Kreativitas dan Inovasi Jadi Modal Utama


Sumber:
http://cetak.kompas.com/read/2011/02/02/04073610/kreativitas.dan.inovasi.jadi.modal.utama

Peristiwa pertunangan keluarga kerajaan Inggris, yakni antara Pangeran William dan Kate Middleton, bulan November 2010, menyedot perhatian dunia. Namun, bagi Zhou Mingwang (31), warga kota Yiwu di Provinsi Zhejiang, berita itu hanyalah berita biasa yang tidak menarik.

Perhatian Zhou Mingwang baru tergugah ketika di layar televisi terlihat cincin pertunangan yang dulu dimiliki ibunda Pangeran William, almarhum Putri Diana. Cincin yang sangat mahal dan indah ini telah membangunkan intuisi bisnisnya. Ia langsung berpikir untuk membuat replika dari cincin itu. Dengan memakai batu zirkonium sebagai pengganti batu blue sapphire berbentuk oval, dan memakai 14 kristal sebagai pengganti berlian, Zhou memasarkan cincin replikanya dengan harga hanya 3 dollar AS.

Dua hari setelah ia mengunggah gambar cincin replikanya di situs perusahaannya, http://www.chinamingwang.cn, Zhou menerima pesanan 10.000 cincin dari seorang importir Inggris. Tidak lama kemudian, belasan importir juga melakukan pemesanan dengan jumlah yang sama. Mereka tidak hanya dari Inggris, tetapi juga dari Australia.

”Ketika pertama kali saya melihat cincin itu, saya yakin cincin itu akan memutar roda bisnis saya,” kata Zhou dalam wawancaranya dengan harian China Daily, 14 Januari 2011.

Apa yang dilakukan oleh Zhou sebenarnya juga dilakukan pengusaha aksesori lain. Namun, Zhou adalah orang pertama yang memiliki ide membuat replika cincin tersebut. ”Salah satu kunci kesuksesan saya adalah berpikir cepat. Saya yang menjadi orang pertama sehingga orang lebih percaya kepada saya,” kata Zhou.

Kreatif dan inovatif

Pertumbuhan ekonomi China yang signifikan memang dipercaya sebagai buah dari stabilitas politik yang mantap. Namun, di balik itu, kreativitas dan inovasi yang mendorong roda perekonomian lebih lancar berputar.

Menurut Imron Cotan, Duta Besar Republik Indonesia untuk China, ada empat nilai utama yang ada dalam kebiasaan hidup warga China. ”Mereka memang orang yang kreatif dan inovatif. Tetapi selain itu, mereka juga rajin, hemat, dan mempunyai disiplin yang tinggi. Bangsa kita juga memiliki keempat nilai itu. Tetapi, di China, keempat nilai-nilai ini seperti mendarah daging dan ditemukan dalam diri setiap warga China, lalu terbawa hingga ke pemerintahan,” kata Imron.

Ia mencontohkan, hampir di semua kota besar di dunia pasti ada china town yang selalu ramai dan sibuk selama 24 jam. Kondisi ini akhirnya diadopsi dunia dan menjadi budaya kerja 24 jam sehari, tujuh hari seminggu. Mereka rajin bekerja apa saja, yang penting menghasilkan uang.

Uang yang mereka hasilkan itu tidak mereka habiskan seketika. Mereka bisa hidup berhemat agar punya tabungan. Memiliki rumah dan mobil pribadi adalah idaman setiap warga China. Mereka tahu harga kedua barang itu mahal sehingga jika mereka tidak hemat, maka mereka tidak bisa memilikinya. Apalagi bagi kaum pria sekarang, tidak akan berani melamar seorang gadis idamannya jika tidak memiliki rumah dan mobil. ”Di sini sudah seperti menjadi kewajiban jika mau melamar gadis harus punya rumah dan mobil. Jarang ada cerita suami istri menabung bersama untuk membeli rumah. Sebelum menikah, setidaknya rumah harus sudah ada,” kata Gandhi Priambodho, warga negara Indonesia yang bekerja sebagai broker properti di Beijing.

Berbeda dengan masyarakat Amerika Serikat, masyarakat China tidak pernah berutang. Jika mereka ingin membeli sesuatu, mereka akan membelinya secara kontan. Tidak pernah ada dalam benak mereka akan membelinya secara kredit. Inilah yang membuat kartu kredit baru bisa masuk ke China beberapa tahun terakhir. Jadi, jika berbelanja di China, terutama di kota-kota kecil, kita harus menyiapkan uang tunai karena banyak toko yang tidak menyediakan mesin kartu kredit.

Mereka sudah menentukan apa yang mereka inginkan kelak, lalu mulai menabung. Seperti yang dilakukan Zhang Xin (45), pemilik properti raksasa Soho di Beijing. Zhang Xin yang kini menjadi 10 orang terkaya di Asia berasal dari keluarga miskin. Perempuan pekerja keras ini telah berhemat sejak berusia 14 tahun agar bisa sekolah ke jenjang yang lebih tinggi. Dia pun bekerja di pabrik pada pagi hari dan sekolah pada malam hari. Ketika dia berhasil mendapatkan beasiswa untuk sekolah di Sussex, Inggris, uang hasil tabungannya itu pun dipakai untuk biaya perjalanan dan biaya hidup di Inggris.

Hemat

Di tingkat pemerintah, kebiasaan berhemat ini bisa dilihat dari cadangan devisa yang mereka miliki. Sekitar 10 tahun lalu, cadangan devisa yang mereka miliki hanya 800 miliar dollar AS. Namun, sekarang, cadangan devisa China mencapai 2,7 triliun dollar AS. Dengan uang sebanyak itu, apa pun bisa mereka beli atau wujudkan.

Untuk mendatangkan uang, mereka tidak hanya mengandalkan bekerja pada orang, tetapi terus berusaha membuka pekerjaan baru. Mereka terus berkreasi dan berinovasi. Perdana Menteri China Wen Jinbao mendorong rakyat China untuk berinovasi, membantu negara mengatasi turunnya perekonomian dunia. ”Kami harus membangun masa depan perekonomian China berdasarkan inovasi,” kata Wen.

China memang saat ini menjadi sorotan dunia karena daya kreasi dan inovasi yang mereka kembangkan bukan untuk menciptakan barang baru, tetapi menjiplak karya orang lain. Mereka hanya melakukan perubahan sedikit atau memakai bahan baku yang lain sehingga tidak bisa dituntut sebagai pencuri hak intelektual orang lain.

Namun, Kasim Ghozali, seorang pengusaha Indonesia yang membuka pabrik pengemasan di Foshan, Guangdong, mengatakan, praktik penjiplakan ini tidak hanya dilakukan oleh China. Amerika, Eropa, Jepang, dan negara-negara maju lainnya juga melakukan hal yang sama dalam sejarah mereka. Amerika Serikat dan Eropa melakukan tindakan-tindakan yang bertentangan dengan hak asasi manusia, seperti perbudakan. Jepang dan Korea Selatan juga menjiplak barang-barang asing dan memproduksinya kembali dengan harga murah. ”Tetapi, ketika ekonomi mereka mulai membaik, banyak warganya yang mengenal pendidikan tinggi, mereka mulai sadar tentang menghargai hak orang lain. Saya yakin China pun sedang menuju ke sana,” kata Kasim.

Apa yang dikatakan Kasim agaknya benar. Ketika Presiden Hu Jintao berkunjung ke Amerika Serikat pertengahan Januari lalu, Hu berjanji akan menegakkan hak intelektual dalam barang-barang produksinya. Hal itu diwujudkan dengan razia-razia yang dilakukan polisi pada toko-toko yang menjual barang palsu di pusat-pusat perbelanjaan di seluruh China. Beberapa toko di pusat perbelanjaan Ya Show di Sanlitun, Beijing, misalnya, terlihat tutup ketika mengetahui akan ada razia polisi. Mereka diketahui menjual barang-barang palsu dari merek-merek terkenal. Karena razia-razia seperti ini mulai banyak dilakukan oleh polisi, para pedagang pun akhirnya perlahan-lahan memilih untuk mengganti merek palsu mereka dengan merek mereka sendiri dengan kualitas yang lebih baik. Kemampuan ekonomi yang semakin tinggi telah mengubah perilaku konsumen. Mereka memilih mengeluarkan uang untuk barang yang bermutu, bukan yang murah.

China yang semula tidak mengeluarkan banyak modal untuk riset sehingga membuat barang produksinya murah, kini mulai berani mengeluarkan modal untuk itu. Mereka melihat jauh ke depan bahwa riset akan membuat produksi mereka bagus dan lebih menguntungkan di kemudian hari.

China juga berani menginvestasikan 34 miliar dollar AS untuk melakukan riset mendapatkan energi yang terbarukan. Saat ini, 40 persen energi yang tidak terbarukan di dunia dikonsumsi oleh China. China bertekad 25-50 tahun ke depan mereka tidak lagi menggunakan energi yang tidak terbarukan.

Kebijakan ini menunjukkan China sedang berusaha untuk menghapus kesan penjiplak dari diri mereka. Perlahan namun pasti, mereka akan membangun ekonomi mereka berdasarkan kreativitas dan inovasi yang bisa muncul dari berbagai macam peristiwa yang mereka hadapi. (ARN)

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: