Pemerintah Sadar akan Derita Rakyat


Sumber:
http://cetak.kompas.com/read/2011/02/02/04180897/pemerintah.sadar.akan.derita.rakyat

Apakah etos kerja warga menjadi faktor utama di balik kemajuan ekonomi China? Adakah falsafah Konfusius yang mendambakan keharmonisan, kemakmuran bersama, pemerintahan kuat, dan patut menjadi teladan turut berperan? Apa pun namanya, kesadaran Pemerintah China akan derita rakyat adalah faktor terpenting saat memulai reformasi pada tahun 1978.

Tentu etos berperan. ”Di China ini, jika Anda memarahi karyawan karena pekerjaan tidak beres, ia akan merasa bersalah dan memperbaiki diri,” kata Frederic Montier, warga Perancis yang menjabat sebagai direktur umum di perusahaan teknologi informasi milik Perancis, Bull Information Systems, Beijing. ”Karyawan di sini ’gila’ kalau kerja, bisa lembur terus dan tak pulang jika pekerjaan belum tuntas,” kata Montier, yang juga pernah bertugas di Indonesia.

Kombinasi etos dan semangat baja pemerintah untuk membangun sejak almarhum Presiden Deng Xiaoping telah menjadikan China sebagai negara dengan perekonomian terbesar kedua di dunia, bangkit dari status paria ekonomi di era sebelumnya.

China tak banyak mengaitkan program ekonomi dengan falsafah Konfusius. Faktanya, etos dan falsafah Konfusius tak membuat China makmur hingga reformasi ekonomi dimulai tahun 1978. Adalah Deng Xiaoping yang dengan pas menerapkan sistem mekanisme pasar dan membuat sistem itu seperti kerangka yang tepat bagi implementasi etos dan falsafah Konfusius.

”Saat Deng memulai reformasi, tak banyak waktu untuk berpikir panjang, termasuk soal falsafah pembangunan. Fokusnya pada 1978 adalah soal keadaan ekonomi rakyat yang begitu memprihatinkan sehingga memunculkan pemikiran di kalangan pemerintahan, bagaimana rakyat bisa mencapai taraf hidup yang lebih baik,” kata Prof Dr Zha Daojiang dari Universitas Peking di Beijing.

Polemik politik diredam

Fakta lain, ada rasa enggan karena di China pernah ada korban tewas akibat kelaparan sampai 30 juta orang. Ini merupakan buah dari program Lompatan Jauh ke Depan dan awal kehancuran karena mengikis sistem mekanisme pasar, merusak tatanan sosial, memunculkan perseteruan politik. Ini tak sejalan dengan Konfusius yang menekankan keharmonisan.

Lompatan Jauh ke Depan adalah julukan bagi program ekonomi China di bawah Mao Zedong, pendahulu Deng Xiaoping. Program ini mencanangkan perekonomian terencana, peran koperasi, mobilisasi massa dan sumber daya untuk menghasilkan produksi massal sesuai arahan pemerintah, bukan berdasarkan kebutuhan warga, dan kemudian tidak terjual di pasar.

Di era Mao Zedong, walau tetap dihormati sebagai pendiri Partai Komunis, falsafah Konfusius dianggap sebagai pemikiran China kuno dan pernah coba dikikis pada era Revolusi Kebudayaan. Ini adalah era yang sekaligus menenggelamkan kejayaan kaum intelektualisme.

Lompatan Jauh ke Depan, Revolusi Kebudayaan, dan serangkaian perang sipil menyebabkan China tertinggal dari negara-negara di dunia. Warisan konflik politik masa lalu membuat China dipermalukan di tingkat dunia.

Deng kemudian melakukan pendekatan pragmatis. Perseteruan politik antara kubu Mao yang antipasar dan kubu Deng yang propasar diredam. Sepeninggal Mao pada 1976, Deng mulai fokus pada pembangunan ekonomi dan menyingkirkan polemik politik.

Sepeninggal Mao, muncul peringatan bahwa sistem produksi pangan rakyat tak jalan dan ekonomi lumpuh. Hal ini ditambah lagi dengan perkembangan jumlah penduduk yang terus meningkat. Kekhawatiran pemerintah, seberapa kuat pun upaya meredam demonstrasi, jika rakyat tidak makan, ada potensi besar rakyat akan turun ke jalan, seperti terbukti dengan munculnya demonstrasi pada April 1976 juga di Lapangan Tiananmen.

Deng kemudian mengambil tindakan tegas walau berisiko dengan memilih sistem mekanisme pasar tetapi menghindari penggunaan kata kapitalis. ”Kucing hitam atau kucing putih, sepanjang dia bisa menangkap tikus, tetaplah kucing yang berguna,” demikian kalimat Deng yang terkenal.

”Ini anjuran tak langsung agar semua pihak berhenti berbicara dulu soal polemik politik dan lebih fokus pada pengembangan ekonomi,” kata Prof Zha, menuturkan latar belakang politik era 1970-an.

Ucapan ini juga bertujuan meredam polemik keras soal aspek sosialisme dan kapitalisme. Kemudian, dibebaskanlah rakyat menanami lahan sesuai keinginan pasar dan mulai dilepas dari kekangan dan arahan pemerintah produksi pertanian.

Di sebuah lahan kosong di Shenzhen, didirikan sebuah zona ekonomi khusus untuk mereka yang berminat berbisnis sesuai mekanisme pasar. Inilah cikal bakal kedatangan investor asing dan peningkatan produksi pertanian. ”Deng memang merupakan figur kuat dan berpikiran strategis,” kata Prof Dr Xudong Chen dari Universitas Zhejiang. (MON)

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: