Bakar Diri Bouazizi


Sumber:
http://cetak.kompas.com/read/2011/02/05/02471355/bakar.diri.bouazizi

Budiarto Shambazy

Mohamed Bouazizi drop out dari SMP karena orangtuanya tak mampu membayar uang sekolah. Untuk memperbaiki nasib, mereka pindah ke R’gueb, bekerja di peternakan paman Bouazizi.

Namun, peternakan bangkrut karena menjadi korban pemerasan aparat yang korup. Merasa sia-sia, Bouazizi dan keluarganya akhirnya kembali lagi ke kota asal di Sidi Bouzid, Tunisia tengah.

Ia memutuskan untuk mencoba peruntungan sebagai penjual buah dan sayur dengan modal gerobak dan utang kanan-kiri guna membeli dagangan. Berhubung pedagang kaki lima secara hukum merupakan praktik terlarang, gerobak Bouazizi jadi langganan disita oleh polisi.

Jumat, 17 Desember 2010, pagi, ia tak tahan karena rasa frustrasinya mencapai puncak. Utangnya sudah sekitar Rp 1,7 juta. Ia lalu pergi mengadu kepada gubernur untuk bertanya mengapa polisi belum juga mengembalikan gerobaknya.

Namun, ia malah diusir polisi dari kantor gubernur. Tak ada jalan keluar lagi. Karena itu, Bouazizi mengambil jalan pintas, membeli dua botol terpentin, lalu membakar diri di depan kantor gubernur.

Aksi konyol itu membuat Bouazizi menderita luka bakar parah. Namun, rakyat marah. Sepanjang akhir pekan setelahnya, massa berdemo dan menjarah di Sidi Bouzid, kota yang terletak sekitar 200 kilometer dari ibu kota Tunis.

Cerita pembakaran dan demonstrasi serta penjarahan ini segera menyebar ke seluruh negeri. Perlahan tetapi pasti, rakyat tergerak untuk mempersoalkan tingkat pengangguran yang tinggi dan maraknya korupsi para pejabat.

Rezim Presiden Tunisia Zine al-Abidine Ben Ali berupaya bertahan, antara lain dengan membungkam media massa. Namun, hal itu percuma karena ihwal pembakaran dan penjarahan cepat menyebar melalui ”galaksi internet”, seperti Facebook, blog, dan Twitter.

Ternyata aksi Bouazizi ditiru pula oleh beberapa demonstran di Mesir dan Aljazair karena dianggap efektif untuk memicu revolusi. Cuma kurang dari dua bulan, ”Revolusi Melati” di Tunisia merembet ke sejumlah negara Magribi dan Timur Tengah.

Padahal, kultur membakar diri akibat frustrasi sosial tidaklah dikenal di kedua kawasan itu. Aksi itu lebih sering dilakukan di negara-negara Asia, terutama di kawasan Asia Timur dan Asia Selatan.

Kita, dalam beberapa tahun terakhir, sebenarnya sudah cukup sering tercengang menyaksikan aksi yang mirip. Entah sudah berapa kali terjadi orang miskin meloncat dari gedung tinggi, menjatuhkan diri dari jembatan penyeberangan, atau membakar diri sekeluarga.

Padahal, budaya protes kita tidak sejauh itu. Protes Jawa masih berwatak jinak, misalnya ramai-ramai mendatangi raja dengan cara menjemur (mépé) diri di alun-alun.

Kita lebih kenal amarah politik yang diwarisi oleh budaya Melayu yang lebih mengerikan, yakni ”to run amok” alias mengamuk. Itulah yang terjadi, misalnya, pada 1965-1966 dan 1998.

Memang betul ada yang berargumen apa yang dilakukan Bouazizi merupakan perbuatan orang kurang waras. Betul juga ada pula yang mengingatkan bahwa tindakan bakar diri berlawanan dengan ajaran agama.

Akan tetapi, argumen itu runtuh karena Bouazizi manusia normal yang juga religius. Satu-satunya motivasi ia melakukan aksi nekat itu semata-mata amarah dan putus asa akibat kondisi sosial dan ekonomi yang amat terpuruk.

Bouazizi dan yang lain-lain membakar diri karena ketidakadilan. Dan, ini yang perlu digarisbawahi, para pemimpinlah yang semestinya bertanggung jawab atas apa yang mereka kerjakan.

Kalau bukan para pemimpin yang bertanggung jawab, lalu siapa? Sebab, hanya jajaran pemimpin negara—alias pemerintah dan parlemen yang mengawasi pemerintah serta yudikatif yang mengemban keadilan—yang wajib mengurus rakyat.

Pembakar-pembakar diri bukan pencari sensasi yang haus perhatian dan ingin dikenang sebagai ”pahlawan”. Seperti Bouazizi, mereka sesungguhnya lebih nyaman disebut sebagai ”korban” yang hanya ingin agar rakyat segera ”bangkit”.

Makna dua kata, korban dan bangkit, itulah yang menjadi esensial. Setiap perjuangan memerlukan pengorbanan dahulu demi membangkitkan harapan rakyat agar nasib bangsa menjadi lebih baik.

Tak perlu khawatir proses penularan membakar diri barangkali akan menjalar ke kawasan-kawasan lain. Namun, tolong dicamkan: kita perlu berhati-hati karena apa yang terjadi di Tunisia atau di Mesir bukan tak mungkin merembet ke Indonesia.

Kebetulan, sejumlah negara di dua kawasan Magribi dan Timur Tengah itu diperintah oleh pemimpin yang terlalu lama berkuasa, otoriter, dan korup. Kita wajib memeriksa diri: walau sistem kita demokratis, apakah the ruling elite yang berkuasa saat ini bersikap otoriter dan korup?

Di kutub yang paling ekstrem di kawasan Magribi dan Timur Tengah ada rezim Ben Ali yang 23 tahun memerintah semau-maunya bak mafia mengelola kejahatan terorganisasi. Ya, mafia, kata menyeramkan yang kini telah merasuki dunia politik kita: mafia hukum.

Kejujuran kunci untuk menghindari pecahnya kerusuhan atau revolusi, atau apa pun namanya, yang kini menggejala di kawasan Magribi dan Timur Tengah. Kurang ada manfaat bertahan dengan mengelu-elukan demokrasi kita atau data statistik tentang kemajuan kita.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: