Ketegangan Menjelang “Voting”


Sumber:
http://cetak.kompas.com/read/2010/12/03/0525080/ketegangan.menjelang.voting

Jumat, 3 Desember 2010 |

Oleh MH SAMSUL HADI

Zurich, Rabu (1/12) tengah malam. Perdana Menteri Inggris David Cameron, Pangeran William, dan David Beckham baru saja muncul di lobi sebuah hotel di kota tersebut. Itu hari yang melelahkan bagi mereka. Seharian penuh hingga larut malam ketiganya menggelar lobi-lobi intensif dengan pejabat Komite Eksekutif FIFA. Belum lama lobi-lobi tuntas, tiba-tiba muncul berita kericuhan suporter di Birmingham. Inilah salah satu ketegangan yang mewarnai kubu Inggris jelang ”voting” FIFA soal penentuan tuan rumah Piala Dunia 2018 dan 2022.

Voting, yang diikuti 22 pejabat Komite Eksekutif FIFA dan berlangsung rahasia di markas FIFA, Zurich, Swiss, itu berakhir pada Kamis sore waktu setempat atau Kamis malam WIB. Dua tiket untuk tuan rumah Piala Dunia (PD) 2018 dan 2022, yang diperebutkan sembilan kandidat dari 11 negara, telah diumumkan.

Inggris, Rusia, Spanyol-Portugal, dan Belanda-Belgia bersaing untuk menjadi tuan rumah PD 2018. Sementara Amerika Serikat, Australia, Korea Selatan, Jepang, dan Qatar bersaing untuk tuan rumah PD 2022.

Drama skandal, tudingan korupsi, kolusi, suap, dan permainan intrik di antara kandidat mewarnai keseluruhan proses pencalonan (bidding) tuan rumah dua Piala Dunia tersebut. Kehadiran tiga tokoh penting Inggris (Cameron, Pangeran William, dan Beckham) bagian dari drama itu.

Mereka harus datang langsung di arena pertarungan dan melobi sana-sini pejabat Komite Eksekutif FIFA untuk memperbaiki suasana tak nyaman akibat tayangan program televisi BBC Panorama, Senin lalu. Program itu terang-terangan menyebut nama tiga pejabat FIFA (Ricardo Teixeira, Issa Hayatou, dan Nicolas Leoz) menerima suap atas penunjukan International Sports and Leisure (ISL) sebagai lembaga pemasaran FIFA beberapa tahun silam.

Padahal, ketiganya anggota Komite Eksekutif FIFA yang memiliki hak voting. Itu merupakan penelanjangan FIFA yang dilakukan media Inggris setelah bulan Oktober lalu koran Sunday Times membongkar rencana dua pejabat Komite Eksekutif FIFA lain, Reynald Temarii dan Amos Adamu, untuk menjual suara sebelum voting digelar. Temarii dan Adamu telah diskors sehingga tidak ikut voting semalam.

Sedemikian besar kecemasan bidding Inggris ternoda oleh sikap kritis media negerinya, Perdana Menteri (PM) David Cameron harus dua kali pergi-pulang London-Zurich untuk memuluskan lobi. Pada Selasa, ia terbang ke Zurich dan hari Rabu kembali ke London untuk rapat dengan parlemen Inggris. Rabu itu juga, ia terbang lagi ke Zurich untuk menghadiri presentasi Inggris.

Cegah balas dendam FIFA

Untuk memenangkan tiket tuan rumah PD 2018, Inggris turun dengan tim kampanye paling hebat. Selain trio Cameron, Pangeran William, Beckham, Pelatih Fabio Capello juga bagian dari tim kampanye mereka dan ikut lobi sana-sini. Mereka ingin mencegah adanya balas dendam pejabat FIFA atas pemberitaan media Inggris.

Oleh karena itu, di samping menemui Jack Warner (Trinidad Tobago), Cameron dan timnya juga bersua dengan Issa Hayatou (Kamerun) dan Nicolas Leoz (Paraguay), dua sosok yang ”ditembak” laporan BBC lewat program Panorama itu.

”Sulit memastikan apakah Anda pasti bakal dapat suara,” kata Beckham, ikon sepak bola dunia itu. ”Anda merasakan hal positif dari beberapa anggota (Komite Eksekutif FIFA) dari sejumlah pertemuan hari-hari terakhir ini.”

Ketidakyakinan itu kian mengkristal saat Rabu lalu meletus kericuhan di Birmingham. Suporter Birmingham City turun ke lapangan dan melempari suporter tim lawan dengan kembang api untuk merayakan kemenangan 2-1 pada laga perempat final Piala Liga.

Suporter Aston Villa membalas dengan mencopot kursi-kursi stadion dan melemparnya ke lapangan. ”Peristiwa ini membawa (sepak bola) kita ke zaman kegelapan,” kata Alex McLeish, Pelatih Birmingham.

”Ngambek”-nya Putin

Upaya habis-habisan kubu Inggris itu berbeda dengan Rusia, kandidat yang awalnya difavoritkan. Seperti Cameron, PM Rusia Vladimir Putin semula dijadwalkan datang ke Zurich. Namun, tiba-tiba ia membatalkan rencana itu.

”Sayang, kami menyaksikan sebuah kampanye atas para anggota Komite Eksekutif FIFA. Bahan-bahan kotor dan kompromi ditumpahkan ke mereka. Saya melihat ini sebagai kompetisi yang tidak bermoral menjelang pemungutan suara,” kata Putin, yang mengutus Deputi Satu Perdana Menteri Igor Shuvalov mewakili dirinya.

Keputusan Putin batal hadir di Zurich dipertanyakan media Rusia. Maklum, di sejumlah rumah judi, Rusia paling difavoritkan memenangi voting tuan rumah PD 2018. Batalnya Rusia membuat Inggris lebih favorit dan tinggal bersaing dengan Spanyol-Portugal. Jauh-jauh hari sebelum voting, Spanyol-Portugal telah mengantongi suara dukungan Konfederasi Sepak Bola Amerika Selatan (Conmebol) yang memiliki tiga wakil di Komite Eksekutif FIFA.

Dalam presentasinya, Ketua Bidding Spanyol-Portugal Angel Maria Villar yang juga anggota Komite Eksekutif FIFA memuji habis proses yang digelar FIFA. ”FIFA bersih, FIFA juga melakukan banyak hal dengan jujur. FIFA bekerja untuk sepak bola dan dunia,” katanya.

Rekaman pidato Obama

Jika peta persaingan untuk tuan rumah PD 2018 begitu jelas dan mencolok, tidak demikian halnya dengan persaingan untuk PD 2022. Kolumnis sepak bola Rob Hughes menyebut dalam New York Times, penentuan tuan rumah PD 2022 jauh lebih menantang dan imajinatif.

Dari lima kandidat, satu peserta yang disebut-sebut favorit, yaitu Amerika Serikat (AS). Selain mengirim langsung mantan Presiden Bill Clinton dan Jaksa Agung Eric Holder, negeri tuan rumah PD 1994 itu juga menyertakan rekaman video pidato Presiden Barrack Obama.

Iming-iming AS jelas dan klop dengan semangat FIFA, yakni janji untuk mendatangkan keuntungan terbesar dalam sejarah penyelenggaraan Piala Dunia. Ini klop juga dengan kenyataan bahwa dua perusahaan sponsor utama FIFA, Visa dan Coca-Cola, berbasis di AS.

Bagaimana dengan Asia? Salah satu pukulan bagi empat wakil Asia, termasuk Australia yang sudah masuk anggota Konfederasi Sepak Bola Asia (AFC), yakni pernyataan China yang siap mencalonkan diri tuan rumah PD 2026 jika Asia gagal pada PD 2022.

Siapa pun yang terpilih, baik untuk PD 2018 dan 2022, bakal ”dipaksa” mengikuti kemauan FIFA, seperti pembebasan pajak atas seluruh pendapatan FIFA, perlindungan enam sponsor utama FIFA (Adidas, Emirates, Hyundai, Sony, Visa, dan Coca-Cola) di negeri itu, dan lain-lain. Itulah, antara lain, harga yang harus mereka bayar.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: