Jalanan di Jakarta Mengunci


Sumber:
http://cetak.kompas.com/read/2011/01/27/0435004/jalanan.di.jakarta.mengunci

Kamis, 27 Januari 2011 |

Jakarta, Kompas – Saat ini di Jakarta hampir tidak ada lagi ruas jalan yang bebas dari kemacetan. Kondisi jalur alternatif dari alternatif bahkan hampir sama, padat dan nyaris tidak bergerak. Para pengguna jalan pun harus pandai menghitung waktu perjalanan agar rezeki tidak ”tercecer” di jalan.

Di sepanjang Jalan Pangeran Antasari, Jakarta Selatan, Rabu (26/1), pengguna jalan disergap beberapa hambatan terkait proyek pengerjaan jalan layang Blok M-Antasari. Laju kendaraan rata-rata hanya 5-10 kilometer per jam.

Hambatan itu dimulai dari perempatan di dekat Markas Besar Polri arah Terminal Blok M. Alat berat dan pagar-pagar bertuliskan proyek jalan layang non-tol mengokupasi setiap satu lajur dari dua lajur jalan yang ada.

Padahal, lokasi alat berat hanya mengambil ruang 10 meter x 10 meter, tetapi keberadaannya menjadi penyumbat arus lalu lintas. Kondisi serupa terlihat di mulut Jalan Pangeran Antasari dan di pertigaan Kemang.

Ruas jalan di depan pertigaan Kemang, khususnya jalur dari arah Cipete menuju Blok M, terpaksa ditutup untuk keperluan proyek jalan layang. Arus lalu lintas dari arah Cipete dibelokkan ke Jalan Brawijaya sebelum akhirnya masuk kembali ke Jalan Pangeran Antasari di depan Kantor Wali Kota Jakarta Selatan.

”Di sini paling macet pukul 07.00-09.00. Sorenya, pukul 17.00-19.00, hampir tidak bergerak kendaraan yang lewat sini,” kata Bandi, pengelola bengkel di Jalan Pangeran Antasari.

Kondisi serupa terlihat di ruas Jalan Prof Dr Satrio, Kuningan. Proyek jalan layang non-tol Kampung Melayu-Tanah Abang tahap pertama Casablanca juga tengah berlangsung. Tepat setelah turun dari jembatan dari arah Tanah Abang, di mulut Jalan Prof Dr Satrio, tempat parkir alat berat dan hambatan lain menghadang hingga terowongan arah Kampung Melayu.

Rabu kemarin, antrean kendaraan terjadi sejak sebelum pukul 07.00 hingga lepas pukul 11.00, khususnya dari arah Kampung Melayu menuju Tanah Abang atau Jalan Jenderal Sudirman. Di sepanjang Casablanca kemacetan makin parah karena ada dua proyek, yakni superblok dan galian kabel optik.

Jalan-jalan kecil di sekitar Casablanca yang bisa digunakan untuk menuju Menteng, Jalan Jenderal Sudirman, atau Rasuna Said tampak sudah dipenuhi kendaraan.

”Di sini selalu ramai mobil sejak sebelum ada proyek jalan layang. Sekarang tambah ramai lagi, apalagi pagi dan sore hari,” kata Ayu, warga Karet Pedurenan, Kelurahan Karet Kuningan, Rabu.

Di sepanjang Jalan Pangeran Antasari dan Casablanca, polisi lalu lintas berjaga di setiap titik persimpangan. Di titik-titik tertentu, seperti di lokasi alat berat berada, jumlah polisi bisa lebih dari dua orang.

Tak ada petunjuk

Namun, saat kendaraan berbelok ke arah jalan alternatif, polisi tak tampak lagi. Pengendara yang tidak terbiasa melintasi jalan alternatif harus siap-siap kebingungan menentukan arah berbelok.

Kondisi jalur alternatif rata-rata kecil dan minim penunjuk arah. Jalan Brawijaya, misalnya, terdiri dari dua ruas dengan lebar masing-masing pas seukuran lebar mobil. Padahal, jalan ini disesaki mobil, sepeda motor, dan angkutan umum pada saat jam sibuk. Kondisi serupa terlihat di kawasan Karet Pedurenan.

Antara Cawang dan Grogol, yaitu Jalan Gatot Subroto dan S Parman, kemacetan kini menjadi pemandangan setiap hari. Lihat saja di kawasan persimpangan Gatot Subroto-Kuningan, Semanggi, Slipi, hingga Taman Anggrek dan Grogol.

Di ruas jalan kecil, seperti Jalan Palmerah menuju Kebayoran Lama, kemudian arah Joglo, ruas Permata Hijau, bahkan jalur utama Kebayoran Lama-Ciledug, Tangerang, antrean kendaraan selalu mengular. Entah karena terhambat oleh antrean angkutan umum yang ngetem, polisi cepek yang mengatur arus lalu lintas, atau ada penyempitan dan kerusakan jalan.

”Saya diturunkan dari Metromini 69. Seharusnya dari Blok M bisa langsung ke Ciledug, malah diturunkan di sini. Alasan sopir, macet dan penumpang kurang,” kata Adinda (21).

Pengalaman Adinda bukan sesuatu yang luar biasa. Praktik menurunkan penumpang dan kemudian sopir memilih berputar arah ke Blok M sudah sering dilakukan.

”Bayangin saja, cuma bawa tiga orang terus kena macet. Cari penumpang lagi juga sulit. Solarnya boros. Lebih baik oper penumpang dan balik ke Blok M,” kata Endi, kernet Metromini 69.

Menghitung cermat

Kemacetan juga menyebabkan Mutia (30) dari bagian humas salah satu perusahaan kosmetik di Jalan MH Thamrin, Jakarta Pusat, harus menghitung cermat ketersediaan waktu setiap kali membuat janji bertemu klien.

”Humas kan sering janjian ketemu orang. Biasanya, saya sengaja bikin janji di satu mal kalau memang harus keluar kantor. Paling dibedain jam ketemunya saja,” kata Mutia.

Bagi Mutia, strateginya cukup jitu. Menurut dia, kalau harus mengejar pertemuan di tempat yang berbeda-beda, paling tidak butuh waktu dua jam untuk radius 10 kilometer. Seharusnya bisa ketemu tiga klien, jadi cuma bisa mengejar satu klien.

Pada jam sibuk, kemacetan semakin parah. Jarak yang hanya 5 km itu harus ditempuh minimal 30 menit untuk kendaraan roda empat atau lebih dan 20 menit untuk kendaraan roda dua. Di Jakarta Barat, kepadatan terjadi karena peningkatan volume kendaraan dan berkurangnya ruas jalan yang bisa dilewati setelah dioperasikannya bus transjakarta koridor IX jurusan Pinang Ranti-Pluit.

Jalur neraka

Willy, karyawan swasta, menuturkan, kini ia harus bangun lebih pagi agar tidak terjebak kemacetan dan terlambat tiba di kantor. ”Kalau tiga tahun lalu saya bisa berangkat pukul 07.00 dan tiba di kantor pukul 07.30, sekarang saya harus berangkat pukul 06.30 agar tiba di kantor pukul 07.30,” ujarnya.

Ia tinggal di Tomang dan berkantor di kompleks Bidakara, Pancoran. Jaraknya tak lebih dari 10 km, tetapi kini belum tentu bisa ditempuh dalam waktu satu jam. ”Sekarang jalan ini sudah mirip jalur neraka. Padat, asap kendaraan semakin banyak, dan tidak bisa diatur,” ujar Zaki, pengguna kendaraan dari Palmerah menuju Tomang.

Pengguna jalan dari arah Grogol menuju Slipi bisa melalui jalan alternatif, seperti lewat Tanjung Duren. Akan tetapi, karena banyaknya kendaraan yang lewat, jalan itu pun kini sesak.

Di wilayah Kota Bekasi, kemacetan rutin terjadi di ruas jalan perbatasan Kota Bekasi dan Jakarta Timur, antara lain di ruas Jalan Pondokgede, Jalan KH Noer Alie, dan Jalan Raya Bintara.

Satuan Lalu Lintas Kepolisian Resor Kota (Polresta) Bekasi Kabupaten berencana mengatur jam keluar kendaraan industri dari Kawasan Industri Jababeka, Cikarang, agar tidak bersamaan waktunya dengan kendaraan lain yang melintasi jalan raya Lemahabang-Cikarang menuju Gerbang Tol Cikarang. Pengaturan itu untuk mengurai kemacetan dan mengurangi kepadatan kendaraan di ruas jalan raya Lemahabang-Cikarang menuju gerbang tol.

Menurut Kepala Satuan Lalu Lintas Polresta Bekasi Kabupaten Komisaris Iwan Saktiadi, Rabu, pengaturan jam keluar kendaraan industri itu sudah dibicarakan dengan perwakilan perusahaan di Kawasan Industri Jababeka I dan Kawasan Industri Jababeka II, Cikarang.

(COK/NEL/FRO)

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: