiun radio yang menyiarkan kajian agama,” kata M Sholeh, seorang petugas satuan pengamanan JIC.

Malam hari, kawasan di sekitar kompleks JIC berubah menjadi pusat keramaian. Orang-orang datang ke sana untuk mencari santapan malam atau sekedar melihat aneka jenis barang yang ditawarkan gerai-gerai yang menempel di pagar kompleks seperti siput bercahaya.

Kegiatan pelacuran di bekas areal lokalisasi Kramat Tunggak tak ada lagi. Tapi para pelakunya tidak lantas menghentikan praktik dan beralih profesi begitu saja.

“Seperti darah yang jika pembuluhnya tersumbat maka tubuh membentuk pembuluh baru agar dia bisa terus mengalir, mereka juga mengalir ke tempat lain,” kata Menteri Kesehatan dalam bukunya.

Dan beberapa puluh meter saja dari bekas kawasan lokalisasi Kramat Tunggak, sekarang berdiri kafe-kafe yang selain menyediakan minuman beralkohol juga menjadi sarana transaksi seks dengan hotel-hotel kecil di sekitarnya sebagai tempat pemberian layanan.

Tempat-tempat pelacuran terselubung di kawasan jalur kereta api, kolong jembatan dan yang lainnya pun makin ramai.

Meski kebanyakan orang tak menginginkan keberadaannya dan berharap kehidupan berjalan baik tanpanya, namun jalinan mata rantai permintaan dan penawaran jasa seks tak bisa diputus dengan menutup lokalisasi.

“Penutupan lokalisasi ternyata bukan pemecahan yang memadai karena justru membuat transaksi jual beli jasa itu berpencar menyebar ke tempat-tempat lain secara tak terkendali,” kata Baby.

Ia mengatakan, melokalisir kegiatan itu di satu tempat setidaknya memudahkan upaya untuk menjangkau mereka dan pelanggan mereka dengan program-program kesehatan yang komprehensif dan terukur.

“Sekarang, dengan tidak adanya tempat seperti itu sulit menjalankan program kesehatan terkait dengan pengendalian infeksi menular seksual dan HIV,” kata psikolog penyuka lagu “Pria Idaman”–lagu karya Rhoma Irama yang dinyanyikan Rita Sugiarto– itu.

Menteri Kesehatan juga mengatakan bahwa pengaturan lokasi prostitusi merupakan satu dari sedikit pilihan yang bisa diambil untuk menahan laju penyebaran infeksi menular seksual.

“Saya pribadi bukan orang yang pro-pelacuran. Kalau bisa tidak usahlah ada tempat pelacuran di dunia ini, yang terbuka maupun yang ngumpet-ngumpet. Kalau bisa semua orang berpantang melakukan seks sebelum menikah dan semua setia pada pasangannya saja, satu orang….. Tapi bila semua itu tidak mungkin, tidak realistis, maka tolong, biarkan bordil-bordil semi legal itu berdiri,” katanya.

Di samping itu, menurut dia, harus ada aturan ketat yang dijalankan supaya rumah bordil tidak menjadi sarang penyebaran penyakit menular seksual dari pelanggan ke pekerja seks, dari pekerja seks ke pelanggan dan dari pelanggan ke para istri yang setia menunggu di rumah.

“Aturlah! Agar kondom selalu dipakai di tempat ini. Aturlah! Agar ODHA tak muncul di tempat ini. Aturlah! Agar mereka tak berlama-lama di tempat ini. ATURLAH!!” katanya menandaskan.

Dan pada akhirnya pilihan yang ada memang tidak banyak karena menghilangkan profesi ini hampir tidak mungkin bisa dilakukan. Banyak yang bilang usia profesi pelacur hampir setua peradaban manusia. Seperti punya ribuan nyawa, ia selalu bisa hidup kembali.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: