PENGAKUAN IMAN RASULI (Pembahasan bagian 4)


Sumber:
http://www.sarapanpagi.org/pengajaran-pengakuan-iman-rasuli-vt96.html

Bagian 4 : Yang menderita sengsara dibawah pemerintahan Pontius Pilatus , disalibkan mati dan dikuburkan turun ke dalam kerajaan maut

Pada bagian ini kita dijelaskan bagaimana Yesus harus mengalami penderitaan dan sengsara, bukan karena kesalahanNya sendiri, melainkan dalam rangka keselamatan manusia yang menyiksa dan membunuhNya.

Sejak pertama kali Yesus datang ke dunia sampai pada kematianNya, selalu akrab dengan penderitaan dan sengsara:

– Dilahirkan dalam kandang hewan.
– Hidup di tengah keluarga Yusuf dari Nazaret, seorang tukang kayu yang miskin.
– Masa pelayanan yang selalu dimusuhi dan difitnah oleh kelompok agamawan Yahudi (Farisi, Saduki dan Imam-imam).
– Mengalami penyiksaan fisik karena tuduhan palsu dan fitnah dari orang-orang yang membenciNya.
– Mati dan disalibkan dalam kehinaan dan disejajarkan dengan penjahat-penjahat besar. – Dikuburkan pada kubur yang bukan milikNya sendiri (sebuah kubur pinjaman).

Namun sederetan panjang masa-masa kehidupan yang tidak mengenakkan tersebut rela ditanggungNya. Semua itu diterimaNya bukan karena Ia berdosa, tetapi oleh sebab Ia menyamakan diriNya dengan umat manusia. Dia memenuhi kewajiban yang ditugaskan kepadaNya oleh Sang Bapa, yakni membereskan jurang pemisah antara Allah dan manusia karena dosa, dan memulihkan hubungan yang benar antara Allah dan manusia .

Konsekwensi menebus dosa yaitu melalui darah korban yang dikuduskan. Yesuslah Anak Domba yang dikuduskan untuk korban tersebut (bandingkan Yohanes 1 : 29).

Artinya : Yesus sudah menanggung penderitaan dan murka Allah atas dosa-dosa kita. Yesus menjadi pengganti bagi kita untuk menerima upah dari dosa yang seharusnya kita tanggung. Dialah Hamba Allah yang menderita seperti yang digambarkan dalam Yesaya 53.

Dari teks pengakuan iman tersebut dipertegas bahwa Yesus menderita sengsara disalibkan mati (bukan pingsan atau mati suri) dan dikuburkan. Bahkan dipertegas fakta sejarahnya, yaitu dibawah pemerintahan Pontius Pilatus, seorang wali negeri yang berkuasa atas provinsi Yudea. Nama Pilatus muncul dalam pengakuan iman tersebut sebagai fakta catatan sejarah, sekaligus peringatan tipe orang yang mecuci tangan tanda tak mau bertanggung jawab, sekalipun dia sanggup untuk itu. Di bawah perintahnyalah maka Yesus di salibkan dan mati.

Tafsiran-tafsiran berbeda mengenai “Turun ke dalam Kerajaan Maut”.

Gereja Katholik menganggap bahwa hal itu berarti setelah Kristus mati Ia pergi ke “Limbus Patrum” di mana orang-orang kudus Perjanjian Lama menantikan wahyu dan penerapan penebusan-Nya, memberitakan Injil kepada mereka dan membawa mereka ke surga.

Kalangan Gereja Lutheran menganggap bahwa Kristus yang dimuliakan, Kristus turun ke bumi paling bawah untuk mengungkapkan dan mencapai penggenapan kemenangan-Nya atas iblis dan kuasa kegelapan, dan mengumumkan hukuman bagi mereka. Sebagian kaum Lutheran menempatkan perjalanan kemenangan ini antara kematian Kristus dan kebangkitan-Nya; sekelompok lain mengatakan hal ini terjadi setelah kebangkitan.

Gereja di Inggris percaya bahwa kendatipun tubuh Kristus berada dalam kuburan, jiwa-Nya pergi ke dalam kerajaan maut, khususnya ke Firdaus, tempat tinggal jiwa-jiwa orang benar, dan memberikan kepada mereka ungkapan kebenaran yang lebih penuh.

John Calvin menafsirkannya secara metafora, menunjukkan penderitaan akhir Kristus di atas kayu salib, di mana Ia sungguh-sungguh merasakan rasa sakit dari hempasan neraka. Katekismus Heidelberg juga berpendapat demikian. Menurut pendapat kalangan Reformed yang biasa, kalimat itu bukan saja menunjuk pada penderitaan di atas salib, tetapi juga penderitaan di taman Getsemani.

Alkitab sama sekali tidak pernah mengajarkan tentang Kristus yang secara harafiah turun ke dalam neraka. Lebih dari itu terdapat keberatan-keberatan yang serius terhadap pandangan ini. Kristus tentunya tidak akan mungkin turun ke neraka menurut tubuh, sebab tubuh-Nya ada dalam kubur. Jika seandainya Ia sungguh-sungguh turun ke neraka, maka yang paling mungkin adalah jiwa-Nya, dan itu berarti bahwa hanya setengah dari natur manusiawinya yang mengalami kehinaan ini (atau kemuliaan). Juga, sejauh Kristus belum bangkit dari antara orang mati, maka belumlah tiba waktunya untuk memasuki perjalanan kemenangan seperti yang dianggap kaum Lutheran. Dan akhirnya, pada saat kematian-Nya Kristus menyerahkan Roh-Nya kepada Bapa. Hal ini tampaknya menunjukkan bahwa Ia akan menjadi pasif bukannya aktif sejak kematian-Nya sampai kebangkitan-Nya dari kubur. Secara keseluruhan tampaknya yang terbaik adalah menggabungkan dua pemikiran:

a. bahwa Kristus menderita sakitnya neraka sebelum kematian-Nya, di Getsemani dan di atas salib; dan b. bahwa Ia memasuki kehinaan kematian yang terdalam.

Soal Turun Dalam Kerajaan Maut :

Terutama ada 4 ayat dalam Alkitab yang harus kita perhatikan di sini:

1. Efesus 4:9, “Bukankah `Ia telah naik` berarti bahwa Ia juga telah turun ke bagian bumi yang paling bawah?” Mereka yang mencari dukungan dari ayat ini menganggap perkataan “turun ke bagian bumi paling bawah” sama artinya dengan “kerajaan maut”. Akan tetapi tafsiran semacam ini masih diragukan. Rasul Paulus berpendapat bahwa kenaikan Kristus memberikan presuposisi turun. Namun, lawan dari kenaikan Kristus ke surga adalah inkarnasi, bandingkan Yohanes 3:13. Sebagian besar para penafsir Alkitab menganggap bahwa kalimat “bagian bumi yang paling bawah” adalah bumi itu saja. Pernyataan itu dapat diperoleh dari Mazmur 139:15 dan lebih menunjuk pada inkarnasi.

2. 1 Petrus 3:18,19, yang membicarakan tentang Kristus “Sebab juga Kristus telah mati sekali untuk segala dosa kita, Ia yang benar untuk orang-orang yang tidak benar, supaya Ia membawa kita kepada Allah; Ia yang telah dibunuh dalam keadaan-Nya sebagai manusia, tetapi yang telah dibangkitkan menurut Roh, dan di dalam Roh itu juga Ia pergi “memberitakan maklumat” kepada roh-roh di dalam penjara”, Yesus Kristus memproklamirkan kemenangan-Nya kepada roh-roh di dalam penjara (ada masalah terjemahan pada ayat ini, lihat penjelasan disini). Ayat inilah yang dianggap menunjuk kepada Kristus yang turun ke dalam kerajaan maut dan menyatakan tujuan tindakan itu. Roh yang disebutkan itu kemudian dianggap sebagai jiwa Kristus dan “memproklamirkan kemenangan-Nya” ini dianggap terjadi antara kematian dan kebangkitan-Nya. Tetapi ini pun sama tak mungkinnya dengan yang lain. Roh yang disebutkan bukanlah jiwa Kristus, melainkan Roh yang mengaktifkannya, dan oleh Roh pemberi hidup yang sama itulah Kristus “memberitakan maklumat”. Pandangan Protestan yang umum akan ayat ini adalah bahwa di dalam Roh, Kristus “memproklamirkan kemenangan-Nya” melalui Nuh, pada orang-orang yang tidak taat yang hidup sebelum masa air bah. Roh-roh itu ada di dalam penjara ketika Petrus menulis surat ini, oleh karena itu dapat dianggap demikian. Bavinck menganggap hal ini tidak dapat diterima dan menafsirkan ayat ini menunjuk kepada kenaikan Tuhan Yesus, yang dianggapnya sebagai “memberitakan maklumat” yang kaya, penuh kemenangan, dan kuasa pada roh-roh yang di penjara.

3. 1 Petrus 4:4-6, terutama ayat 6, yang berbunyi: “Itulah sebabnya maka “Injil” (kabar baik) telah diberitakan juga kepada orang-orang mati, supaya mereka sama seperti semua manusia dihakimi secara badani; tetapi oleh Roh dapat hidup menurut kehendak Allah” (lihat penjelasan disini). Dalam kaitan ini Petrus memperingatkan para pembaca bahwa mereka tidak boleh hidup seluruhnya dalam daging dan nafsu manusia, tetapi menurut kehendak Allah, bahkan juga jika mereka harus menentang kawan-kawan mereka yang lama dan dihina oleh mereka, sebab mereka harus mempertanggung-jawabkan perbuatan mereka di hadapan Tuhan, yang siap menghakimi orang yang hidup dan yang mati. Bagaimanapun juga Petrus membicarakan roh-roh yang sama yang dipenjarakan, yang disebut dalam pasal sebelumnya.

4. Ada kesimpulan bahwa jiwa Kristus berada dalam Hades (alam maut/ kerajaan maut) sebelum kebangkitan-Nya. Akan tetapi kita harus memperhatikan hal berikut ini:

Yesus masuk ke dalam alam maut, itu betul, karena pada kenyataannya Ia memang mati secara tubuh, tetapi apakah Ia terikat pada alam tersebut selama 3 hari? Jangan lupa, sebagai Allah, Yesus Kristus itu “Maha-hadir”, saat mayat-Nya ada di dalam kubur, Dia pun pergi memproklamirkan kemenangan-Nya atas maut kepada roh-roh di dalam penjara (1 Petrus 3:19-20). Sebagai Allah, Yesus Kristus tidak dibatasi oleh ruang dan waktu (kecuali jika anda menyangkal bahwa Yesus Kristus adalah Allah). Harus kita perhatikan bahwa ada ayat yang menulis bahwa Dia pun ada di Firdaus pada hari kematianNya:

* Lukas 23:43
LAI TB, Kata Yesus kepadanya: “Aku berkata kepadamu, sesungguhnya hari ini juga engkau akan ada bersama-sama dengan Aku di dalam Firdaus.”
KJV, And Jesus said unto him, Verily I say unto thee, To day shalt thou be with me in paradise. TR, και ειπεν αυτω ο ιησους αμην λεγω σοι σημερον μετ εμου εση εν τω παραδεισω
Translit Interlinear, kai {dan} eipen {Dia berkata} autô {kepadanya} ho iêsous {Yesus} amên {amin (sesungguhnya)} legô {Aku berkata} soi {kepadamu} sêmeron {hari ini} met {bersama} emou {Aku} esê {engkau ada} en {didalam} tô paradeisô {Firdaus}

Perhatikan frasa “Aku berkata kepadamu sesungguhnya hari ini”, jadi Yesus berkata “hari ini” dengan pengertian bukan kemarin dan bukan esok, Ia bisa berada di Firdaus.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: