Sekilas Sharm al-Sheikh, Pilihan Mubarak untuk Tinggal


Sumber:
http://cetak.kompas.com/read/2011/02/14/0433261/sekilas.sharm.al-sheikh.pilihan.mubarak.untuk.tinggal

Oleh Musthafa Abd Rahman

Ketika Presiden Tunisia Zine al-Abidine Ben Ali pada 15 Januari lalu hengkang ke Arab Saudi, aktivis Mesir nyinyir. Aktivis itu mengatakan, Ben Ali transit dulu di Sharm al-Sheikh untuk menjemput tamunya, Hosni Mubarak.

Mubarak tak dijemput, tetapi ia benar-benar hengkang ke kota itu, sesuai janjinya untuk hidup dan meninggal di negaranya. Sharm al-Sheikh pun spontan terkenal lagi.

Kota ini sungguh indah dan berada di tepi Laut Merah dengan latar belakang puncak-puncak bukit Gurun Sinai. Kota ini terletak sekitar 700 kilometer di tenggara kota Kairo.

Mantan Menteri Pertahanan Israel Moshe Dayan dibuat mabuk kepayang dengan keindahan kota begitu menginjakkan kakinya di kota itu setelah Israel mencaplok Gurun Sinai pada perang 1967. ”Lebih baik hidup dengan kota Sharm al-Sheikh tanpa damai dengan Mesir daripada melepas kota itu sebagai imbalan berdamai dengan Mesir,” ujar Dayan.

Kota itu dua kali dicaplok Israel. Pertama pada perang Suez tahun 1956 dan dikembalikan kepada Mesir pada tahun 1957. Kota ini dicaplok lagi pada perang Juni 1967 dan dikembalikan kepada Mesir tahun 1982 sesuai dengan kesepakatan damai Camp David tahun 1979.

Muncul gosip di Kairo, ada transaksi antara Mubarak dan Dewan Agung Angkatan Bersenjata Mesir bahwa Mubarak bisa tinggal aman di Sharm al-Sheikh setelah lengser.

Sama seperti Dayan, Mubarak pun sangat kagum dengan kota ini. Selama 10 tahun terakhir, aktivitas Mubarak berada antara Kairo dan Sharm al-Sheikh. Mubarak lebih sering menerima tamu-tamunya di kota ini ketimbang di Kairo.

Kota ini lebih berkarakter sebagai kota turis dan dihuni aneka etnis penduduk, yang berjumlah 40.000 jiwa. Kota itu mendapat perlindungan khusus dari aparat keamanan karena merupakan tambang devisa, termasuk dari wisatawan Israel.

Di kota ini terdapat hotel-hotel kelas dunia, seperti Hyatt Regency, Accor, Marriott, Le Meridien, Four Seasons, Ritz-Carlton, dan Hilton. Tak heran kota ini menjadi kota konferensi.

Gencarnya tekanan asing

Di kota ini, Mubarak akan menikmati sekaligus meratapi nasibnya. Satu hal yang juga dia tak akan lupakan adalah betapa kawan telah turut meninggalkannya.

Tidak sedikit kalangan yang yakin soal campur tangan asing dalam aksi demonstrasi bersejarah di Mesir itu. Campur tangan terutama datang dari AS dan sekutu Mesir sekaligus tetangganya, Israel.

Arab Saudi, pendukung Mubarak selama ini, melontarkan tuduhan bahwa asing turut campur dalam kisruh di Mesir. Pada Kamis pekan lalu Arab Saudi menyebutkan adanya ”intervensi terang-terangan” oleh sejumlah negara asing.

Pada hari yang sama Raja Jordania Abdullah, seperti dilansir surat kabar Inggris, The Times, mengenang ancaman dari Presiden AS Barack Obama bahwa bantuan ke Mesir akan dicabut.

Campur tangan AS juga disuarakan salah seorang menteri senior dalam pemerintahan Mubarak. Menteri Luar Negeri pemerintahan Mubarak, Ahmed Aboul Gheit, mengecam AS yang berulang kali memaksakan kehendaknya atas Mesir.

Menurut Gheit, hal itu terlihat jelas dalam retorika yang digunakan Presiden Obama.

”Ketika menggunakan kata-kata seperti ’cepat’, ’segera’, ’sekarang’, Anda terkesan memaksa Mesir, yang dulu teman dan selalu menjaga hubungan baik dengan AS. Kalian telah memaksakan kehendak kepadanya (Mubarak),” kecam Gheit.

Dalam laporan harian Los Angeles Times disebutkan, Obama memang menaruh perhatian besar dengan terus mengikuti perkembangan.

Setelah pidato Mubarak, Kamis lalu, yang menolak mundur, Obama langsung memanggil Wapres AS Joe Biden beserta pakar hubungan luar negeri ke Ruang Oval, Gedung Putih, untuk mendiskusikan isi pidato itu.

Obama bahkan sampai meminta isi pidato Mubarak diterjemahkan ke dalam bahasa Inggris secara tepat sehingga dia dan stafnya bisa mempelajari dan mencoba mencari tahu isi sebenarnya pidato Mubarak. Selain itu, mereka juga berupaya mencari tahu alasan Mubarak mentransfer kekuasaan kepada wakil presidennya.

Obama kemudian menyiapkan pernyataan resmi untuk menanggapi pidato Mubarak itu setelah meminta saran dari Menteri Pertahanan Robert Gates dan Menteri Luar Negeri Hillary Clinton. Inti pidato Obama, rencana Mubarak tidak ”segera, berarti, dan cepat”.

Secara terang-terangan Obama memang tak pernah meminta Mubarak mundur. Pihak Gedung Putih khawatir pendekatan seperti itu akan menjadi ”senjata makan tuan” bagi AS, terutama jika sampai pihak luar menilai AS memaksakan kehendaknya terhadap Mesir.

Kasus Mesir menjadi pelajaran menarik bagi pemimpin di dunia, yang merasa sebagai sahabat AS. Waspadalah!

(AFP/AP/LA TIMES/DWA)

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: