Tahun Penentuan


Sumber:
http://cetak.kompas.com/read/2011/01/04/04493691/tahun.penentuan

Selasa, 4 Januari 2011 |

OLEH SUKARDI RINAKIT

Di tengah sakit dan harus istirahat penuh menjelang akhir 2010, saya terpana membaca pesan layanan singkat atau SMS dari Franky Sahilatua. Ia menulis, ”2011 adalah tahun perjuangan dan penentuan bangsa ke depan. Kita adalah pejuang yang dibutuhkan perjuangan itu.”

Sebagai biduan pergerakan, meski sedang sakit, Franky selama ini tidak diam. Justru ia tambah sensitif dan bening menilai keadaan. Baginya, meleset di tahun ini, kian panjanglah jalan Republik menuju kebangkitan. Sebab itu, diperlukan pejuang, mungkin maksudnya adalah masyarakat sipil, untuk mengawasi kerja pemerintah. Jangan sampai yang ada cuma kibaran bendera pencitraan dan klaim keberhasilan. Padahal, sejatinya rakyat sendiri yang tertatih-tatih bekerja.

Penulis setuju dengan sinyalemen itu. Tahun ini tahun penentuan. Secara prediktif, kontestasi politik akan memasuki tahap lebih ganas, bukan sekadar saling menyandera seperti tahun lalu tetapi mengalahkan, survival of the fittest. Itulah salah satu karakter alamiah gen politik, siapa kuat, punya sumber daya politik lengkap, ia yang menang.

Ilustrasi yang luas tentang gen politik dari Sewell (2009) menyiratkan makna, upaya untuk mengalahkan lawan politik bukan semata-mata melalui pemusnahan dan konflik, tetapi juga tekanan politik, untuk tidak menyebut lobi tingkat tinggi. Dalam situasi itu, semua aktor dalam siklus evolusi cenderung saling berhadapan. Sifat saling memusnahkan tentu saja bisa dikontrol sampai titik terlemah, bahkan bisa menjadi kerja sama produktif, melalui etika, moral, dan kehadiran negara yang melindungi warganya.

Menyimak fenomena politik tahun lalu, ranah politik Indonesia 2011 akan didominasi oleh peranan tiga aktor, yaitu presiden, partai politik, dan aktivis. Kelompok strategis lain, utamanya militer dan pengusaha, hanya berada di tepi arus utama politik.

Presiden, dengan para letnannya, tampak memiliki kepercayaan diri yang tinggi. Keamanan yang relatif terjamin dan gerak ekonomi makro yang optimistis membuat pemerintah tak begitu memedulikan kritik dan protes dari masyarakat. Bahkan, dibangun kesan semua masalah sudah diantisipasi dengan sempurna. Seluruh gerakan mahasiswa dan aktivis pun seperti membentur tembok karena banyak kelompok strategis yang merasa nyaman dengan keadaan sekarang.

Akan tetapi, seiring dengan berjalannya waktu, mulai muncul beberapa masalah yang mencemaskan. Stok beras ternyata tipis, harga pangan melonjak, penegakan hukum lamban, praktik korupsi tetap akut, dan ketenteraman Yogyakarta diganggu. Tiap masalah itu, tahun ini, akan dikapitalisasi oleh parpol dan menjadi medan perang bagi mereka, termasuk bagi partai koalisi pemerintah, guna menjaga eksistensi dan mempertahankan kelangsungan hidupnya. Di sini, posisi aktivis dan kekuatan masyarakat sipil secara tidak langsung akan menguntungkan parpol. Tekanan mereka menjadi semakin bertenaga. Akibatnya, pemerintah akan semakin sempoyongan.

Dalam medan politik yang sangat becek dan terbuka itu, ruang manuver parpol hanya akan menyempit apabila kepercayaan diri pemerintah yang tinggi diterjemahkan dalam tindakan cepat dan berani. Jika itu dilakukan, parpol akan terkunci. Mereka juga tidak akan berani memberontak karena pasti akan berhadapan dengan musuh besar yang sulit ditundukkan, yaitu massa rakyat.

Dalam tahun penentuan ini, Presiden harus memerintah dengan setegas-tegasnya dengan bahasa terang, dan menghindari hal-hal yang tidak substansial bagi perikehidupan rakyat. Mengabaikan hal itu, ia bukan saja akan diterkam parpol, tetapi juga menggerus kewibawaannya, karena gagal mewujudkan program pembangunan pemerintah selama ini (pro-growth, pro-job, pro-poor).

Keuntungan lain dari ketegasan Presiden adalah mata parpol tak akan tertuju padanya lagi. Target korban bergeser di antara mereka sendiri. Mereka sibuk dirundung konflik, baik antarpartai maupun gesekan internal. Siapa yang lemah, ia ditelan sejarah dan menjadi bagian dari kekuatan partai dominan.

Paradoks politik

Saat ini ada niat dari beberapa parpol untuk mulai membicarakan garis perjuangan partai dan mengakhiri intrik politik. Jika politik bergerak linier, langkah itu memang terpuji. Bukan hanya citra partai di mata rakyat akan membaik, tetapi pemerintah juga diuntungkan. Mereka bisa fokus bekerja untuk rakyat karena terbebas dari tekanan politik jangka pendek dari mitra koalisi.

Akan tetapi, roda politik telanjur bergerak nonlinier. Akibatnya, paradoks politik pun kemungkinan besar terjadi. Dalam situasi kepercayaan publik yang rendah kepada pemerintah seperti sekarang, langkah baik parpol itu justru akan menghancurkan kewibawaan pemerintah. Semakin partai berdiri tegak menyuarakan hal-hal yang substansial bagi rakyat, makin nyata ketidakhadiran negara.

Namun, semua itu akan melemah apabila Presiden tegak dengan kebijakannya. Tetapi, kalau ia terpancing melakukan kontestasi dengan parpol, sia-sialah semuanya. Sebagai rakyat, kita hanya bisa mengelus dada.

SUKARDI RINAKIT Peneliti Senior Soegeng Sarjadi Syndicate

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: