Kejar Pertumbuhan Emiten di Bursa


Sumber:
http://cetak.kompas.com/read/2010/11/01/04350136/kejar.pertumbuhan.emiten.di.bursa

Senin, 1 November 2010 |

Oleh Bramanian Surendro

Arus modal global, terutama dalam bentuk investasi portofolio, mengalir deras ke negara-negara berkembang di Asia dan Amerika Latin beberapa waktu terakhir. Kebijakan moneter longgar yang diambil oleh otoritas moneter di beberapa negara maju turut mendorong derasnya arus modal ini.

Suku bunga acuan hampir nol persen dipatok oleh bank sentral AS (The Fed) dan bank sentral Jepang (BOJ). Sementara di wilayah Eropa suku bunga acuan ada di antara 0,5 persen dan 1,0 persen.

The Fed juga menambah likuiditas dengan membeli obligasi Pemerintah AS. Pada rentang waktu Maret 2009-Maret 2010, nilai pembelian tersebut mencapai lebih kurang 1,7 triliun dollar AS. Pada pertengahan Agustus 2010, The Fed kembali membeli obligasi senilai 2,5 miliar dollar AS. Langkah ini diperkirakan akan kembali diambil The Fed untuk beberapa waktu ke depan. Artinya, likuiditas dollar AS juga akan semakin bertambah.

Banjir likuiditas ini menguntungkan sekaligus merepotkan. Mata uang lain, termasuk rupiah, mengalami tekanan untuk menguat signifikan dalam waktu singkat. Kondisi tersebut akan memukul eksportir dan berpotensi membahayakan aktivitas ekspor.

Oleh karena itu, otoritas moneter di beberapa negara termasuk Indonesia merasa perlu melakukan intervensi demi menjaga kestabilan nilai tukar mata uangnya. Aktivitas intervensi tersebut tidak bebas masalah. Bank Indonesia, misalnya, melakukan intervensi dengan membeli dollar AS dan melepas rupiah ke sistem, menyebabkan likuiditas rupiah meningkat.

Tingginya likuiditas rupiah dapat meningkatkan tekanan inflasi. Penyerapan likuiditas ini membuat BI harus menanggung biaya yang cukup besar, salah satunya dalam bentuk bunga Sertifikat Bank Indonesia (SBI). Semakin tinggi likuiditas yang perlu diserap, semakin besar beban yang harus ditanggung BI.

Namun, di sisi lain, derasnya arus modal asing membuat kinerja bursa di banyak negara berkembang melambung signifikan, termasuk Bursa Efek Indonesia.

Sampai Oktober 2010, Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) tumbuh paling pesat. Berangkat dari kisaran 2.500 pada awal tahun, pada akhir Oktober IHSG mencapai 3.635 atau naik sebesar 43,4 persen. Tingginya kenaikan IHSG diikuti oleh indeks bursa Filipina (naik 39,8 persen), Thailand (naik 33,4 persen), dan Malaysia (naik 18,3 persen).

Dalam denominasi dollar AS, pertumbuhan IHSG bahkan mencapai sekitar 51 persen. Tingginya pertumbuhan ini membuat Asia Tenggara sebagai kawasan dengan pertumbuhan indeks bursa saham tertinggi di dunia sepanjang 2010 ini.

Sementara itu, beberapa bursa lain mencatatkan pertumbuhan yang moderat, sekitar 4-10 persen, misalnya Jerman (sekitar 10 persen), Hongkong (8 persen), AS (7 persen), dan Inggris (5 persen).

Memang masih ada beberapa bursa yang sampai Oktober mengalami pertumbuhan indeks negatif. Umumnya indeks saham di beberapa bursa tersebut mengalami penurunan pada semester pertama 2010. Sekitar bulan Juli, tren tersebut berbalik dan sebagian besar indeks mulai mengalami kenaikan. Di antara kelompok negara maju, hanya bursa Jepang yang indeks sahamnya masih bergerak dalam tren menurun sampai bulan Oktober.

Kapitalisasi pasar naik

Selain pertumbuhan indeks saham, peningkatan kinerja bursa juga dapat dilihat dari naiknya kapitalisasi pasar. Kondisi ini didominasi oleh bursa-bursa di negara berkembang terutama di Asia Tenggara.

Pada akhir September 2010, kapitalisasi pasar BEI mencapai sekitar 323 miliar dollar AS (sekitar Rp 2.900 triliun), naik sekitar 61,6 persen dibandingkan dengan periode yang sama tahun 2009. Tingkat pertumbuhan ini mungkin merupakan yang tertinggi di dunia. Pencapaian ini meneruskan prestasi yang dicapai BEI tahun sebelumnya di mana pada 2009 BEI juga mencatatkan pertumbuhan yang sangat tinggi (tabel 1).

Bila dirata-rata dalam tujuh tahun terakhir (sejak tahun 2004), pertumbuhan kapitalisasi pasar BEI juga termasuk yang tertinggi, mencapai 42 persen per tahun. China menempati peringkat teratas dengan rata-rata pertumbuhan 72 persen per tahun, diikuti India sebesar 46 persen per tahun.

Bursa di negara-negara berkembang lain umumnya juga mengalami pertumbuhan tahunan yang signifikan. Sementara itu pertumbuhan kapitalisasi pasar di bursa negara maju justru cenderung menurun dalam beberapa waktu terakhir.

AS, misalnya, hanya tumbuh rata-rata sebesar 3,8 persen dalam tujuh tahun terakhir. Jepang juga tidak terpaut jauh, tumbuh rata-rata 3,0 persen per tahun. Sementara Jerman masih mencatatkan rata-rata pertumbuhan relatif tinggi sebesar 8,6 persen per tahun.

Bila pada tahun 2004 nilai kapitalisasi pasar bursa AS mencapai 42,2 persen dari total kapitalisasi pasar bursa saham di seluruh dunia, persentase tersebut turun signifikan menjadi 29,2 persen per September 2010.

Jerman dan Jepang juga mengalami penurunan pangsa kapitalisasi pasar dalam tujuh tahun terakhir. Penurunan bisa jadi dialami juga oleh beberapa bursa lain di negara-negara maju. Di saat yang sama, mayoritas bursa di negara berkembang mengalami peningkatan pangsa kapitalisasi pasar.

Peningkatan tertinggi dialami China yang pangsanya naik dari sekitar 1,2 persen pada tahun 2004 menjadi 7,6 persen per September 2010 (tabel 1).

Emiten dan IPO tumbuh

Dalam hal pertambahan emiten, bursa Indonesia bisa dibilang agak tertinggal dibandingkan dengan bursa lain di kawasan regional. Di Asia Tenggara, Indonesia ada di belakang Malaysia dan Singapura (tabel 2).

Dari sisi kapitalisasi penawaran saham pertama (IPO), nilai yang dicapai BEI pada tahun 2008 sebenarnya cukup tinggi. Padahal, pada waktu itu sebagian besar bursa di negara lain sudah mulai merasakan dampak krisis keuangan global. Bila dibandingkan dengan total nilai kapitalisasi IPO yang terbentuk di seluruh bursa kawasan Asia Pasifik, nilai kapitalisasi IPO di BEI bahkan mencapai pangsa lebih dari 10 persen.

Namun, pada 2009 saat iklim investasi dan bursa global mulai mengalami pemulihan, kinerja IPO di BEI justru mengalami penurunan. Nilai kapitalisasi yang dibukukan jauh tertinggal dari bursa-bursa lain di kawasan regional.

Kondisi yang sama juga terlihat dari jumlah emiten baru yang mencatatkan sahamnya di BEI. Sampai dengan akhir Oktober 2010, emiten baru di BEI tercatat berjumlah 15. Pada saat yang sama, bursa Malaysia sudah kedatangan 23 emiten baru, Singapura 26 emiten baru.

Pada awal tahun, BEI menargetkan sekitar 25 emiten baru mencatatkan sahamnya di bursa. Saat ini target tersebut diturunkan sedikit menjadi 22 atau 23. Katakan target 23 emiten baru tercapai hingga akhir tahun. Ini berarti rata-rata setiap bulan maksimal dua emiten baru mencatatkan sahamnya di bursa.

Bandingkan dengan China (bursa Shanghai dan Shenzhen) yang sampai dengan akhir Oktober 2010 saja setidaknya sudah memiliki 270 emiten baru. Itu berarti dalam satu bulan kira-kira ada 27 emiten baru yang bergabung.

Asumsikan trennya tetap, pada akhir tahun 2010 jumlah emiten baru di China dapat bertambah menjadi sekitar 320. Dengan total hari perdagangan efektif yang hanya mencapai 240-250 hari, setiap hari di China akan datang minimal satu emiten baru bila dirata-rata.

Iklim bursa seperti itu benar-benar luar biasa. Bayangkan mudahnya entitas bisnis di sana memulai usaha baru atau melakukan ekspansi usaha. Iklim itu juga masih diperkuat dengan berbagai kemudahan lain, seperti suku bunga kredit perbankan yang relatif rendah. Ditambah lagi, kalangan eksportir masih menikmati insentif tambahan dari lemahnya nilai tukar mata uang yuan.

Pesatnya pertumbuhan indeks saham dan nilai kapitalisasi di bursa idealnya diikuti dengan pertambahan emiten baru yang cukup banyak. Dana yang diperoleh emiten baru dari IPO dapat digunakan untuk ekspansi usaha.

Semakin banyak emiten baru yang datang, semakin banyak aktivitas ekspansi usaha yang dilakukan, sehingga semakin besar pengaruhnya bagi perekonomian secara umum.

Bramanian SurendroDanareksa Research Institute

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: