Ada Tekanan untuk Bangun Rumah Murah


Sumber:
http://cetak.kompas.com/read/2011/02/02/04101226/ada.tekanan.untuk.bangun.rumah.murah

KOMPAS/M CLARA WRESTI

China—negara dengan jumlah penduduk terbesar di dunia, sekitar 1,35 miliar jiwa—saat ini menghadapi tekanan untuk melakukan perbaikan dalam undang-undang perumahan mereka. Tekanan ini muncul karena beberapa orang kehilangan nyawanya saat proses relokasi penduduk dilakukan.

Persoalan perumahan menyeruak, terutama di kota-kota besar, di mana arus urbanisasi sangat deras mengalir dari desa ke kota. Pemerintah kota harus menyediakan rumah-rumah murah yang terjangkau agar tidak ada warga yang tinggal di jalanan atau di kolong jembatan. Perumahan kemudian ditata sesuai dengan perencanaan kota yang dikontrol langsung oleh pemerintah pusat dan Partai Komunis China.

Awalnya, tidak terlihat akan muncul persoalan, mengingat tidak ada seorang warga negara pun yang bisa memiliki tanah. Seluruh tanah di daratan China dikuasai negara. Warga hanya boleh menyewa dan mendirikan bangunan di atasnya selama 70 tahun. Jika sudah 70 tahun, maka akan dilihat lagi oleh pemerintah, apakah penyewa lama boleh menyewa kembali atau tidak. Salah satu kebijakan yang diterapkan pemerintah, setiap keluarga hanya boleh memiliki satu rumah. Apabila dia mempunyai lebih dari satu rumah karena warisan dari orangtua, maka rumah warisan itu akan dilihat ulang oleh pemerintah saat masa sewa 70 tahun habis.

Pembatasan kepemilikan rumah perlu dilakukan mengingat jumlah penduduk yang sangat banyak dan memiliki rumah sendiri adalah cita-cita utama bagi setiap penduduk China.

Seiring dengan pembangunan dan penataan kota, banyak rumah di Beijing, misalnya, tidak sesuai lagi dengan penataan kota, maka rumah-rumah itu akan dibongkar.

Pembongkaran rumah di kota-kota besar seperti Beijing dan Shanghai memang terus terjadi. Di Beijing, rumah- rumah tradisional yang disebut hutong kini nyaris hilang. Hutong dikenal juga sebagai siheyuan, merupakan sebuah halaman yang dikelilingi empat ruang di keempat sisinya. Kini beberapa hutong dibiarkan oleh pemerintah, bahkan dipercantik, untuk menarik para turis. Hutong-hutong itu kini sudah berubah menjadi motel, kafe, dan juga toko-toko.

Dahulu, hutong ditempati oleh satu keluarga. Namun, kini, hutong bisa ditempati oleh 6-8 keluarga dengan jumlah penghuni lebih dari 30 orang. Mereka biasanya adalah kaum migran yang datang dari kampung halaman yang sama. Dengan tinggal di sebuah ruangan yang luasnya hanya 12 meter persegi, mereka harus mengeluarkan meja makan setiap malam agar ada tempat yang cukup luas untuk tidur. Mempunyai kehidupan pribadi agaknya sulit diwujudkan.

Kini, ketika pemerintah mengumumkan akan merobohkan hutong dan menggantinya dengan bangunan-bangunan baru vertikal, dalam rangka penataan kota, warga hutong tidak bisa berbuat banyak. Mereka harus siap, dari yang tadinya tinggal di bangunan yang menempel di tanah, kini harus pindah ke apartemen yang vertikal ke atas.

Di satu sisi, mereka sangat antusias mengingat mereka akan menempati rumah baru yang lebih nyaman, lebih lega, akan membeli perabotan baru, menikmati penghangat ruangan yang diatur secara sentral, dan tentunya dengan kamar mandi di dalam rumah. Namun, di sisi lain, mereka merasa berat karena banyak kenangan telah terukir di rumah lama mereka. Tidak ada lagi canda ria, tegur sapa antartetangga yang setiap hari mereka alami. Para tamu dengan mudah mampir dan mengetuk pintu lalu berbincang-bincang dengan dihangati pemanas ruangan dari batu bara.

Walaupun tanah adalah milik pemerintah sepenuhnya, tetapi untuk merelokasi penghuni hutong pemerintah memberikan uang pengganti yang cukup untuk menyewa rumah di tempat yang baru, berikut biaya kepindahan dan segala kebutuhan warga.

Belum mulus

Namun, apa yang dilakukan pemerintah agaknya belum bisa berjalan mulus sepenuhnya. Beberapa ketegangan terjadi saat proses relokasi, bahkan hingga menimbulkan korban jiwa. Hal itu disebabkan karena beberapa warga mempunyai perhitungan sendiri yang tidak sesuai dengan perhitungan yang dipakai pemerintah.

Meng Zhaofeng, warga distrik Chaoyang, Beijing, saat ini sedang berhadapan dengan Beijing Gonglian Company, perusahaan yang mendapat tugas melakukan pembongkaran. Meng menolak dipindahkan karena perhitungan uang pengganti yang diberikan tidak sesuai dengan yang diharapkan Meng.

Perempuan yang tidak lagi bisa berjalan akibat penyakit diabetes ini meminta uang pengganti sebesar 40.000 yuan (Rp 52 juta) per meter persegi, sementara pemerintah hanya memberikan 10.000 yuan (Rp 13 juta) per meter persegi. ”Saya akan berjuang hingga mendapatkan uang yang sesuai hinga saya mati,” kata Meng Zhaofeng kepada China Daily, 13 Januari 2011.

Dalam surat pemberitahuan pembongkaran, perusahaan akan membayar Meng sebesar 985.000 yuan (Rp 1,28 miliar) dan uang tambahan sebesar 920.000 yuan (Rp 1,196 miliar). Totalnya, Meng akan menerima dua juta yuan (Rp 2,6 miliar) untuk rumahnya yang seluas 180 meter persegi. Harga rumah Meng termasuk tinggi karena termasuk di tengah kota dan letaknya hanya tujuh kilometer dari pusat bisnis kota.

Selain itu, Meng juga mendapat prioritas untuk membeli rumah seharga 7.600 yuan (Rp 9,88 juta) per meter persegi. Dan, jika ia tidak mau mengambil hak prioritas itu, Meng akan mendapat kompensasi sebesar 1 juta yuan (Rp 1,3 miliar).

Meng menolak menerima seluruh kompensasi yang ditawarkan karena harga pasaran di kawasan Chaoyang adalah 30.000 yuan (Rp 39 juta) per meter persegi. Selain itu, untuk membiayai hidup dan mengobati sakitnya selama ini, Meng mendapatkan uang dari menyewakan separuh rumahnya untuk toko. Jika ia pindah ke rumah baru, yang vertikal, ia akan kehilangan satu-satunya sumber pendapatannya. Rumah Meng kini satu-satunya bangunan yang tertinggal di Jalan Raya Chaoyang yang sedang dalam proyek pelebaran jalan.

Ketegangan akibat pembongkaran rumah juga ditemui di tempat-tempat lain. Sepanjang tahun 2010 setidaknya terjadi enam kali ketegangan berkaitan dengan pembongkaran rumah dan relokasi warga. Ketegangan itu antara lain terjadi pada bulan Maret ketika seorang perempuan tua di Wuhan, ibu kota Provinsi Hubei, terkubur hidup-hidup saat mencoba mempertahankan rumahnya dari pembongkaran.

Di bulan yang sama, Tao Huixi (68) dan ayahnya (92) nekat membakar diri mereka karena pemerintah membongkar peternakan babi milik mereka di Lianyungang, Provinsi Jiangsu. Tao tewas dalam aksi bakar diri itu.

Pada bulan Juni, Liu Danao menabrakkan truk yang dikemudikannya ke arah petugas pembongkaran rumahnya di Zhengzhou, Henan. Empat orang tewas dalam kejadian itu dan 16 orang luka-luka.

Sebuah ledakan gas yang terjadi di Kunming, Provinsi Yunnan, pada bulan Agustus diduga dilakukan oleh penghuni kawasan. Gas diledakkan saat petugas pembongkaran sedang mencoba membujuk warga untuk pindah dari rumahnya. Sepuluh orang tercatat mengalami luka akibat ledakan itu.

Sementara itu, Meng Jianwei hingga kini masih berduka karena kehilangan ayahnya yang protes akibat pembongkaran rumah di Taiyuan, Shanxi, Oktober lalu. Ayahnya, Meng Fugui, dipukul hingga tewas oleh petugas pembongkaran. Beberapa warga yang ikut protes juga mengalami luka-luka.

Akibat ketegangan dan kekerasan yang terjadi pada saat pembongkaran, desakan masyarakat kepada pemerintah untuk merevisi Undang-Undang Properti China tahun 2007 meningkat. Masyarakat menilai, bagian yang mengatur pembongkaran rumah harus diperbaiki agar tidak menimbulkan konflik sosial.

Wang Xixin, salah seorang profesor hukum di Universitas Beijing, mengingatkan, ”Jika tidak ada perubahan, maka konflik akan terus terjadi dan akhirnya akan menelan biaya sosial yang sangat tinggi,” kata Wang.

Wang mengakui, tidak ada yang bisa membuat keputusan yang menyenangkan semua pihak. Namun, ia berharap adanya ruang terbuka untuk dialog dan kerja sama antarwarga dengan negara sehingga terjadi reformasi yang lebih baik. (ARN)

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: