Selama Sungai Nil Masih Mengalir…


Sumber:
http://cetak.kompas.com/read/2011/02/02/03131546/selama.sungai.nil.masih.mengalir…

TRIAS KUNCAHYONO
E-mail: ias@kompas.co.id SMS: 081802-KOMP

Suatu malam, dua tahun silam, kami menikmati tari perut di atas kapal Imperial yang mengapung dan melayari Sungai Nil. Sambil makan dan minum, kami berdua menikmati tarian yang begitu menarik dan begitu atraktif itu.

Imperial hanyalah satu dari sekian banyak kapal yang menjadi restoran terapung di sungai terpanjang di dunia itu. Masih ada lagi, misalnya, Al Saraya dan Lepacha 21.

Itulah salah satu jualan dunia wisata Mesir, selain piramid atau Khan El-Khalili, yakni pasar berbagai ragam cendera mata kerajinan khas Mesir, meski sekarang banyak barang kerajinan yang dijual di pasar yang didirikan tahun 1382 itu dibuat China.

Apakah suasana yang menyenangkan di sepanjang Sungai Nil itu masih bisa kita temui sekarang ini, ketika Kairo dan sejumlah kota di negeri yang kini dilanda huru-hara tersebut diwarnai perlawanan rakyat? Barangkali hiburan menyenangkan itu untuk sementara tutup. Siapa yang mau menengok atau melirik pada kapal, misalnya Imperial, Al Saraya, atau Lepacha 21, saat ribuan orang berkumpul di Alun-Alun Pembebasan atau Tahrir Square di pusat kota Kairo. Ribuan orang itu berteriak-teriak, bertekad, dan bahkan bersumpah baru akan membubarkan diri kalau Presiden Hosni Mubarak sudah mengundurkan diri. Dan, Mubarak hingga saat ini masih begitu erat memegangi tongkat kepemimpinannya dan masih lekat-lekat duduk di kursi kekuasaannya.

”Saya rasa Mubarak tidak belajar apa-apa dari kasus yang terjadi di Tunisia,” komentar Musthapha Kamel El Sayyid, profesor politik dari American University di Kairo, Mesir, seperti dikutip The Christian Science Monitor – CSMonitor. com edisi Senin (31/1).

Komentar Sayyid itu tidaklah mengada-ada. Kasus tersingkirnya Zine al-Abidine Ben Ali, Presiden Tunisia, menjadi semacam textbook bagi para pemimpin negara lain di Timur Tengah agar tidak tersingkir. Namun sayangnya, masih menurut Sayyid, Mubarak salah mengambil buku. Ia mengambil buku mainan.

Padahal, revolusi di Tunisia ibarat ”wake up call” bagi Dunia Arab dan juga Barat. Gerald F Seib dalam tulisannya di The Wall Street Journal (1/2), memberikan tambahan catatan.

Selama enam dekade terakhir, sejarah Timur Tengah secara kasar dapat dibagi menjadi tiga fase. Pertama, Revolusi 1952 pimpinan Gamal Abdel Nasser di Mesir; Kedua, kekalahan Dunia Arab dalam Perang 1967 melawan Israel; Ketiga, Revolusi Islam 1979 di Iran.

Kini, Timur Tengah akan memasuki ”fase keempat”, yakni ”revolusi rakyat” di Mesir. Namun, apakah ”reformasi” politik di Mesir—jika pada akhirnya berhasil—akan berdampak positif atau negatif terhadap Dunia Arab, itu tergantung pada akhir dari huru-hara di Mesir saat ini.

Apakah, huru-hara akan berakhir dengan tumbangnya Mubarak dan ia terpaksa meninggalkan negerinya? Apakah ia segera menggelar pemilu yang bebas, terbuka, serta jujur? Dan, bagaimanakah sikap militer? Semua itu mempunyai dampak yang berbeda-beda bagi Timur Tengah. Apa pun yang akan mengisi lembaran pergolakan rakyat kali ini tetap akan memengaruhi Dunia Arab. Dan, tentu saja akan berpengaruh terhadap kebijakan luar negeri Amerika Serikat terhadap Mesir dan Timur Tengah secara umum.

Sejumlah negara Arab kini mengikuti setiap perkembangan dengan cermat. Sebut saja, Suriah, Libya, Yaman, Jordania, dan bahkan juga Arab Saudi. Suriah sudah mempersiapkan diri. Presiden Suriah Bashar al-Assad yang mewarisi kekuasaan ayahnya, Hafez al-Assad, yang berkuasa selama tiga dekade di Suriah, mengatakan bahwa ia akan mendorong terus reformasi politik. Para penguasa Arab, menurut Bashar, harus lebih akomodatif terhadap aspirasi politik dan ekonomi rakyatnya. Suksesi model Suriah itu juga akan dilakukan—jika tidak terjadi apa-apa—oleh Libya.

Sebenarnya Mubarak juga akan mewariskan kekuasaannya kepada Gamal, anaknya, lewat pemilihan umum September mendatang. Meskipun demikian, pencalonan Gamal bukan tanpa rintangan. Yang pertama tentu dari kalangan militer, terutama karena dia bukan militer, melainkan hanya anak militer.

Sikap militer sebenarnya sudah terlihat dengan keputusan mereka tidak akan menggunakan kekerasan terhadap para demonstran. Ini berarti bertentangan dengan keinginan Mubarak untuk menghadapi secara tegas para demonstran. Sikap militer ini bisa menjadi energi mematangkan situasi.

Kini, Mesir memasuki tahap-tahap kritis yang akan menjadi fase keempat sejarah Timur Tengah pada zaman modern. Namun, selama Sungai Nil masih mengalir, segala hal bisa terjadi.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: