Jam Dua Belas


Sumber:
http://cetak.kompas.com/read/2011/01/25/04501299/jam.dua.belas

Selasa, 25 Januari 2011 |

OLEH SUKARDI RINAKIT

Hari masih pagi ketika seorang teknisi yang membetulkan AC di rumah tiba-tiba bertanya, ”Kalau Pak SBY (Susilo Bambang Yudhoyono) merasa gajinya kecil, kenapa tak mengundurkan diri saja, ya, Pak? Mencari pekerjaan lain gitu.” Saya terpana. Ada-ada saja cara pikir wong cilik ini.

Seperti Bibi Rini, tukang pijit langganan keluarga besar kami, tukang AC itu juga bercerita, sudah seminggu lebih mereka tak merasakan cabai. Harga cabai mahal. Beras juga mahal. Sebab itu, penulis hormat dan terharu dengan ketegaran dan ketulusan tokoh lintas agama. Dengan jernih, mereka menyuarakan jeritan rakyat dan celah-celah perikehidupan bangsa yang menganga. Mereka mengingatkan Presiden agar sungguh-sungguh bekerja, bekerja, dan bekerja.

Sikap tokoh lintas agama itu membuat saya teringat pesan Buya Ahmad Syafii Maarif di suatu sore. Meski lelah, penulis agar tak berhenti, apalagi putus asa dan merasa sia-sia, untuk menjadi juru ingat. Kekuasaan tetap harus dikritisi agar berjalan benar. Buya mencontohkan keteguhan Nabi Nuh. Diberi umur panjang, hampir seribu tahun, tetapi masih gagal meyakinkan anak dan istrinya untuk sekadar percaya kepada Allah. Betapa sedihnya, tetapi Nuh tidak pernah putus asa sampai titik akhir.

Pintu ”goro-goro”

Pemerintah, khususnya Presiden SBY, seharusnya bersyukur dengan gerakan politik yang ditunjukkan kelompok masyarakat sipil akhir-akhir ini. Bukan malah sibuk menepis, mengunci, atau membuka kontestasi dalam artian apa pun.

Gerakan masyarakat sipil itu ibarat jam dua belas malam dalam pergelaran wayang. Goro-goro dimulai. Bumi mulai gonjang-ganjing karena perilaku elite. Jika penguasa tak mendengarkan suara rakyat yang direpresentasi oleh punakawan yang dibimbing Semar, sekuat apa pun pemerintahan, ia bisa tumbang. Sebaliknya, jika penguasa mendengar dentang tengah malam itu, lalu ngomong bener tumindak temen (bicara benar dan berbuat sungguh-sungguh), semua bisa diselamatkan.

Sulit dimungkiri, Indonesia saat ini didominasi penguasa yang perilakunya melompat dari nilai sekadar bertahan hidup menjadi postmaterialist dalam artian negatif. Klaim keberhasilan seperti keamanan terjaga, kemiskinan turun, dan penganggur berkurang menjadi kepuasan batin mereka meski sejatinya semu. Ini mirip dengan membuat album lagu dan gemar memakai istilah asing untuk mengejar ekspresi diri.

Padahal, realitas hidup sebagian besar rakyat masih seperti bayangan hitam yang bergerak ke sana kemari, tak keruan. Mereka harus akrobat untuk bisa sekadar bertahan hidup dengan cara makan singkong dan nasi aking yang membuat perut perih. Sebab itu, tak mengherankan jika ekspresi diri pemerintah akhirnya dihadang tembok moralitas massa rakyat.

Kita sedang mengetuk pintu goro-goro. Kritik dan perlawanan terhadap pemerintah mulai menguat, sebab masyarakat gagal membaca di mana hati SBY diletakkan. Keberpihakan pada penegakan hak asasi manusia, pemberantasan korupsi, mafia hukum, swasembada pangan, dan lain-lain dinilai tidak jelas. Akibatnya, titik api perlawanan bermunculan, mengurung gerak penguasa. Jika hal itu tidak diantisipasi dengan baik, letupan yang dahsyat, secara prediktif akan sulit dihindari.

Sayang, SBY mengulangi kesalahan dalam komunikasi politik. Ia memberikan sinyal politik keliru saat menunjuk Wakil Presiden Boediono untuk mengoordinasi penuntasan kasus Gayus Tambunan dan pengembalian aset Bank Century di luar negeri. Saat ini di beberapa titik arus bawah mulai terdengar omongan warung kopi, yang tentu saja tak berdasar. Muncul spekulasi, jangan-jangan Sri Mulyani dulu dikorbankan. Kini saatnya Boediono yang jadi sasaran.

Menurut dugaan saya, spekulasi itu akan semakin liar apabila isu pembukaan kembali skandal Bank Century oleh DPR mulai merebak. Padahal, lapangan politik kini sudah becek karena menumpuk dan berkelindannya beberapa masalah, seperti kenaikan harga beras, cabai, kontestasi antarpartai koalisi pemerintah, korupsi, dan mafia hukum. Jika tidak hati-hati, semua mencukupi bagi Republik untuk memasuki pintu goro-goro.

Situasi itu tentu saja tak sehat bagi kehidupan kita berbangsa dan bernegara. Kita terjebak dalam lorong gelap dan lingkaran tak menentu ketika negara lain melompat menggapai optimismenya.

Jangan mengeluh

Oleh karena itu, sebagai langkah awal, SBY sebaiknya jangan terlalu lama jika berpidato. Hampir selalu ada yang meleset, terutama soal keluhan. Lihatlah Soekarno, Soeharto, BJ Habibie, Abdurrahman Wahid, dan Megawati Soekarnoputri: sebagai presiden, pernahkah mereka mengeluh di depan rakyatnya untuk hal sepele, seperti urusan gaji?

Untuk urusan berkeluh kesah ini, saya hormat kepada Sultan Hamengku Buwono X. Beban berat apa pun yang dipikul, ia tidak pernah terdengar mengeluh. Ketika hal itu saya tanyakan tiga tahun lalu, jawaban Sultan sederhana saja, ”Kalau saya mengeluh, rakyat mengeluh ke siapa? Rakyat butuh rasa tenteram dan pemimpin harus menjadi sandarannya.” Mungkin itulah formula awal untuk menolak goro-goro?

SUKARDI RINAKITPeneliti Senior Soegeng Sarjadi Syndicate

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: