ICG Indonesia: “Kristenisasi” dan Intoleransi


Sumber:
http://www.crisisgroup.org/en/regions/asia/south-east-asia/indonesia/B114-indonesia-christianisation-and-intolerance.aspx?alt_lang=id

Asia Briefing N°114 24 Nov 2010

RINGKASAN IKHTISAR

Beberapa tahun belakangan ini, toleransi beragama di Indonesia sedang diuji, terutama di daerah dimana kelompok Muslim garis keras dan para Kristen neo-Pentakosta saling bersaing. Pihak muslim menggunakan isu “Kristenisasi” (sebuah istilah yang umumnya dipakai bagi upaya-upaya kaum Kristen memurtadkan orang Islam , maupun kecemasan menguatnya pengaruh Kristen di Indonesia) sebagai alasan untuk aksi mobilisasi massa dan main hakim sendiri. Ketegangan yang disebabkan oleh bentrokan antara dua “fundamentalisme” ini sangat terlihat di Bekasi, dimana sejumlah sengketa sejak tahun 2008 mengenai pembangunan gereja, tuduhan adanya upaya baptis masal serta penghinaan terhadap Islam telah memicu terjadinya beberapa kasus kekerasan. Pemerintah perlu strategi untuk menangani intoleransi beragama yang semakin meningkat. Tanpa strategi yang jelas, penghakiman massa yang menang. Biasanya pejabat daerah baru akan menangani kasus ketika insiden itu sudah lepas kendali dan biasanya para pejabat menyerah kepada kelompok yang paling nyaring suaranya. Setiap kali terjadi, pihak yang menang menjadi semakin berani berkonfrontasi.

Meningkatkan ketegangan agama di Indonesia karena beberapa penyebab:

*
Kegagalan pemerintah untuk secara efektif mencegah ataupun menindak hasutan dan intimidasi terhadap pemeluk agama minoritas. *
Tumbuhnya organisasi-organisasi Islam yang suka main hakim sendiri dan koalisi-koalisi diantara mereka, yang kini jadi ancaman bagi ketertiban umum. *
Kegiatan penginjilan yang agresif di daerah Muslim.
*
Delegasi kekuasaan ke pejabat daerah lewat desentralisasi, bahkan mengenai masalah keagamaan yang seharusnya tetap dipegang oleh pemerintah pusat. *
Keengganan untuk menindak aktivitas “hate speech” (ungkapan kebencian) sebagian disebabkan kebingungan menentukan batasan terhadap kebebasan berekspresi yang sah. *
kurangnya upaya yang serius untuk memajukan toleransi beragama sebagai nilai-nilai kebangsaan.

Insiden di Bekasi menjadi contoh kasus ketegangan agama yang sedang terjadi. Organisasi-organisasi muslim garis keras seperti Dewan Dakwah Islamiyah Indonesia (DDII) dan Gerakan Pemuda Islam (GPI) yang dua-duanya punya unsur anti-Kristen, sudah lama aktif di Bekasi. Disana juga ada Front Pembela Islam (FPI) dan juga beragam koalisi anti-pemurtadan. Bekasi juga menjadi salah satu basis komunitas salafi jihadi seperti Jemaah Ansharut Tauhid (JAT) yang dideklarasikan Abu Bakar Ba’asyir di asrama haji Bekasi pada tahun 2008.

Di pihak Kristen, beberapa organisasi penginjil yang berkomitmen untuk mengkristenkan Muslim juga ada di Bekasi, beberapa didanai dari luar negeri, yang lain murni lokal. Yayasan Mahanaim, salah satu organisasi neo-Pentakosta yang paling bonafide serta aktif, sangat dibenci kaum muslim garis keras karena program-programnya menjadikan orang-orang muslim yang miskin sebagai objek pemurtadan. Sebelumnya, Yayasan Kaki Dian Emas, yang dijalankan oleh pendeta yang tadinya muslim, menggunakan kaligrafi Arab pada sampul-sampul publikasinya, seolah-olah isinya mengenai Islam, dan mewajibkan setiap siswa sekolahnya mengkristenkan sepuluh orang sebagai syarat kelulusan.

Meskipun para pejabat dan anggota DPR bicara mengenai pentingnya “kerukunan beragama”, ada kesan mereka beranggapan hal ini bisa diatur undang-undang, ketimbang meluangkan waktu dan upaya memahami kenapa ketegangan meningkat serta mengembangkan program-program yang dirancang untuk mengurangi ketegangan agama. Dialog antar agama bukanlah jawabannya; dengan beberapa perkecualian, dialog ini sering hanya sekedar rapat diantara orang-orang yang senang bicara tanpa bisa menyelesaikan masalah.

Diantara banyak alasan mengenai pentingnya mengembangkan sebuah strategi untuk mengurangi ketegangan antar agama, yang juga perlu mendapat perhatian khusus adalah : Isu “Kristenisasi” mungkin bisa membuat kelompok agama yang sebelumnya berjuang tanpa kekerasan bekerjasama dengan para ekstrimis yang violent. Hingga beberapa waktu lalu, perhatian kaum salafi jihadis terhadap agenda yang lebih bersifat internasionalis membuat mereka menjauhi aktivis anti-pemurtadan. Tetapi dengan hilangnya motivasi domestik untuk merekrut anggota-anggota baru, terutama dengan berakhirnya konflik di Ambon dan Poso, telah membuat “Kristenisasi” jadi isu menarik untuk merekrut anggota baru. Di Palembang pada 2008, seorang buronan anggota Jemaah Islamiyah (JI) dari Singapura berhasil merekrut berberapa anggota LSM FAKTA (Forum Anti Gerakan Pemurtadan) dengan pertama-tama meyakinkan mereka bahwa membunuh pendeta pemurtad adalah satu-satunya cara untuk menghentikan kristenisasi. Pada persidangan orang-orang yang terlibat kasus pelatihan teror di Aceh terungkap bahwa kristenisasi di Aceh disebut sebagai salah satu motivasi kenapa mereka bergabung.

Lima tahun belakangan ini jaringan teroris di Indonesia sudah makin lemah dan terpecah belah, namun eksploitasi yang sistematis terhadap ketakutan menguatnya pengaruh Kristen, mungkin bisa dimanfaatkan kelompok teroris buat merekrut orang-orang baru.

Jakarta/Brussels, 24 November 2010

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: