Menyongsong IPO Garuda


Sumber:
http://suar.okezone.com/read/2011/02/07/279/422022/menyongsong-ipo-garuda

Senin, 7 Februari 2011 –

PERSIAPAN melaksanakan penawaran umum saham perdana (initial public offering/IPO) PT Garuda Indonesia (Garuda) terus dilakukan. Berbagai pihak menunjukkan dukungan besar pada usaha tersebut.

Setelah melakukan roadshow pekan-pekan sebelumnya, penjualan saham Garuda mulai dilakukan sejak pekan lalu dan akan berakhir pekan ini. Pencatatan saham di bursa akan dilakukan 11 Februari 2011 mendatang.

Sebenarnya, seberapa prospektif perusahaan penerbangan ini ke depannya? Garuda mengalami kebangkitan luar biasa dalam beberapa tahun terakhir. Perusahaan penerbangan Indonesia tersebut baru-baru ini memperoleh titel sebagai most improved airline (perusahaan penerbangan yang paling banyak mengalami perbaikan) dari Skytrax, lembaga pengkajian penerbangan udara dunia.

Sebelumnya lembaga yang sama menghadiahi bintang empat bagi perusahaan tersebut, sedikit di bawah Singapore Airlines dan Malaysia Airlines. Yang menarik, lembaga lain yang berbasis di Australia, yaitu Center for Asia Pacific Aviation (CAPA), bahkan mengumumkan hasil survei yang menarik beberapa bulan lalu.

Lembaga tersebut menempatkan Garuda dengan skor tertinggi, di atas 8, mengalahkan Singapore Airlines, Cathay Pacific, Malaysian Airlines, Thai Airways, dan banyak lagi dengan skor yang semuanya di bawah 8. Bahkan membaca lembar penilaian survei tersebut (score sheet), ternyata banyak penumpang yang disurvei mengatakan, Garuda ternyata jauh di atas ekspektasi mereka.

Ada semacam wow effect dalam penilaian tersebut. Adapun Singapore Airlines banyak dinilai oleh responden di bawah ekspektasi mereka. Kita tentu sangat memahami, CAPA, sebagai lembaga independen di Australia, tentu tidak akan mau mengorbankan reputasinya sekadar untuk menyenangkan Garuda. Survei tersebut tentu memiliki integritas yang selayaknya.

Terlepas dari pendapat kita masing-masing mengenai kesahihan survei itu, saya kira kita semua sependapat, kemajuan Garuda memang fenomenal. Di Jakarta Post, saya mengatakan hal itu sebagai no less than miracoulous. Tahun 2010 lalu saya melakukan penerbangan dengan Garuda lebih dari 50 kali. Kalau penerbangan tersebut untuk kepentingan dinas perusahaan, saya menggunakan kelas bisnis. Kalau untuk kepentingan pribadi, saya menggunakan kelas ekonomi.

Oleh karena itu saya bisa memberikan penilaian untuk kedua kelas penerbangan tersebut. Dalam lebih dari 50 penerbangan yang saya lakukan, hampir seluruh tempat duduk kelas ekonomi di berbagai penerbangan umumnya penuh. Kalaupun ada satu dua yang kosong, barangkali karena pembatalan penumpang pada menit-menit terakhir.

Kelas bisnisnya juga sudah semakin padat. Kita bahkan bisa menyaksikan hal ini dengan melihat kepadatan Business Lounge Garuda di Cengkareng maupun di tempat lain meskipun sudah mengalami renovasi dan perluasan beberapa kali. Saya sering memberi gambaran tentang suksesnya Garuda dalam mengembangkan jaringannya dengan menggunakan contoh jalur Jakarta–Pontianak. Saya mengikuti hal ini secara cermat karena sangat sering saya menggunakan jalur tersebut setiap bulannya.

Jika beberapa tahun lalu pesawat yang tersedia adalah Batavia Air, Lion Air, Sriwijaya, dan perusahaan penerbangan lain, sejak dua tahun yang lalu Garuda mulai membuka kembali jalur Jakarta–Pontianak yang sudah beberapa tahun ditutup.

Dimulai dengan satu penerbangan setiap harinya, hanya dalam jangka beberapa bulan, Garuda meningkatkan frekuensi penerbangan menjadi dua kali sehari. Bahkan Garuda juga kembali meningkatkan frekuensi penerbangan menjadi tiga kali sehari dalam satu tahun yang sama. Jelas ini perkembangan tidak main-main. Terlebih lagi, pesawat yang digunakan untuk melayani jalur tersebut semakin besar.

Diawali dengan Boeing 737-500 yang berkapasitas 96 orang, Garuda kemudian meningkatkan kapasitas dengan menggunakan Boeing 737-300 yang kapasitasnya 110 penumpang. Terakhir Garuda bahkan menggunakan Boeing 737-400 dengan kapasitas 136 penumpang.

Pekan lalu saya bahkan menggunakan penerbangan ekstra untuk pulang dari Pontianak ke Jakarta yang mengalami lonjakan penumpang karena perayaan Tahun Baru Imlek dan Cap Go Meh yang sangat ramai di kota tersebut. Meskipun kita tidak bisa mengekstrapolasi perkembangan jalur Jakarta-Pontianak tersebut pada seluruh perkembangan Garuda, saya yakin perkembangan yang mirip juga terjadi di mana-mana.

Jalur Jakarta-Yogyakarta, Jakarta-Semarang, Jakarta-Surabaya, dan Jakarta-Denpasar jelas merupakan contoh jalur gemuk yang sangat sukses mendukung perkembangan Garuda. Bahkan bukan hanya itu.

Baru-baru ini pada saat saya melakukan check in di Bandara Narita, Jepang, untuk melakukan perjalanan ke Jakarta, saya dikagetkan oleh antrean yang sangat panjang bagi penerbangan Garuda jurusan Tokyo-Denpasar. Penumpang yang sebagian besar masyarakat Jepang sangat antusias melakukan check in penerbangan tersebut, sebagian di antaranya membawa alat surfing untuk digunakan di Bali.

Saya juga mengalami menjadi minoritas dalam dua kali penerbangan yang berbeda dari Melbourne dan dari Sydney ke Denpasar di tengah penumpang Australia yang memadati pesawat Airbus 330-300, baik di kelas ekonomi maupun di kelas bisnis dari negara tersebut. Pada akhirnya berbagai pengalaman tersebut tentulah berujung pada kinerja keuangannya.

Dengan suksesnya banyak jalur yang dilalui oleh perusahaan penerbangan tersebut, kita bisa memperkirakan, kinerja keuangan perusahaan tersebut tentu akan mengalami perbaikan. Dalam tiga tahun terakhir ternyata turn-around sudah dialami oleh perusahaan penerbangan tersebut.

Setelah mengalami kerugian yang menumpuk pada tahun-tahun sebelumnya, selama tiga tahun terakhir Garuda membukukan laba lumayan besar. Sementara itu utang perusahaan yang menjadi warisan dari manajemen sebelumnya ternyata mengalami penurunan yang tajam.

Utang dari ECA, perusahaan leasing pesawat dari Eropa untuk pembelian enam buah pesawat Airbus 330-300 yang dibeli tahun 1996, dewasa ini tinggal kurang dari se-paruhnya dari semula di atas USD800 juta sebelumnya.

Perubahan radikal juga terjadi dalam hal peremajaan armada serta penambahan jumlah pesawat. Dewasa ini dengan hampir 50 pesawat Boeing 737-800 serta empat buah pesawat Airbus 330-200 yang baru pada hakikatnya rata-rata umur pesawat sudah menurun menjadi sekira delapan tahun, mendekati Singapore Airlines.

Jika pesawat-pesawat baru yang sudah dipesan,yaitu baik Boeing 737-800,Boeing 777 ER maupun juga Airbus 330-200 mulai kembali berdatangan, Garuda pada akhirnya akan mampu terus meningkatkan kemudaan umur pesawat.

Berbagai pesawat yang baru tersebut akhirnya telah menambah jumlah armada menjadi 86 pesawat saat ini dan akan terus bertambah di bulan-bulan mendatang menjadi sekira lebih dari 150 pesawat pada 2015.

Ke depan, prospek bisnis Garuda rasanya sangat menjanjikan. Kebangkitan kelas menengah Indonesia (yang dewasa ini menurut Asian Development Bank telah mencapai 106 juta orang) serta jumlah masyarakat affluent(di atas kelas menengah) yang menurut perhitungan saya berjumlah sekira 30 juta orang, pada akhirnya akan menjadi konsumen utama perusahaan penerbangan tersebut.

Jumlah orang kaya tersebut akan meningkat dua kali lipat menjadi 60 juta orang pada 2015, sementara kelas menengah di bawahnya juga akan bertambah meskipun sebagian di antaranya mengalami kenaikan kelas menjadi kelas affluent.

Oleh karena itu pilihan Garuda sebagai premium airlines sangat tepat waktunya dengan kebangkitan kelas menengah dan perekonomian Indonesia tersebut. Bravo Garuda. Semoga IPO berjalan sukses.(*)

CYRILLUS HARINOWO HADIWERDOYO
Pengamat Ekonomi

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: