China Berupaya Pertahankan Pencapaiannya


Sumber:
http://cetak.kompas.com/read/2011/02/02/04025810/china.berupaya.pertahankan.pencapaiannya

Setelah mengalami pertumbuhan ekonomi selama tiga dekade, pada paruh pertama tahun 2010, China melewati Jepang dan menjadi kekuatan ekonomi terbesar kedua di dunia, di belakang Amerika Serikat.

Pengakuan itu datang pada 15 Agustus 2010 ketika Tokyo mengumumkan bahwa ekonomi Jepang mencapai 1,28 triliun dollar AS pada paruh pertama tahun 2010, sedikit di bawah China yang mencapai 1,33 triliun dollar AS. Ekonomi Jepang pada paruh pertama tahun 2010 bertumbuh 0,4 persen, kata Tokyo, sangat jauh di bawah yang diperkirakan semula. Lemahnya pertumbuhan ekonomi Jepang dalam tahun 2010 menjadikan China dengan cepat meninggalkan Jepang di belakang.

Bahkan, para pakar menyatakan, setelah menyingkirkan Jepang dari posisi kekuatan ekonomi terbesar kedua di dunia—dan sebelumnya juga melewati Jerman, Perancis, dan Inggris—jika China dapat terus mempertahankan tingkat pertumbuhan ekonominya, bukan tidak mungkin pada tahun 2030 negara itu juga akan melewati Amerika Serikat dan menjadi kekuatan ekonomi terbesar nomor satu di dunia. Produk domestik kotor Amerika Serikat sekitar 14 triliun dollar AS pada tahun 2009.

Keberhasilan itu tidak membuat China terlena atau berpuas diri.

China sepenuhnya menyadari bahwa meraih suatu pencapaian yang tinggi itu sulit, tetapi jauh lebih sulit lagi mempertahankan pencapaian itu. Itu sebabnya, negara yang berpenduduk 1,3 miliar orang itu tetap melakukan berbagai upaya agar dapat mempertahankan laju tingkat pertumbuhan ekonominya pada tingkat yang sama. Misalnya, China menyiapkan sarana dan prasarana agar tingkat pertumbuhan ekonomi yang tinggi tetap dapat berlangsung. Pertumbuhan ekonomi dua digit itu diperlukan China untuk menyerap angkatan kerja baru yang mencapai 10 juta orang setiap tahun. Saat ini, walaupun China telah menahan laju pertumbuhan ekonominya, diperkirakan laju pertumbuhan ekonominya sekitar 10 persen.

Meskipun demikian, China tetap menjaga agar laju tingkat pertumbuhan ekonomi itu tidak sampai terlalu panas (overheat). Pemerintah China pun berupaya keras untuk menekan laju inflasi. Awal Januari lalu, Perdana Menteri China Wen Jiabao menyatakan, pemerintah akan mampu mengendalikan laju inflasi. Pernyataan itu dikeluarkannya setelah bank sentral menaikkan suku bunga untuk kedua kalinya dalam waktu dua bulan.

Wang Tao, seorang ekonom di USB di Beijing, kepada BBCNews mengatakan, China masih merupakan negara berkembang karena itu masih memiliki ruang yang sangat luas untuk berkembang.

China juga berupaya keras meningkatkan daya beli masyarakat dengan menciptakan lapangan kerja baru secara memadai. Tanpa daya beli masyarakat yang besar, perkembangan ekonomi tidak dapat didorong.

Berbeda dengan generasi tua China yang lebih suka menyimpan uangnya daripada membelanjakannya, kini muncul generasi baru yang kaya, yang sangat gemar membelanjakan uangnya. Suatu survei menunjukkan bahwa separuh dari orang-orang kaya di China, yang memiliki aset di atas 10 juta yuan, membelanjakan uangnya sebesar 1 juta hingga 3 juta yuan per tahun (1 juta yuan setara dengan 151.000 dollar AS).

Untuk mendapatkan gambaran tentang daya beli masyarakat China, angka penjualan mobil di China pada tahun 2010 dapat dijadikan salah satu ukuran. Pada tahun 2010, penjualan mobil secara menyeluruh di China mencapai angka 18,06 juta unit. Sementara Indonesia pada tahun yang sama hanya menjual 764.710 unit.

Jumlah penduduk China 1,35 miliar orang atau lebih dari lima kali jumlah penduduk Indonesia yang berjumlah 230 juta orang. Namun, jumlah pembelian mobil di China lebih dari 18 kali lipat jumlah pembelian mobil di Indonesia.

Pembangunan secara besar-besaran terlihat di mana-mana. Tidak hanya di Beijing dan Shanghai, tetapi juga di kota-kota lain. Pada tahun 2025, China akan mempunyai delapan kota raksasa yang lengkap dengan sarana dan prasarananya, yakni Beijing, Shanghai, Chengdu, Chongqing, Guangzhou, Shenzhen, Tianjin, dan Wuhan. Dan, diperkirakan tiap-tiap kota akan memiliki penduduk sekitar 10 juta orang atau lebih banyak.

Sebuah perusahaan konsultan manajemen internasional, McKinsey & Co, memperkirakan, lebih dari 325 juta orang akan berurbanisasi ke kota-kota dalam kurang dari satu generasi.

Dan, itu dapat menimbulkan persoalan yang sangat serius. Program Keluarga Berencana yang hanya membolehkan sebuah keluarga memiliki satu anak membuat China akan kekurangan tenaga kerja muda untuk menggantikan tenaga kerja yang sudah ada, yang usianya akan semakin tua. Dengan tidak seimbangnya jumlah tenaga kerja yang tua dengan tenaga kerja yang muda, sistem jaminan sosial sulit dikembangkan.

Persoalan besar lain yang dihadapi China adalah korupsi yang merajalela. Namun, Pemerintah China secara aktif melalukan berbagai cara untuk memberantasnya, mulai dari mencegah peluang terjadinya tindak korupsi sampai menindak tegas pelaku korupsi tanpa pandang bulu. Pemerintah China dari bulan Januari hingga November 2010 telah menghukum 113.000 pejabat karena melakukan tindak korupsi.

Persoalan lain yang juga harus dihadapi adalah China juga dianggap sebagai salah satu negara yang memiliki tingkat pencemaran udara yang tertinggi di dunia. Pada tahun 2006, China melampaui Amerika Serikat sebagai negara yang melepaskan gas rumah kaca terbesar di dunia. Sejak saat itu, China berupaya keras menekan agar tingkat pencemaran udara itu seminimal mungkin. Bahkan, China berjanji, pada akhir tahun 2010 tingkat pencemaran udara akan berkurang hingga 20 persen dibandingkan dengan tingkat pencemaran udara pada tahun 2006.

China menggunakan penyelenggaraan Olimpiade Beijing pada tahun 2008 sebagai momentum untuk membuat udara di Beijing dan kota-kota sekitarnya menjadi ”bersih” sehingga ”layak” dipergunakan sebagai ajang penyelenggaraan kegiatan olahraga yang terbesar sejagat itu. Akan tetapi, kini, setelah Olimpiade Beijing berlangsung dengan sukses, ada kekhawatiran, terutama pada aktivis lingkungan hidup, bahwa komitmen China untuk menekan pencemaran udara akan berkurang.

Walaupun ekonomi China hanya sepertiga ukuran ekonomi Amerika Serikat, dalam tahun 2010, China melampaui Amerika Serikat sebagai pasar bagi kendaraan penumpang yang terbesar di dunia. Tahun lalu, China juga melewati Jerman dan menjadi negara pengekspor terbesar di dunia.

Pada saat Amerika Serikat dan Uni Eropa berjuang keras untuk tumbuh di tengah-tengah krisis ekonomi yang terburuk dalam beberapa dekade terakhir, perekonomian China terus meningkat dengan berinvestasi secara besar-besaran dalam pembangunan infrastruktur dan memberikan paket stimulus sebesar 586 miliar dollar AS.

China pun mengalami persoalan karena kebijakan terhadap nilai tukar mata uangnya, yuan atau renminbi, yang dianggap terlalu rendah untuk mendorong ekspornya sehingga mengalami surplus dalam neraca perdagangannya dengan Amerika Serikat, Uni Eropa, dan negara- negara lain. Meskipun China berkeras bahwa ia telah mereformasi nilai mata uangnya.

Pemerintahan yang kuat dan stabil

Jiwa wiraswasta, latar belakang budaya, iklim yang keras, serta sistem pemerintahan yang kuat dan stabil merupakan dasar utama yang menjamin kemajuan China. Dengan adanya sistem pemerintahan komunis yang terpusat, penyelenggaraan pemerintahan berlangsung aman dan stabil. Partai Komunis China dengan mesin politbironya masih berfungsi dengan kuat, tetapi paham komunis yang mendasarinya telah jauh ditinggalkan.

Dengan jumlah penduduk sebanyak 1,3 miliar orang, pemerintah tidak dapat membiarkan terjadinya tindakan anarki. Kalau sampai tindakan anarki terjadi di China, tidak bisa dibayangkan akibat yang ditimbulkannya.

Liu Shinan, kolumnis surat kabar berbahasa Inggris, China Daily, tetap berpegang pada pendapatnya bahwa stabilitas menjadi kata kunci dari kemajuan yang dicapai China. Pemerintahan yang stabil dan ketertiban yang terjaga membuat investor asing berlomba-lomba menanamkan modalnya di China. Dan, pembangunan pun dapat selesai sesuai waktu yang ditentukan.

Jiwa wiraswasta penduduk China pun cukup tangguh. Pembangunan gedung-gedung pencakar langit untuk perkantoran, apartemen, dan pertokoan tidak membuat pengusaha kecil atau pengusaha rumahan mati. Walaupun mereka tidak diperkenankan membangun bedeng, atau membawa gerobak dorong, untuk menjual makanan dan minuman di kawasan gedung-gedung pencakar langit itu, tidak menjadikan mereka hilang akal.

Mereka tetap dapat melayani kebutuhan makan dan minum karyawan-karyawan rendahan dengan mengantar makanan dan minuman dalam bento pada jam makan siang. Biasanya di dekat gedung-gedung pencakar langit itu ada satu atau dua orang yang berdiri menunggu makanan dan minuman yang diantar oleh perusahaan katering rumahan dengan sepeda, sepeda bermotor listrik, dan skuter matik, atau sepeda motor biasa. Setelah makanan dan minuman terkumpul, barulah makanan dan minuman diantarkan kepada pemesannya.

Yang luar biasa adalah suhu udara 7 derajat celsius di bawah nol pada musim dingin tidak menghentikan layanan antar makanan dan minuman tersebut. Di tengah-tengah terpaan suhu udara yang sangat dingin itu, layanan antar makanan dan minuman itu tetap berlangsung seperti biasa. Satu atau dua orang yang berdiri menunggu di tengah suhu 2-7 derajat celsius di bawah nol itu, seperti tengah merokok. Asap putih tebal keluar dari hidung atau mulut mereka ketika tengah bercakap-cakap.

Memang di kawasan gedung-gedung pencakar langit itu banyak terdapat restoran, termasuk McDonalds, Burger King, dan Kentucky. Namun, harga makanan yang secara relatif mahal bagi karyawan rendahan membuat layanan antar makanan dan minuman tetap menjadi pilihan yang menarik.

Yang menarik, penggunaan internet di China tidak hanya terbatas pada masyarakat perkotaan. Masyarakat di pedesaan pun mulai menggunakannya. Tercatat ada sekitar 457 juta orang yang menggunakan internet pada saat ini. Itu sebabnya, e-commerce, atau berjualan melalui internet, tidak hanya dilakukan oleh orang-orang kota, tetapi juga oleh orang-orang desa. Di Provinsi Jiangsu, bagian timur China, sebuah kampung telah memperkaya dirinya dengan berjualan melalui internet. Di sana tinggal lebih dari 1.000 rumah tangga, dengan 400 rumah tangga di antaranya mengelola bisnis mebel secara online. Bisnis yang dipimpin oleh Sha Qing (30 tahun) itu mempunyai penghasilan sebesar 300 juta yuan (sekitar Rp 450 miliar) per tahun.

Lokomotif ekonomi China yang melaju dengan cepat itu menarik gerbong-gerbong yang panjang di belakangnya. Namun, gerak maju yang cepat itu tak urung membuat tidak sedikit yang tidak dapat mengejarnya dan tertinggal di belakang. Data pemerintah menyebutkan, setidaknya 26,1 juta orang hidup di bawah garis kemiskinan. Kesenjangan antara kelompok yang kaya dan yang miskin itu berpotensi menimbulkan persoalan sosial dan ekonomi, yang tidak jarang bermuara pada aksi unjuk rasa. Namun, pemerintah secara tegas membungkam unjuk rasa, bahkan tidak jarang dilakukan dengan kekerasan.

Namun, tidak berarti pemerintah duduk diam berpangku tangan dalam upaya mengatasi kemiskinan. Selain membuka kesempatan kerja yang seluas-luasnya, pemerintah pun berupaya mengurangi beban yang harus ditanggung oleh orang-orang berpenghasilan rendah. (JL)

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: