Semangat Harmonisasi


Sumber:
http://cetak.kompas.com/read/2011/02/02/04045613/semangat.harmonisasi

KOMPAS/RENE L PATTIRADJAWANE

China bukan hanya dikenal memiliki kemajuan pembangunan ekonomi dan kemampuan perdagangan terbesar di dunia, melainkan juga tempat berbagai pemikiran, kepercayaan, dan adat istiadat terbesar di dunia. Dari Konfusius yang lahir di Qufu, Provinsi Shandong.

Rene L Pattiradjawane

Z i yue: ”Xue er bu si ze wang, si er bu xue ze dai” Konghucu berkata: ”Belajar tanpa berpikir adalah membuang tenaga, berpikir tanpa belajar adalah berbahaya.” Ini adalah gambaran yang menunjukkan bagaimana bangsa China dengan peradaban ribuan tahun, penduduk yang besar, dan cadangan devisa masif mendekati 3 triliun dollar AS menghadirkan kekaguman dan ketakutan sekaligus.

Sejak lama China menjadi tema penting yang memberikan banyak kontribusi terhadap kemajuan manusia, mulai dari berbagai penemuan penting yang mengubah jalannya dunia ataupun menghancurkan dunia, seperti penemuan bubuk mesiu. Tidak ada negara bangsa dalam sejarah globalisasi yang bisa mempertahankan pertumbuhan rata-rata 9 persen selama tiga dekade berturut-turut.

Banyak perdebatan, riset, dan upaya untuk mengerti apa yang dilakukan RRC didirikan tahun 1949 berdasarkan paham komunisme melalui Partai Komunis China (PKC) tentang sama rasa sama rata menuju terbentuknya sosialisme. Para neo-liberalis bersikeras melihat pertumbuhan ekonomi hanya mungkin bisa dilakukan melalui sistem mekanisme pasar dan asas universal tentang kebebasan manusia.

Para penguasa di Beijing yang berganti-ganti tampuk pimpinan dalam satu abad sejarah China modern menunjukkan sebaliknya. Pertikaian ideologi dan peradaban menjadi tema sentral yang akan mengisi sejarah modern dunia abad ke-21, mencari bentuk sesuai dan memadai agar bisa diterima dan dihormati siapa saja.

Melihat kemajuan dan pertumbuhan China, kita pun bertanya, ”Salahkah mempunyai semangat kapitalis dalam selimut sosialisme atau apa pun ideologi yang ingin dianut dan tidak sesuai dengan aliran yang dianut seluruh dunia?” Perdebatan ini menjadi penting untuk bisa melihat arah kemajuan dan pertumbuhan China agar kita mampu menjaga keseimbangan yang dinamis menghadirkan pilihan-pilihan bagi menunjang kesejahteraan rakyat kebanyakan, ketertiban dunia, serta hidup berdampingan secara damai.

Penghambat

Kebangkitan China mengingatkan kita pada kebangkitan Jerman, negara besar di kawasan Eropa dengan semangat dan disiplin kerja yang juga menghadirkan kekaguman dan ketakutan yang sama pada permulaan abad ke-20. Jerman menjadi inspirasi bagi pertumbuhan ekonomi dan perdagangan, menjadi kuat dan pemicu terjadinya dua perang dunia.

Jerman yang hancur akibat perang dunia muncul dan bangkit kembali menjadi kekuatan kapitalis seperti negara-negara Eropa lain. Sosiolog Jerman Max Weber dalam bukunya yang terkenal Etika Protestan dan Semangat Kapitalisme, yang terbit pada awal abad ke-20, menjelaskan secara cerdas keterkaitan antara kepercayaan agama dan semangat kapitalisme.

Menurut Weber, doktrin teologi Protestanisme (khususnya Calvinisme) menjadi motivasi yang mendorong semangat kapitalis. Dalam teologia ini, kehidupan di hari nanti hanya diberikan kepada mereka yang terpilih melalui penyesuaian dan identifikasi diri dengan perintah Tuhan. Dalam ajaran Calvin, perintah Tuhan mengharuskan umatnya bekerja keras agar menjadi manusia yang terpilih. Bekerja keras menjadi sebuah panggilan hidup.

Di China, problematika dan kemunculan semangat kapitalis sendiri dalam sejarah modernnya menjadi sesuatu yang selalu diperdebatkan karena Weber sendiri menganggap bawah kepercayaan dan tradisi Asia tidak memiliki semangat dan kerja keras yang ditunjukkan oleh semangat duniawi Calvinisme yang ditopang sikap yang hemat, tekun, dan rajin sebagai ukuran kesuksesan.

Banyak ahli beranggapan kalau asas Konfusianisme yang berada dalam benak kehidupan orang-orang Asia selama ribuan tahun melalui ajaran-ajaran tentang kerja, pendidikan, pahala, dan hemat tak mampu menopang terciptanya masyarakat industri dan modern. Weber melihat ini dalam konteks sejarah China yang panjang ribuan tahun dan melihatnya sebagai penghambat terciptanya semangat kapitalis.

Negara kuat

Weber memang tidak melulu membangun teori sosialismenya hanya pada doktrin teologi Protestanisme, tetapi juga melihat semangat kapitalisme sebagai sebuah formasi latar belakang budaya yang unik di kawasan Eropa sehingga ini sebenarnya yang ikut mendorong pemikirannya yang melihat agama dan kepercayaan Asia, termasuk Konfusianisme, sebagai stagnasi bagi pertumbuhan ekonomi pada abad ke-19 dan 20.

Justru karena alasan ini, sebenarnya kita melihat formasi budaya Asia yang ikut mendorong percepatan pemulihan ekonomi Asia setelah Krisis Keuangan Asia 1998 (bandingkan dengan krisis zona euro sekarang). Di China, prinsip-prinsip kepercayaan dan agama asli, Konfusianisme dan Daosime, sangat percaya pada ikatan kekuatan kekerabatan yang menjadi tiang utama harmonisasi memudahkan saling membantu satu sama lain.

Ada beberapa hal yang sebenarnya bersumber pada asas kepercayaan Konfusianisme dalam membentuk kapitalisme berasaskan sosialisme China sekarang ini, yaitu ditekankannya kebutuhan kepada pemerintahan yang kuat. Menurut kepercayaan Konfusianisme, kalau negara kuat, kekuasaan memiliki kemampuan untuk melakukan campur tangan pada masalah kesejahteraan sosial, memberikan tekanan moral pada masalah pendidikan, dan membangun sistem sosial yang ideal menjaga harmonisasi kehidupan secara keseluruhan.

Berbeda dengan etika Protestanisme yang membangun semangat kapitalis bagi kehidupan setelah mati, Konfusianisme tidak mengenal konsep hidup yang akan datang. Namun, gabungan ikatan harmonisasi kekerabatan China sebenarnya lebih pragmatis dengan melihat pentingnya unsur hubungan antara Tuhan (disebut sebagai tian), orangtua, dan leluhur sebagai trinitas harmonisasi masyarakat dan bernegara.

Dalam konteks ini, kita mengerti bagaimana kedudukan senioritas, seperti yang terjadi di beberapa negara di Asia, mulai dari Jepang, Korea, dan lainnya, menjadi jembatan penting yang menjaga keseimbangan dunia dan akhirat. Melalui kerja dan kemauan yang keras, adat istiadat dan kepercayaan China melihat kapitalisme sebagai jembatan untuk terus-menerus membangun harmonisasi ini.

Semangat harmonisasi ini yang ikut mendorong terciptanya semangat kapitalisme yang berbeda dengan yang muncul di kawasan Eropa pertama kali. Keterkaitan hubungan antarindividu, antarkeluarga, antarmasyarakat, dan antarnegara, yang menjadi pacu penting modernisasi dan reformasi yang menjadi mesin pendorong mekanisme interaksi berbagai kekuatan ekonomi dan perdagangan.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: