Dualisme Perekonomian


Sumber:
http://cetak.kompas.com/read/2010/11/15/04510041/dualisme.perekonomian.

Senin, 15 November 2010 |

FAISAL BASRI

Rekor-rekor baru kian kerap bermunculan. Minggu lalu, indeks harga saham gabungan mencatat rekor tertinggi baru, yakni 3.757, walaupun pada penutupan hari Jumat (12/11) merosot lagi ke aras 3.666. Dalam empat bulan terakhir, asing selalu dalam posisi beli bersih, yang mencapai Rp 17,3 triliun.

Cadangan devisa juga meningkat tanpa henti, kecuali pada bulan Mei, hingga mencapai angka tertinggi sebesar 92 miliar dollar AS pada akhir Oktober 2010. Padahal, pada akhir tahun 2009 jumlahnya masih 66 miliar dollar AS. Berarti, cadangan devisa kita naik 39 persen selama 10 bulan terakhir.

Dana luar negeri yang mengalir masuk tak tanggung-tanggung. Selama Januari-September 2010 dana asing neto yang masuk mencapai 15,7 miliar dollar AS, sebagian besar dalam bentuk investasi portofolio, yakni sebesar 13,3 miliar dollar AS.

Yang cukup menggembirakan, struktur arus masuk investasi portofolio pun mengalami perbaikan. Asing kian meminati obligasi negara atau Surat Berharga Negara (SBN) ketimbang Sertifikat Bank Indonesia (SBI) sehingga selisih di antara keduanya kian menjauh.

Ini menunjukkan bahwa persepsi asing terhadap prospek jangka panjang perekonomian Indonesia membaik. Diperkuat lagi dengan kenyataan bahwa yang terbanyak mereka bidik adalah SBN dengan jatuh tempo di atas 5 tahun (sekitar 69 persen) dan 2-5 tahun (sekitar 19 persen), sedangkan yang jatuh tempo kurang dari 2 tahun hanya sekitar 12 persen.

Ada lagi yang lebih menggembirakan, yakni penanaman modal asing langsung (PMAL) juga meningkat tajam. Selama 9 bulan pertama tahun ini, PMAL neto berjumlah 6,8 miliar dollar AS, sangat jauh melampaui pencapaian tahun 2008 sebesar 3,4 miliar dollar AS dan tahun 2009 sebesar 1,9 miliar dollar AS.

Lebih jauh lagi, perbandingan arus dana jangka panjang (PMAL) terhadap arus dana jangka pendek (investasi portofolio) membaik secara drastis, dari 1:5 pada tahun 2009 menjadi 1:2 saja pada periode Januari-September 2010.

Neraca perdagangan pun sudah dua bulan terakhir kembali surplus dengan kecenderungan meningkat, setelah pada bulan Juli mengalami defisit. Walau perlu dicatat bahwa kenaikan ekspor didominasi oleh sumbangan komoditas primer, seperti minyak sawit, karet, dan hasil tambang.

Di antara dominasi komoditas primer, ada satu produk industri yang menyembul, yakni produk-produk elektronik. Tak tertutup kemungkinan bahwa tahun ini elektronik bakal menjadi produk ketiga yang ekspornya menembus 10 miliar dollar AS selain minyak sawit serta tekstil dan produk tekstil.

Jumlah turis meningkat setiap bulan (year-on-year) tanpa jeda sepanjang tahun ini sehingga turut menyumbang bagi pertambahan cadangan devisa. Bisa jadi, jumlah turis asing yang masuk tahun ini menembus 7 juta orang, suatu peningkatan yang lumayan dibandingkan tahun 2009 yang berjumlah 6,3 juta orang.

Walau masih tertinggal dibandingkan dengan Thailand, Malaysia, dan Singapura, peningkatan jumlah turis asing cukup menggembirakan di tengah masih lesunya perekonomian negara-negara maju yang merupakan andalan asal turis mancanegara kita.

Serangkaian perbaikan di atas ternyata belum kunjung menciptakan momentum pertumbuhan sektor riil atau sektor penghasil barang. Justru sebaliknya, pertumbuhan ekonomi triwulan ketiga 2010 melemah jadi 5,8 persen, dari 6,3 persen pada triwulan kedua.

Boleh jadi memang ada pengaruh musiman. Namun, sayangnya, pola pertumbuhannya pun kian timpang antara sektor tradable dan sektor non-tradable. Pada triwulan ketiga 2010, sektor tradable hanya tumbuh 2,1 persen, sedangkan sektor non-tradable bisa tetap melesat tinggi, yakni 8,1 persen, sehingga selisihnya kian membesar, yakni 6 percentage points, padahal beberapa tahun terakhir hanya sekitar 5 percentage points.

Adalah faktor alam atau musim pula yang menyebabkan pertumbuhan sektor pertanian melorot dari 3,8 persen pada triwulan II menjadi hanya 1,8 persen pada triwulan III. Namun, kalau kita perhatikan, terjadi penurunan pula pada pertumbuhan industri manufaktur, agaknya kita kian meyakini bahwa ada sejumlah faktor struktural yang masih mengekang sektor tradable untuk tumbuh lebih sehat.

Sumber pertumbuhan industri manufaktur sangat terbatas karena penyumbang yang dominan hanya industri otomotif yang tumbuh dua digit selama Januari-September 2010. Sementara itu, hampir semua subsektor industri manufaktur lainnya boleh dikatakan mengalami stagnasi pertumbuhan, bahkan tak sedikit yang menderita kemerosotan atau pertumbuhan negatif.

Yang semakin memilukan adalah kenyataan bahwa yang jalan di tempat atau merosot adalah industri-industri berbasis sumber daya alam dan padat karya.

Publikasi terakhir Bank Dunia dan International Finance Corporation (IFC) berjudul ”Doing Business 2011” seakan mengonfirmasikan bahwa iklim usaha di Indonesia relatif memburuk, sebagaimana tecermin dari peringkat Indonesia yang turun dari posisi ke-115 menjadi ke-121.

Persoalan-persoalan klasik ternyata masih belum kunjung tertangani dengan serius. Kian banyak kalangan dunia usaha yang saya jumpai sudah sampai pada tahap teramat fatigue dan bosan mengeluh. Kalau begini terus, dualisme perekonomian lambat laun bisa mengikis fondasi kita untuk tumbuh berkelanjutan.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: