Antara Davos dan Cianjur


Sumber:
http://cetak.kompas.com/read/2011/01/29/0347551/antara.davos.dan.cianjur

Oleh Arif Budimanta

Davos adalah satu kota di Swiss yang pada musim dingin sangat terkenal dengan resor-resor ski mewah dan pemandangan Pegunungan Alpen yang indah. Swiss adalah salah satu pusat keuangan dunia, negara yang sangat terkenal dengan cokelatnya di Indonesia. Padahal, cokelat tidak bisa dibudidayakan di Swiss.

Di Davos para pemimpin ekonomi dunia, baik yang dari pemerintah maupun swasta, berkumpul untuk saling menukar gagasan, informasi, ataupun pengalaman agar pertumbuhan ekonomi dunia jadi lebih baik. Tentu saja pertumbuhan ataupun keadilan ekonomi menurut para pihak yang sekarang merasa pertumbuhannya melambat, seperti Amerika Serikat, Inggris, dan beberapa negara di Eropa. Para pemimpin itu berkumpul dalam Forum Ekonomi Dunia, sebuah forum nonpemerintah yang dibangun atas inisiatif swasta.

Di Cianjur, Jawa Barat, para pemimpin lokal berkumpul, menukar gagasan dan keluhan tentang anggaran pembangunan desa yang minim, balai desa yang rusak, panen padi yang terancam gagal, susahnya mengakses kredit usaha rakyat, dan jalanan desa yang puluhan tahun belum beraspal. Semua masalah sama seperti ketika saya masih kuliah kerja nyata 20 tahun lalu. Forum desa ini hanyalah forum pertemuan biasa dengan bahasan masalah-masalah biasa.

Daniel Hoffman (2011), ekonom Zurich Financial Services Group, dalam laporannya mengenai krisis keuangan dunia mengatakan, pertumbuhan ekonomi menciptakan kesenjangan sosial dengan semakin banyak orang miskin dan semakin banyak orang sukses. Kesenjangan sosial dapat menyebabkan pergolakan sosial dan gagalnya pemerintahan global. Ini karena munculnya kembali nasionalisme, populisme, dan kelas sosial dalam masyarakat.

Ketimpangan antara Davosdan Cianjur adalah realitas yang terjadi saat ini. Cianjur dengan petani padinya paling juga secara tidak langsung menjadi konsumen neto dari produk pertumbuhan ekonomi dunia yang diproduksi oleh 1.000 pemimpin perusahaan sedunia. Merekalah yang kini berkumpul di Davos membahas ekonomi dunia.

Norma dan realitas

Pertemuan kali ini mengusung tema ”Shared Norms for the New Reality”. Pertanyaan bagi kita semua adalah realitas baru seperti apa yang dihadapi oleh para pemimpin perusahaan dunia tersebut dan norma-norma seperti apa yang hendak digagas dan dikomunikasikan.

Ekonomi dunia saat ini mengalami perlambatan pertumbuhan dan dibayangi oleh krisis ekonomi. Keadaan ini terutama terjadi pada negara-negara yang mapan, seperti Inggris, Amerika Serikat, dan lain sebagainya. Maka, dalam setiap kesempatan pertemuan global, sudah pasti mereka mengedepankan kepentingan nasionalnya ataupun kepentingan perusahaan multinasional yang mereka miliki agar tetap dapat jadi penyangga kekuatan ekonomi rakyat dan negaranya.

Pertanyaannya kemudian, apa manfaat pertemuan Davos kepada Kang Asep dan keluarganya di Cianjur. Alih-alih mendapatkan manfaat dari pertemuan Davos, persoalan modal untuk menanam padi saja pusing tujuh keliling. Belum lagi uang sekolah buat anak-anaknya dan uang belanja untuk istrinya. Yang pasti, malah Kang Asep selalu memakai benih, pestisida, dan pupuk yang sebagian besar diproduksi oleh perusahaan-perusahaan multinasional: para sponsor utama pertemuan Davos.

Viviana A Zelizer (2011) mengatakan, setiap aktivitas ekonomi bersifat lokal. Ini karena setiap proses pertukaran, produksi, distribusi, serta konsumsi barang dan jasa membuat manusia berinteraksi dengan yang lain untuk memenuhi kebutuhan pribadi dan keluarganya. Proses tersebut secara bertahap membentuk pola ekonomi masyarakat. Selanjutnya pola ekonomi itu membentuk kebudayaan masyarakat. Sederhananya, aktivitas ekonomi membentuk pola budaya masyarakat.

Dengan demikian, atas dasar itu, norma-norma dan nilai-nilai aktivitas ekonomi dari suatu masyarakat tidak dapat disamaratakan antara satu kebudayaan masyarakat yang satu dengan kebudayaan masyarakat yang lain atau suatu bangsa dengan bangsa lain.

Maka, yang terjadi adalah pemaksaan apabila nilai-nilai dan norma tersebut tidak berkesesuaian dengan nilai-nilai dan norma yang diyakini oleh masyarakat. Perlawanan budaya akan terjadi dan atau masyarakat melakukan adaptasi dan berstrategi terhadap nilai-nilai baru tersebut. Konsekuensinya, ada dua kemungkinan yang terjadi: kemajuan ekonomi masyarakat atau justru kebingungan terhadap gegar perubahan kebudayaan yang kemudian direspons secara pragmatis.

Atas dasar itu, pertemuan Davos pada tahun ini sudah hampir bisa dipastikan akan membawa wacana ataupun gagasan mengenai universalisme mengenai kekuatan pertumbuhan ekonomi yang didorong oleh investasi.

Atas dasar itu, untuk membangun suatu gagasan besar bersama, yaitu stabilitas dan pertumbuhan ekonomi yang berkelanjutan, kepada setiap negara dimintakan untuk terus dapat membuka dan memperluas pasar. Namun, semua harus sesuai dengan kaidah dan norma yang berlaku, di mana kekuatan ekonomi dominan itu berada, yang berarti berasal dari 1.000-an perusahaan yang menjadi penyangga dari pertemuan forum ekonomi dunia itu.

Dalam konteks ini, pertemuan Davos menjadi kesempatan berharga bagi Indonesia—saat ini sebagai Ketua ASEAN—untuk menyuarakan kepada dunia bahwa another world is possible. Itulah nilai dan norma baru tatanan global saat ini.

Arif Budimanta Peserta World Social Forum 2005, Anggota Kaukus Ekonomi Konstitusi DPR dari Fraksi Partai Demokrasi Indonesia Perjuangan

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: