Seni Membuang Kesempatan


Sumber:
http://cetak.kompas.com/read/2010/12/06/03353487/seni.membuang.kesempatan

Senin, 6 Desember 2010 |

MUHAMMAD CHATIB BASRI

Ketika Chairman The Fed (Bank Sentral Amerika Serikat) Ben Bernanke menyatakan, The Fed harus fokus pada ekonomi AS—bukan negara lain—kita tahu itu artinya pelonggaran kuantitas moneter atau Quantitative Easing II berlanjut. Isu inilah yang menjadi perhatian saya dalam pertemuan di International Policy Advisory Group untuk G-20 yang diprakarsai ekonom Jeffrey Sachs bulan lalu di Seoul, Korea Selatan.

Dalam pertemuan itu disimpulkan: ancaman perang kurs masih ada, akibatnya banyak negara berlomba mencegah apresiasi nilai tukarnya (competitive non-appreciation). Selain itu, penyesuaian nilai tukar di China dan AS saja—tanpa kebijakan struktural—tak akan menyelesaikan ketidakseimbangan global.

Akibatnya, kebijakan bunga rendah di Amerika Serikat akan berlangsung relatif panjang. Ini akan mendorong modal masuk ke emerging market termasuk Indonesia. Jumlahnya bisa besar sekali karena para investor harus menyeimbangkan portofolionya di Eropa dan AS dengan mengalihkan investasinya ke emerging market, termasuk Indonesia. Ekonomi Indonesia menguat, kita optimistis.

Di tengah optimisme ini, saya justru ingin mengingatkan: hati-hati, ini bisa bersifat sementara. Quantitative Easing (QE) II akan mendorong terjadinya carry trade (meminjam dalam dollar AS atau euro dengan bunga rendah dan menginvestasikan dalam rupiah atau mata uang Asia lain yang balas jasanya tinggi).

Data menunjukkan: sebagian besar modal yang masuk ke Indonesia dalam bentuk utang (SUN/Surat Utang Negara). Akibatnya, yield dari SUN membaik. Ini menggembirakan, tetapi jika uangnya tak bisa dibelanjakan di sektor riil, gelembung bisa pecah, modal keluar dengan cepat, nilai tukar rupiah bergejolak, perekonomian menjadi tidak stabil.

Bagaimana mengantisipasi masalah yang enak (good problem) ini? Kita perlu kebijakan yang menyeluruh:

Pertama, Bank Indonesia (BI) bisa melakukan intervensi di pasar devisa dengan sterilisasi dan akumulasi cadangan devisa. Namun, biayanya sangat mahal. Lihat saja bunga dari T bills Pemerintah AS nyaris 0 persen, sedangkan bunga Sertifikat Bank Indonesia (SBI) di atas 6 persen.

Sterilisasi dan akumulasi cadangan devisa akan membuat neraca BI tertekan. Selain itu, sterilisasi untuk mempertahankan nilai tukar rupiah membawa risiko meningkatnya inflasi. Dalam konsep makro-ekonomi kita mengenal istilah the unholy trinity atau trinitas yang tak suci: sebuah negara tidak mungkin menjalankan tiga kebijakan sekaligus, yaitu mempertahankan nilai tukar, membiarkan arus modal bebas, dan menjaga kebijakan moneter yang independen.

Apabila Bank Indonesia ingin mempertahankan nilai rupiah dan tetap menjaga kendali atas inflasi, Bank Indonesia harus memberlakukan kontrol terhadap arus modal. Atau apabila arus modal bebas dan BI mencoba mempertahankan nilai tukar rupiah, jangan terkejut jika inflasi pada tahun 2011 akan lebih tinggi dari target BI.

Di lain pihak, apabila Bank Indonesia membiarkan nilai rupiah menguat dengan sangat tajam, ekspor padat karya akan terpukul, risiko Penyakit Belanda (istilah lain deindustrialisasi) muncul, impor akan banjir. Terjadilah de-industrialisasi, pengangguran meningkat. Oleh karena itu, kebijakan yang bisa dilakukan: biarkan rupiah sedikit menguat, tetapi tetap lakukan intervensi pasar valas secara terbatas.

Kedua, melakukan pembatasan terhadap modal masuk. Saya kira perlu disiapkan penggunaan instrumen administratif (macroprudential) untuk mengurangi tekanan modal masuk. Misalnya, mewajibkan kepemilikan SBI menjadi lebih panjang, mengeluarkan term deposit agar investor memindahkan investasinya dari SBI ke produk ini, menggunakan Giro Wajib Minimum valas atau batasan administrasi lain.

Memang ada risiko dari pilihan ini: sanggup dan cukup bersihkah birokrasi kita dalam menerapkan instrumen yang restriktif? Saran saya: apabila pemerintah dan BI ingin menerapkan ini dengan efektif, hindari wacana, siapkan secara matang dengan diam-diam, kemudian terapkan dengan elemen kejutan.

Ketiga, dengan rupiah yang kuat, cadangan devisa yang besar, dan tingkat bunga di luar negeri yang murah, baik jika dilakukan percepatan pembayaran utang luar negeri. Kebijakan ini akan membantu mengurangi tekanan arus modal yang masuk dan memperbaiki ruang fiskal kita pada masa depan.

Keempat, mengalihkan modal jangka pendek menjadi modal jangka menengah panjang untuk membiayai infrastruktur dengan mengeluarkan obligasi global dalam rupiah (rupiah denominated global bonds) dengan tenor yang panjang. Tentu setelah pembiayaan infrastruktur tersedia, pertanyaannya adalah apakah UU pembebasan lahan akan selesai segera?

Kelima, mendorong perusahaan untuk go public sehingga investor memiliki alternatif investasi yang lebih banyak dan mengalihkan modal ke sektor riil. Pertanyaanya: jika modal sudah diraup dan perusahaan ingin melakukan ekspansi di sektor riil, apakah infrastruktur listrik, pelabuhan, dan jalanan memadai? Apakah birokrasi menunjang dan tak lagi berpandangan: uang tak masalah, tetapi masalah bisa jadi uang? Tanpa ini, perbaikan infrastruktur dan birokrasi, risiko bubble meningkat.

Kekhawatiran saya: skala dan kecepatan arus modal yang masuk jauh lebih cepat dibandingkan dengan kesigapan pemerintah membangun infrastruktur. Apabila ini terjadi, saya khawatir jika beberapa tahun lagi ada sebuah studi yang berjudul: ”Seni Membuang Kesempatan: Pelajaran dari Indonesia”.

Muhammad Chatib Basri Pendiri CReco Research Institute

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: